21 Book(s) Related to novels by sir walter scott

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Rahasia Si Kembar

Rahasia Si Kembar

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Harper Hall
Setelah tiga tahun menjalani pernikahan dingin yang hanya berdasarkan kontrak, Leon Cooper dengan kejam menceraikan Tiffany Grey setelah satu malam penuh gairah. Menyadari bahwa dirinya selalu dianggap sebagai penjahat di mata Leon, Tiffany pergi, hanya untuk menemukan bahwa dia hamil anak kembar tiga. Namun, setelah kelahiran mereka, hilangnya anak keduanya secara misterius meninggalkan luka yang tak terhapuskan.

Lima tahun kemudian, Tiffany kembali bersama anak-anaknya, hanya untuk bertemu Leon lagi. Anak sulungnya, Sam, mengenali anak kecil di sebelah Leon sebagai saudara yang hilang. Kedua anak laki-laki itu, yang dipersatukan oleh darah, bertukar identitas dan merencanakan cara agar ayah CEO mereka yang sombong itu bisa memenangkan kembali cinta ibu mereka.

Buku ini sedang diserialkan secara terus-menerus.
(2/Bulan)
Obsesi Si Pengganggu

Obsesi Si Pengganggu

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Angela Shyna
"Kamu milikku, Gracie... ketakutanmu, air matamu... Aku akan menghancurkanmu sepenuhnya sampai kamu tidak tahu apa-apa lagi selain namaku."

"Aku... aku bukan milikmu," aku tergagap.

Tatapannya menjadi semakin gelap mendengar kata-kataku.

"Coba katakan itu lagi," katanya sambil melangkah mendekat dengan ancaman.

Aku membuka mulut tapi tidak ada kata yang keluar, berikutnya aku sudah terjepit di antara dia dan dinding.

Tubuhku bergetar melihat tatapannya yang mendominasi.

"Kamu milikku... Tubuhmu... Jiwamu... Aku akan menikmati menandaimu lagi... dan lagi," bisiknya, giginya menggesek ringan di leherku.

Bagaimana aku bisa sampai di situasi ini, apakah tidak ada jalan keluar?

Dia sudah menghancurkanku... Mengambil keperawananku... Apa lagi yang dia inginkan dariku?

Graciela Evans hanyalah seorang kutu buku biasa yang berjuang melewati masa SMA, satu-satunya keinginannya adalah mendapatkan kehidupan yang baik. Apa yang terjadi ketika dia menjadi target dari anak nakal terkenal di sekolah mereka...

Hayden McAndrew.

Dia berhutang padanya, dan dia akan memastikan Gracie membayarnya.

Tidak kurang satu sen pun.
Si Kembar Mafia

Si Kembar Mafia

879 Dilihat · Sedang Berlangsung · Tonje Unosen
Si kembar Elina dan Ian lenyap dari keluarga mereka saat baru berusia empat tahun. Sejak itu, hidup mereka cuma berisi kekerasan dan kesengsaraan yang panjang, seolah dunia menutup semua pintu bagi dua anak kecil yang bahkan belum sempat paham apa artinya rumah.

Lima tahun kemudian, ketika usia mereka sembilan, mereka terlihat hidup menggelandang di jalanan Meksiko. Bukannya diselamatkan, mereka justru “diambil” oleh sebuah geng. Di tempat yang keras itu, mereka belajar satu hal paling cepat: kalau mau bertahan, jangan pernah terlihat lemah.

Lalu, entah bagaimana, mereka menghilang lagi. Kali ini bukan sekadar hilang—mereka ditahan sebagai tawanan selama setahun penuh. Setahun yang menghapus sisa-sisa masa kanak-kanak mereka, setahun yang mengajari mereka rasa sakit dalam bentuk yang tak semestinya dikenali anak-anak. Berbagai macam penyiksaan dan perlakuan keji jadi makanan harian sampai akhirnya, pada suatu hari, mereka berhasil diselamatkan.

Namun keselamatan tidak langsung terasa seperti keselamatan.

Saat Elina akhirnya keluar dari tempat itu, sesuatu di dalam dirinya patah. Semangatnya hancur berantakan. Ia berubah jadi anak perempuan yang selalu ketakutan, yang napasnya mudah tersendat hanya karena suara pintu ditutup terlalu keras. Ketika ia kembali ke keluarga—kembali ke rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman—Elina lebih banyak menunduk, bicara pelan, dan mengecil seolah ingin menghilang.

Ian berbeda. Ia tetap diam seperti biasa, tapi ada ketegangan yang menetap di bahunya, kewaspadaan yang tak pernah padam di matanya. Seakan-akan ia sudah memutuskan: apa pun yang terjadi nanti, ia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Elina lagi.

Waktu berjalan, perlahan, sesuatu di dalam Elina mulai bergerak lagi. Rasa takut itu tidak hilang begitu saja, tapi ia tidak selamanya akan tinggal di sana. Sedikit demi sedikit, di balik sikapnya yang pemalu dan penurut, sisi Elina yang keras mulai muncul. Sisi yang dulu membuatnya bertahan hidup. Sisi yang tidak mau diinjak.

Sampai akhirnya orang-orang akan tahu, Elina bukan anak yang bisa dipermainkan.

Mereka berdua bukan korban tanpa bekal. Di masa mereka bersama geng yang menemukan mereka di jalanan, pemimpin geng itu tidak hanya mengajarkan cara memukul atau cara kabur dari situasi berbahaya. Ia melatih mereka—membentuk mereka—jadi seseorang yang mematikan saat terdesak. Elina dan Ian tumbuh dengan kemampuan bertarung yang tajam, refleks yang terlatih, dan naluri membaca ancaman yang nyaris instingtif.

Anehya, di tempat yang seharusnya hanya mengenal kekerasan, mereka juga dididik. Pemimpin itu memastikan mereka pintar. Buku, latihan, disiplin—semuanya diberikan dengan tujuan yang jelas. Dan hasilnya terlihat: mereka bukan hanya kuat, tapi juga cerdas luar biasa.

Di antara mereka ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Elina dan Ian bisa berkomunikasi hanya lewat tatapan. Satu kedipan, satu perubahan kecil di mata, dan yang lain sudah mengerti. Ikatan mereka seperti benang halus yang tak terlihat tapi menahan mereka tetap bersama. Mereka bisa merasakan sakit satu sama lain, seolah tubuh mereka masih berbagi satu jantung.

Mereka kembar identik—dan sering kali bergerak seperti satu kesatuan.

Maka ketika hidup “baru” menunggu mereka—keluarga yang ingin merangkul kembali, rumah yang mencoba menambal yang sudah robek, dan sekolah di Los Angeles tempat mereka harus duduk di kelas bersama saudara-saudara mereka—tantangan itu tidak kecil. Ada perhatian yang menguntit, ada bisik-bisik, ada tatapan penasaran. Ada pertanyaan yang tak bisa mereka jawab tanpa membuka luka.

Dan yang paling berat: malam.

Malam membawa mimpi buruk, bayangan masa lalu, suara-suara yang kembali menghantam ingatan. Siang hari mereka mencoba tersenyum, mencoba menjadi anak biasa, mencoba memanggil orang dengan sebutan yang hangat dan akrab seolah semuanya wajar. Tapi di dalam diri mereka, ada bagian yang masih terjebak di tempat gelap itu, masih menghitung langkah, masih mencari jalan keluar.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak.

Mampukah mereka menemukan bahagia dan cinta—bukan sebagai dua anak yang patah, tapi sebagai diri mereka sendiri?

Mampukah mereka menerima apa yang pernah terjadi tanpa membiarkannya menentukan segalanya, melihat harga diri mereka lagi, dan percaya bahwa mereka pantas hidup yang baik?

Karena satu-satunya keinginan terbesar Elina dan Ian, sejak dulu, cuma itu: hidup damai, dan hidup bahagia.
Rahasia Si Kembar

Rahasia Si Kembar

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Kirana Mentari
Setelah tiga tahun menjalani pernikahan dingin yang hanya berdasarkan kontrak, Leon Dudi dengan kejam menceraikan Safira Widodo setelah satu malam penuh gairah. Menyadari bahwa dirinya selalu menjadi penjahat di mata Leon, Safira pergi, hanya untuk mengetahui bahwa ia hamil anak kembar tiga. Namun, setelah kelahiran mereka, hilangnya putra keduanya secara misterius meninggalkan luka yang tak terhapuskan.

Lima tahun kemudian, Safira kembali bersama anak-anaknya, hanya untuk bertemu Leon lagi. Sam, putra tertuanya, mengenali anak laki-laki di sebelah Leon sebagai adiknya yang hilang. Kedua anak itu, disatukan oleh ikatan darah, menukar identitas dan merencanakan cara membuat ayah mereka, sang CEO yang angkuh, merebut kembali cinta ibu mereka.
Kisah Cinta Si Bodoh

Kisah Cinta Si Bodoh

940 Dilihat · Sedang Berlangsung · Seraphina Voss
Di desa yang panas dan terpencil itu, hampir tidak ada laki-laki. Hanya ada satu pria yang masih tinggal di sana, namanya Bang Root. Tubuhnya kekar dan kuat. Tante-tante sebelah dan gadis-gadis desa sering iseng menggodanya, menganggapnya bodoh. Tapi mereka tidak tahu bahwa Bang Root hanya berpura-pura bodoh. Dia sebenarnya sangat paham urusan laki-laki dan perempuan...
Menantu Cantik Si Bodoh

Menantu Cantik Si Bodoh

867 Dilihat · Sedang Berlangsung · Aurelia Thorne
Chen Siqi berusia 32 tahun. Dia memiliki wajah yang menawan, tinggi badan model 172 cm, dan tubuh yang menggoda dengan lekuk yang sempurna. Terutama setelah melahirkan, pesona seorang ibu yang matang sangat menarik perhatian.

Beberapa bulan lalu, dia bercerai dengan mantan suaminya. Sekarang, dia adalah pacar keponakanku, Zhang Yang.

Kali ini, keponakanku pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, dan dia meminta Chen Siqi untuk merawatku.

Malam itu, Chen Siqi membuka kemeja putihnya, dan memberikan sesuatu yang menggoda kepada anaknya, tanpa memperdulikan aku yang menelan ludah di samping.
Terdampar Bersama si Cantik

Terdampar Bersama si Cantik

250 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Namaku Kiven. Aku terdampar di sebuah pulau tak bernama setelah kecelakaan pesawat. Bak pepatah, "Di balik musibah besar, tersembunyi keberuntungan besar."

Dari awal dengan seorang cantik di genggaman dan persediaan di tangan lainnya, saksikan bagaimana aku membangun komunitas yang beragam di pulau tak bernama ini.

Namun, di tengah kelicikan kodrat manusia dan peradaban misterius yang mulai bermunculan, ke mana takdir akan menuntunku?
Dipilih oleh Si Kembar Vampir

Dipilih oleh Si Kembar Vampir

326 Dilihat · Sedang Berlangsung · Amarachi Gabriel
"Ini sangat salah, aku tidak seharusnya melakukan ini tapi aku tidak bisa menahan diriku, tidak lagi!" Dia mengerang, menarikku ke dalam pelukannya segera.

Sentuhan Lucien terasa dingin, namun aku terbakar panas dengan hasrat, penuh nafsu dan kebutuhan.
Bibirnya begitu lembut dan dia menciumku dengan kebutuhan yang sama yang membuat celana dalamku basah.
Tiba-tiba pintu terbuka dan saudara kembarnya masuk, mata merahnya melihat adegan itu saat aku terkejut dan merasa nikmat karena Lucien memasukkan jarinya ke dalam vaginaku yang basah.


Violet sudah terbiasa dengan perlakuan buruk dan perselingkuhan pasangannya. Tidak seperti dia bisa pergi kemana-mana, dia adalah Beta dan semua usaha pelariannya selalu berakhir dengan kekerasan.
Tetapi kemudian dia melampaui batas dengan menjualnya kepada Vampir Kembar yang terkenal.
Reed dan Liam Knight, Pangeran vampir abadi yang terkutuk yang telah bersumpah untuk tidak pernah menerima pasangan jiwa, memenangkan permainan judi melawan pasangan Violet dan untuk menghukumnya, mereka menuntut satu hal yang seharusnya sangat berharga bagi seorang werewolf, pasangannya.
Namun alih-alih melawan, dia dengan sukarela menyerahkannya kepada mereka.
Ketika mereka melihatnya, mereka berdua jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mereka menyimpulkan bahwa itu pasti sihir mengingat ada aura misterius di sekitarnya. Mereka bahkan curiga bahwa pasangannya telah mengirimnya dengan misi untuk menghancurkan mereka.
Jadi mereka menjadikannya pelayan mereka tetapi takdir memiliki rencana berbeda dan Pangeran Kembar akan diuji kehendaknya secara mendalam.
Baca lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana kisah harem terbalik ini berakhir.
Hamil oleh Sahabat Terbaikku si Serigala

Hamil oleh Sahabat Terbaikku si Serigala

825 Dilihat · Sedang Berlangsung · Sheila
Dia manusia; dia serigala.

Alya Handayani sudah jatuh cinta pada Draven Blake sejak mereka sama-sama berusia tiga belas. Tanpa pernah tahu ada dunia gaib yang berjalan beriringan dengan dunia yang ia kenal, Alya terseret masuk ke wilayah yang jauh melampaui nalar dan pemahamannya.

Draven Blake—yang menyebut dirinya sendiri Tuan Alfa—adalah serigala berkuasa, kaya, dan keras kepala; laki-laki yang bersumpah akan menulis takdirnya dengan tangannya sendiri. Meski ia menyangkal Alya adalah pasangan takdirnya, Draven tetap menyimpan Alya sebagai sahabat terdekatnya, orang yang paling ia percaya. Selama lima belas tahun, Alya bertahan di sisinya, menahan harap agar ikatan mereka suatu hari tumbuh menjadi cinta yang tak perlu disembunyikan.

Lalu datang satu malam yang panas, ketika mimpi Alya terasa seperti akhirnya dikabulkan. Di bawah tatapan Draven yang tajam menusuk, Alya luluh—pada ciumannya yang menghabisi napas, pada sentuhan yang menuntut patuh seolah tubuh Alya memang miliknya.

“Kamu jauh lebih enak dari yang gue bayangin, Alya,” geramnya, suara serak berat oleh nafsu. “Gue bakal bikin kamu mencapai puncak berkali-kali sampai kamu lupa cowok lain itu ada.”

Kata-kata itu membakar dada Alya, membuat jantungnya berdegup liar. Namun di detik yang sama, ia tersadar dengan perih yang mendadak: yang berbicara barusan bukan laki-laki yang ia cintai—melainkan lapar purba seekor serigala.

Sementara itu, paman Draven yang karismatik, Maverick Blake, mengincar Percikan Alfa milik Draven untuk menaklukkan seluruh kaum serigala. Ia sudah membunuh ayah Draven demi merebut percikan itu, dan sekarang bidikannya tinggal satu: Draven. Tapi Maverick terjebak pada satu masalah—ia tak punya cukup tenaga untuk menumbangkan Draven dalam duel. Maka ia memilih jalan lain: membunuh pasangan Draven. Maverick percaya, kehilangan pasangan akan menyeret Draven ke jurang kegilaan, membuatnya rapuh, cukup lemah untuk diselesaikan. Ancaman itu justru menguatkan tekad Draven untuk tidak mengakui, apalagi mengikatkan diri pada, seorang pasangan.

Bagi Alya, Draven adalah pahlawan yang mulia, dan Maverick penjahat tanpa hati. Namun wajah bisa menipu.

Hancur oleh kekejaman dan ambisi Draven yang selama ini tersembunyi rapat, Alya akhirnya paham: lelaki yang ia cintai ternyata sebuah kebohongan. Paman yang ia takuti bukan monster seperti yang ia kira. Dengan hati yang remuk, Alya meninggalkan Draven, memilih membangun hidupnya sendiri—hidup yang tidak lagi bergantung pada janji-janji yang tak pernah diucapkan.

Namun takdir selalu punya cara mengacaukan rencana.

Tak lama kemudian, Alya tahu ia hamil—dan mendapati dirinya berada dalam pelukan Maverick, lelaki yang dulu ia yakini ingin melihatnya mati.
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia

Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia

526 Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Pada hari tergelap dalam hidupku, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan di sebuah bar jalanan di Jakarta. Pria itu memiliki otot dada yang sangat menawan untuk disentuh. Kami melewatkan malam penuh gairah yang tak terlupakan, namun itu hanyalah hubungan satu malam, dan aku bahkan tidak tahu namanya.

Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!

Jantungku hampir berhenti berdetak.

Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.

Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.

Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!

Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.

Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Si Manis dari Desa dan Tiga Lelaki Idaman

Si Manis dari Desa dan Tiga Lelaki Idaman

356 Dilihat · Sedang Berlangsung · Agus Salim
Berbalut topi jerami dan ditandai tahi lalat di kulitnya, Sari Wijaya, seorang gadis desa yang dianggap tak menarik, akan memilih suami dari tiga penerus yang berkilauan.
Dihina oleh Michael, diejek oleh Liam, dan dipandang sinis oleh keluarga Martin lainnya, Sari bertekad mengubah takdirnya. Setelah melepas penyamarannya dan menampakkan kecantikan sejati, kini langkah terakhir transformasinya adalah sepasang selop kaca yang memesona.
"Sayang, izinkan aku mengenakannya untukmu."
Grant Martin, putra sulung yang dikenal dengan sikapnya yang dingin, berlutut di kakinya, siap menjadikannya putri.
"Cukup, Grant, aku lebih menyukaimu yang sombong."
Cinta dalam Derita: Sang Istri dan Dendamnya pada Si Raja Modal

Cinta dalam Derita: Sang Istri dan Dendamnya pada Si Raja Modal

362 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ahmad Fauzi
Sari Wijaya telah mencintai Ari Limbung selama dua belas tahun, namun justru dilemparkannya ke penjara.
Dalam penderitaannya, ia menyaksikan pria itu berasmara mesra dengan wanita lain...
Lima tahun kemudian, ia kembali dengan penuh kemenangan. Bukan lagi wanita yang mencintainya hingga merendahkan diri!
Ia membongkar kepalsuan si manis tapi palsu, menginjak-injak sampah masyarakat, dan bersiap menghajar si brengsek habis-habisan...
Tiba-tiba pria yang dulu kejam dan dingin padanya berubah menjadi lembut bak air!
Bahkan di hadapan publik, ia mencium punggung kakinya sambil berjanji, "Sari dulu aku salah mencintai orang. Kini, aku rela menebus dosa dengan sisa hidupku."
Dengan senyum dingin Sari Wijaya menolak: "Kuharap kau memaafkanku? Kecuali... kau mati."
Ayah Sahabat Terbaikku

Ayah Sahabat Terbaikku

991 Dilihat · Sedang Berlangsung · P.L Waites
Elona, yang berusia delapan belas tahun, sedang berada di ambang babak baru dalam hidupnya—tahun terakhirnya di SMA. Dia memiliki impian untuk menjadi model. Namun, di balik penampilan percaya dirinya, ada rahasia yang ia simpan—perasaan suka pada seseorang yang tak terduga—Pak Crane, ayah dari sahabatnya.

Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.

Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.

Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?

Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Bulan Purnama yang Kejam

Bulan Purnama yang Kejam

985 Dilihat · Sedang Berlangsung · Evelyn Winter
【Penyerang Manipulatif VS Korban yang Malang, Penyerang Kuat Korban Lemah, Saudara Kandung, Lebih Tua】
Karena sebuah kasus pembunuhan dan berbagai kepentingan di baliknya, dia telah dikejar selama 14 tahun. Di depan ibu tirinya, dia menyiksa adik kandungnya yang berusia 14 tahun, lalu membawanya ke Pulau Cahaya Bulan, memulai pelatihan paksa...
Milik Sang Binatang

Milik Sang Binatang

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · K. K. Winter
Masa depannya sudah ditentukan; dalam tiga bulan, dia akan menjadi Alpha perempuan pertama dalam garis keturunannya.

Hidup terasa seperti mimpi sampai suatu hari, semuanya berubah menjadi mimpi buruk. Hari itu, Aife mengetahui bahwa makhluk buas yang sering diceritakan oleh para tetua untuk menakuti anak-anak bukanlah sekadar imajinasi belaka.

Dia muncul dari bayang-bayang untuk membuktikan bahwa dia nyata: kawanan mereka diserang, para pejuang jatuh di kakinya, dan dia dipaksa membuat pilihan yang akan menghancurkan kenyataannya. “Dia. Berikan dia padaku dan aku akan membiarkan yang lainnya hidup. Berikan dia dengan sukarela atau aku akan mengambilnya setelah aku selesai membantai sisa anggota kawananmu.”

Untuk menyelamatkan mereka, Aife setuju untuk pergi dengan pria yang membantai kawanannya. Sedikit yang dia tahu bahwa hidupnya akan berada di bawah belas kasihannya sejak saat dia melemparkan Aife ke atas bahunya. Dalam hitungan jam, Aife kehilangan gelar sebagai calon Alpha dan menjadi milik makhluk buas itu.
Seri Alpha yang Tak Diinginkan (Koleksi Lengkap)

Seri Alpha yang Tak Diinginkan (Koleksi Lengkap)

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · K. K. Winter
"Lakukan! Perkosa aku!" Dia berteriak sekuat tenaga, menantang sisi buas dalam dirinya.

Dia tertawa, tulus, keras.
"Kamu nggak tahu apa yang kamu lakukan padaku, kan, sayang?" dia bertanya sambil meraih sabuknya.

"Gerakan menggigit bibir kecilmu itu, yang kamu lakukan setiap kali melihatku - itu membuatku gila.

Getaran yang menjalar di tubuhmu saat aku memukulmu - membuatku sangat terangsang, aku harus menahan diri agar tidak menekan tubuhmu ke dinding dan menyetubuhimu di lorong.

Dan sekarang, aroma tubuhmu, itu benar-benar mengundangku. Aku bisa mencium gairahmu dari jauh, aromanya membuat mulutku berair dan sisi buasku menjadi gila.

Dan tubuhmu - ya ampun Dewi Bulan - tubuhmu itu sungguh ilahi. Tanpa ragu, aku bisa memujanya dan menikmatinya hari demi hari, dan tidak akan pernah bosan."

***Evangeline adalah seorang gadis manusia sederhana, lahir dan dibesarkan di kota yang didominasi oleh shifter. Suatu hari dia ditangkap oleh sekelompok shifter dan hampir diperkosa, tetapi dia diselamatkan oleh seorang pria bertopeng.

Keraguan tentang identitas pria asing itu dan ketakutan terhadap shifter tetap ada di benaknya sampai malam permainan kawin manusia ketika dia ditangkap oleh penyelamatnya. Pria yang tidak pernah melepas topengnya, seorang shifter yang kuat - Eros.

***HARAP DICATAT: Ini adalah koleksi seri lengkap untuk The Unwanted Alpha Series oleh K. K. Winter. Ini termasuk dan . Buku-buku terpisah dari seri ini tersedia di halaman penulis.
Di Antara Empat Alpha

Di Antara Empat Alpha

1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · K. K. Winter
"Aku ingin bermain sebuah permainan. Dengan tangan dan kaki terikat - kamu tidak bisa terburu-buru, memaksa, atau menghentikan apapun.

Sekarang. Tutup matamu." Perintah sang Alpha. Seth menggigil mendengar kata-katanya.

Untuk beberapa saat, ruangan menjadi hening.
Yang bisa Seth dengar hanyalah napasnya yang cepat.
Dia masih merasa bersemangat tapi juga takut.

"Luciano, tolong," dia merintih,

"Ya, sayang?"

"Berhenti, aku ingin merasakanmu. Godaan ini membunuhku."

"Itu bukan caranya."
Pria itu meletakkan tangannya di pantatnya dan menempatkannya di atas lututnya.

"Kamu minta satu kali lagi. Pantatmu akan dipukul sampai merah."

🌶🐺🌶🐺🌶🐺🌶🐺

Seth punya satu aturan - tidak ada Alpha: Alpha yang posesif, dominan, dan teritorial bisa mematahkan dan membengkokkan diri mereka sendiri, tapi mereka tidak pernah bisa berakhir di tempat tidurnya, atau menyeretnya ke tempat tidur mereka.

Sampai hari permainan seremonial Alpha tiba: yang harus dia lakukan hanyalah melayani tamu dan lari sejauh mungkin setiap kali dia mendapat kesempatan.

Seth tidak menyangka bertemu dengan seorang Alpha sehari sebelum meninggalkan kota baru, juga tidak menyangka menghadapi yang lain yang mencoba menunjukkan minatnya - bukan hanya satu, dua, atau tiga, tapi empat Alpha laki-laki.

Tidak ada satupun dari mereka yang mau menyerah atau mundur. Para pria itu ingin mengklaimnya, dan tidak ada yang akan berhenti sampai wanita itu menjadi miliknya atau milik mereka.

Peringatan: Ini adalah buku harem terbalik yang mengandung BANYAK konten dewasa dan tema sensitif. (Kinks/ BDSM/ bahasa kasar dll.) Sangat disarankan hanya untuk pembaca dewasa. !!! 18+ !!!
1