Kau tergelincir, Sayang.
Bima
Kota melesat cepat di balik kaca jendela mobil yang gelap, hanya menyisakan bias cahaya merah dan deretan gedung pencakar langit yang kabur. Sopirku membelah kemacetan Jakarta seolah sedang membuktikan sesuatu, tapi aku nyaris tak peduli. Pikiranku sudah berada di Inferno.
Itu salah satu bisnisku yang paling bersih. Hiburan kelas atas yang tertutup rapat, disegel oleh minuman seharga jutaan rupiah dan lirikan mata yang menggoda. Tempat itu juga wilayah netral. Seharusnya tidak ada perkelahian, tidak ada darah, dan tidak ada omong kosong sialan. Jadi, ketika Liam menelepon dan menyebutnya "situasi gawat", aku tahu ini buruk.
Mobil kami berhenti di pintu belakang, beberapa blok dari jalan utama. Bagian depan kelab sudah dikerubungi orang. Cahaya biru dan merah dari lampu sirene memantul di fasad kaca, berkedip begitu keras hingga menarik perhatian massa. Antrean malam Jumat yang biasanya mengular kini lenyap, digantikan oleh seragam polisi dan penonton bermata lebar yang sibuk merekam dengan ponsel mereka.
Aku melihat dua orang keamanan kami berjaga di pinggir, menggiring warga sipil menjauh sambil berpura-pura tidak ada hubungannya dengan tempat ini. Aku melangkah keluar menembus malam, sepatu botku menghantam aspal dengan tegas. Udara dingin langsung menyergap, dan aku merapikan manset kemeja sebelum berjalan lurus menuju pintu staf.
Liam sudah menunggu di dekat pintu.
"Di dalam kacau balau," katanya cepat, berjalan di sisiku. "Beberapa anak buah kita menahan sekelompok orang yang pamer atribut geng, padahal mereka ngakunya cuma pelanggan biasa."
Aku meliriknya. "Kau tidak masuk ke Inferno dengan dandanan seperti itu kecuali memang cari masalah."
"Yah, mereka menemukannya," jawabnya.
Musik di dalam masih berdentum, basnya menghantam dada, menciptakan ilusi seolah semuanya baik-baik saja. Tapi aku bisa merasakan ketegangan yang mencekik ruangan itu.
Aku memindai lantai dansa. Meja-meja terbalik dan pecahan gelas berserakan di mana-mana. Salah satu penari berdiri mematung di atas panggungnya, memeluk tubuhnya sendiri dengan tatapan terkunci pada bagian VIP di ujung sana. Tiga anak buahku sedang menahan barisan, nyaris kewalahan. Kerah kemeja salah satu dari mereka ternoda darah, dan satu lagi tangannya sudah melayang dekat pisau di pinggangnya.
Aku melangkah ke tengah kekacauan itu.
"Cukup."
Suaraku membelah musik dengan tajam dan dingin. Segalanya berhenti seketika saat kepala-kepala menoleh ke arahku. Aku tidak perlu berteriak. Tidak perlu. Namaku punya bobot tersendiri, dan keheningan selalu mengikutiku setiap kali aku memasuki ruangan.
Satu pria di sudut sana tampak santai, butuh waktu lama baginya untuk memberiku perhatian. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan, bertubuh kekar dengan tato yang merambat naik hingga ke lehernya. Dia menatapku seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu.
Aku mengangguk ke arah penari tadi. "Minta maaf pada wanita itu. Lalu angkat kaki dari kelabku, brengsek."
Satu detak jantung berlalu, lalu satu lagi, sebelum dia meludah ke lantai dan melangkah mendekatiku.
"Aku sudah coba main halus," katanya, menatap tajam ke arah anak buahku. "Nggak nyangka anjing penjagamu selembek ini."
Itu jawaban yang salah.
Aku bergerak cepat, mencengkeram kerahnya dan membanting tubuhnya ke dinding cukup keras hingga membuat plester tembok retak. Kelompoknya tersentak kaget tapi tetap diam di tempat, sementara aku mendekatkan wajah ke telinganya.
"Aku tidak peduli kau dari ormas atau geng mana," kataku pelan. "Ini rumahku. Kalau kau berdarah lagi di sini, aku akan kirim tulang-belulangmu pulang dalam kotak kardus supaya ibumu punya sesuatu untuk ditangisi."
Lalu aku melepaskannya. Dia terbungkuk, terbatuk-batuk.
"Seret mereka keluar," perintahku.
Orang-orangku langsung bergerak. Ketegangan pecah seketika, digantikan suara langkah kaki yang menyeret dan umpatan tertahan. Aroma darah dan adrenalin menggantung pekat di udara, tapi itu tak akan lama. Dalam satu jam, aku akan membuat tempat ini kembali teratur.
Aku menoleh ke arah Dito. Dia tampak ingin menyeringai, tapi cukup tahu diri untuk menahannya. "Bisa lebih parah dari ini," gumamnya.
"Harusnya bisa lebih bersih," sahutku sambil menepuk debu dari jas mahalku.
Aku melangkah menuju bar VIP. Aku butuh minum dan sedetik untuk menata ulang pikiran. Ada selembar tisu terlipat rapi di tempat duduk biasaku, dengan bekas kecupan lipstik merah tercetak di sisi luarnya. Kuraih benda itu, membukanya perlahan untuk melihat tulisan tangan berwarna merah lembut di dalamnya.
Kau mulai lengah, Sayang.
Panas menjalar dari dadaku hingga ke tenggorokan. Itu warnanya. Aku tahu, karena aku pernah menemukan warna yang persis sama tergores di selongsong peluru yang dia tinggalkan di atas bantalku beberapa bulan lalu.
Kupindai seluruh ruangan sambil menyelipkan tisu itu ke saku dalam jas. Dia ada di sini, di tengah kekacauan ini, di antara kerumunan. Untuk bisa sampai di sini sebelum aku, dia pasti sudah meretas kameraku atau dia punya mata-mata sendiri. Intinya sama: aku tahu dia selalu mengawasi.
Kusapu pandangan ke penjuru klub lagi. Bartender sedang mengelap meja-meja yang lengket. Para penari menghilang ke belakang panggung. Kerumunan mulai terbentuk kembali keping demi keping, ilusi malam ini kembali utuh seperti sedia kala.
Lalu aku melihat sekelebatan bayangan di sudut mataku, dekat pintu samping.
Di bawah lampu tanda KELUAR yang berkedip-kedip, setengah tersembunyi di balik tirai beludru, ada sesosok tubuh. Seorang wanita mungil berjaket hoodie hitam berdiri mematung, menatapku. Napasku tercekat. Aku belum pernah melihat wajahnya, tapi aku langsung tahu. Itu dia. Hantuku.
Dia memiringkan kepala sedikit, dan sepasang mata hijau menyala menembusku dari balik tudung kepalanya. Tatapan kami terkunci sedetik sebelum dia berbalik dan menyelinap keluar pintu samping, melenggang sehalus asap.
Lenyap.
"Bangsat."
Kakiku sudah bergerak sebelum umpatan itu selesai terucap. Aku menerobos kerumunan, mengabaikan suara Dito yang meretih di earpiece-ku, masa bodoh dengan teriakan kaget orang-orang saat aku mendobrak pintu darurat dan melompat ke gang samping.
Udara dingin menampar keras saat aku menatap gang yang kosong melompong itu.
Aku berdiri terpaku, mengatur napas, membiarkan amarah merayap pelan dan panas di bawah kulitku. Setiap kali, dia mendekat cukup untuk menyerempetku, lalu menghilang. Dia menikmati melihatku mengejar, lalu dia lari.
Kutarik tisu itu lagi, melicinkannya dengan ibu jari.
Kau mulai lengah, Sayang.
Aku menggeleng. Tidak. Aku baru saja mulai, karena sekarang aku tahu, dia bukan lagi sekadar gagasan. Dia bukan rumor. Dia nyata, ada di duniaku, dan cukup dekat untuk disentuh.
