7 Book(s) Related to movies like salt

Cinta Mekar Saat Tak Terduga

Cinta Mekar Saat Tak Terduga

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Elowen Thorne
Selama acara team-building, Isabella secara tidak sengaja masuk ke tenda yang salah dan akhirnya menghabiskan malam bersama bosnya, Sebastian! Untuk melindungi pekerjaannya, dia memilih untuk menyembunyikan kejadian itu, tetapi Sebastian menyadarinya dan mulai mengejar Isabella secara romantis. Perlahan-lahan, usaha Sebastian membangkitkan perasaan dalam diri Isabella. Namun, dia dikejutkan oleh dua pengungkapan yang mengejutkan: dia hamil, dan Sebastian bertunangan untuk menikah.
(tiga bab mingguan)
Saat Mantanku Bilang Dia Masih Mencintaiku

Saat Mantanku Bilang Dia Masih Mencintaiku

413 Dilihat · Sedang Berlangsung · Victoria Figueiredo
Lima tahun pernikahan yang dari awal cuma demi kepentingan keluarga berakhir dengan cara paling kejam: permintaan cerai tepat di hari yang seharusnya mereka rayakan sebagai hari jadi. Lili, hancur oleh penolakan Ehan—laki-laki yang tanpa sadar sudah ia pelajari untuk dicintai meski semua bermula dari paksaan—merasa hidupnya ambruk seketika.

Di titik paling gelap, saat sakitnya seperti tak tertanggungkan, Lili diselamatkan oleh Danu Saputra, sahabat lama sekaligus tempatnya menyimpan rahasia. Lelaki yang selama ini memilih diam, tapi diam-diam selalu mencintainya.

Di rumah sakit, kabar itu membalikkan segalanya: Lili hamil dua bulan.

Namun ada perempuan lain—Johana Mahendra—kaya, terkenal, dan katanya juga sedang mengandung anak Ehan.

Dengan hati remuk dan dada seperti terbakar, Lili memilih pergi. Ia kabur ke Prancis dan, jauh dari sorot siapa pun, melahirkan putranya lalu membangun kerajaan usahanya sendiri.

Lima tahun kemudian, ia pulang sebagai perempuan yang tak lagi bisa dipatahkan, bertekad menatap wajah masa lalu yang selama ini menghantuinya… dan ia bertemu Ehan lagi.

Ehan tak pernah berhenti mencarinya, tak pernah bisa melupakan cinta yang ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Kini ia harus berjuang bukan hanya untuk dimaafkan, melainkan untuk kesempatan kedua—dengan Lili, dan dengan putra yang selama ini tak pernah ia ketahui.

Tapi apakah penyesalan cukup untuk membangun ulang cinta yang sudah dikhianati?

Apalagi ketika Danu—kini menjadi rival baru Ehan—siap mewujudkan hidup yang selama ini diimpikan Lili… dan sudah lebih dulu menjadi sosok ayah di hati putranya.
Saat Menangkap Perselingkuhan, Aku Dinikahi Pewaris Konglomerat

Saat Menangkap Perselingkuhan, Aku Dinikahi Pewaris Konglomerat

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Kris Qirani
Sehari sebelum hari pernikahannya, dia mendapati tunangannya berselingkuh di kamar pengantin mereka. Diliputi rasa malu dan hina, dia membuat keputusan impulsif: menikahi satu-satunya orang yang membantunya menangkap basah si penghianat—seorang pria yang baru sekali dia temui.

Namun, dia tak pernah menyangka suami barunya itu akan menuntut mereka memenuhi kewajiban sebagai suami istri.

Saat ciumannya yang dalam dan membara menyusuri kulitnya di momen yang panas itu, dia mendengar suara rendahnya yang magnetik bergema, "Jadi manis ini akan segera berakhir."
Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Bapak Ryan

Bapak Ryan

1.4k Dilihat · Sedang Berlangsung · Mary D. Sant
"Apa yang tidak bisa kamu kendalikan malam ini?" Aku memberikan senyum terbaikku, bersandar di dinding.
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.


Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.

Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.

Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!

Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.

Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Bajingan Sempurna

Bajingan Sempurna

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Mary D. Sant
Dia mengangkat tanganku, menekan tanganku di atas kepala. "Katakan padaku kalau kamu tidak tidur dengannya, sialan," dia menuntut dengan gigi terkatup.

"Pergi sana, dasar bajingan!" aku membalas, mencoba melepaskan diri.

"Katakan!" dia menggeram, menggunakan satu tangan untuk mencengkeram daguku.

"Kamu pikir aku pelacur?"

"Jadi itu artinya tidak?"

"Pergi ke neraka!"

"Bagus. Itu saja yang perlu aku dengar," katanya, mengangkat atasan hitamku dengan satu tangan, memperlihatkan payudaraku dan mengirimkan gelombang adrenalin ke seluruh tubuhku.

"Apa yang kamu lakukan?" aku terengah-engah saat dia menatap payudaraku dengan senyum puas.

Dia menjalankan jarinya di salah satu bekas yang dia tinggalkan tepat di bawah salah satu putingku.

Bajingan itu mengagumi bekas yang dia tinggalkan padaku?

"Lingkarkan kakimu di sekitarku," dia memerintah.

Dia menunduk cukup rendah untuk mengambil payudaraku ke dalam mulutnya, mengisap keras pada puting. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan erangan saat dia menggigit, membuatku melengkungkan dada ke arahnya.

"Aku akan melepaskan tanganmu; jangan berani-berani mencoba menghentikanku."



Bajingan, sombong, dan benar-benar tak tertahankan, tipe pria yang Ellie bersumpah tidak akan pernah terlibat lagi. Tapi ketika saudara temannya kembali ke kota, dia mendapati dirinya berada dalam bahaya menyerah pada hasrat liarnya.

Dia menyebalkan, pintar, seksi, benar-benar gila, dan dia membuat Ethan Morgan gila juga.

Apa yang dimulai sebagai permainan sederhana kini menyiksanya. Dia tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya, tapi dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam hatinya lagi.

Meskipun mereka berdua berjuang sekuat tenaga melawan ketertarikan yang membara ini, apakah mereka akan mampu menahannya?
Bapak Forbes

Bapak Forbes

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."

Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.

"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.

Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.



Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.

Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.

Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
1