13 Book(s) Related to summer walker new hair

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Pengawal Super

Pengawal Super

545 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ethan Holloway
Seorang pria yang penuh pesona namun tidak vulgar, berpakaian rapi namun tidak seperti binatang. Seorang lelaki yang muncul tiba-tiba, identitasnya penuh misteri, mengguncang dunia, menciptakan nama buruk yang abadi, dan menawan hati jutaan wanita...
Pijat Super 1

Pijat Super 1

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aeris Vornthar
Sebuah kecelakaan membuat mata Wang Tiedan buta. Dokter bilang mungkin tidak akan pernah sembuh, tapi juga mungkin bisa sembuh kapan saja.
Hingga suatu hari, dia menyaksikan kakak iparnya dengan kakaknya...
My Super Daddy

My Super Daddy

269 Dilihat · Sedang Berlangsung · Raden Mas
Seorang raja dunia bawah yang memiliki hidup sangat sepi, Aldi seorang mafia besar yang menguasai dunia bawah yang sangat bertanggung jawab akan segalanya. Ia sudah lajang selama bertahun-tahun, akan tetapi masa-masa itu sirna sudah usai seorang wanita membalikkan keadaannya, semua hal itu dimulai dari sini, apakah Aldi akan menjadi seorang bos mafia atau tidak?
Tiga Puluh Hari

Tiga Puluh Hari

426 Dilihat · Sedang Berlangsung · Bibi Paterson
Pemalu dan sederhana, Abigail James sangat suka memanggang. Dia bermimpi membuka kafe pencuci mulut sendiri, tetapi sebaliknya dia menghabiskan hari-harinya bekerja sebagai analis data dan diam-diam membawa kue-kue buatannya sebagai 'pembunuh diet' di kantor. Taylor Hudson, pemilik Hudson International yang misterius, telah terpesona oleh kepolosan dan pesona tenang Abby sejak hari pertama dia bekerja di perusahaan itu. Namun, sejarahnya dengan wanita dipenuhi oleh keadaan pribadi yang membuatnya berjanji untuk menjauh. Pertemuan tak terduga membuat dunia Abby terbalik ketika, tertarik oleh mata cokelat Taylor dan kebaikan yang tak terduga, dia memulai perjalanan ketertarikan yang akan membuat hati dan jiwanya terbuka. Meskipun ketertarikan mereka saling, baik Abby maupun Taylor memiliki setan batin mereka sendiri yang perlu mereka atasi jika hubungan mereka bisa maju untuk menemukan 'bahagia selamanya' mereka sendiri.
Dia pikir dia adalah kebahagiaan selamanya... Tapi apakah dia juga kebahagiaannya?
Berlatar di London dan Brighton, Thirty Days adalah seri roman yang sangat provokatif yang memberikan Anda kisah cinta yang sangat panas antara pria tampan dan pahlawan wanita yang tidak yakin, kue-kue, dan beberapa tikungan dan belokan yang tak terduga di sepanjang jalan.

"Sial, Abby, kamu tidak tahu apa yang sedang ada di pikiranku sekarang." Aku menatapnya dengan terkejut, geraman rendah di suaranya membuatku merinding.
Taylor menggeram, menggeser celana dalamku ke samping dan memasukkan jarinya ke dalamku, meregangkanku. Suara foil robek, dan kemudian dia masuk ke dalamku, menekanku ke pintu.
Aku melingkarkan tangan dan kakiku di sekelilingnya saat dia menghantamku dengan keras dan cepat, dan aku hanya mengikutinya, melemparkan kepalaku ke belakang saat aku menikmati gelombang pasang. Aku merasakan Taylor meledak di dalamku, membuatku mencapai puncak lagi.
Dalam sekejap aku meledak dengan kekuatan yang membuatku melihat bintang-bintang...
Menantu Super: Miliarder Tersembunyi

Menantu Super: Miliarder Tersembunyi

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Deity
"Noah, seorang anak konglomerat, menjadi orang biasa tiga tahun lalu karena konflik keluarga. Lisa, seorang wanita cantik luar biasa, tidak peduli dengan keadaan Noah dan menikah dengannya. Setelah menikah, ibu mertua terus-menerus menghina Noah, menyebutnya menantu yang tidak berguna. Tiga tahun kemudian, keluarga mencabut pembatasan, dan Noah kembali menjadi pewaris miliarder. Noah berkata dengan penuh kasih kepada Lisa, 'Aku ingin membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia.' Tiga tahun lalu, ayah mertua dan ibu mertua memandang rendah padaku, tapi tiga tahun kemudian, kalian bahkan tidak bisa menyentuhku."
Mabuk Kemewahan di Malam Hari

Mabuk Kemewahan di Malam Hari

545 Dilihat · Sedang Berlangsung · Elara Sullivan
Sebuah surat cinta yang salah tulis, membuat aku, seorang pria biasa, dan sang dewi mengalami kejadian yang tak terungkapkan... Di balik pergulatan jiwa dan hasrat, ternyata ada jalan yang penuh dengan dendam, tipu muslihat, dan pengkhianatan yang tak berujung.
Hari Pernikahan, Mantan Suami Memohon Kembali

Hari Pernikahan, Mantan Suami Memohon Kembali

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Sarah
Enam tahun yang lalu, Isabella Beniere secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pria dan berakhir di ranjang bersamanya. Frederick Valdemar menuduhnya berselingkuh. Dia menyerahkan surat cerai, mengusirnya, dan meninggalkannya tanpa harta.

Enam tahun kemudian, dia kembali dengan seorang anak. Ketika Frederick melihat seorang anak di sampingnya yang sangat mirip dengannya, dia menyadari bahwa pria dari tahun-tahun lalu itu tidak lain adalah dirinya sendiri.

Frederick sangat menyesali tindakannya dan tiba-tiba dipenuhi dengan keinginan untuk mencari pengampunannya.

Anak sulung mereka menggelengkan kepala dalam diam. "Aku tidak mau tahu tentang pria ini."

Anak kedua mereka menutup matanya dengan jijik. "Dia terlalu memalukan. Aku tidak mau melihatnya."

Anak ketiga mereka tampak khawatir. "Ya ampun! Ayah dalam masalah malam ini."

Anak keempat mereka mengerutkan kening dan memutar matanya dengan tidak senang. Dia merasa sangat tak berdaya.

Hanya putri kecil mereka, yang mengenakan gaun putri, berlari mendekat, menarik-narik baju Frederick, memiringkan kepalanya dengan manis dan bertanya, "Ayah, bolehkah Ibu jadi pengiring pengantin?"

Frederick terdiam.

Dia belum pernah merasa seberat ini sebelumnya!

Buku ini diperbarui dengan satu bab per minggu.
Triplet Manis: Kenapa Ayah Cemburu Setiap Hari?

Triplet Manis: Kenapa Ayah Cemburu Setiap Hari?

613 Dilihat · Sedang Berlangsung · Doris
Setelah tiga tahun menjalani pernikahan yang hambar dan vonis tiga bulan dari dokter, Nora Foster memutuskan untuk berpisah dan mencari seorang pria penghibur untuk menemani hari-hari terakhirnya.

Tiga bulan kemudian, pria penghibur itu membuka topeng kulit manusianya, memperlihatkan wajah yang sangat mirip dengan Isaac Porter, mantan suami Nora.

Kisah cinta-benci mereka benar-benar kacau. Nora, yang sudah muak dengan drama itu, memalsukan kematiannya dan kabur.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dulunya bangga dan dingin itu berubah menjadi kusam dalam semalam setelah kabar kematiannya.

Ketika Nora muncul kembali, dia sangat bahagia, memohon untuk memulai kembali. "Hei, ayo kita menikah lagi, Bu Nora."

Tiga anak kecil berlari keluar, tinju terangkat, "Hei, bajingan, jangan sentuh ibu kami!"
Bunga Teratai dan Mayat: Aku Bangkit di Hari Kematianku

Bunga Teratai dan Mayat: Aku Bangkit di Hari Kematianku

963 Dilihat · Sedang Berlangsung · Iwan Setiawan
Ginjal putriku dicuri oleh suamiku dan wanita simpanannya, lalu ia dibunuh dengan kejam!
Hatiku hancur berdarah! Kesedihan dan kemarahan itu kuubah menjadi kekuatan untuk meledakkan diri bersama para pembunuh itu!
Namun, yang tak kusangka, setelah kematianku, aku justru terlahir kembali. Aku kembali ke masa di mana putriku masih hidup. Kali ini, aku akan mengubah takdir kami berdua dengan tanganku sendiri...
Trilogi Serigala Bayangan.

Trilogi Serigala Bayangan.

830 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eliza Selmer
BUKU 1: Terpaksa Menjadi Istrinya. Ditakdirkan Menjadi Pasangannya.
BUKU 2: Penebusannya. Kesempatan Kedua Baginya.
BUKU 3: Pengawal Putri Alpha.

Takdir bisa menjadi hal yang lucu. Satu menit, kamu adalah putri kesayangan seorang alpha yang kuat, dan menit berikutnya, kamu tidak lebih dari alat yang digunakan untuk bergabung dengan kawanan kuat lainnya. Dan jika kamu tidak mengikuti apa yang diharapkan darimu, orang yang menggunakanmu untuk keuntungan pribadi akan membuat hidupmu seperti neraka dan menghancurkan apa pun yang berharga bagimu. Karena ini, Denali Ozera mendapati dirinya menikah dengan Rosco Torres yang dingin dan kejam, alpha dari kawanan Crystal Fang dan musuh tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga seluruh keluarganya. Namun, dengan suatu keanehan takdir, Rosco tidak seperti yang dikatakan orang lain, dan dia bahkan bersedia membantu Denali mendapatkan kembali semua yang seharusnya menjadi miliknya. Bersama-sama, Denali dan Rosco merencanakan untuk menghancurkan ayah Denali serta ibu tiri dan saudara tirinya. Yang diminta Rosco sebagai imbalan hanyalah pikiran, tubuh, dan jiwa Denali.
1