Ditandai dari bayang-bayang.
Conner
"Muka lo kayak orang yang belum tidur seminggu." Liam melangkah masuk ke ruanganku dan menutup pintu di belakangnya. Bunyi klik terdengar tajam memecah kesunyian.
"Mungkin karena gue emang belum tidur, sialan." Aku menyandarkan punggung ke kursi, memutar leher sekali hingga berbunyi, lalu mengusap wajah dengan kasar. Mataku terasa panas. Rahangku pegal. Bayangan Inferno terus berputar di balik kelopak mataku, tak peduli aku mengizinkannya atau tidak. "Semalam gue lihat dia di klub."
Langkah Liam terhenti mendadak. Alisnya terangkat tinggi. "Siapa? Si Hantu Cantik itu?"
"Ya."
"Terus?" Dia mengangkat kedua tangannya, mondar-mandir selangkah, lalu selangkah lagi, pinggulnya menabrak ujung mejaku hingga tumpukan kertas bergeser berantakan. "Lo nggak bisa cuma ngomong gitu doang terus diam."
"Terus nggak ada apa-apa." Aku membiarkan kepalaku jatuh kembali ke sandaran kursi. "Sedetik dia di sana, detik berikutnya dia hilang."
"Astaga." Liam menyisir rambutnya dengan jari dan tertawa singkat. "Lo butuh hobi, deh. Atau lebih bagus lagi, cari cewek. Cewek beneran. Lo udah nggak nyentuh perempuan berapa lama, coba? Bertahun-tahun?"
"Ya." Aku duduk tegak, menumpukan siku di lutut. "Masalahnya, tiap kali gue mulai dekat sama cewek, entah kenapa mereka selalu lenyap ditelan bumi."
Kalimat itu menggantung di antara kami. Namun, Liam tetap menyeringai. "Mungkin hantu lo itu yang nyingkirin mereka."
Dia tertawa keras, merasa leluconnya lucu, tapi aku tidak bergerak sedikit pun. Tawa itu mati di tenggorokannya. Dia menatapku lagi, kali ini benar-benar menatap. "Lo nggak beneran mikir dia ngelakuin itu, kan?"
Aku memutar kursi menghadap jendela. Pemandangan kota di balik kaca terasa terlalu terbuka, terlalu telanjang. Aku mengulurkan tangan dan menyentak tirai hingga tertutup rapat. Ruangan jadi remang-remang.
"Gue nggak bilang dia pasti pelakunya," ujarku. "Tapi dia ada di mana-mana, Liam. Di setiap sudut. Di setiap titik buta. Nggak ada orang yang bisa sekonsisten itu tanpa punya mata-mata di mana-mana, setiap saat." Aku berbalik menghadapnya lagi. "Ini pola yang gila. Begitu gue kenalan sama cewek, belum juga lewat sehari, gue nggak pernah lihat mereka lagi."
"Lo udah gila."
"Masa?" Aku bangkit berdiri dan menunjuk ke arah dinding di belakangku yang penuh monitor—menampilkan Inferno, gudang, dan lorong di luar kantor ini. "Setiap kali ada masalah, dia udah selangkah lebih maju. Setiap kali gue hampir nangkep dia, dia lenyap. Seolah-olah dia tahu apa yang bakal terjadi sebelum kejadiannya pecah."
Aku menggeleng sekali. "Semalam dia ninggalin tisu bekas lipstik dengan peringatan kalau gue mulai lengah. Maksudnya apa coba?"
Tatapan Liam menyapu sekeliling ruangan, ke sudut-sudut dan langit-langit. Suaranya merendah. "Lo pikir dia nyadap tempat ini?"
Aku tidak langsung menjawab, tapi bergerak perlahan. Aku memeriksa rak buku dan menyapukan jari di sela-sela ventilasi AC. Aku berjongkok dan melirik ke kolong meja. Tentu saja, aku tidak menemukan apa-apa, karena kalaupun dia menyadap tempat ini, dia terlalu cerdas untuk menaruh alat di tempat yang mudah kutemukan.
"Mungkin," jawabku akhirnya. "Dia mainnya rapi. Kalau gue jadi dia, gue pasti bakal nguping di sini."
Liam belum bergerak; dia masih menatap curiga pada setiap retakan di dinding.
"Santai aja." Aku menyambar jaket dari kursi dan mengenakannya. "Nanti kita sapu bersih tempat ini. Sekarang, kita harus urus masalah di pelabuhan."
Liam menelan ludah dengan susah payah. "Kalau dia lagi dengerin, berarti dia udah tahu kita mau ke sana."
Tanganku mencengkeram gagang pintu. "Kalau gitu, gue harap dia lagi haus darah," kataku dingin. "Karena gue iya."
Mesin mobil menderu pelan saat kami membelah jalanan kota. Terlalu sepi untuk ukuran malam Jumat. Lampu-lampu jalan meluncur melewati kaca depan seperti garis-garis kuning panjang. Hampir tidak ada kendaraan lain, dan aku belum melihat satu pun mobil patroli polisi. Satu tanganku memegang setir, yang satunya lagi mengetuk-ngetuk paha tanpa irama.
Raka duduk diam di sampingku, matanya menyapu deretan ruko, gang-gang sempit, dan atap-atap gedung.
"Kau merasakannya?" tanyaku.
"Ya." Dia menggeser posisi duduknya. "Nggak ada polisi. Nggak ada suara."
"Si Marco sudah kasih kabar?"
"Satu jam yang lalu. Katanya kiriman tertunda, tapi mereka lagi bongkar muat sekarang." Dia mendengus kasar. "Dia nggak tahu kalau aku sudah cek manifestonya."
"Jadi dia main curang." Aku mencengkeram setir lebih erat.
"Kecuali ada orang yang lebih besar di balik ini." Dia mengembuskan napas lewat hidung. "Tapi ya, sepertinya begitu. Potongan kecil, barang yang dikemas ulang, pesanan palsu."
"Kita akhiri malam ini," kataku tegas, dan dia mengangguk.
Raka melirik ke arahku. "Kau yakin ini bukan soal dia?"
"Bukan. Dia nggak akan repot-repot melakukan semua ini cuma buat mengacaukan pengirimanku."
Kami berbelok dari jalan utama, dan kawasan pelabuhan mulai terlihat samar di balik kabut, bentuk-bentuk logam raksasa yang setengah tertelan uap air. Lampu jalan di sini berkedip-kedip atau mati total. Kakiku perlahan melepas pedal gas.
"Ada yang nggak beres," gumamku, perasaanku mulai tidak enak.
"Mau mundur?" tanya Raka, tangannya sudah meraba pistol di balik jaket.
"Nggak." Aku bukan tipe orang yang lari. Gudang Sembilan berdiri di ujung jalan. Aku memarkir mobil pelan-pelan, lalu kami turun. Kesunyian menekan dari segala arah. Terlalu hening.
Hanya itu yang sempat kupikirkan sebelum mendengar bunyi klik logam yang khas.
"TIARAP!"
Aku menyambar Raka dan mendorongnya ke balik tumpukan peti kemas tepat saat peluru merobek kayu di tempat kepalanya berada sedetik yang lalu.
"Jebakan!" teriaknya.
Tiga sosok muncul dari kegelapan, mengenakan topeng dan menenteng senapan. Aku membalas tembakan dengan rentetan pendek dan terkendali. Raka mengumpat di sampingku, merangkak lebih rendah.
"Mereka sudah menunggu!"
Itu artinya ada yang buka mulut.
Sebuah siulan tajam membelah keributan, dan penembak paling depan tiba-tiba kaku sebelum ambruk ke tanah.
"Penembak jitu!" teriak Raka.
"Bukan." Dadaku sesak seketika. "Bukan penembak jitu biasa."
Satu letusan lagi terdengar, dan orang kedua terlipat jatuh bahkan sebelum sempat mengangkat senjatanya. Aku bangkit sedikit, cukup untuk melihat sosok itu. Jauh di seberang lapangan, bertengger di kerangka crane yang setengah jadi, tudung kepalanya terpasang, diam tak bergerak seperti batu. Lensa bidiknya berkilat sekali di bawah sinar bulan.
Orang ketiga berbalik hendak lari, tapi tembakan berikutnya menghantam kakinya hingga ia tersungkur. Dia jatuh sambil menjerit, tapi masih hidup.
Raka melongo. "Gila..."
"Itu gadisku," kataku. "Dia tahu."
Aku menoleh kembali ke arah crane, tapi tempat itu sudah kosong.
"Dia menyelamatkan kita," desis Raka tak percaya.
Jari-jariku meluncur ke dalam saku mantel dan menyentuh serbet yang terlipat di sana.
Ayo dong, Sayang. Jangan cuma menggoda begini lalu pergi begitu saja.
