5 Book(s) Related to kit walker

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Romansa Terlarang Kita

Romansa Terlarang Kita

962 Dilihat · Sedang Berlangsung · Emma- Louise
Satu malam saja cukup untuk mengubah seluruh duniaku dalam sekejap.

Cuma butuh satu kebetulan—aku kerja di sebuah acara katering yang isinya orang-orang berduit—untuk bikin dua dunia yang nggak mungkin ketemu jadi saling bertabrakan. Di sana, pandangan Tuan Ezra Barcley tertangkap padaku. Namanya dikenal di kalangan bisnis, dihormati banyak orang. Entah kenapa dia seperti tertarik, padahal di sisinya sudah berdiri seorang perempuan cantik yang jelas-jelas pantas jadi pajangan di sampingnya. Sementara aku? Aku bukan siapa-siapa. Kami ini definisi dua kutub yang berlawanan tapi saling tarik.

Dia menginginkanku. Dan laki-laki seperti dia punya cara sendiri untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku nggak bisa membohongi diri: aku juga tertarik padanya. Aku berusaha, sungguh, aku berusaha keras menahan diri. Tapi malah aku yang jadi kelemahannya—kelemahan yang dia nggak mau lepaskan.

Ezra sudah ada yang punya, usianya lebih tua dariku, dan aku nggak akan pernah terlihat pas berdiri di sampingnya—nggak seperti perempuan yang sekarang menempel di lengannya. Aku bukan tipe perempuan yang merebut. Tapi entah kenapa itu nggak menghentikanku untuk jatuh ke ranjang dengan laki-laki yang seharusnya tidak tersedia.

Aku tahu ini salah, dan aku harus berhenti. Tapi bilang “berhenti” ternyata lebih gampang daripada melakukannya, apalagi ketika dia orang pertama yang bikin aku merasa aku ini berharga. Dia memperlihatkan hidup yang selama ini cuma jadi angan-angan. Dan di antara kami ada sesuatu yang baru, sesuatu yang nyangkut—koneksi yang nggak mudah dilupakan.

Tapi tidak semuanya seperti yang kelihatan. Kami sama-sama punya rahasia, dan Ezra punya iblisnya sendiri. Hubungan yang tampak sempurna itu—yang selama ini dia tunjukkan—ternyata penuh kebohongan dan kebencian. Namun perempuan itu bersikeras mempertahankan semua yang ia punya, meski sebenarnya itu bukan yang ia inginkan.

Romansa terlarang kami hampir pasti cuma akan berakhir jadi bencana. Tapi aku juga nggak bisa menyangkal: setiap menit bersamanya terasa layak, apa pun akhir yang menunggu kami nanti.
Cinta Terlarang Kita

Cinta Terlarang Kita

838 Dilihat · Sedang Berlangsung · Linda Middleman
“Tolong, lewat sini, Nona,” suara seorang pembantu terdengar, lembut tapi tegas, sementara ia menuntunku dengan hati-hati menaiki anak tangga yang mengarah ke dalam sebuah rumah besar.

Aku masih terpaku, tapi kakiku tetap bergerak mengikuti. Entah kenapa, dadaku mendadak sesak oleh rasa gugup yang datang begitu saja.

“Nggak usah khawatir. Tuan-tuan sudah menunggu kedatangan Nona sejak menerima kabar lewat telepon,” begitu saja yang kudengar saat kami memasuki rumah itu.

Begitu melewati ambang, aku seperti kehilangan udara. Tiga pria berdiri menunggu—tampan, berwibawa, dan terlalu nyata untuk sekadar jadi bayangan masa kecil. Tenggorokanku kering.

“Selamat datang di rumah, Putri,” ucap salah satunya.

“Sudah lama ya, harta kecilku,” kata yang lain, suaranya rendah, mengikat telingaku.

“Ke sini. Biar kami sambut kamu pulang, Sayang,” suara ketiga menyusul, hangat dan memerintah dalam satu tarikan napas.

Mereka bertiga—kakak-kakak tiriku—kini berdiri tepat di depanku.

Sial. Ini yang jadi makin panas situasinya… atau aku yang salah napas?


Alya, putri bungsu keluarga Ksatria, pelan-pelan harus kembali masuk ke hidup yang baru setelah kematian kedua orang tuanya menghantam tanpa ampun. Usianya belum genap delapan belas ketika ia dikirim untuk tinggal bersama kakak-kakak tirinya—orang-orang yang sudah tak ia temui sejak ia berumur delapan tahun.

Reza, Dilan, dan Kaleb adalah kakak-kakak tiri Alya. Kini berusia dua puluh delapan, Reza dan kedua saudaranya mendadak harus mengurus adik mereka yang hampir memasuki usia dewasa.

Hanya saja, begitu Alya tiba, mereka justru seakan terseret pada sesuatu yang tak mereka rencanakan—tertarik seketika, dan siap melakukan apa pun agar Alya tetap bersama mereka… selamanya.
Kematian, Kencan, dan Dilema Lainnya

Kematian, Kencan, dan Dilema Lainnya

511 Dilihat · Sedang Berlangsung · Kit Bryan
Hal pertama yang harus kamu ketahui tentang aku? Secara teknis, aku ini penyihir. Tapi kalau kamu tanya keluargaku, itu berarti aku seharusnya jadi penyihir kecil yang sempurna: dengan patuh menghadiri ritual aneh mereka, bekerja di bisnis keluarga, menikahi pria magis yang sudah disetujui, dan menghasilkan beberapa bayi penyihir yang imut untuk menjaga garis keturunan tetap hidup. Spoiler alert: itu tidak akan terjadi.

Sebaliknya, aku telah menguasai seni menghindari dunia magis. Strategiku? Bersembunyi di balik layar komputer dan menjauh dari semua drama. Itu sebagian besar berhasil—sampai si brengsek di kantor, yang kebetulan juga seorang pembaca pikiran, memutuskan untuk ikut campur dalam kedamaian yang susah payah aku bangun. Lalu dia muncul di kantor dalam keadaan setengah mati, dan tiba-tiba, aku terjebak dalam kekacauan magis yang tidak pernah aku daftarkan.

Sekarang, si brengsek pembaca pikiran yang menyebalkan itu yakin bahwa masalahnya adalah masalahku, tubuh-tubuh yang hilang semakin menumpuk, dan kedua keluarga kami terjerat dalam bencana supernatural ini. Yang aku inginkan hanyalah bermain video game, nongkrong dengan kucingku, dan pura-pura dunia magis tidak ada. Sebaliknya, aku terjebak bermain detektif amatir, berurusan dengan kerabat yang suka ikut campur, dan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan pria yang sama menyebalkannya dan... oke, mungkin sedikit menarik.

Ini? Ini sebabnya aku tidak berkencan.
1