15 Book(s) Related to jd walker park

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Terbelenggu: Para Penguasa

Terbelenggu: Para Penguasa

798 Dilihat · Sedang Berlangsung · Amy T
Dunia tempat aku tinggal lebih berbahaya daripada yang kusadari, dikuasai oleh dua organisasi rahasia—Para Adipati dan Para Tuan, yang kini aku terjebak di dalamnya—tapi tidak seberbahaya pria licik yang ayahku, seorang Adipati dari Kota Veross, bersikeras aku harus menikah. Aku melarikan diri sebelum dia bisa mencengkeramku. Aku terpaksa meminta bantuan mantan sahabatku—Alekos. Alekos setuju, tapi dia punya syarat. Aku harus menjadi bukan hanya wanitanya, tapi juga wanita dua temannya. Apa pilihan yang kumiliki? Jadi aku setuju dengan usulannya.

Aku pikir Alekos, Reyes, dan Stefan akan menjadi penyelamatku, tapi mereka dengan cepat menunjukkan bahwa mereka sama seperti Tuan lainnya—kejam, brutal, dan tak berperasaan.

Ayahku benar tentang satu hal—Para Tuan menghancurkan segala yang mereka sentuh. Bisakah aku bertahan dari iblis-iblis ini? Kebebasanku bergantung padanya.

Aku harus bertahan dari semua yang Alekos, Reyes, dan Stefan lakukan padaku sampai aku bisa melarikan diri dari kota liar ini.

Hanya dengan begitu aku akhirnya akan bebas. Atau apakah aku?

Seri Para Tuan:
Buku 1 - Terbelenggu
Buku 2 - Dibeli
Buku 3 - Terperangkap
Buku 4 - Bebas
Raja Para Alfa

Raja Para Alfa

286 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ana Karoline Mendes
Ditolak habis-habisan oleh belahan jiwa yang selama ini kupercaya ditakdirkan untukku, aku lari dari sakit hati dan mencari pegangan di pelukan seorang asing. Ada sesuatu pada dirinya—tatapan yang dalam, wibawa yang menyesakkan dada—yang membuatku tak mampu menolak, seolah tubuhku sudah lebih dulu menyerah sebelum pikiranku sempat bertahan.

Malam itu berubah jadi badai. Hasrat, amarah, dan kesepian bercampur jadi satu, menenggelamkanku sampai aku lupa siapa diri sendiri. Aku mengira aku hanya membiarkan diriku jatuh pada orang yang tak akan pernah kutemui lagi setelah fajar.

Aku salah.

Aku baru paham setelah semuanya terlambat—bahwa lelaki yang kupilih untuk melupakan takdir justru adalah takdir yang lebih besar: Raja Kaum Serigala.

Dan kini, di dalam rahimku tumbuh pewaris takhtanya.

Aku terjepit di antara dua hal yang sama-sama berbahaya: menolak tarikan dirinya yang seperti hipnosis, atau membiarkan ikatan rapuh di antara kami tumbuh hingga cukup kuat untuk menyelamatkan kami berdua. Setiap kali ia mendekat, udara terasa lebih berat. Suaranya seperti perintah yang tak terdengar namun ditaati. Kehadirannya membuatku ingin kabur sekaligus ingin pulang—padahal aku bahkan tak tahu di mana rumahku lagi.

Di luar sana, bayang-bayang bergerak mengincar kami. Ancaman datang dari lorong-lorong gelap, dari bisik-bisik yang berhenti saat aku lewat, dari mata-mata yang terlalu lama menatap. Ada yang tak sudi melihat seorang perempuan tanpa nama, tanpa darah bangsawan, membawa calon raja.

Setiap pertemuan dengannya menguji tekadku.

Ia bukan hanya lelaki. Ia mahkota, hukum, dan kutukan. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang menuntut—bukan sekadar tubuhku, tapi kepercayaanku. Dan setiap kali ia menyebut anak itu, suaranya melembut seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah. Aku ingin percaya kelembutan itu nyata, bukan sekadar cara lain untuk menundukkanku.

Namun bagaimana caranya mencintai seseorang yang hidupnya milik takhta? Bagaimana caranya melindungi sebuah ikatan ketika dunia terus menajamkan pisau?

Aku tahu, aku harus memilih: menyerah pada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara kami, atau bertahan pada akal sehat yang terus berteriak agar aku lari sebelum mahkota itu menghancurkan semuanya.

Karena di dunia serigala, cinta sering kalah oleh kewajiban.

Dan aku takut—bukan pada gelap, bukan pada kematian—melainkan pada kemungkinan bahwa aku akan jatuh terlalu dalam, lalu ditinggalkan lagi. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena beratnya mahkota di kepalanya tak pernah mengizinkan siapa pun untuk benar-benar bahagia.
Ratu Para Serigala

Ratu Para Serigala

677 Dilihat · Sedang Berlangsung · unknown author
Cinta itu perasaan yang suci. Campuran antara percaya dan keyakinan, yang bisa dirasakan semua makhluk. Tapi bagaimana kalau orang yang paling kamu cintai justru menikammu dari belakang?

Amara Dale dikenal sebagai prajurit perempuan terbaik di klannya. Di medan laga, tak ada yang meragukan ketegasan dan keberaniannya. Namun keberanian tidak membuatnya kebal terhadap satu hal yang selalu ditakuti para serigala betina: menjadi yang ditolak saat Bulan Kawin.

Ketika pasangan takdirnya menampiknya, Amara ikut jatuh ke lubang yang sama—pengkhianatan yang rasanya seperti merobek dada, siksaan yang membuat napasnya sendiri terasa tajam. Ia menyaksikan sendiri bagaimana para betina lain yang ditolak kehilangan cahaya di mata mereka. Dan kini, giliran Amara meraba-raba gelap itu.

Butuh waktu lama baginya untuk menerima penolakan itu sebagai kenyataan. Hari-hari berlalu dengan rasa sakit yang menempel di kulit seperti bau darah yang tak mau hilang. Ia belajar berjalan tanpa sandaran, belajar tersenyum tanpa benar-benar merasa utuh. Ia bertahan, karena itulah yang dilakukan prajurit.

Sampai suatu hari, Dewan Kebangsawanan menurunkan titah yang mengubah arah hidupnya.

Amara ditugaskan menjadi pelindung Damien Hilton—Raja Alfa.

Tak ada yang lebih berat daripada menjaga seseorang yang hidupnya menjadi tumpuan begitu banyak klan. Dan tak ada yang lebih asing bagi Amara daripada berada begitu dekat dengan kekuasaan yang selama ini hanya ia dengar lewat bisik-bisik: sang pemimpin para pemimpin, serigala yang namanya disebut dengan hormat dan takut.

Amara sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa tugas itu akan menyeretnya pada takdir kedua.

Ia tak pernah menduga akan bertemu pasangan keduanya—dan ternyata sosok itu adalah pemimpin yang harus ia lindungi. Dalam mimpi paling liarnya, Amara tak pernah melihat dirinya berdiri sebagai Luna sang Raja Alfa.

Lalu, apa yang menantinya ketika ia harus melangkah bukan lagi sebagai prajurit… melainkan sebagai Ratu para Serigala?
Para Bajingan Neraka

Para Bajingan Neraka

701 Dilihat · Sedang Berlangsung · KJ Dahlen
Apa kata pembaca...
“Gila, buku ini keren banget dan bikin gue ketagihan! Tulisannya salah satu yang terbaik!”
“Gue nggak bisa berhenti baca. Sekali kebawa, susah lepas.”
“Ceritanya luar biasa... tiap kalimat nyantol, bikin fokus terus sampai lo cuma pengin tahu apa yang terjadi selanjutnya.”

Pembunuhan... Rahasia keluarga, kartel, dan kejahatan yang seolah nggak bisa dihentikan....

Saat Cat datang ke Granite Falls, tujuannya cuma satu: menuntut keadilan untuk para korban pembunuhan yang terus menghantuinya lewat mimpi. Tanpa diduga, kedatangannya justru menarik perhatian Rogue’s of Hell MC. Di sanalah ia bertemu Titan—dan ya, sosoknya sebesar dan segarang namanya. Meski jelas-jelas tertarik pada Cat, Titan tetap patuh pada perintah. Ia menyeret Cat keluar dari gedung pengadilan untuk dihadapkan pada MC.

Tak lama kemudian Cat sadar, seumur hidupnya ia hidup dalam kebohongan. Entah bagaimana, klub ini terikat erat dengan keluarganya—terlalu erat untuk sekadar kebetulan. Tapi bagaimana mungkin?

Kebenaran di balik kematian ayahnya, ingatan masa kecil yang terkubur, dan seekor serigala bernama Bear... semuanya mendorong Cat menuju kenyataan mengerikan yang tak masuk akal—dan semakin ia mendekat, semakin jelas: kebenaran itu tidak akan memberi ampun.
Para Cantik Molly

Para Cantik Molly

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · amy worcester
Peringatan pemicu: Ini adalah cerita tentang seorang pria dengan 5 wanita.

“Lalu kenapa istriku bicara tentang lidah ajaibmu?”
“Karena itulah yang wanita-wanitaku sebut. Aku tidak membawa wanita lain ke tempat tidurku.” Dia menerima bir yang diberikan Siobhan kepadanya.
“Ajari dia cara menggunakan lidah.” Siobhan menjawab sambil mengangguk ke arah suaminya dan memberi Molly pelukan ringan di lengannya.
“Sekarang, aku harus membuktikan padanya bahwa aku tahu caranya.” Toad menggerutu saat duduk di sebelah pria yang lebih muda itu.
“Kamu suka blow job?” tanya Molly dan Toad mendengus mengiyakan. “Kamu pikir dia suka selalu punya wajahmu di depannya tanpa balasan?”
Toad mulai menjawab lalu melihat ke arah Molly yang mengangkat bahu.
“Wanita tidak serumit yang kita pikirkan. Mereka akan memberitahumu apa yang mereka inginkan. Kamu hanya perlu mendengarkan.”
“Kamu punya wanita kedua di tempat tidurmu dan sekarang kamu tahu segalanya tentang mereka?”
“Istriku membawa Jess ke tempat tidur kami. Dia bilang padaku bahwa dia ingin membawa Tammy ke tempat tidur kami.” Dia berkata kepada Toad yang terkejut. “Aku mendengarkan. Dan aku akan punya anak perempuan lagi.”


Pada bulan September 1999, Stephen "Molly" Lowery pergi ke Vegas dan mengalami romansa kilat, menikahi cinta dalam hidupnya, Pretty, dalam satu akhir pekan. Becks hanya meminta satu hal darinya - dia ingin keluarga besar. Dia berjanji padanya keluarga yang cukup besar sehingga dia akan menginginkan istri sendiri.

Pada ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh, mereka memiliki lebih dari selusin anak. Dan empat istri lainnya.

Ini adalah kisah cinta dan kehilangan mereka saat Molly memberikan Becks keluarga besar dengan kelima wanita cantiknya dan bahkan lebih banyak lagi anak-anak cantik yang memenuhi hati dan rumahnya.
Hidup dengan Para Alpha

Hidup dengan Para Alpha

1.5k Dilihat · Sedang Berlangsung · SAN_2045
"Alpha!" Dia menggesekkan hidungnya di rahangnya, lebih dari sadar bahwa tangannya merayap ke samping tubuhnya.
"Aku butuh kamu, butuh simpulmu..." Tangannya begitu kasar, begitu besar, dan bagaimana itu menyentuh kulitnya membuat omega berdenyut di mana-mana.
"Tidak ada yang pernah menyentuhmu seperti ini, omega? Kamu begitu sensitif."
"Tidak, mereka mencoba...tapi aku tidak...membiarkan mereka." Dia merengek, memiringkan kepalanya ke belakang saat jari-jarinya menyentuh kulit telanjangnya.
"Kenapa tidak, sayang? Kenapa aku diizinkan menyentuhmu seperti ini?"
"Karena kamu adalah Alpha-ku."


Ada dua aturan yang diketahui oleh orang-orang di dunia ini sepanjang hidup mereka; pertama, siapa pun dan apa pun yang memasuki wilayah kawanan lain sekarang menjadi milik mereka; secara permanen. Dan kedua, omega yang belum berpasangan tidak boleh berkeliaran sendirian di hutan, tidak peduli seberapa putus asa mereka. Ava adalah seorang omega yang berhasil melanggar kedua aturan tersebut ketika dia menemukan dirinya di wilayah saudara Bruno—kawanan paling berbahaya di antara para werewolf.

Zach, Ares, dan Dante Bruno adalah Alpha murni dan pemimpin dari kawanan yang sangat berpengaruh, yang terbesar dengan kekayaan tak terukur. Saudara-saudara Bruno memiliki segalanya yang mereka butuhkan kecuali belahan jiwa mereka, sampai suatu hari ketika seorang omega yang tidak dikenal tersandung ke wilayah mereka, dan semuanya berubah dari sana. Pertanyaannya adalah, bagaimana saudara-saudara akan bersikap dengan omega baru di wilayah mereka? Apakah mereka akan menunjukkan belas kasihan? Atau memiliki rencana yang jauh lebih besar untuk omega tersebut?

Harap dicatat: Cerita ini mengandung tema gelap dan dewasa seperti kekerasan, threesome, dan seks.

Hak cipta dilindungi San 2045 2021.
Kebahagiaan Pak Liu

Kebahagiaan Pak Liu

519 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lucas Bennett
Pak Liu, seorang pria paruh baya berusia lebih dari 50 tahun, bekerja sebagai pengumpul barang bekas.

Suatu hari, saat dia sedang mengumpulkan barang bekas di rumah seseorang, tiba-tiba ibu rumah tangga di rumah itu terpeleset di kamar mandi.

Karena tidak ada orang lain di rumah, terpaksa Pak Liu harus membantu ibu itu di kamar mandi.

Namun, saat melihat tubuh menggoda gadis muda di depannya, Pak Liu akhirnya tidak bisa menahan diri dan melakukan kesalahan besar!
Seorang Budak untuk Para Raja

Seorang Budak untuk Para Raja

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · LadyArawn
Hanya untuk pembaca dewasa: Mengandung bahasa kasar, seks, kekerasan, dan penyalahgunaan.

Dia tidak punya nama, tidak lagi, setelah sekian lama dia hanya lupa apa itu nama, apa artinya bisa memilih, apa artinya bisa berharap, dia hanya lupa apa artinya menjadi seorang manusia.
Dia hanya seorang budak dalam kelompok yang selalu mengingatkannya bahwa dia tidak lebih dari sekadar objek untuk digunakan, baik itu untuk pekerjaan rumah tangga atau untuk memuaskan hasrat seksual tuan-tuannya.

Dia adalah seorang raja, bukan hanya itu, tetapi raja dari para werewolf, wilayah kekuasaannya meliputi semua tanah lupine dan dia tidak pernah peduli banyak, hatinya sudah tertutup, hancur oleh masa lalu yang ingin dia lupakan.
Dengan satu kata dia bisa mengubah seluruh masyarakat, tapi untuk apa? Tidak ada gunanya, kegembiraan perang dan pertarungan adalah salah satu hal yang membuatnya terus berjalan... Dan, tentu saja, kesenangan yang dia dapatkan dari siapa pun yang dia inginkan, kapan pun dia inginkan, tanpa pernah mendengar kata tidak.

Dia bukan hanya seorang raja, dia adalah seorang kaisar... Kekaisaran vampirnya mencakup hampir seluruh Eropa, banyak yang menyebutnya diktator, yang lain menyebutnya pembebas... Dia memerintah tanahnya dengan tangan besi, kata-katanya adalah hukum.
Lelah dari perang panjang, dia hanya ingin beristirahat sejenak dan menemukan seseorang yang akan melengkapinya... Setelah hidup begitu lama, dia sudah mencoba segalanya, tetapi dia masih belum menemukan orang yang ditakdirkan untuknya.

Tiga orang yang benar-benar berbeda... Tiga takdir yang saling terkait... Siapa yang akan menyembuhkan siapa dan siapa yang akan bertahan pada akhirnya?
Putri Terlarang dan Para Pria Mafianya

Putri Terlarang dan Para Pria Mafianya

987 Dilihat · Sedang Berlangsung · Linda Middleman
“Cinta…” dengkur sebuah suara, berat dan lembut seperti beludru, ketika hembusan napas panas menempel di daun telingaku. Seluruh tubuhku merinding, getarannya merayap sampai ke pusat ragaku, memaksaku merengek pelan.

“Kata-kata, Putri,” bisik suara lain—lembut tapi tegas—bersamaan dengan tamparan ringan yang mendarat di bokongku.

“Tolong…” rintihku. Kebutuhanku pada mereka membengkak, nyaris menyakitkan.

“Tolong apa?” tanya yang lain.

“Apa yang kamu mau? Ucapkan, Nak,” perintah suara yang paling mendominasi di antara mereka.

“Ambil aku! Aku udah nggak kuat nahan lagi!” jeritku. Air mata mengancam tumpah di balik penutup mataku.

“Nah, gitu dong. Nggak susah, kan?” kata salah satu suara, dan aku bisa mendengar seringai di balik ucapannya.


Citra Wiratama selalu hidup sebagai putri. Setidaknya, begitu yang ia yakini—sampai hari ayahnya terpaksa mencari pertolongan pada empat lelaki yang namanya cukup untuk membuat orang-orang menunduk.

Lukas, Galang, Alex, dan Tono.

Mereka bukan sekadar orang berkuasa. Mereka adalah para pemimpin jaringan gelap yang mengatur semuanya—di kantor, di jalanan, dan di ranjang. Lelaki-lelaki yang terbiasa mengambil apa yang mereka mau, lalu berbagi… hampir segala hal.

Saat keluarga Citra jatuh miskin dan nyawanya jadi taruhan, ia tak punya pilihan selain menikah—bukan dengan satu, melainkan empat lelaki itu. Masing-masing menawarkan kenikmatan dengan cara yang bahkan tak pernah berani ia bayangkan.

Tapi ketika dua keluarga lain ikut mengincarnya, apakah Citra sanggup bertahan dari kegilaan ini? Atau justru mengakui hasrat terdalamnya akan jadi awal kehancuran—selamanya ternoda oleh tangan para lelaki paling berbahaya itu?
Dipinang oleh Para Alpha (Koleksi Seri)

Dipinang oleh Para Alpha (Koleksi Seri)

244 Dilihat · Sedang Berlangsung · Suzi de beer
"Kami akan mengirim kamu pergi untuk sementara waktu," kata Devon.

Rasa sakit menusuk hatiku. Mereka tidak menginginkanku di sini lagi.

Apakah ini cara dia mengatakan bahwa dia tidak menginginkan bayi ini? Apakah dia terlalu takut untuk mengatakannya langsung padaku?

Aku menegang ketika David melangkah mendekat dari belakang dan melingkarkan lengannya di pinggangku.

"Kami tidak ingin melakukan ini, tapi kami tidak punya pilihan lain sekarang," kata David dengan lembut.

"Aku bisa tinggal dengan kalian," bisikku, tapi dia sudah menggelengkan kepalanya.

"Kamu hamil, Val. Seseorang bisa saja memasukkan sesuatu ke dalam makanan atau minumanmu dan kami tidak akan menyadarinya. Kamu harus sejauh mungkin dari sini sementara kami menyelesaikan ini."

"Jadi kalian mengirimku pergi untuk tinggal dengan orang asing? Apa yang membuat mereka bisa dipercaya? Siapa—"


Aku adalah manusia yang lahir di dunia Lycan.

Ibuku meninggal saat melahirkanku, dan ayahku segera setelah itu dalam pertempuran. Satu-satunya keluarga yang kumiliki adalah bibiku yang terpaksa harus merawatku. Di dunia Lycan ini, aku tidak diterima. Bibiku mencoba membuang beban ini, yaitu aku. Akhirnya dia menemukan sebuah kawanan yang mau menerimaku.

Sebuah kawanan yang dipimpin oleh dua Alpha—kawanan terbesar yang dikenal oleh para Lycan. Aku mengira mereka juga akan menolakku, tapi ternyata hal yang tak terduga terjadi. Ternyata mereka menginginkanku sebagai pasangan mereka. Tapi apakah aku bisa menghadapi dua Alpha?

CATATAN: Ini adalah koleksi seri oleh Suzi de Beer. Ini termasuk Mated to Alphas dan Mated to Brothers, dan akan mencakup sisa seri di masa depan. Buku-buku terpisah dari seri ini tersedia di halaman penulis. :)
Istri Sang CEO dan Para Pewaris Rahasianya

Istri Sang CEO dan Para Pewaris Rahasianya

833 Dilihat · Sedang Berlangsung · Harper
Namaku Alya. Tiga tahun lamanya aku membina rumah tangga, namun suamiku tega mencampakkanku demi cinta pertamanya. Ia meninggalkanku begitu saja, membiarkanku terjebak dalam bahaya hingga nasibku sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang tak dikenal.

Di tengah keputusasaan dan kondisi berbadan dua, laki-laki itu justru menuduhku main serong. Lebih kejam lagi, ia bahkan berniat mencelakai darah daging kami yang masih berada dalam kandunganku.

Lima tahun berlalu. Kini, aku kembali membawa sepasang anak kembar.

Dengan mata berkaca-kaca, laki-laki itu menatapku lekat dan menuntut, "Anak siapa mereka, Al? Sama siapa kamu main gila di belakangku?"
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.

Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.

2.3k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Setelah kematiannya yang tragis, didorong oleh keputusasaan dan pengkhianatan, miliader yang dulu memburu balas dendam kini hanya bisa bersujud memohon ampun.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
1