15 Book(s) Related to books by ken follet

Ke Utara

Ke Utara

261 Dilihat · Sedang Berlangsung · eenboterham
"Aku lebih suka desahanmu, eranganmu, dan rintihanmu. Jangan ditahan, dan aku akan lebih dari puas..."
Tanganku bergerak dari rahangnya ke rambutnya, menarik ujung-ujungnya. Tangannya menjelajahi tubuhku dan menarik bahan dari bajuku ke atas tubuhku, dia menempatkan ciuman basah tepat di sebelah pusarku. Aku menegang saat mengeluarkan desahan. Dia naik perlahan, menghujani perutku dengan ciuman lambat, mempelajari tubuhku sambil terus naik sampai bajuku benar-benar terlepas dan mulutnya berada di leherku.


Aelin telah diperlakukan dengan buruk oleh kelompoknya selama yang bisa dia ingat, tetapi ketika ancaman dari Kerajaan Vampir semakin nyata, kelompoknya harus memanggil orang-orang Utara untuk membantu mereka berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi Kerajaan Vampir. Apa yang terjadi ketika Alpha Utara mulai tertarik pada Aelin?
Dilempar ke Sarang Lycan

Dilempar ke Sarang Lycan

886 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eiya Daime
''Jadi, kamu punya sesuatu yang ingin dikatakan?''
Seorang pria kekar dan berotot bertanya padaku saat dia duduk di seberangku, sementara aku juga duduk di sana telanjang, setengah terendam dalam bak besar berisi air ini.
''Jangan khawatir, aku tidak akan menggigitmu, sayang...''
Dia berkata sambil mendekatiku, menarikku ke pangkuannya dan menempatkanku di atas kakinya.
''A-apa ini, Tuan?'' Akhirnya aku bertanya padanya saat dia menyerahkan sebuah sabun kecil padaku.
''Aku bukan Tuanku,'' dia membentakku dengan nada keras.
''Aku adalah Pasanganmu.''


Setelah kematian ibu Alasia lima tahun yang lalu, ayah tirinya menggunakan dana kepercayaan yang diberikan kepadanya setelah kematian ibunya untuk mendukung kebiasaan minumnya.
Setelah dia bangkrut dan menolak untuk mengelola satu pekerjaan rendah yang dia miliki, dia merasa tidak punya pilihan lain. Dia memutuskan untuk menjual anak tirinya yang tertua dengan harapan bisa mendapatkan cukup uang untuk pindah, dan dengan demikian, membawa adik laki-lakinya bersamanya.
Alasia yang baru berusia 16 tahun dijual menjadi budak ke dalam kawanan werewolf paling ganas, The Crimson Caine, oleh ayah tirinya yang berlebihan dan kasar.
Bagaimana dia bisa bertahan di bawah Alpha yang paling kejam?
Dan bagaimana jika dia mengetahui bahwa dia adalah PASANGANNYA?
Jatuh ke Dalam Dirimu

Jatuh ke Dalam Dirimu

884 Dilihat · Sedang Berlangsung · Dripping Creativity
Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.

Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.

Bukan sekadar hidup baru.

Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.

Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.

Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.

Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.

Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.

Bel bunyi lagi.

Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.

“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.

“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”

Dada gue langsung mengeras.

Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.

Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.

“Iya, Pak?”

Yang di depan mengangkat map.

“Bu Hana Pradipta?”

Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.

“Iya. Ada apa?”

“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”

Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.

Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.

“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.

Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.

“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”

Gue kepal tangan di balik pintu.

“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.

“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”

“Nggak.”

“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”

Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.

“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”

Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.

“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”

Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.

Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.

Gue berbalik, mau kembali ke dapur.

Bel rumah bunyi lagi.

Bulu kuduk gue langsung berdiri.

Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.

Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.

Tapi bel itu dibarengi ketukan.

Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.

Tok. Tok. Tok.

Gue intip lewat lubang pintu.

Bukan polisi.

Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.

Gue mundur satu langkah.

Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.

“Buka.”

Bukan permintaan.

Itu perintah.

Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.

“Siapa?”

“Orang yang perlu ketemu lo.”

Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.

“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.

Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.

“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”

Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.

“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”

Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.

“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”

Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.

Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.

Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.

Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.

Ketukan itu berhenti.

Hening.

Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.

Teras kosong.

Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.

Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.

Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.

Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.

Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.

Tok. Tok.

Gue tetap diam.

Tok. Tok.

Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.

“Hana?”

Nama gue.

Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”

Hana.

Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.

“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”

Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.

“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.

“Nama saya Hunter Wijaya.”

Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.

Wijaya.

Jantung gue melompat.

“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.

Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.

Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?

Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.

Bukan percaya.

Cuma… berhenti.

Gue mengintip lewat lubang pintu.

Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.

Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.

Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.

Seharusnya gue nggak buka.

Gue tahu itu.

Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.

Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.

Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.

“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”

“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.

Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.

“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”

Darah gue terasa dingin.

“Bapak tahu dari mana?”

“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”

Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.

Gue menatapnya curiga.

“Terus Bapak datang buat apa?”

Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.

“Buat pastikan kamu aman.”

Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.

“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.

Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.

“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”

Gue menggigit bibir.

“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.

“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.

Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.

Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.

Seharusnya.

Tapi kata-kata itu nggak keluar.

Malah, yang keluar:

“Bapak mau masuk… sebentar?”

Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”

Gue lepas rantai. Pintu terbuka.

Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.

Itu yang paling mengganggu.

Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.

Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Satu Salam ke Langit

Satu Salam ke Langit

556 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lorcan Veyne
Dia sudah tiga kali menikah. Pertama kali, dia adalah kepala perampok gunung, menculik anak tuan tanah dan menjadikannya sebagai istri. Kedua kali, dia bergabung dengan revolusi, membawa anak tuan tanah untuk mendaftarkan pernikahan di kantor kepala, dan ketika tidak diberikan, dia menggambar sendiri surat nikah. Ketiga kali, mereka ditangkap dan dihukum, berlutut berdampingan, pemberontak memaksa mereka untuk bersujud, dia menolak, tapi anak tuan tanah tersenyum dan menyanyikan "Sujud pertama untuk langit dan bumi—" mereka berdua bersujud, dan tidak pernah bangkit lagi, akhirnya menjadi suami istri seumur hidup. Anak tuan tanah itu bernama Qin Shu, dan perampok itu bernama Sui San. Mereka telah terikat oleh takdir, semoga di kehidupan berikutnya mereka bisa bertemu lagi.
Kembali ke Fajar Merah

Kembali ke Fajar Merah

665 Dilihat · Sedang Berlangsung · Diana Sockriter
Menyerah tidak pernah menjadi pilihan....
Sementara berjuang untuk hidup dan kebebasan telah menjadi hal biasa bagi Alpha Cole Redmen, pertarungan untuk keduanya mencapai tingkat yang sama sekali baru begitu dia akhirnya kembali ke tempat yang tidak pernah dia sebut rumah. Ketika perjuangannya untuk melarikan diri mengakibatkan amnesia disosiatif, Cole harus mengatasi satu rintangan demi rintangan untuk mencapai tempat yang hanya dia ketahui dalam mimpinya. Akankah dia mengikuti mimpinya dan menemukan jalan pulang atau akan tersesat di sepanjang jalan?
Ikuti perjalanan emosional Cole, yang menginspirasi perubahan, saat dia berjuang untuk kembali ke Crimson Dawn.

*Ini adalah buku kedua dalam seri Crimson Dawn. Seri ini sebaiknya dibaca secara berurutan.

**Peringatan konten, buku ini mengandung deskripsi tentang kekerasan fisik dan seksual yang mungkin mengganggu pembaca sensitif. Hanya untuk pembaca dewasa.
Dari Perceraian ke Pengantin Miliarder

Dari Perceraian ke Pengantin Miliarder

458 Dilihat · Sedang Berlangsung · Olivia Chase
Setelah menemukan perselingkuhan suaminya, Alex, Sharon, dalam keadaan mabuk, hampir saja melakukan hubungan satu malam dengan paman Alex, Seb.
Dia memilih untuk bercerai, tetapi Alex sangat menyesali perbuatannya dan dengan putus asa mencoba untuk berdamai. Pada saat ini, Seb melamarnya, sambil memegang cincin berlian yang sangat berharga, berkata, "Menikahlah denganku, tolong?"
Dengan paman mantan suaminya yang dengan gigih mengejarnya, Sharon menghadapi dilema. Bagaimana dia akan membuat pilihannya?
Dari Patah Hati ke Kebahagiaan

Dari Patah Hati ke Kebahagiaan

962 Dilihat · Sedang Berlangsung · Robert
Apakah kamu tahu bagaimana rasanya keputusasaan yang sebenarnya? Biar aku ceritakan.
Di pesta pertunanganku, terjadi kebakaran. Tunanganku dengan gagah berani berlari masuk ke dalam api. Tapi dia bukan datang untuk menyelamatkanku—dia menyelamatkan wanita lain.
Pada saat itu, duniaku hancur berkeping-keping.
Nirvana: Dari Abu ke Kemuliaan

Nirvana: Dari Abu ke Kemuliaan

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Lila Moonstone
Sophia meninggal karena dikhianati—oleh kekasih dan sahabatnya. Tapi kematian bukanlah akhir. Dia terbangun dalam tubuh Diana Spencer, seorang wanita dengan masa lalu tragis dan suami yang kejam.

Dengan kesempatan hidup yang baru, Sophia bukan lagi wanita yang mudah dijatuhkan. Berbekal ingatan Diana dan hasrat membara untuk balas dendam, dia siap merebut kembali apa yang menjadi miliknya dan membuat musuh-musuhnya membayar. Balas dendam tak pernah terlihat semanis ini.
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan

Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan

491 Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
[Ada male lead, alur romance 1 point, alur karier 9 point]
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.

Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?

Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!

Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
Istri Terbuang Membalas Dendam

Istri Terbuang Membalas Dendam

340 Dilihat · Sedang Berlangsung · Freya Brooks
Setelah sepuluh tahun menikah, Hollis Meyer percaya bahwa dia telah menemukan suami yang luar biasa. Sedikit yang dia tahu, suaminya akan membawanya ke jalan kehancuran! Dengan menyamar sebagai pernikahan, dia memanipulasi emosinya, merencanakan untuk mengambil kekayaannya, dan bahkan memusnahkan seluruh keluarga Meyer, semua demi sekejap cinta sejati.

Namun, takdir campur tangan dengan pembunuhan yang direncanakan dengan cermat, mengirimnya kembali sepuluh tahun ke masa lalu! Dalam kehidupan baru ini, dia bersumpah untuk menghancurkannya sepenuhnya, menghapus garis keturunannya hingga menjadi abu, dan mengutuk kekasihnya dengan kemalangan tanpa akhir.

Dia berjanji untuk membalas dendam seratus kali lipat pada semua orang yang telah menyakitinya!
Dan begitu, tindakan pertamanya setelah terlahir kembali adalah menolak rayuan si brengsek itu dan dengan tegas menikahi musuh bebuyutannya dari kehidupan sebelumnya—seorang taipan terkemuka yang seharusnya tidak dia ganggu kali ini!

Dia mengira pernikahan mereka akan didorong oleh nafsu daripada kasih sayang, tetapi yang mengejutkannya, taipan itu menghujaninya dengan cinta dan pengabdian tanpa batas setelah mereka menikah.
Dewa Medis Turun Gunung

Dewa Medis Turun Gunung

440 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Brooks
Pewaris Tian Dao Yi Men dari Gunung Long Hu, Yang Hao, turun gunung atas perintah gurunya untuk mengobati orang sakit. Dengan kondisi bawaan lahir yang langka, ia memulai karirnya sebagai dokter magang di rumah sakit. Berbekal keterampilan medis dan kemampuan ramalannya, ia perlahan-lahan mengumpulkan pahala dan mencapai puncak hidupnya. Dia dengan tegas mengalahkan anak-anak kaya yang sombong dan menikmati kehidupan dengan wanita-wanita cantik yang luar biasa.
Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

716 Dilihat · Sedang Berlangsung · Vivian Brooks
“Pernah nggak sih… kamu beneran cinta sama aku?” tanya Summer Hayes suatu kali pada suaminya.

Kieran Cross tak pernah menjawab.

Selama dua tahun, Summer hidup dengan keyakinan kalau pernikahan mereka cuma bentuk balas dendam. Sentuhan Kieran dingin seperti es, genggamannya selalu terasa seperti belenggu, dan diamnya… tajam, seolah bisa melukai tanpa perlu kata-kata. Cowok kaya raya yang dulu ia anggap tak terlihat saat SMA akhirnya membuatnya membayar semuanya.

Sampai malam saat Kieran mati demi menyelamatkannya.

Ketika yacht mereka miring lalu tenggelam, ombak membekukan menampar wajah Summer tanpa ampun. Lampu-lampu di atas geladak padam satu per satu, berubah jadi titik-titik redup di balik kabut asin. Di tengah kekacauan—teriakan, bunyi logam beradu, aroma bahan bakar—Kieran mendorongnya ke perahu penyelamat.

Dengan paksa.

Dengan tenaga terakhir.

Ada darah di bibirnya, merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya tetap menahan Summer, seolah tak mau melepas walau laut menarik tubuhnya ke bawah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—untuk pertama kalinya selama Summer mengenal Kieran—mulut itu membentuk kalimat yang selalu ia tunggu, kalimat yang tak pernah sekalipun ia dengar.

“Aku cinta kamu.”

Summer baru benar-benar mengerti saat semuanya terlambat.

Saat perahu penyelamat menjauh, dan sosok Kieran tersapu gelombang, lenyap dalam dingin yang tak berujung.

Tiga tahun kemudian, Summer hidup seperti cangkang kosong. Duka menggumpal di dadanya, tak pernah benar-benar turun, sementara ingatan malam itu terus menghantamnya di waktu-waktu yang paling tak siap. Suara air, bau garam, rasa sesak—semuanya datang mendadak, menelan napasnya. PTSD membuatnya sulit tidur, sulit makan, sulit percaya bahwa ia masih berhak hidup.

Lalu suatu hari, saat jalanan basah dan lampu-lampu kendaraan berpendar di kaca, dunia berputar terlalu cepat.

Mobilnya menabrak.

Benturan keras. Gelap. Sunyi.

Dan saat Summer membuka mata—

Ia ada di kamar yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Dinding dengan poster lama, meja belajar penuh buku, aroma sabun laundry yang dulu selalu dipakai ibunya. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak liar.

Ia menoleh.

Di cermin, wajahnya… muda. Terlalu muda. Pipi masih penuh, mata masih menyimpan naivete yang seharusnya sudah lama mati. Tubuhnya kecil, tangan ini tangan remaja.

Enam belas.

Summer menahan napas saat mendengar suara dari luar kamar.

Suara yang selama bertahun-tahun ia rindukan sampai rasanya bisa gila.

Ibunya.

Masih hidup.

Kaki Summer lemas. Ia hampir jatuh hanya karena satu kenyataan itu. Dunia yang dulu merebut terlalu banyak darinya—kali ini mengembalikan sesuatu yang mustahil.

Namun ada satu hal lagi yang membuat tengkuknya merinding.

Kieran.

Kieran Cross yang ia kenal—suaminya, miliarder yang tak tersentuh, pria dengan jas mahal dan tatapan yang tak pernah benar-benar hangat—belum menjadi siapa-siapa.

Di usia ini, Kieran bukan penguasa yang membuat orang menunduk. Ia hanyalah anak beasiswa yang semua orang anggap tidak penting. Yang duduk di ujung kelas. Yang menunduk saat berjalan, seolah berharap tak ada yang melihatnya.

Pendiam.

Kelelahan.

Dan terlalu kurus, seolah sengaja menahan lapar demi seseorang.

Summer segera mengingat detail-detail yang dulu tak pernah ia pedulikan—karena dulu ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kieran punya adik perempuan kecil yang tuli. Dan Kieran bekerja apa saja, mengambil shift tambahan, menahan kantuk, menahan lapar, agar adiknya tetap bisa makan… tetap bisa sekolah… tetap bisa bertahan.

Sementara semua orang? Menertawakan sepatu lusuhnya. Mengabaikan keberadaannya. Menganggapnya cuma “anak miskin” yang kebetulan numpang belajar di sekolah mereka.

Summer menelan ludah saat bayangan masa depan menghantamnya: Kieran yang kelak menjadi pria yang dingin, keras, dan penuh rahasia. Kieran yang memeluknya tanpa pernah benar-benar memberi tempat aman. Kieran yang mati untuknya—dan baru mengucapkan “aku cinta kamu” di detik terakhir hidupnya.

Kalau ini kesempatan kedua…

Kalau takdir benar-benar memberinya kesempatan—

Maka kali ini, ia tak akan membiarkan Kieran menjalani hidup sendirian.

Hari pertama ia kembali ke sekolah, semuanya terasa seperti déjà vu yang kejam. Lorong ramai, tawa, geng-geng kecil yang dulu ia kenal. Tapi pandangan Summer tak mencari siapa pun selain satu nama.

Dan ia menemukannya.

Kieran duduk di bus sekolah, berdiri di dekat pintu, memeluk tasnya dekat dada. Tatapannya menelusuri bangku-bangku yang sudah terisi—tempat yang tak pernah disisakan untuknya. Anak-anak lain berpura-pura tak melihat, ada yang sengaja memalingkan wajah, ada yang menyeringai kecil.

Tak ada satu pun yang menawarkan kursi.

Summer merasakan dada panas, bukan karena marah saja, tapi karena rasa bersalah yang menumpuk seperti utang.

Dulu, ia juga salah satu dari mereka.

Dulu, ia juga memilih diam.

Kali ini tidak.

Summer melangkah masuk, menembus kerumunan, dan duduk di bangku kosong sebelah jendela. Ia menoleh pada Kieran—pada anak laki-laki yang suatu hari akan menjadi suaminya, pada pria yang mati demi dirinya—lalu menepuk kursi di sebelahnya.

“Duduk sini,” kata Summer, suaranya tegas tapi lembut. “Masih kosong.”

Kieran seperti tak percaya. Matanya menatap Summer sejenak, bingung, ragu, seolah khawatir ini cuma lelucon. Ia menelan ludah, lalu duduk perlahan, tubuhnya kaku seperti siap kabur kapan saja.

Summer memandang lurus ke depan, tapi hatinya bergetar.

Karena ia tahu apa yang dipertaruhkan.

Di hidup ini, ia akan menyelamatkan Kieran—bukan hanya dari kelaparan, kelelahan, dan kesepian, tapi dari masa depan yang membentuknya jadi pria yang begitu hancur sampai cinta pun ia simpan sebagai senjata.

Namun semakin dekat Summer dengan Kieran, semakin besar kemungkinan ia mengorek kebenaran yang dulu tersembunyi rapi: alasan Kieran menjadi seperti itu, alasan kebenciannya terasa seperti cinta yang salah arah, dan alasan mengapa… setiap kali Kieran mencintainya, ujungnya selalu tragedi.

Dan Summer tak tahu mana yang lebih menakutkan—

Menyelamatkan Kieran…

atau mengetahui bahwa takdir selalu meminta bayaran saat mereka saling jatuh cinta.
1