16 Book(s) Related to madam cj walker quotes

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Rahasia Malam

Rahasia Malam

419 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lila Merrick
Aku dulunya adalah juara ujian masuk universitas untuk jurusan sains, tapi karena sebuah insiden, aku akhirnya bekerja di klub malam. Sejak saat itu, wanita-wanita cantik terus berdatangan, dan banyak intrik yang terjadi. Siapa yang sebenarnya mengendalikan semua ini? Kehidupan glamor yang penuh kemewahan ini perlahan membuatku mulai tersesat...
Malam Rahasia

Malam Rahasia

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Emma- Louise
Dia memutar tubuhku hingga menghadapnya dan menarikku ke dadanya. Aku terengah-engah dan meletakkan tanganku di dadanya.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan suara rendah.

"Ke sana," jawabku lirih, mengangguk ke arah bangku.

Dia menatapku dengan tatapan yang begitu intens hingga membuatku merinding. Aku menelan ludah dengan susah payah, dan dia menunduk, bibir hangatnya menutupi bibirku. Aku mengerang dan menggenggam kaosnya, membalas ciumannya. Conrad menggerakkan tangannya ke punggungku dan meletakkannya di pinggangku untuk menarik tubuhku lebih erat ke tubuhnya saat kami berciuman. Aku melingkarkan tanganku di lehernya.

Sebagian dari diriku telah merindukan ciumannya sejak ciuman pertama kami. Ciuman ini penuh gairah tapi tidak kasar atau tergesa-gesa. Ciuman ini sempurna. Tangan bebas Conrad mendarat di pipiku. Aku memaksa lidahku masuk ke mulutnya; aku butuh lebih. Conrad tampaknya tidak keberatan karena lidahnya segera menari selaras dengan lidahku.

Aku berjalan mundur, tidak melepaskan bibirnya, sampai punggungku menyentuh meja. Ada begitu banyak emosi yang berputar dalam diriku. Aku mencengkeram pinggulnya dan menariknya lebih dekat ke tubuhku. Conrad mengerang keras di bibirku, dan aku bisa merasakan panjang tubuhnya mengeras di tubuhku. Dia begitu terangsang hanya dengan menciumku. Aku juga sama. Aku terangsang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.


Satu malam.
Satu pesta topeng.
Seorang pria tampan.

Begitulah semuanya dimulai. Semua karena aku dipaksa oleh bosku untuk berpura-pura menjadi putrinya atau aku akan dipecat.

Mata pria tampan itu tertuju padaku begitu aku masuk. Aku berharap dia akan beralih karena dia dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, tapi dia tidak melakukannya. Begitu dia memutuskan untuk mendekat, aku akhirnya menyadari bahwa dia bukan orang asing sama sekali. Dia dan keluarganya memiliki perusahaan tempat aku bekerja. Dia tidak boleh tahu siapa aku sebenarnya.

Aku mencoba segala cara untuk menghindarinya, tapi tidak ada yang berhasil. Sulit untuk menolak ketika dia menatapku dengan mata itu dan senyum menawannya. Aku menyerah mencoba melawan, menghabiskan beberapa jam bersamanya tidak akan merugikan, kan? Selama aku tetap memakai topengku, dia tidak perlu tahu siapa aku.

Aku tidak pernah merasakan chemistry seperti ini dengan siapa pun, tapi itu tidak penting karena setelah malam ini, aku akan menghilang dan dia tidak akan tahu siapa aku. Bahkan jika dia berjalan melewatiku di jalan, dia tidak akan mengenaliku karena yang dia lihat adalah seorang wanita yang menarik baginya, seorang yang cantik yang cocok dengan semua orang, tapi kenyataannya aku bukan siapa-siapa. Aku bukan sesuatu yang istimewa. Jadi waktu yang kami habiskan bersama hanya akan menjadi kenangan.

Yah, begitulah yang aku percaya. Aku tidak bisa lebih salah karena hanya butuh satu malam dan segalanya berubah. Aku berharap dia akan melupakanku tapi tampaknya itu adalah hal terakhir yang dia lakukan.

Tidak peduli apa pun, dia tidak boleh tahu kebenarannya karena dia hanya akan berakhir kecewa.
Kecintaan Satu Malam

Kecintaan Satu Malam

570 Dilihat · Sedang Berlangsung · PageProfit Studio
Sebelum menikah.
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Malam Keluarga Bahagia

Malam Keluarga Bahagia

384 Dilihat · Sedang Berlangsung · Serena Blackwood
Ibu tiriku memiliki tubuh yang anggun, dan di tempat tidur dia adalah seorang dewi. Suatu hari, ayahku pergi dinas luar kota. Melihat ibu tiriku yang sendirian di kamar pada larut malam, hatiku mulai terasa panas.
Miliarder Satu Malam

Miliarder Satu Malam

423 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ragib Siddiqui
Chloe adalah putri kedua dari keluarga Bishop, dia adalah gadis yang memiliki segalanya - penampilan yang memukau, ayah angkat yang mencintainya seperti putri kandungnya sendiri, dan tunangan yang tampan serta kaya.

Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ternyata dia juga memiliki ibu angkat dan saudara perempuan yang bisa menghancurkan semua yang dimilikinya.

Malam sebelum pesta pertunangan, ibu angkatnya meracuni minumannya dan merencanakan untuk mengirimnya ke preman-preman. Untungnya, Chloe masuk ke kamar yang salah dan menghabiskan malam dengan seorang pria asing.

Ternyata pria itu adalah CEO dari grup multinasional terbesar di Amerika, yang baru berusia 29 tahun tetapi sudah masuk dalam daftar Forbes. Setelah menghabiskan satu malam dengannya, dia melamarnya, "Menikahlah denganku, aku akan membantumu membalas dendam."
Malam yang Tak Terpuaskan

Malam yang Tak Terpuaskan

535 Dilihat · Sedang Berlangsung · Seraphina Voss
Sudah bertahun-tahun menikah, Zhao Meng belum pernah merasakan kebahagiaan sejati. Tubuhnya yang lama terabaikan memiliki keinginan yang sangat besar.

Sampai akhirnya dia bertemu dengan Zhang Qiang, pria yang secara tidak sengaja meminum ramuan yang sebenarnya disiapkan untuk suaminya. Sejak saat itu, semuanya menjadi tak terkendali...
7 Malam dengan Tuan Black

7 Malam dengan Tuan Black

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · ALMOST PSYCHO
PERINGATAN: Buku ini mengandung adegan seks eksplisit yang sangat detail... sekitar 10-12 bab. Tidak cocok untuk pembaca muda!

"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.

"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.

"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."

Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.

"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."

Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................

Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.

Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.

🔻KONTEN DEWASA🔻
Setelah Satu Malam dengan CEO

Setelah Satu Malam dengan CEO

217 Dilihat · Sedang Berlangsung · Henry
Grace telah mencintai suaminya, Henry, selama enam tahun penuh, dengan keyakinan bahwa kasih sayangnya yang mendalam akan membuat suaminya yang miliarder jatuh cinta padanya. Namun, betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa Henry berselingkuh, dan wanita lain itu adalah seorang gadis cacat bernama Elodie. Henry memperlakukan Elodie dengan sangat baik, memberinya kebahagiaan dan perhatian terbesar di dunia, tetapi dia sangat kejam terhadap Grace. Alasan Henry bertindak seperti itu adalah karena dia percaya bahwa orang yang pernah menyelamatkannya adalah Elodie, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Grace-lah yang telah menyelamatkannya.
Mabuk Kemewahan di Malam Hari

Mabuk Kemewahan di Malam Hari

545 Dilihat · Sedang Berlangsung · Elara Sullivan
Sebuah surat cinta yang salah tulis, membuat aku, seorang pria biasa, dan sang dewi mengalami kejadian yang tak terungkapkan... Di balik pergulatan jiwa dan hasrat, ternyata ada jalan yang penuh dengan dendam, tipu muslihat, dan pengkhianatan yang tak berujung.
MILIKNYA SELAMA EMPAT BELAS MALAM

MILIKNYA SELAMA EMPAT BELAS MALAM

826 Dilihat · Sedang Berlangsung · Esther King
“Iya, iya.”

Erangan itu merobek keluar dari bibirku tanpa bisa kutahan. Di gelap aku nggak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi aku tahu senyum puas pasti mengembang di sana, dan tatapan matanya yang sayu mengawasi setiap reaksiku.

Suaranya rendah, serak, “Lo suka, ya? Suka cara gue nyentuh lo? Suka cara gue ngusap itu pakai jari gue seolah-olah lo milik gue?”

Aku mengangguk terus-menerus, erangan kenikmatan naik turun di tenggorokan, nggak yakin sampai kapan aku bisa menunggu sebelum dia benar-benar masuk ke dalamku. Jarinya bergerak lebih cepat, sementara tangan satunya mengusap bagian paling peka itu, “Nah gitu. Ayo. Gue suka suara erangan kecil lo tiap gue godain.”

Aku susah menyusun kata-kata, “T-t-tolong jangan godain terus. Masukin—” pekik yang keterlaluan, “Aku pengin ngerasain banget. Aku pengin—”

Napas tersedak lepas dari bibirku saat dia menghujam masuk. Otakku seakan mengerut seperti daun layu. Aku membuka kedua kakiku lebih lebar dan dia menekan tubuhnya sepenuhnya ke arahku. Terlalu berat untuk kutahan, dan terlalu ringan untuk kulepaskan. Dia mulai menghentak. Semakin dalam dan semakin keras di tiap dorongan. Di dalamku. Tanpa jeda. Aku melingkarkan kedua kakiku ke punggungnya supaya dia nggak bisa menjauh.


Pulang ke kota tempat ia dilahirkan, Rebekah Lestari terlibat adu mulut habis-habisan dengan bajingan paling kejam di kota itu; tanpa ia sadari, aksi sok pintar yang ia lakukan justru menyeretnya ke dalam bahaya.

14 hari. Satu rumah besar. Satu ranjang. Satu pria yang sama sekali nggak polos. Apa sih yang mungkin bisa salah?
Hamil Setelah Satu Malam Bersama Mafia

Hamil Setelah Satu Malam Bersama Mafia

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Western Rose
Pertengkaran lagi dengan pacarku membuatku setuju dengan ide gila sahabatku untuk berpesta di klub malam. Tapi kemudian, dia mencampur minumanku dengan sesuatu dan aku berakhir di pelukan seorang pria tampan yang mengerikan, Michelangelo.

Kami menghabiskan malam bersama di bawah selimutnya, saat dia membawaku ke alam liar penuh kenikmatan. Tapi keesokan paginya, dia menghilang.

Dan kemudian aku memergoki pacarku dengan sahabatku, sehingga hidupku benar-benar hancur sejak hari itu.

Beberapa minggu kemudian, aku menyadari bahwa aku hamil, dan aku juga mendapat kabar tentang pernikahan pacarku dengan sahabatku.

Hancur, aku pindah ke sebuah Pack di New York City untuk memulai hidup baru dengan anakku yang belum lahir, dan tiga tahun kemudian, tebak siapa yang kutemui? Michelangelo, ayah kandung anakku.

Tapi ternyata, dia berbohong malam itu. Dia tidak memberiku nama lengkap atau identitas aslinya. Dia tidak memberitahuku bahwa dia adalah Nico 'Michelangelo' Ferrari yang ditakuti, seorang Alfa Mafia dan kekuatan yang luar biasa.

Menyadari siapa dia membuatku panik, tapi entah kenapa, dia tidak berhenti mengejarku, mencoba meyakinkanku bahwa dia mencintaiku, bahwa dia adalah jodohku dan bahwa dia ingin bersama aku dan anak kami.

Apa yang harus kulakukan?!
Hamil Setelah Satu Malam Dengan Lycan

Hamil Setelah Satu Malam Dengan Lycan

788 Dilihat · Sedang Berlangsung · Kellie Brown
Ketika aku terbangun dengan kepala pusing akibat mabuk, aku menemukan seorang pria tampan dan telanjang tidur di sampingku.

Aku Tanya, anak dari seorang ibu pengganti, seorang omega tanpa serigala dan tanpa aroma.
Pada ulang tahunku yang ke-18, ketika aku berencana memberikan keperawananku kepada pacarku, aku menemukannya tidur dengan adikku.
Aku pergi ke bar untuk mabuk, dan tanpa sengaja melakukan one-night stand dengan pria tampan itu.
Aku pikir dia hanya werewolf biasa, tapi mereka bilang dia adalah Marco, pangeran alpha dan Lycan terkuat di kerajaan kami.
‘Kamu pelacur, kamu hamil! Untungnya, Rick cukup baik untuk menjadikanmu selirnya dan menyelamatkanmu dari rasa malu,’ kata ibu tiriku, melemparkan strip kehamilan ke meja.
Rick adalah seorang tua mesum. Tidak ada serigala betina yang bisa memenuhi hasrat seksualnya. Tidak ada serigala betina yang bisa bertahan lebih dari 1 tahun bersamanya.
Ketika aku dalam keputusasaan, Marco datang menyelamatkanku. Dia berlutut, mengeluarkan cincin dan berkata dia akan menikahiku.

Aku pikir Marco menikahiku karena dia mencintaiku, tapi kemudian aku menemukan bahwa itu bukanlah kebenaran...
1