16 Book(s) Related to stella helluva boss

Bos Dominanku

Bos Dominanku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Emma- Louise
Aku selalu tahu bahwa bosku, Pak Sutton, memiliki kepribadian yang dominan. Aku sudah bekerja dengannya selama lebih dari setahun. Aku sudah terbiasa. Aku selalu berpikir itu hanya untuk urusan bisnis karena dia perlu begitu, tapi aku segera menyadari bahwa itu lebih dari sekadar itu.

Hubunganku dengan Pak Sutton hanya sebatas profesional. Dia memerintahku, dan aku mendengarkan. Tapi semua itu akan berubah. Dia butuh pasangan untuk menghadiri pernikahan keluarga dan memilihku sebagai targetnya. Aku bisa dan seharusnya menolak, tapi apa lagi yang bisa kulakukan ketika dia mengancam pekerjaanku?

Setuju untuk satu permintaan itu mengubah seluruh hidupku. Kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama di luar pekerjaan, yang mengubah hubungan kami. Aku melihatnya dengan cara yang berbeda, dan dia melihatku dengan cara yang berbeda juga.

Aku tahu salah untuk terlibat dengan bosku. Aku mencoba melawan perasaan itu tapi gagal. Ini hanya seks. Apa salahnya? Aku sangat salah karena apa yang dimulai sebagai hanya seks berubah arah dengan cara yang tak pernah kubayangkan.

Bosku tidak hanya dominan di tempat kerja tapi di semua aspek kehidupannya. Aku pernah mendengar tentang hubungan Dom/sub, tapi itu bukan sesuatu yang pernah kupikirkan. Saat hubungan antara aku dan Pak Sutton semakin panas, aku diminta menjadi submisifnya. Bagaimana seseorang bisa menjadi seperti itu tanpa pengalaman atau keinginan untuk menjadi satu? Ini akan menjadi tantangan bagi kami berdua karena aku tidak suka diperintah di luar pekerjaan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa hal yang sama sekali tidak kuketahui akan menjadi hal yang membuka dunia baru yang luar biasa bagiku.
Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Pengasuh Untuk Bos Mafia

Pengasuh Untuk Bos Mafia

290 Dilihat · Sedang Berlangsung · Page Hunter
Bos mafia Alessandro Rossi mengambil kembali pewarisnya dari istrinya yang kabur.

Dia mempekerjakan Victoria muda untuk merawat putranya. Setelah menghabiskan satu malam mabuk bersama, Victoria hamil oleh Alessandro.

Hidup mereka kini terjalin dan mereka berakhir dalam pernikahan tanpa cinta. Victoria menemukan kenyamanan di pelukan orang lain.

Baca untuk mengetahui apa yang terjadi ketika pengasuh dan istri bos mafia membawa musuh langsung ke depan pintu mereka.
Istri Bos Mendisiplinkan Keluarga

Istri Bos Mendisiplinkan Keluarga

613 Dilihat · Sedang Berlangsung · Alisa
Amelia berpikir bahwa dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di pedesaan bersama nenek angkatnya, tetapi tiba-tiba keluarga Martinez datang mengetuk pintu, mengatakan bahwa dia adalah pewaris sejati yang telah lama hilang.
Namun, yang menantinya bukanlah reuni keluarga yang bahagia, melainkan seorang pewaris palsu yang licik, nenek yang berat sebelah, saudara-saudara dengan sikap ambigu, sepupu yang bodoh, dan... tunangan yang cacat.
Sebelum kembali ke rumah, nenek angkatnya berulang kali memperingatkannya: "Amelia, jangan gunakan kekerasan. Dunia luar adalah masyarakat yang diatur oleh hukum."
Setelah kembali ke rumah, pewaris palsu yang licik itu berlagak menjadi korban dan menyebarkan rumor bahwa Amelia mencuri barang. Tidak tahan lagi, Amelia menggunakan kekuatannya yang besar untuk merobek kalung pewaris palsu itu. Ketika saudara angkat tunangannya secara tidak jelas memfitnahnya, Amelia langsung memberinya bantingan ala judo, membuat saudara angkat itu harus dirawat di rumah sakit selama setengah bulan.
Menghadapi kutukan dan kecaman semua orang, tunangannya yang cacat, William, melindungi Amelia di belakangnya: "Maaf, saya akan menerima semua tuntutan hukum atas nama tunangan saya."
Tapi siapa yang berani menuntut orang terkaya!
Amelia tersenyum manis sambil mengepalkan tinjunya: "Ada lagi yang mau menantangku?"
Tergoda oleh Bos-Bosku

Tergoda oleh Bos-Bosku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Taize Dantas
“Orang-orang bisa lihat kita, Pak,” bisikku, mencoba berpikir waras, sementara jarinya keluar-masuk, membuatku basah kuyup oleh gairah yang mendadak membesar—gairah raksasa yang lahir dari kenyataan kalau ini salah, tapi justru itu yang bikin semuanya terasa makin menggila.


Saat Alya akhirnya sadar bahwa romansa terlarangnya dengan dosen yang seharusnya menjaga jarak hanya menyisakan luka dan ilusi, ia terseret ke permainan berbahaya antara Vincent Wijaya—CEO dingin yang mengendalikan segalanya—dan rekan bisnisnya, Thomas Wiraatmaja. Di tengah hasrat yang mengikat seperti jerat dan intrik yang menyusup lewat celah-celah kekuasaan, Alya terjebak di pusat segitiga cinta yang meledak-ledak, di mana setiap pilihan bisa berubah jadi bumerang dengan konsekuensi yang tak main-main.

Di luar semua itu, hidup Alya tampak biasa saja: seorang sekretaris di firma raksasa Wijaya & Wiraatmaja, perusahaan yang namanya disegani, pintunya dijaga rapat, dan senyum di lobi selalu terlihat terlalu rapi untuk disebut tulus. Tapi sebentar lagi, Alya akan masuk ke dunia yang dipenuhi rahasia, gairah terlarang, dan pengkhianatan yang bersembunyi rapi di balik kaca-kaca kantor yang mengilap.

Semua bermula setelah petualangan yang memabukkan di karnaval besar—sebuah pesta kota yang riuh, panas, dan penuh lampu—saat Alya dan sahabatnya, Jeni, pergi hanya untuk “cari angin” dan pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kenangan. Sejak malam itu, hidup mereka berbelok tajam; jalan yang mereka tempuh seolah dipaksa menabrak jalur para lelaki paling berpengaruh di kota, lalu saling mengait begitu rapat—intens, liar, dan terasa seperti candu.

Sebuah kisah tentang cinta dan kuasa, yang menantang batas-batas kepatutan, dan membuat siapa pun yang terlibat harus memilih: menyerah pada aturan, atau terbakar oleh keinginan sendiri.
Mantan Istriku adalah Bos Misterius

Mantan Istriku adalah Bos Misterius

975 Dilihat · Sedang Berlangsung · Miranda Lawrence
Setelah dua tahun menikah, Charles Lancelot tiba-tiba mengajukan cerai.
Dia berkata, "Dia sudah kembali. Kita cerai saja. Kamu bisa ambil apa pun yang kamu mau."
Setelah dua tahun menikah, Daphne Murphy tidak bisa lagi mengabaikan kenyataan bahwa dia tidak lagi mencintainya, dan jelas bahwa ketika hubungan masa lalu menyebabkan tekanan emosional, hubungan saat ini akan menderita.
Daphne Murphy tidak bertengkar, dia memilih untuk merestui pasangan ini dan mengajukan syarat-syaratnya sendiri.
"Aku mau mobil sport edisi terbatasmu yang paling mahal."
"Ya."
"Sebuah vila di pinggiran kota."
"Baiklah."
"Bagikan miliaran dolar yang kita hasilkan setelah dua tahun menikah."
"?"

Buku ini diperbarui dengan satu bab per minggu.
Setelah Bayi Bos, Dia Melarikan Diri

Setelah Bayi Bos, Dia Melarikan Diri

596 Dilihat · Sedang Berlangsung · Leslie
Di sebuah acara makan malam perusahaan, Ophelia mabuk berat dan dalam keadaan mabuknya, dia secara tidak sengaja masuk ke kamar bos perusahaan, di mana mereka menghabiskan malam bersama! Ketika bangun, Ophelia memilih untuk kabur, tidak menyadari bahwa dia sudah menarik perhatian bosnya, Finnegan! Finnegan segera menempatkannya untuk bekerja di sisinya sebagai sekretaris, membuat Ophelia kebingungan. Apakah dia sudah ketahuan? Apakah bos akan menyadari bahwa itu adalah dia malam itu? Tunggu sebentar! Sepertinya dia hamil? Apa yang harus dia lakukan? Kabur? Sialan! Sepertinya dia tidak bisa melarikan diri!
Dikejar Bos Tirani untuk Jadi Istrinya

Dikejar Bos Tirani untuk Jadi Istrinya

650 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Di bawah gemerlap lampu kota metropolis fiksi Jakarta, Aditya Wijaya sang konglomerat memiliki segalanya—kekayaan, kekuasaan, dan pemuja tak terhitung. Namun, dunia sempurnanya runtuh ketika dia terseret ke dalam konspirasi keji.

Dia adalah Kirana Sekar, perempuan yang hidup dalam bayang-bayang dengan banyak identitas. Sebagai peretas ulung, petualang tak kenal takut, dan seniman tak dikenal, masa lalunya diselimuti misteri dan setiap gerak-geriknya tak terduga.

Rasa terima kasih Aditya pada Kirana berubah cepat menjadi hasrat yang tak terbendung. Namun, dia segera sadar: mendekatinya jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Dunia Kirana penuh rahasia dan bahaya; siapa pun yang mendekat berisiko tersedot ke dalam jurang.

Dalam usahanya mendapatkan Kirana, Aditya harus menghadapi musuh-musuh yang mengintai di balik bayangannya dan mengungkap kebenaran mengejutkan di balik hidupnya yang misterius. Hubungan mereka menguat di antara gairah dan bahaya, tetapi mampukah mereka menemukan kebahagiaan sejati dalam hasrat terlarang ini?

Seiring konspirasi perlahan terungkap, Aditya dan Kirana harus berjalan di jalan berliku antara kepercayaan dan pengkhianatan. Akankah mereka mengatasi segala rintangan dan menemukan satu sama lain, ataukah cinta mereka ditakdirkan ditelan pusaran rahasia dan nafsu?
Terjebak Dengan Tiga Bos Seksi Saya

Terjebak Dengan Tiga Bos Seksi Saya

1.7k Dilihat · Sedang Berlangsung · Oguike Queeneth
"Memekmu basah banget buat kami, minta banget buat dipakai." Suaranya yang dalam membuatku merinding.

"Kamu mau itu, sayang? Kamu mau kami kasih apa yang diinginkan memek kecilmu?"

"Y...ya, Pak." Aku menghela napas.


Kerja keras Joanna Clover selama kuliah terbayar ketika dia mendapat tawaran pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaan impiannya, Dangote Group of Industries. Perusahaan ini dimiliki oleh tiga pewaris mafia, mereka tidak hanya memiliki bisnis bersama, tetapi juga kekasih dan sudah bersama sejak masa kuliah.

Mereka tertarik secara seksual satu sama lain tetapi mereka berbagi segalanya bersama termasuk wanita dan mereka menggantinya seperti baju. Mereka dikenal sebagai playboy paling berbahaya di dunia.

Mereka ingin berbagi dirinya, tapi apakah dia akan menerima kenyataan bahwa mereka juga bercinta satu sama lain?

Apakah dia akan mampu menavigasi antara bisnis dan kesenangan?

Dia belum pernah disentuh oleh pria sebelumnya apalagi tiga sekaligus. Apakah dia akan menurut?
Anak Kembar dan Ayah Bos Mafia

Anak Kembar dan Ayah Bos Mafia

360 Dilihat · Sedang Berlangsung · Amelia Hart
Di tengah-tengah putaran nasib yang tak terduga, dia mendapati dirinya terjerat dengan pemimpin Mafia paling terhormat di jantung Crownhaven. Pertemuan mereka menghasilkan seorang anak, memaksanya untuk memulai pelarian yang dipaksakan. Enam tahun berlalu, dan jalan mereka tak sengaja bertemu lagi. Bertekad untuk menghindarinya dengan segala cara, dia berjuang mati-matian untuk menjaga jarak. Tapi takdir punya rencana lain.

Betapa terkejutnya dia ketika pria itu datang tanpa pemberitahuan, menggendong buah hati mereka yang mempesona, dan dengan berani menghadapinya, "Wanita, kamu telah melahirkan anak kita—apakah kamu benar-benar percaya bisa lari dariku?"

Anna berdiri membeku, tak mampu menemukan kata-kata yang tepat. Dia tak lain adalah Giorgio Vittorio, raja yang dihormati dari kerajaan, seorang pria yang namanya mengundang kekaguman dan ketakutan. Dia mengira dunia mereka tak mungkin bersatu, sebuah kemustahilan. Sedikit yang dia tahu bahwa dia tanpa sadar akan menjadi cinta sejati dari raja yang tak terkalahkan ini.
Pengantin yang Enggan dari Bos Mafia yang Kejam

Pengantin yang Enggan dari Bos Mafia yang Kejam

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Kierra King
“Kau kira bisa pergi begitu saja, cantik?”

Suara Melo rendah dan berbahaya, jarinya menyusup mengangkat dagunya, memaksa Isabella menatapnya. “Kau sudah tanda tangan menanggung utang bapakmu pakai namamu sendiri. Artinya kau jadi milikku.”

Isabella menahan napas, menatap balik mata kelabu itu yang dingin seperti besi. Ia tak mau memalingkan wajah. “Kau boleh punya tubuhku, Melo Rossi,” bisiknya, “tapi hati gue nggak akan pernah jadi milik lo.”

Seringainya tajam, seolah bisa mengiris. “Kita lihat nanti.”

Ketika utang ayahnya menyeretnya ke dalam jerat yang tak bisa ditawar, Isabella Bianchi dipaksa menjadi pengantin dari Carmelo Rossi—seorang bos mafia yang namanya dibisikkan orang dengan takut, dipuja karena kuasanya, dan dibenci karena kejamnya.

Terkurung di dunia Melo yang penuh bahaya sekaligus godaan, Isabella mati-matian menjaga agar hatinya tetap utuh, tak tersentuh. Mampukah ia kabur dari pria yang menggenggam nasibnya—atau justru ia akan jatuh pada sosok monster yang selama ini ia pelajari untuk ditakuti?
Divonis Hidup Tanpamu: Bos Menangis Gila Pegang Tes Kehamilan

Divonis Hidup Tanpamu: Bos Menangis Gila Pegang Tes Kehamilan

539 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
"Aku manusia, bukan alat pelampiasan nafsumu!" teriakku dalam hati.

Suara Rangga dingin menusuk, "Kau istriku. Memenuhi kebutuhan fisiologisku adalah halal dan sewajarnya."

"Perang dingin kita belum berakhir!" Perlawananku sia-sia. Rangga sudah memasuki tubuhku.

Tangannya yang dingin mengusap payudaraku. Dalam lima tahun pernikahan, setelah berhubungan badan tak terhitung kali, dia tahu persis bagaimana membangkitkan gairahku.

Persis saat tubuhku menggigil, hendak mencapai klimaks, telepon berdering kasar. Rangga langsung berhenti, menutup mulutku, dan mengangkat telepon.

Di seberang sana, seorang perempuan merengek manja, "Sayang, aku sudah sampai."
Ciuman Cahaya Bulan

Ciuman Cahaya Bulan

828 Dilihat · Sedang Berlangsung · Sheila
Hidupku ternyata penuh kebohongan.

"Ibumu, Amy, adalah seorang perawat UGD di rumah sakit lokal di New Jersey. Dia cantik, berhati baik, dan selalu siap menyelamatkan nyawa. 'Satu nyawa hilang itu sudah terlalu banyak.' Itu yang selalu dia katakan setiap kali aku mencoba memintanya untuk menghabiskan lebih banyak waktu denganku. Ketika dia memberitahuku bahwa dia hamil denganmu, aku menolak kehamilan itu. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Ketika akhirnya aku menyadari hal itu, semuanya sudah terlambat." Ayahku menghela napas. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Diana. Kenapa aku tidak menginginkanmu pada awalnya, kan?" Aku menganggukkan kepala.

"Kita bukan keluarga Sullivan. Nama asliku adalah Lucas Brent Lockwood. Alpha dari kawanan kaya yang terletak di New Jersey dan New York. Aku adalah werewolf. Ibumu adalah manusia yang membuatmu disebut sebagai setengah-breed. Dulu, sangat dilarang bagi serigala untuk berhubungan dengan manusia dan menghasilkan keturunan. Biasanya, kamu akan diusir dari kawanan untuk itu...hidup sebagai pengembara."

"Aku hampir menjadi Alpha pertama yang melanggar aturan itu, mengambil ibumu sebagai pasanganku, Luna-ku. Ayah dan saudaraku bersekongkol agar itu tidak terjadi. Mereka membunuh ibumu dengan harapan kamu akan mati bersamanya. Ketika kamu selamat, mereka membunuh keluarga manusia ibumu untuk membunuhmu. Aku, Paman Mike, dan Alpha lain dari kawanan tetangga menyelamatkanmu dari pembantaian itu. Sejak itu, kami bersembunyi, berharap kawanan lamaku tidak akan mencari kami."

"Ayah, apakah mereka mencoba membunuhku karena aku setengah-breed?"

"Tidak, Diana. Mereka mencoba membunuhmu karena kamu adalah pewarisku. Kamu ditakdirkan untuk menjadi Alpha dari Kawanan Lotus."
Kegembiraan Balas Dendam

Kegembiraan Balas Dendam

449 Dilihat · Sedang Berlangsung · Sheila
Aku tidak tahu malam itu akan menjadi mimpi buruk terbesarku.

Itu adalah tahun ketiga ku di SMA. Setelah dua tahun dibully, akhirnya aku diterima oleh teman-temanku. Aku akhirnya mekar menjadi seorang wanita dan sekarang semua orang ingin menjadi temanku. Tapi... hal itu terjadi.

Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi padaku malam itu.

Aku tidak akan pernah melupakan bahwa aku tidak mendapatkan keadilan yang pantas aku terima.

Aku ingin balas dendam. Aku ingin mereka mati...

Begitu juga dengan tiga kekasihku. Para Wakil Bos dari Blood Disciples.



Aku tahu Xavier jatuh cinta pada Joy saat pertama kali bertemu dengannya. Namun, itu tidak menghentikan aku atau Cristos untuk jatuh cinta padanya juga.

"Aku ragu sebuah kerajaan akan runtuh hanya karena kita mencintai gadis yang sama," kataku. De Luca menatapku, terkejut.



"Kalian mencuri uang dari orang lain?" tanyaku, benar-benar terkejut dengan pengakuannya. Aku tahu Cristos pandai dengan komputer dan enkripsi, aku hanya tidak tahu sejauh mana itu.

"Terkadang. Terkadang kami memanipulasi, mengganggu, mencuri bukti yang memberatkan. Yang biasa."

"ID palsu kita... apakah kamu yang membuatnya?" tanyaku. Aku terkesan karena mereka terlihat sangat nyata. "Dilihat dari monitor, ini terlihat seperti call center. Bagaimana kamu bisa memiliki modal? Keamanan untuk bekerja tanpa takut pada penegak hukum?"

"Sebastian, Xavier, dan aku lahir dalam kehidupan seperti ini. Sejak kecil, kami dilatih untuk bekerja sebagai satu kesatuan seperti ayah kami. Mama Rose bukan hanya ibu rumah tangga biasa. Dia juga bagian dari organisasi dan duduk sebagai pejabat tinggi ketiga," jelas Cristos. "Sebastian, Xavier, dan aku adalah wakil bos dari Blood Disciples, partai penguasa Mafia Pantai Barat. Ayah kami adalah bos sementara ibu dan saudara perempuan kami adalah consiglieres. Kami sedang dalam pelatihan untuk menjadi bos setelah ayah kami pensiun. Sebastian bertanggung jawab atas barang dagangan, pelabuhan, dan bisnis sementara Xavier menangani sampah. Aku, di sisi lain, bertanggung jawab atas dunia virtual. Apa pun yang digital melewati aku."



Setelah meninggalkan kota kecilnya, Joy Taylor mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup dan cinta ketika dia bertemu dengan tiga pria tampan di perguruan tinggi.

Sekarang, dia bahagia, makmur, dan jatuh cinta dengan tiga pria tampan yang menganggapnya segalanya. Sepertinya tidak ada lagi yang bisa dia minta. Hidupnya terasa lengkap.

Namun, dia tidak pernah bisa melepaskan rasa sakit dari masa lalunya. Terutama ketika dia menemukan bahwa empat anak laki-laki yang memperkosanya saat tahun ketiga di SMA, telah melakukannya lagi. Kali ini, gadis muda itu tidak seberuntung itu. Tubuhnya ditemukan mengambang di danau dekat kota.

Sekarang, Joy kembali ke New Salem, mencari balas dendamnya.

Sepuluh tahun mungkin telah berlalu, tetapi balas dendam tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.

Sayangnya bagi Joy, hal-hal tidak selalu seperti yang terlihat.

TW: Cerita ini mengandung referensi grafis tentang kekerasan seksual dan kekerasan.

(Prolog ditulis dari sudut pandang ketiga; bab-bab berikutnya dari sudut pandang pertama.)
Hamil oleh Sahabat Terbaikku si Serigala

Hamil oleh Sahabat Terbaikku si Serigala

825 Dilihat · Sedang Berlangsung · Sheila
Dia manusia; dia serigala.

Alya Handayani sudah jatuh cinta pada Draven Blake sejak mereka sama-sama berusia tiga belas. Tanpa pernah tahu ada dunia gaib yang berjalan beriringan dengan dunia yang ia kenal, Alya terseret masuk ke wilayah yang jauh melampaui nalar dan pemahamannya.

Draven Blake—yang menyebut dirinya sendiri Tuan Alfa—adalah serigala berkuasa, kaya, dan keras kepala; laki-laki yang bersumpah akan menulis takdirnya dengan tangannya sendiri. Meski ia menyangkal Alya adalah pasangan takdirnya, Draven tetap menyimpan Alya sebagai sahabat terdekatnya, orang yang paling ia percaya. Selama lima belas tahun, Alya bertahan di sisinya, menahan harap agar ikatan mereka suatu hari tumbuh menjadi cinta yang tak perlu disembunyikan.

Lalu datang satu malam yang panas, ketika mimpi Alya terasa seperti akhirnya dikabulkan. Di bawah tatapan Draven yang tajam menusuk, Alya luluh—pada ciumannya yang menghabisi napas, pada sentuhan yang menuntut patuh seolah tubuh Alya memang miliknya.

“Kamu jauh lebih enak dari yang gue bayangin, Alya,” geramnya, suara serak berat oleh nafsu. “Gue bakal bikin kamu mencapai puncak berkali-kali sampai kamu lupa cowok lain itu ada.”

Kata-kata itu membakar dada Alya, membuat jantungnya berdegup liar. Namun di detik yang sama, ia tersadar dengan perih yang mendadak: yang berbicara barusan bukan laki-laki yang ia cintai—melainkan lapar purba seekor serigala.

Sementara itu, paman Draven yang karismatik, Maverick Blake, mengincar Percikan Alfa milik Draven untuk menaklukkan seluruh kaum serigala. Ia sudah membunuh ayah Draven demi merebut percikan itu, dan sekarang bidikannya tinggal satu: Draven. Tapi Maverick terjebak pada satu masalah—ia tak punya cukup tenaga untuk menumbangkan Draven dalam duel. Maka ia memilih jalan lain: membunuh pasangan Draven. Maverick percaya, kehilangan pasangan akan menyeret Draven ke jurang kegilaan, membuatnya rapuh, cukup lemah untuk diselesaikan. Ancaman itu justru menguatkan tekad Draven untuk tidak mengakui, apalagi mengikatkan diri pada, seorang pasangan.

Bagi Alya, Draven adalah pahlawan yang mulia, dan Maverick penjahat tanpa hati. Namun wajah bisa menipu.

Hancur oleh kekejaman dan ambisi Draven yang selama ini tersembunyi rapat, Alya akhirnya paham: lelaki yang ia cintai ternyata sebuah kebohongan. Paman yang ia takuti bukan monster seperti yang ia kira. Dengan hati yang remuk, Alya meninggalkan Draven, memilih membangun hidupnya sendiri—hidup yang tidak lagi bergantung pada janji-janji yang tak pernah diucapkan.

Namun takdir selalu punya cara mengacaukan rencana.

Tak lama kemudian, Alya tahu ia hamil—dan mendapati dirinya berada dalam pelukan Maverick, lelaki yang dulu ia yakini ingin melihatnya mati.
Dewa Medis Tak Tertandingi di Kota

Dewa Medis Tak Tertandingi di Kota

775 Dilihat · Sedang Berlangsung · Darian Steel
Lima tahun yang lalu, dia dimasukkan ke penjara oleh istrinya sendiri, menjalani hukuman sepuluh tahun.
Tak disangka, karena keahlian medisnya yang luar biasa, dia berhasil meraih pengampunan dan kembali sebagai pahlawan. Namun, dia menemukan bahwa istrinya sudah memiliki seorang putri.
Istriku yang baik, bagaimana aku harus membalas "kebaikan" besar yang kau berikan selama ini?
1