11 Book(s) Related to walter don't starve together

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
PENGANTIN DON

PENGANTIN DON

349 Dilihat · Sedang Berlangsung · chalista saqila
Seharusnya dia calon ayah tiriku. Seharusnya aku memanggilnya Ayah, bukan “Sayang”, “Cintaku”, apalagi “Suamiku”.

Tapi begitu Ibu dibunuh, dia mendadak menyeretku ke pelaminan, memaksaku menggantikan posisi Ibu untuk menikah dengannya.

Seolah kematian Ibu belum cukup menghantamku, aku dipaksa mengucap “aku bersedia” di bawah tatapannya yang menembus kulit—dengan moncong pistol menekan rusukku. Aku ketakutan, dan aku nggak punya pilihan untuk menolak. Aku harus menikahi orang asing yang seharusnya jadi ayah tiriku.

Dan yang lebih buruk, aku bahkan nggak tahu kalau calon ayah tiriku—atau sekarang, calon suamiku—ternyata seorang Don.

“Kamu bakal aman selama pakai marga gue. Gue pastiin mereka nggak bakal nyentuh sehelai rambut pun di kepala lo.”

“Beneran? Yang terjadi sama Ibu malah bukti sebaliknya.”

“Sayang sekali, Katherine udah nggak pakai marga gue lagi.” Suaranya dingin, tanpa jeda. “Dan lo—lo sekarang Fiona Craig.”

Hidup benar-benar aneh. Dalam sekejap aku kehilangan Ibu. Dalam sekejap aku jadi istri seorang Don, Joshua Craig. Dan entah apa lagi yang menunggu setelah ini.

Rasanya salah—buat kami. Rasanya salah—buatku.
Menggoda Don Alpha

Menggoda Don Alpha

938 Dilihat · Sedang Berlangsung · Karima Saad Usman
Alya Wiratama hanyalah serigala Omega dari keluarga yang pas-pasan di dalam kawanan mereka. Di tengah hidup yang serba kurang, empat kakaknya yang penyayang tetap berdiri di sisinya, bahkan ketika ibu mereka makin sering tenggelam dalam depresi dan ayah mereka kian parah terlilit kebiasaan judi. Hidup di dasar hierarki kawanan tak mengenal ampun—penuh tatapan menghakimi, kerja keras tanpa henti, dan perih yang diam-diam karena selalu dianggap tak ada.

Pukulan terakhir datang dari Reno, pacarnya selama empat tahun—orang yang selama ini ia kira bisa jadi pintu keluar dari semua kesialan. Tanpa sedikit pun rasa iba, Reno menolaknya mentah-mentah. Ia tak sanggup menutup mata dari status Alya yang rendah; ia memilih menikahi putri Alfa, lalu meninggalkan Alya dengan hati yang hancur berkeping-keping. Keinginan untuk lepas dari nasib keluarga terasa seperti mimpi yang bahkan tak pantas ia punya. Namun Alya dan keempat kakaknya tetap menggenggam harapan, bertahan melewati hari-hari yang menggiling mereka pelan-pelan.

Bagi Alya, tempat berlindung hanya ada di dalam tidur. Di dunia yang memikat, jauh dari kenyataan, ia selalu bertemu seorang lelaki yang terasa terlalu sempurna—kuat, hangat, dan setia. Lelaki itu memberinya tenang dan bahagia yang tak pernah ia temukan saat terjaga. Setiap pagi, Alya menuliskan mimpi-mimpi itu ke dalam buku catatan, seolah-olah tinta bisa jadi tali tipis yang mengikatnya pada kebahagiaan yang nyaris nyata.

Namun hidup segera lepas kendali. Utang ayahnya memanggil ancaman tanpa putus dari preman penagih di wilayah itu, menyeret keluarga mereka ke mimpi buruk yang tak punya jalan keluar. Saat dunianya runtuh jadi kekacauan, Alya bertemu lelaki dari mimpinya—bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai penguasa dari neraka yang sedang menelan hidupnya.
Terjual kepada Don Beruang Grizzly

Terjual kepada Don Beruang Grizzly

777 Dilihat · Sedang Berlangsung · Tatienne Richard
Saat Alya Maharani menginjak usia dua puluh satu tahun, ia tahu waktunya telah habis. Sejak usianya masih dua belas tahun, keluarganya telah menjodohkannya dengan calon penguasa klan Laksana, Tora "Si Beruang" Laksana. Pria itu dirumorkan sebagai sosok yang dingin, kejam, dan tak punya hati, serta usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya.

Menjual kesuciannya secara daring adalah cara paling ampuh untuk memastikan Si Beruang membatalkan perjanjian tersebut. Ketika ia memberi tahu ayahnya bahwa ia telah menjualnya kepada penawar tertinggi tanpa pernah mengetahui nama asli pria itu, kontrak perjodohan pun berakhir. Namun, begitu pula
Nyala Api Membeku

Nyala Api Membeku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Star
Nevaeh tak pernah menyangka hidupnya bakal terseret dan saling mengait dengan Aiden Klein—seorang miliarder berkuasa dengan tatapan sedingin es dan hati yang sejak lama membeku. Dunia memandangnya sebagai pria yang terlalu sempurna untuk disentuh: sosok memukau yang dipuja kalangan sosialita, membuat iri para lelaki, dan diidamkan entah berapa banyak perempuan. Tapi hati Aiden sudah menutup rapat pintunya, seperti benteng yang disegel oleh kehilangan; tempat yang tak lagi memberi ruang buat cinta tinggal.


Sejak pertama kali aku melihat Aiden, aku tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik permukaan—sejenis sakit yang mentah, yang gaungnya terasa di setiap tatap yang ia buang seolah tak peduli. Aiden itu laki-laki yang setia, terlalu tulus, dengan cinta yang tak goyah untuk keluarganya. Namun ia juga dihantui bayang-bayang cinta yang dulu pernah menghancurkannya. Dunia terus mengulang pertanyaan yang sama, lagi dan lagi: bagaimana mungkin Aiden Klein bisa mencintai seorang perempuan?

Tapi aku bisa menembus topengnya, sampai ke pahlawan patah di bawahnya. Dan aku paham satu hal—Aiden Klein bisa mencintai sekeras-kerasnya, sampai-sampai cinta itu akan menghancurkan perempuan yang ia pilih.

Karena, di balik dinginnya, aku pernah melihatnya sekali… dan itu mematahkan aku juga.

Dia mungkin pahlawan yang retak, tapi akulah penjahat dalam kisah ini—melangkahi batas yang bisa merusak kami berdua.
Ayah Sahabat Terbaikku

Ayah Sahabat Terbaikku

991 Dilihat · Sedang Berlangsung · P.L Waites
Elona, yang berusia delapan belas tahun, sedang berada di ambang babak baru dalam hidupnya—tahun terakhirnya di SMA. Dia memiliki impian untuk menjadi model. Namun, di balik penampilan percaya dirinya, ada rahasia yang ia simpan—perasaan suka pada seseorang yang tak terduga—Pak Crane, ayah dari sahabatnya.

Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.

Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.

Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?

Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Bulan Purnama yang Kejam

Bulan Purnama yang Kejam

985 Dilihat · Sedang Berlangsung · Evelyn Winter
【Penyerang Manipulatif VS Korban yang Malang, Penyerang Kuat Korban Lemah, Saudara Kandung, Lebih Tua】
Karena sebuah kasus pembunuhan dan berbagai kepentingan di baliknya, dia telah dikejar selama 14 tahun. Di depan ibu tirinya, dia menyiksa adik kandungnya yang berusia 14 tahun, lalu membawanya ke Pulau Cahaya Bulan, memulai pelatihan paksa...
Milik Sang Binatang

Milik Sang Binatang

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · K. K. Winter
Masa depannya sudah ditentukan; dalam tiga bulan, dia akan menjadi Alpha perempuan pertama dalam garis keturunannya.

Hidup terasa seperti mimpi sampai suatu hari, semuanya berubah menjadi mimpi buruk. Hari itu, Aife mengetahui bahwa makhluk buas yang sering diceritakan oleh para tetua untuk menakuti anak-anak bukanlah sekadar imajinasi belaka.

Dia muncul dari bayang-bayang untuk membuktikan bahwa dia nyata: kawanan mereka diserang, para pejuang jatuh di kakinya, dan dia dipaksa membuat pilihan yang akan menghancurkan kenyataannya. “Dia. Berikan dia padaku dan aku akan membiarkan yang lainnya hidup. Berikan dia dengan sukarela atau aku akan mengambilnya setelah aku selesai membantai sisa anggota kawananmu.”

Untuk menyelamatkan mereka, Aife setuju untuk pergi dengan pria yang membantai kawanannya. Sedikit yang dia tahu bahwa hidupnya akan berada di bawah belas kasihannya sejak saat dia melemparkan Aife ke atas bahunya. Dalam hitungan jam, Aife kehilangan gelar sebagai calon Alpha dan menjadi milik makhluk buas itu.
Seri Alpha yang Tak Diinginkan (Koleksi Lengkap)

Seri Alpha yang Tak Diinginkan (Koleksi Lengkap)

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · K. K. Winter
"Lakukan! Perkosa aku!" Dia berteriak sekuat tenaga, menantang sisi buas dalam dirinya.

Dia tertawa, tulus, keras.
"Kamu nggak tahu apa yang kamu lakukan padaku, kan, sayang?" dia bertanya sambil meraih sabuknya.

"Gerakan menggigit bibir kecilmu itu, yang kamu lakukan setiap kali melihatku - itu membuatku gila.

Getaran yang menjalar di tubuhmu saat aku memukulmu - membuatku sangat terangsang, aku harus menahan diri agar tidak menekan tubuhmu ke dinding dan menyetubuhimu di lorong.

Dan sekarang, aroma tubuhmu, itu benar-benar mengundangku. Aku bisa mencium gairahmu dari jauh, aromanya membuat mulutku berair dan sisi buasku menjadi gila.

Dan tubuhmu - ya ampun Dewi Bulan - tubuhmu itu sungguh ilahi. Tanpa ragu, aku bisa memujanya dan menikmatinya hari demi hari, dan tidak akan pernah bosan."

***Evangeline adalah seorang gadis manusia sederhana, lahir dan dibesarkan di kota yang didominasi oleh shifter. Suatu hari dia ditangkap oleh sekelompok shifter dan hampir diperkosa, tetapi dia diselamatkan oleh seorang pria bertopeng.

Keraguan tentang identitas pria asing itu dan ketakutan terhadap shifter tetap ada di benaknya sampai malam permainan kawin manusia ketika dia ditangkap oleh penyelamatnya. Pria yang tidak pernah melepas topengnya, seorang shifter yang kuat - Eros.

***HARAP DICATAT: Ini adalah koleksi seri lengkap untuk The Unwanted Alpha Series oleh K. K. Winter. Ini termasuk dan . Buku-buku terpisah dari seri ini tersedia di halaman penulis.
Di Antara Empat Alpha

Di Antara Empat Alpha

1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · K. K. Winter
"Aku ingin bermain sebuah permainan. Dengan tangan dan kaki terikat - kamu tidak bisa terburu-buru, memaksa, atau menghentikan apapun.

Sekarang. Tutup matamu." Perintah sang Alpha. Seth menggigil mendengar kata-katanya.

Untuk beberapa saat, ruangan menjadi hening.
Yang bisa Seth dengar hanyalah napasnya yang cepat.
Dia masih merasa bersemangat tapi juga takut.

"Luciano, tolong," dia merintih,

"Ya, sayang?"

"Berhenti, aku ingin merasakanmu. Godaan ini membunuhku."

"Itu bukan caranya."
Pria itu meletakkan tangannya di pantatnya dan menempatkannya di atas lututnya.

"Kamu minta satu kali lagi. Pantatmu akan dipukul sampai merah."

🌶🐺🌶🐺🌶🐺🌶🐺

Seth punya satu aturan - tidak ada Alpha: Alpha yang posesif, dominan, dan teritorial bisa mematahkan dan membengkokkan diri mereka sendiri, tapi mereka tidak pernah bisa berakhir di tempat tidurnya, atau menyeretnya ke tempat tidur mereka.

Sampai hari permainan seremonial Alpha tiba: yang harus dia lakukan hanyalah melayani tamu dan lari sejauh mungkin setiap kali dia mendapat kesempatan.

Seth tidak menyangka bertemu dengan seorang Alpha sehari sebelum meninggalkan kota baru, juga tidak menyangka menghadapi yang lain yang mencoba menunjukkan minatnya - bukan hanya satu, dua, atau tiga, tapi empat Alpha laki-laki.

Tidak ada satupun dari mereka yang mau menyerah atau mundur. Para pria itu ingin mengklaimnya, dan tidak ada yang akan berhenti sampai wanita itu menjadi miliknya atau milik mereka.

Peringatan: Ini adalah buku harem terbalik yang mengandung BANYAK konten dewasa dan tema sensitif. (Kinks/ BDSM/ bahasa kasar dll.) Sangat disarankan hanya untuk pembaca dewasa. !!! 18+ !!!
1