15 Book(s) Related to this contract romance must not turn real

Tuan Mitchell cemburu

Tuan Mitchell cemburu

216 Dilihat · Sedang Berlangsung · Leslie
Ava Anderson hanya memiliki satu orang di hatinya, yaitu Alexander Mitchell. Di tahun kedua pernikahan mereka, Ava hamil. Kebahagiaannya tak terhingga. Namun sebelum dia bisa berbagi kabar gembira itu dengan suaminya, Alexander malah memberinya surat cerai, ingin menikahi cinta pertamanya. Ava tidak mau menjadi badut dalam kisah cinta orang lain. Tanpa banyak drama, dia berbalik dan pergi. Bertahun-tahun kemudian, namanya ada di mana-mana.

Entah kenapa, Mitchell merasa gelisah. Dia mulai merindukannya, dan hatinya terasa sakit saat melihat Ava tertawa dengan pria lain. Di gereja, dia mengacaukan pernikahan Ava dan jatuh berlutut. Dengan mata merah, dia memohon, "Ava, bisakah kita kembali seperti dulu? Hatiku cemburu sekali!"
Dewa Medis Turun Gunung

Dewa Medis Turun Gunung

440 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Brooks
Pewaris Tian Dao Yi Men dari Gunung Long Hu, Yang Hao, turun gunung atas perintah gurunya untuk mengobati orang sakit. Dengan kondisi bawaan lahir yang langka, ia memulai karirnya sebagai dokter magang di rumah sakit. Berbekal keterampilan medis dan kemampuan ramalannya, ia perlahan-lahan mengumpulkan pahala dan mencapai puncak hidupnya. Dia dengan tegas mengalahkan anak-anak kaya yang sombong dan menikmati kehidupan dengan wanita-wanita cantik yang luar biasa.
Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Tuan Muda Berpakaian Merah

Tuan Muda Berpakaian Merah

384 Dilihat · Sedang Berlangsung · Evelyn Blackwood
Usia sebelas tahun, dia menyembunyikan riasan merah untuk adiknya, seorang pemuda lemah, dengan sebilah pedang panjang, menjaga perbatasan utara. Usia tujuh belas tahun, dia mengikuti pangeran dalam berbagai pertempuran, menembus rintangan, sebagai putra sulung keluarga Tang, penerus setia. Usia dua puluh tahun, hadiah ulang tahunnya adalah dekrit dari kaisar: keluarga Tang dari kantor perdana menteri, menipu kaisar dan seluruh keluarga ditangkap. Dia menyerahkan pedang tajamnya, menyerahkan perbatasan utara, menyerahkan Da Zhao, menyerahkan semua yang dia anggap terbaik, yang seharusnya milik raja. Tapi Tang Qian tidak tahu, pangeran yang dulunya keras kepala dan manja menjadi dewasa dan bijaksana, setelah kaisar mendapatkan seluruh negeri, mengapa dia mencabut kekuasaan militer Tang Qian, lalu menekan terus-menerus, hampir menempatkan keluarga Tang dalam situasi tanpa harapan. Tang Qian berpikir itu karena kaisar takut akan kekuasaannya yang terlalu besar, mengulangi nasib Raja Zhenling di masa lalu. Dia berhati-hati dalam setiap langkah, melepaskan kekuasaan, mundur dari istana, Tang Qian hampir menjadi orang biasa, tetapi tetap tidak bisa menghindari malapetaka keluarga Tang. Setelah berlutut menerima dekrit itu, dia baru sadar, cara kaisar hanya untuk memaksa Tang Qian menyerahkan dirinya sendiri.

Semua orang mengatakan bahwa keluarga Tang dari Marquis Changning mendukung kaisar baru naik takhta, dihormati di Da Zhao, sangat mulia. Tapi orang-orang di sekitar Pangeran Ketujuh tahu, hati kaisar bisa memaafkan mantan musuh politik yang berpindah pihak, tapi tidak bisa mentolerir Tang Qian melihat orang lain. Kekerasan pangeran terhadap Marquis Changning membuat semua orang tidak bisa memahami. Cantik alami, namun terjebak dalam bencana keluarga, tidak pernah memakai gaun sehari pun; namun hari ini, dengan gaun panjang merah menyala, menyilaukan mata semua orang, hanya berlutut di depannya dengan rendah hati, hanya untuk mendengar satu kalimat, "Mau bebaskan keluarga Tang? Maka hibur aku, Tang Qian, dengan cara seorang wanita."
Tuan Rumah Wanita yang Memesona

Tuan Rumah Wanita yang Memesona

996 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eldrin Blackthorn
Kita semua hidup di masa di mana keinginan berkembang dengan liar, namun kita tetap mencari kebenaran dalam keserakahan. Pertama kali bertemu, dia membawaku pulang. Awalnya, kami saling tidak suka. Namun kemudian, kunci rumahnya ada di sakuku, dan dia mulai memanggilku Tuan Pelangi.
Tuan Muda, Pangeran adalah Pelayan

Tuan Muda, Pangeran adalah Pelayan

438 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lorraine Whitcombe
Dia, bocah pelayan termiskin di rumah bordil, adalah anak bungsu dari pangeran paling berkuasa. Hanya dia yang bisa memerintah di dalam rumah bordil besar itu. Hanya dia yang bisa melarikan diri lebih cepat dari kelinci setelah dipukuli. Hanya dia yang bisa membuat kakaknya yang terkenal di seluruh negeri marah sampai mulutnya berbusa.

"Mas, bukannya kamu bisu ya?"

"......"

"Mas, kamu mau jadi kaisar ya?"

"......"

"Mas......"

"Aku bukan kakakmu."

"Aku tahu. Teh putih, kebahagiaan yang tenang tanpa hal lain, aku menunggu angin dan juga menunggumu."
7 Malam dengan Tuan Black

7 Malam dengan Tuan Black

1.3k Dilihat · Sedang Berlangsung · ALMOST PSYCHO
PERINGATAN: Buku ini mengandung adegan seks eksplisit yang sangat detail... sekitar 10-12 bab. Tidak cocok untuk pembaca muda!

"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.

"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.

"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."

Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.

"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."

Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................

Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.

Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.

🔻KONTEN DEWASA🔻
Tuan Pemilikku, Sang Tawanan Cinta

Tuan Pemilikku, Sang Tawanan Cinta

789 Dilihat · Sedang Berlangsung · Maya Sujiman
Orang yang paling kucintai—Handi, hakim termuda sepanjang sejarah, justru menjadi orang yang menjebloskanku ke penjara.
Selama tiga tahun itu, seluruh harga diriku terkikis habis.
Setelah bebas, keadaan keluarganya sudah porak-poranda. Tanpa tempat tinggal, aku terpaksa menjadi seorang hostes kelab malam yang hina.
Takdir mempertemukan aku dan Handi lagi.
Dia memandangi rok miniku yang mengumbar dengan tatapan dingin, meremas erat pinggangku, dan berkata dengan suara bergetar penuh amarah, “Aisyah, siapa yang mengizinkanmu bekerja di tempat seperti ini?”
Aku menyunggingkan senyum menggoda, merayunya. “Tuan, mau beli sebotol anggur? Dan… malam ini aku sepenuhnya milik Tuan.”
Pengantin Kejutan Sang Miliarder: Ketika Cinta Turun

Pengantin Kejutan Sang Miliarder: Ketika Cinta Turun

384 Dilihat · Sedang Berlangsung · Henning
Ketika pertama kali bertemu, dia meminta cerai karena salah sangka bahwa dia hanya mengincar kekayaannya. Namun, dia menganggapnya sebagai orang biasa saja, dan pernikahan mereka hanyalah kebetulan belaka.
Satu bulan kemudian, dia bersikeras untuk bercerai, tetapi dia mendapati suaminya menghilang secara misterius, berusaha menghindari perceraian.
Seorang pria tampan yang sangat mirip dengan suaminya muncul di televisi nasional, menangis, "Istriku sempurna dalam segala hal, tapi dia bersikeras ingin bercerai. Apa yang harus aku lakukan?"
Romansa Terlarang Kita

Romansa Terlarang Kita

963 Dilihat · Sedang Berlangsung · Emma- Louise
Satu malam saja cukup untuk mengubah seluruh duniaku dalam sekejap.

Cuma butuh satu kebetulan—aku kerja di sebuah acara katering yang isinya orang-orang berduit—untuk bikin dua dunia yang nggak mungkin ketemu jadi saling bertabrakan. Di sana, pandangan Tuan Ezra Barcley tertangkap padaku. Namanya dikenal di kalangan bisnis, dihormati banyak orang. Entah kenapa dia seperti tertarik, padahal di sisinya sudah berdiri seorang perempuan cantik yang jelas-jelas pantas jadi pajangan di sampingnya. Sementara aku? Aku bukan siapa-siapa. Kami ini definisi dua kutub yang berlawanan tapi saling tarik.

Dia menginginkanku. Dan laki-laki seperti dia punya cara sendiri untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku nggak bisa membohongi diri: aku juga tertarik padanya. Aku berusaha, sungguh, aku berusaha keras menahan diri. Tapi malah aku yang jadi kelemahannya—kelemahan yang dia nggak mau lepaskan.

Ezra sudah ada yang punya, usianya lebih tua dariku, dan aku nggak akan pernah terlihat pas berdiri di sampingnya—nggak seperti perempuan yang sekarang menempel di lengannya. Aku bukan tipe perempuan yang merebut. Tapi entah kenapa itu nggak menghentikanku untuk jatuh ke ranjang dengan laki-laki yang seharusnya tidak tersedia.

Aku tahu ini salah, dan aku harus berhenti. Tapi bilang “berhenti” ternyata lebih gampang daripada melakukannya, apalagi ketika dia orang pertama yang bikin aku merasa aku ini berharga. Dia memperlihatkan hidup yang selama ini cuma jadi angan-angan. Dan di antara kami ada sesuatu yang baru, sesuatu yang nyangkut—koneksi yang nggak mudah dilupakan.

Tapi tidak semuanya seperti yang kelihatan. Kami sama-sama punya rahasia, dan Ezra punya iblisnya sendiri. Hubungan yang tampak sempurna itu—yang selama ini dia tunjukkan—ternyata penuh kebohongan dan kebencian. Namun perempuan itu bersikeras mempertahankan semua yang ia punya, meski sebenarnya itu bukan yang ia inginkan.

Romansa terlarang kami hampir pasti cuma akan berakhir jadi bencana. Tapi aku juga nggak bisa menyangkal: setiap menit bersamanya terasa layak, apa pun akhir yang menunggu kami nanti.
Surga Kejam: Romansa Mafia

Surga Kejam: Romansa Mafia

240 Dilihat · Sedang Berlangsung · nicolefox859
Apa yang lebih memalukan daripada kepencet telepon bokong?

Kepencet telepon bokong… ke bos sendiri.

Dan ninggalin pesan suara yang cabul waktu kamu, uh… lagi “berpikir” soal dia.

Kerja jadi asisten pribadi Ruslan Oryolov itu neraka yang dibayar. Seharian penuh gue ngurusin miliarder itu—setiap maunya, setiap tingkahnya, setiap perubahan mood yang datangnya kayak hujan dadakan. Begitu pulang malam itu, gue butuh pelampiasan. Pelepas tegang. Apa pun yang bisa bikin kepala gue berhenti berdengung.

Jadi di rumah, itulah yang gue lakukan.

Masalahnya, pikiran gue masih nyangkut di si bos brengsek yang tiap hari bikin hidup gue berantakan. Nggak apa-apa—karena dari sekian banyak dosa Ruslan, yang paling berbahaya mungkin justru satu: dia keterlaluan gantengnya. Malam ini, fantasi tentang dia adalah satu-satunya hal yang gue butuhin buat bikin gue lepas kendali.

Sampai kemudian gue ngelirik ke bawah.

Ponsel gue kejepit di sebelah tubuh gue, layarnya nyala redup, notifikasi kecil yang bikin darah gue seketika beku.

Ada voicemail.

Durasi: 7 menit 32 detik.

Tujuan: Ruslan Oryolov.

Dunia gue runtuh tanpa suara. Gue menjerit pelan, refleks, lalu melempar ponsel itu sekuat tenaga ke arah karpet seberang kamar, seolah-olah kalau benda itu jauh dari gue, kenyataan ikut menjauh.

Tapi nggak ada tombol “batal” untuk kerusakan yang udah terjadi. Nggak ada cara ngambil balik… itu. Desahan gue yang terlalu jelas. Kalimat-kalimat putus-putus yang seharusnya cuma jadi rahasia di balik pintu terkunci. Puncak yang, sialnya, sangat vokal.

Jadi gue harus gimana?

Rencana gue sederhana: jauhin dia. Pura-pura nggak pernah kejadian. Lagipula, orang sesibuk itu mana sempat ngecek voicemail, kan?

Ternyata gue terlalu naif.

Karena keesokan harinya, di kalender kerja gue muncul undangan rapat pribadi—satu lawan satu.

Durasi rapat: tepat 7 menit 32 detik.

Dan satu hal jadi pasti.

Dia.

Dengar.

Semuanya.
Adonis Bertatoo - Romansa Mafia

Adonis Bertatoo - Romansa Mafia

968 Dilihat · Sedang Berlangsung · nicolefox859
Sahabat gue ngirimin pria asing yang super ganteng itu pesan suara...

Isinya gue bilang gue pengin manjat dia kayak manjat pohon.

Dan dia barusan. Bales. Chat.

Salah anjingnya, sih, sebenernya.

Kalau aja anjing gede yang gue ajak jalan ini—seekor anjing raksasa yang sama sekali belum terlatih—punya sopan santun sedikit, gue nggak bakal berakhir begini:

Tali anjing gue melilit tubuh pria paling mematikan yang pernah gue lihat seumur hidup.

Untungnya, dia santai banget menanggapinya.

(Meski leluconnya, “Anjing itu biasanya mirip pemiliknya,” rasanya nyelekit pas Rufus malah mulai menggesek-gesekkan badan ke kakinya.)

Dia ninggalin gue kartu nama dan senyum yang bikin lutut gue seolah mau ambruk.

Gue masih nggak percaya sama apa yang baru kejadian ketika gue dan sahabat gue lanjut jalan lagi.

“Kayaknya ada yang naksir dikit,” tuduhnya, nada suaranya penuh kemenangan.

Karena gugup dan otak gue masih nge-lag, gue nyeletuk, “Gue bakal ngunci pinggang dia pake kaki gue lebih kenceng dari tali itu.”

NAH, di situlah dia nunjukin kalau ternyata dia merekam jawaban gue.

NAH, di situlah dia nyengir paling setan yang pernah gue lihat dan bilang, “Sama-sama, ya.”

Dan NAH, di situlah dia nyodorin ponsel gue dan ngasih tahu...

Dia ngirim rekamannya ke pria itu.

Jantung gue naik sampai kerongkongan saat tiga titik kecil itu muncul di layar...

Lalu masuk satu pesan.

“BUKTIIN.”
Alpha Terlarangnya

Alpha Terlarangnya

804 Dilihat · Sedang Berlangsung · Moonlight Muse
"Ini salah..." dia merintih, kenikmatan menguasainya.

"Kamu menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu, menyerahlah pada hasratmu sayang, dan aku akan membuatmu merasa sangat nikmat, sampai kamu tidak akan pernah ingin disentuh pria lain," bisiknya dengan suara serak, membuat inti tubuhnya berdenyut.

Itulah yang dia takutkan, bahwa ketika dia selesai dengannya, dia akan ditinggalkan hancur...


Scarlett Malone adalah seorang gadis serigala muda yang berani dan keras kepala, diberkati oleh dewi bulan sebagai Alpha Betina pertama.

Pindah ke kota baru bersama ibunya untuk memulai hidup baru, mereka disambut ke dalam kawanan baru dan keluarga baru. Hal-hal menjadi rumit ketika dia mulai merasa tertarik pada saudara tirinya yang tampan, cerdas, dan sombong, calon Alpha dari Kawanan Bulan Darah.

Apakah dia akan mampu mengatasi pikiran terlarang yang menguasai pikirannya dan membangkitkan kenikmatan yang dalam di dalam dirinya? Atau akankah dia mendorong batasannya sendiri dan menjelajahi perasaan terlarang yang membara di dalam dirinya?

Elijah Westwood, pria paling populer di sekitar, dan yang diinginkan setiap gadis untuk dicicipi. Seorang pemain yang tidak percaya pada cinta, maupun pasangan. Dia berusia dua puluh satu tahun dan tidak terburu-buru untuk menemukan jodohnya, menikmati hidup apa adanya, tanpa kekurangan wanita untuk dibawa ke ranjang.

Apa yang terjadi ketika dia pulang hanya untuk menemukan bahwa dia mulai melihat saudara tirinya dalam cahaya baru? Mengetahui bahwa ketika upacara perjodohan datang, dia akan menemukan pasangannya.

Apakah dia akan melawan segalanya untuknya, atau akankah dia melepaskannya?
Cinta Sejati Layak Mendapat Kesempatan Kedua

Cinta Sejati Layak Mendapat Kesempatan Kedua

978 Dilihat · Sedang Berlangsung · Nox Shadow
Joey Blackwood telah berada di sisi Sebastian Winters selama tiga tahun, dan dia selalu mengira bahwa dirinya hanyalah seorang sekretaris eksekutif yang lembut dan cakap. Di malam hari, dia adalah kekasih yang lembut dan memikat. Berkali-kali, Joey kehilangan dirinya dan melamarnya. Sebastian memberinya kenyataan pahit: "Hubungan kita hanya fisik semata; aku tidak memiliki keterikatan emosional padamu." Joey akhirnya sadar dan meninggalkannya. Sejak saat itu, kariernya melesat, dan dia menjadi pengacara litigasi yang tidak ada yang berani menantangnya, dengan aliran pengagum yang tak pernah putus di sisinya. Dipenuhi penyesalan, Sebastian dengan putus asa mengejar Joey, berkata, "Hidupku, segalanya, adalah milikmu. Maukah kamu menikah denganku?" Dia tersenyum cerah dan menjawab, "Maaf, bisa geser sedikit? Kamu menghalangi para pengagumku."
Dimanjakan Oleh Suami Misteriusku

Dimanjakan Oleh Suami Misteriusku

775 Dilihat · Sedang Berlangsung · Nox Shadow
Setelah mengalami pengkhianatan dari kekasihnya, Regina Valrose merasa patah hati dan memilih untuk menikah dengan seorang pria asing. Setelah pernikahan, Regina tidak pernah melihat suaminya lagi hingga beberapa bulan kemudian, di sebuah acara perusahaan, dia ditantang oleh rekan-rekannya untuk mencium pria mana pun yang hadir. Saat Regina dengan panik memikirkan situasinya, pintu ruangan terbuka dan masuklah Douglas Semona, CEO perusahaan tersebut.

Regina terkejut, karena Douglas sangat mirip dengan suaminya yang baru dinikahinya!

Apakah tanpa disadari dia telah menjadi Ibu Negara rahasia dari CEO selama berbulan-bulan?
(Update harian dengan tiga bab)
1