
Tuan Walker, Bos Pelindungku
Caroline moraes
392.2k Words / Completed
1k
Populer
1k
Dilihat
Tambahkan ke Perpustakaan
Tambahkan ke Perpustakaan
1k
Hot
1k
Views
Unduh 299 Bab <Tuan Walker, Bos Pelindungku> di Aplikasi
UNDUHGRATIS
Pengenalan
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.
Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.
Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.
“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.
“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.
Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.
“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”
Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”
Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.
“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”
Emily menelan ludah. “Oke.”
Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.
Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.
Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.
Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.
“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.
Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”
Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.
“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.
Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.
Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.
Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.
“Kenapa?” tanya Emily.
Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”
Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”
Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”
Sekarang.
Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.
Sekretarisnya mempersilakan masuk.
Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.
“Duduk,” katanya singkat.
Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.
Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”
Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”
“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”
Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.
“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”
Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”
“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”
Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”
Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.
“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”
Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.
Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.
Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.
Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.
Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.
“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.
Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”
“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”
Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.
Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.
“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.
Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”
Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”
Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.
Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.
Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.
Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.
Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.
Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.
“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.
“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.
Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”
Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.
Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”
Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”
“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”
Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.
Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.
Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.
Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.
“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.
“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.
Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.
“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”
Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”
Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.
“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”
Emily menelan ludah. “Oke.”
Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.
Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.
Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.
Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.
“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.
Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”
Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.
“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.
Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.
Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.
Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.
“Kenapa?” tanya Emily.
Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”
Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”
Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”
Sekarang.
Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.
Sekretarisnya mempersilakan masuk.
Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.
“Duduk,” katanya singkat.
Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.
Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”
Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”
“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”
Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.
“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”
Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”
“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”
Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”
Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.
“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”
Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.
Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.
Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.
Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.
Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.
“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.
Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”
“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”
Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.
Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.
“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.
Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”
Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”
Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.
Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.
Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.
Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.
Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.
Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.
“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.
“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.
Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”
Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.
Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”
Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”
“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”
Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.
Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.
Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Baca Lebih
Tentang Penulis

Caroline moraes
Bab Terbaru
#299 299 - Epilog
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#298 298 - Ella Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#297 297 - Ella Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#296 296 - Leon Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#295 295 - Leon Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#294 294 - Ella Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#293 293 - Ella Walker
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#292 292 - Leon Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#291 291 - Leon Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01#290 290 - Ella Carter
Terakhir Diperbarui: 04/27/2026 07:01
Komentar
Belum ada komentar.
Anda Mungkin Suka 😍
Miliarder Satu Malam
422 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ragib Siddiqui
Chloe adalah putri kedua dari keluarga Bishop, dia adalah gadis yang memiliki segalanya - penampilan yang memukau, ayah angkat yang mencintainya seperti putri kandungnya sendiri, dan tunangan yang tampan serta kaya.
Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ternyata dia juga memiliki ibu angkat dan saudara perempuan yang bisa menghancurkan semua yang dimilikinya.
Malam sebelum pesta pertunangan, ibu angkatnya meracuni minumannya dan merencanakan untuk mengirimnya ke preman-preman. Untungnya, Chloe masuk ke kamar yang salah dan menghabiskan malam dengan seorang pria asing.
Ternyata pria itu adalah CEO dari grup multinasional terbesar di Amerika, yang baru berusia 29 tahun tetapi sudah masuk dalam daftar Forbes. Setelah menghabiskan satu malam dengannya, dia melamarnya, "Menikahlah denganku, aku akan membantumu membalas dendam."
Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ternyata dia juga memiliki ibu angkat dan saudara perempuan yang bisa menghancurkan semua yang dimilikinya.
Malam sebelum pesta pertunangan, ibu angkatnya meracuni minumannya dan merencanakan untuk mengirimnya ke preman-preman. Untungnya, Chloe masuk ke kamar yang salah dan menghabiskan malam dengan seorang pria asing.
Ternyata pria itu adalah CEO dari grup multinasional terbesar di Amerika, yang baru berusia 29 tahun tetapi sudah masuk dalam daftar Forbes. Setelah menghabiskan satu malam dengannya, dia melamarnya, "Menikahlah denganku, aku akan membantumu membalas dendam."
Guru Montok dan Menggoda Saya
1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · Henry
Nama saya Kevin, dan saya seorang siswa SMA. Saya mengalami pubertas lebih awal, dan karena penis saya yang besar, saya sering memiliki tonjolan yang jelas saat pelajaran olahraga. Teman-teman sekelas saya selalu menghindari saya karena hal itu, yang membuat saya sangat tidak percaya diri ketika masih muda. Saya bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang drastis untuk menghilangkannya. Sedikit yang saya tahu, penis besar yang saya benci sebenarnya adalah sesuatu yang dikagumi oleh guru-guru saya, wanita cantik, dan bahkan selebriti. Hal itu akhirnya mengubah hidup saya.
(Terdapat banyak konten seksual dan merangsang, anak di bawah umur tidak diperbolehkan membaca!!!)
(Terdapat banyak konten seksual dan merangsang, anak di bawah umur tidak diperbolehkan membaca!!!)
Menguasai Kota: Ibu Tiri Seksi yang Menggoda
813 Dilihat · Selesai · Harlan Swift
Ibu tiri saya mengira saya bodoh, dia melepas bajunya dan hendak menyusui saya.
Kecanduan Cinta CEO Rahasia
1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Eileen Fee
Empat tahun yang lalu, dia dengan kejam mengusirnya dari rumah, hujan deras mengguyur. Hati Margaret jatuh bersama hujan, menghilang dalam kesunyian malam yang putus asa itu.
Empat tahun kemudian, Margaret berubah menjadi seorang CEO berwajah dingin, tegas dan cakap, dengan hanya seorang putri manis dan patuh yang melunakkan hatinya.
Dia pikir Raymond membencinya sampai ke tulang, tidak menyadari bahwa setelah malam itu, Raymond menjadi gila mencari berita tentangnya di seluruh dunia.
Saat bertemu lagi, dikelilingi oleh banyak CEO, dia sengaja mengabaikannya.
Raymond maju mendekatinya, "Aku sudah bilang, kamu hanya bisa menjadi wanitaku."
Empat tahun kemudian, Margaret berubah menjadi seorang CEO berwajah dingin, tegas dan cakap, dengan hanya seorang putri manis dan patuh yang melunakkan hatinya.
Dia pikir Raymond membencinya sampai ke tulang, tidak menyadari bahwa setelah malam itu, Raymond menjadi gila mencari berita tentangnya di seluruh dunia.
Saat bertemu lagi, dikelilingi oleh banyak CEO, dia sengaja mengabaikannya.
Raymond maju mendekatinya, "Aku sudah bilang, kamu hanya bisa menjadi wanitaku."
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · Elowen Thorne
Natalie mengambil peran sebagai pembantu di rumah keluarga Cullen demi ibunya yang sakit parah. Dia diminta untuk berpura-pura menjadi Nona Cullen. Dia harus berinteraksi dengan tunangan Nona Cullen, Adrian Howard, bahkan berbagi tempat tidur dengannya! Saat menyamar sebagai Nona Cullen, Adrian bersikap baik padanya, tetapi ketika Natalie kembali ke identitas aslinya, Adrian salah mengira dia sebagai pemburu harta. Meskipun ada kebingungan identitas, ada percikan yang tak terbantahkan antara Natalie dan Adrian. Pertanyaannya adalah: kapan Adrian akan menyadari bahwa kasih sayangnya yang tulus bukan untuk Nona Cullen yang licik, tetapi untuk Natalie yang sebenarnya?
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
CEO Miliarder Mencari Pernikahan Ulang
700 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eileen Fee
Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, dia dengan dingin menyerahkan dua lembar kertas, sebuah perjanjian perceraian dan perjanjian sponsor.
Dia merobek perjanjian-perjanjian itu: "Perceraian tidak masalah, tapi jangan pernah bertemu lagi."
Bertahun-tahun kemudian, mantan suaminya mengejarnya di sebuah pesta: "Sayang, sudah cukup bersenang-senangnya? Biar aku antar pulang."
Bibir merah wanita itu melengkung sedikit, dan dia dengan dingin mengucapkan satu kata: "Pergi!"
Dia merobek perjanjian-perjanjian itu: "Perceraian tidak masalah, tapi jangan pernah bertemu lagi."
Bertahun-tahun kemudian, mantan suaminya mengejarnya di sebuah pesta: "Sayang, sudah cukup bersenang-senangnya? Biar aku antar pulang."
Bibir merah wanita itu melengkung sedikit, dan dia dengan dingin mengucapkan satu kata: "Pergi!"
Pasangan Alpha yang Dibenci
1.2k Dilihat · Selesai · WAJE
"Aku tidak mau melihat wajah malaikatnya yang menipuku dan membunuh anakku, dia menjijikkan, dia tidak lebih dari pembohong yang tidak berguna. Aku begitu baik padanya dan ini balasannya? Aku benar-benar mencintainya, aku mengubah diriku demi dia. Aku tahan dengan segala keanehan dan rasa malunya, tapi tahu tidak, bawa dia kembali ke Ryan kalau perlu, aku yakin Ryan sangat lega ketika aku mengambilnya, tapi bahkan aku menyesal mengambilnya."
Camilla mencoba menenangkan diri, mencari keseimbangan tapi masih menangis. "Kamu tidak serius, kamu cuma marah. Kamu mencintaiku, ingat?" gumamnya, pandangannya melayang ke Santiago. "Katakan padanya kalau dia mencintaiku dan dia cuma marah." pintanya, ketika Santiago tidak merespon, dia menggelengkan kepala, pandangannya kembali ke Adrian yang menatapnya dengan jijik. "Kamu bilang kamu mencintaiku selamanya." bisiknya.
"Tidak, aku benar-benar benci kamu sekarang!" teriaknya.
*****
Camilla Mia Burton adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang tidak memiliki serigala, penuh dengan ketidakamanan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Dia setengah manusia setengah werewolf; dia adalah serigala yang kuat meskipun tidak menyadari kekuatan dalam dirinya dan memiliki binatang yang langka. Camilla semanis mungkin.
Namun, apa yang terjadi ketika dia bertemu dengan pasangannya dan dia bukan seperti yang dia impikan?
Dia adalah Alpha berusia delapan belas tahun yang kejam dan berhati dingin. Dia tidak peduli dengan pasangan dan tidak ingin ada hubungannya dengan Camilla. Dia berusaha mengubah pandangannya tentang segala hal, namun dia membenci dan menolaknya, mendorongnya menjauh tapi ikatan pasangan terbukti kuat. Apa yang akan dia lakukan ketika dia menyesal menolak dan membencinya?
Camilla mencoba menenangkan diri, mencari keseimbangan tapi masih menangis. "Kamu tidak serius, kamu cuma marah. Kamu mencintaiku, ingat?" gumamnya, pandangannya melayang ke Santiago. "Katakan padanya kalau dia mencintaiku dan dia cuma marah." pintanya, ketika Santiago tidak merespon, dia menggelengkan kepala, pandangannya kembali ke Adrian yang menatapnya dengan jijik. "Kamu bilang kamu mencintaiku selamanya." bisiknya.
"Tidak, aku benar-benar benci kamu sekarang!" teriaknya.
*****
Camilla Mia Burton adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang tidak memiliki serigala, penuh dengan ketidakamanan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Dia setengah manusia setengah werewolf; dia adalah serigala yang kuat meskipun tidak menyadari kekuatan dalam dirinya dan memiliki binatang yang langka. Camilla semanis mungkin.
Namun, apa yang terjadi ketika dia bertemu dengan pasangannya dan dia bukan seperti yang dia impikan?
Dia adalah Alpha berusia delapan belas tahun yang kejam dan berhati dingin. Dia tidak peduli dengan pasangan dan tidak ingin ada hubungannya dengan Camilla. Dia berusaha mengubah pandangannya tentang segala hal, namun dia membenci dan menolaknya, mendorongnya menjauh tapi ikatan pasangan terbukti kuat. Apa yang akan dia lakukan ketika dia menyesal menolak dan membencinya?
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder
1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Hari Pernikahan, Mantan Suami Memohon Kembali
1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Sarah
Enam tahun yang lalu, Isabella Beniere secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pria dan berakhir di ranjang bersamanya. Frederick Valdemar menuduhnya berselingkuh. Dia menyerahkan surat cerai, mengusirnya, dan meninggalkannya tanpa harta.
Enam tahun kemudian, dia kembali dengan seorang anak. Ketika Frederick melihat seorang anak di sampingnya yang sangat mirip dengannya, dia menyadari bahwa pria dari tahun-tahun lalu itu tidak lain adalah dirinya sendiri.
Frederick sangat menyesali tindakannya dan tiba-tiba dipenuhi dengan keinginan untuk mencari pengampunannya.
Anak sulung mereka menggelengkan kepala dalam diam. "Aku tidak mau tahu tentang pria ini."
Anak kedua mereka menutup matanya dengan jijik. "Dia terlalu memalukan. Aku tidak mau melihatnya."
Anak ketiga mereka tampak khawatir. "Ya ampun! Ayah dalam masalah malam ini."
Anak keempat mereka mengerutkan kening dan memutar matanya dengan tidak senang. Dia merasa sangat tak berdaya.
Hanya putri kecil mereka, yang mengenakan gaun putri, berlari mendekat, menarik-narik baju Frederick, memiringkan kepalanya dengan manis dan bertanya, "Ayah, bolehkah Ibu jadi pengiring pengantin?"
Frederick terdiam.
Dia belum pernah merasa seberat ini sebelumnya!
Buku ini diperbarui dengan satu bab per minggu.
Enam tahun kemudian, dia kembali dengan seorang anak. Ketika Frederick melihat seorang anak di sampingnya yang sangat mirip dengannya, dia menyadari bahwa pria dari tahun-tahun lalu itu tidak lain adalah dirinya sendiri.
Frederick sangat menyesali tindakannya dan tiba-tiba dipenuhi dengan keinginan untuk mencari pengampunannya.
Anak sulung mereka menggelengkan kepala dalam diam. "Aku tidak mau tahu tentang pria ini."
Anak kedua mereka menutup matanya dengan jijik. "Dia terlalu memalukan. Aku tidak mau melihatnya."
Anak ketiga mereka tampak khawatir. "Ya ampun! Ayah dalam masalah malam ini."
Anak keempat mereka mengerutkan kening dan memutar matanya dengan tidak senang. Dia merasa sangat tak berdaya.
Hanya putri kecil mereka, yang mengenakan gaun putri, berlari mendekat, menarik-narik baju Frederick, memiringkan kepalanya dengan manis dan bertanya, "Ayah, bolehkah Ibu jadi pengiring pengantin?"
Frederick terdiam.
Dia belum pernah merasa seberat ini sebelumnya!
Buku ini diperbarui dengan satu bab per minggu.
Mencintai Quinn
1.3k Dilihat · Selesai · North Rose 🌹
Quinn mengeluarkan geraman persetujuan sebelum jarinya menyelusup masuk. "Kamu basah sekali untukku. Aku ingin merasakanmu lagi, Annie."
Sebelum aku sempat menyadari apa yang dia ingin lakukan, Quinn berlutut, mengaitkan kakiku di atas bahunya, lalu menempelkan mulutnya ke inti tubuhku. Aku mengerang keras saat dia mulai bekerja pada klitorisku. Dia menyelipkan dua jarinya dalam-dalam ke dalam diriku.
Dengan satu tangan mencengkeram meja dan tangan lainnya terkubur di rambutnya, aku mendongakkan kepala lebih jauh saat dia melahapku dengan lidahnya. "Oh, sial, Quinn."
"Sebut namaku, Annie."
********************
Annora Winters memiliki pekerjaan yang hebat, rumah yang nyaman, dan keluarga yang penuh kasih. Namun dia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Sesuatu yang pernah dia genggam, tetapi waktunya tidak tepat untuk mempertahankannya. Cinta yang begitu murni sehingga dia sering memimpikan wajahnya lebih dari yang seharusnya.
Quinn Greyson berinvestasi dengan baik dan menjadi miliarder sebelum dia menyadari apa yang terjadi. Wanita-wanita melemparkan diri padanya setiap malam. Dengan setiap penaklukan baru, dia merasa lebih banyak jiwanya yang hancur. Dia merindukan cinta sejati. Sesuatu yang pernah dia miliki tetapi hilang sejak lama.
Sebuah pertemuan kebetulan menempatkan mereka di jalur yang sama sekali lagi. Ketegangan memuncak di antara mereka ketika sebuah rahasia dari masa lalu mereka terungkap. Ketika mereka berciuman, api hasrat meledak, dan kenangan dari masa lalu terbangun. Bisakah Quinn dan Annora menemukan jalan mereka melalui ladang ranjau yang menunggu mereka saat mereka saling mengenal lagi? Atau akankah mereka terpisah oleh seorang kekasih dari masa lalunya?
18+ Konten Seksual Dewasa
Sebelum aku sempat menyadari apa yang dia ingin lakukan, Quinn berlutut, mengaitkan kakiku di atas bahunya, lalu menempelkan mulutnya ke inti tubuhku. Aku mengerang keras saat dia mulai bekerja pada klitorisku. Dia menyelipkan dua jarinya dalam-dalam ke dalam diriku.
Dengan satu tangan mencengkeram meja dan tangan lainnya terkubur di rambutnya, aku mendongakkan kepala lebih jauh saat dia melahapku dengan lidahnya. "Oh, sial, Quinn."
"Sebut namaku, Annie."
********************
Annora Winters memiliki pekerjaan yang hebat, rumah yang nyaman, dan keluarga yang penuh kasih. Namun dia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Sesuatu yang pernah dia genggam, tetapi waktunya tidak tepat untuk mempertahankannya. Cinta yang begitu murni sehingga dia sering memimpikan wajahnya lebih dari yang seharusnya.
Quinn Greyson berinvestasi dengan baik dan menjadi miliarder sebelum dia menyadari apa yang terjadi. Wanita-wanita melemparkan diri padanya setiap malam. Dengan setiap penaklukan baru, dia merasa lebih banyak jiwanya yang hancur. Dia merindukan cinta sejati. Sesuatu yang pernah dia miliki tetapi hilang sejak lama.
Sebuah pertemuan kebetulan menempatkan mereka di jalur yang sama sekali lagi. Ketegangan memuncak di antara mereka ketika sebuah rahasia dari masa lalu mereka terungkap. Ketika mereka berciuman, api hasrat meledak, dan kenangan dari masa lalu terbangun. Bisakah Quinn dan Annora menemukan jalan mereka melalui ladang ranjau yang menunggu mereka saat mereka saling mengenal lagi? Atau akankah mereka terpisah oleh seorang kekasih dari masa lalunya?
18+ Konten Seksual Dewasa
Alpha Killian
376 Dilihat · Sedang Berlangsung · LS Barbosa
"Aku, Eleanor Bernardi, menolakmu, Alpha Killian Ivanov, sebagai pasangan dan Alpha-ku." Dia berkata, menatap tajam ke arah Alpha yang hanya menggelengkan kepala, tampak tak terpengaruh oleh kata-katanya.
Dia berjalan mendekatinya, matanya terpaku padanya, seperti pemangsa yang mengejar mangsanya.
"Di atas mayatku." Dia berkata, menyambungkan bibirnya dengan bibirnya. "Kamu milikku, Eleanor, dan aku sarankan kamu ingat itu."
Melarikan diri dari kawanan bukanlah hal yang mudah.
Namun ketika Eleanor Bernardi mendapati dirinya terikat dengan musuh dari kawanan lamanya, Alpha dari segala Alpha, Pakhan dari Mafia, Alpha Killian Ivanov, dia terjebak dalam konflik apakah dia bisa mempercayainya atau tidak.
Dan dengan sosoknya yang dominan, dia tidak ingin melepaskannya. Setidaknya, tidak dengan syaratnya sendiri...
Dia berjalan mendekatinya, matanya terpaku padanya, seperti pemangsa yang mengejar mangsanya.
"Di atas mayatku." Dia berkata, menyambungkan bibirnya dengan bibirnya. "Kamu milikku, Eleanor, dan aku sarankan kamu ingat itu."
Melarikan diri dari kawanan bukanlah hal yang mudah.
Namun ketika Eleanor Bernardi mendapati dirinya terikat dengan musuh dari kawanan lamanya, Alpha dari segala Alpha, Pakhan dari Mafia, Alpha Killian Ivanov, dia terjebak dalam konflik apakah dia bisa mempercayainya atau tidak.
Dan dengan sosoknya yang dominan, dia tidak ingin melepaskannya. Setidaknya, tidak dengan syaratnya sendiri...
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
2.3k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Setelah kematiannya yang tragis, didorong oleh keputusasaan dan pengkhianatan, miliader yang dulu memburu balas dendam kini hanya bisa bersujud memohon ampun.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Tentang Penulis

Caroline moraes
Membawa Anda ke Fantasi.
Unduh Aplikasi AnyStories untuk menemukan lebih banyak Cerita Fantasi.












