
Jatuh ke Dalam Dirimu
Dripping Creativity
172.0k Words / Completed
884
Populer
884
Dilihat
Tambahkan ke Perpustakaan
Tambahkan ke Perpustakaan
884
Hot
884
Views
Unduh 125 Bab <Jatuh ke Dalam Dirimu> di Aplikasi
UNDUHGRATIS
Pengenalan
Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.
Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.
Bukan sekadar hidup baru.
Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.
Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.
Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.
Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.
Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.
Bel bunyi lagi.
Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.
“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.
“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”
Dada gue langsung mengeras.
Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.
Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.
“Iya, Pak?”
Yang di depan mengangkat map.
“Bu Hana Pradipta?”
Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.
“Iya. Ada apa?”
“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”
Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.
Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.
“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.
Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.
“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”
Gue kepal tangan di balik pintu.
“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.
“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”
“Nggak.”
“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”
Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.
“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”
Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.
“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”
Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.
Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.
Gue berbalik, mau kembali ke dapur.
Bel rumah bunyi lagi.
Bulu kuduk gue langsung berdiri.
Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.
Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.
Tapi bel itu dibarengi ketukan.
Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.
Tok. Tok. Tok.
Gue intip lewat lubang pintu.
Bukan polisi.
Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.
Gue mundur satu langkah.
Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.
“Buka.”
Bukan permintaan.
Itu perintah.
Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.
“Siapa?”
“Orang yang perlu ketemu lo.”
Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.
“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.
“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”
Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.
“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”
Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.
“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”
Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.
Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.
Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.
Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.
Ketukan itu berhenti.
Hening.
Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.
Teras kosong.
Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.
Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.
Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.
Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.
Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.
Tok. Tok.
Gue tetap diam.
Tok. Tok.
Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.
“Hana?”
Nama gue.
Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”
Hana.
Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.
“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”
Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.
“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.
“Nama saya Hunter Wijaya.”
Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.
Wijaya.
Jantung gue melompat.
“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.
Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.
Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?
Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.
Bukan percaya.
Cuma… berhenti.
Gue mengintip lewat lubang pintu.
Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.
Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.
Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.
Seharusnya gue nggak buka.
Gue tahu itu.
Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.
Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.
Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.
“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”
“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.
Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.
“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”
Darah gue terasa dingin.
“Bapak tahu dari mana?”
“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.
Gue menatapnya curiga.
“Terus Bapak datang buat apa?”
Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.
“Buat pastikan kamu aman.”
Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.
“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.
Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”
Gue menggigit bibir.
“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.
“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.
Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.
Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.
Seharusnya.
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Malah, yang keluar:
“Bapak mau masuk… sebentar?”
Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”
Gue lepas rantai. Pintu terbuka.
Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.
Itu yang paling mengganggu.
Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.
Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.
Bukan sekadar hidup baru.
Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.
Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.
Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.
Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.
Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.
Bel bunyi lagi.
Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.
“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.
“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”
Dada gue langsung mengeras.
Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.
Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.
“Iya, Pak?”
Yang di depan mengangkat map.
“Bu Hana Pradipta?”
Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.
“Iya. Ada apa?”
“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”
Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.
Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.
“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.
Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.
“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”
Gue kepal tangan di balik pintu.
“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.
“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”
“Nggak.”
“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”
Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.
“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”
Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.
“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”
Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.
Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.
Gue berbalik, mau kembali ke dapur.
Bel rumah bunyi lagi.
Bulu kuduk gue langsung berdiri.
Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.
Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.
Tapi bel itu dibarengi ketukan.
Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.
Tok. Tok. Tok.
Gue intip lewat lubang pintu.
Bukan polisi.
Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.
Gue mundur satu langkah.
Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.
“Buka.”
Bukan permintaan.
Itu perintah.
Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.
“Siapa?”
“Orang yang perlu ketemu lo.”
Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.
“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.
“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”
Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.
“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”
Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.
“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”
Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.
Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.
Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.
Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.
Ketukan itu berhenti.
Hening.
Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.
Teras kosong.
Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.
Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.
Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.
Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.
Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.
Tok. Tok.
Gue tetap diam.
Tok. Tok.
Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.
“Hana?”
Nama gue.
Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”
Hana.
Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.
“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”
Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.
“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.
“Nama saya Hunter Wijaya.”
Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.
Wijaya.
Jantung gue melompat.
“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.
Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.
Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?
Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.
Bukan percaya.
Cuma… berhenti.
Gue mengintip lewat lubang pintu.
Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.
Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.
Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.
Seharusnya gue nggak buka.
Gue tahu itu.
Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.
Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.
Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.
“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”
“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.
Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.
“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”
Darah gue terasa dingin.
“Bapak tahu dari mana?”
“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.
Gue menatapnya curiga.
“Terus Bapak datang buat apa?”
Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.
“Buat pastikan kamu aman.”
Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.
“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.
Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”
Gue menggigit bibir.
“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.
“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.
Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.
Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.
Seharusnya.
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Malah, yang keluar:
“Bapak mau masuk… sebentar?”
Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”
Gue lepas rantai. Pintu terbuka.
Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.
Itu yang paling mengganggu.
Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.
Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Baca Lebih
Tentang Penulis

Dripping Creativity
Bab Terbaru
#125 Epilog
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#124 Bab 124
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#123 Bab 123
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#122 Bab 122
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#121 Bab 121
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#120 Bab 120
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#119 Bab 119
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#118 Bab 118
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#117 Bab 117
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#116 Bab 116
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33
Komentar
Belum ada komentar.
Anda Mungkin Suka 😍
Trilogi Efek Carrero
1.6k Dilihat · Sedang Berlangsung · Leanne Marshall
Emma Anderson memiliki segalanya dalam hidupnya yang sudah terencana dengan baik. Dia memiliki pekerjaan sempurna di sebuah perusahaan besar di Manhattan yang memungkinkannya menjalani kehidupan yang tenang dan teratur. Hal ini sangat penting baginya, setelah masa kecil yang penuh dengan kenangan buruk, pelecehan, dan seorang ibu yang tidak berguna. Namun, ada satu masalah yang bisa menggagalkan semua yang dia pikir dia butuhkan dalam hidupnya. Promosinya membawanya langsung ke dalam pekerjaan dekat dengan Jacob Carrero, seorang miliarder muda, tampan, dan playboy dengan reputasi yang menakutkan sebagai pemain. Terjebak sebagai tangan kanannya, setiap saat dalam setiap hari, dia menyadari bahwa Jacob adalah tipe orang yang bisa membuatnya gila, dan bukan dalam arti yang baik. Seperti langit dan bumi, dia adalah segalanya yang bukan Emma. Impulsif, percaya diri, santai, dominan, dan menyenangkan, dengan sikap yang sangat santai terhadap seks kasual dan kencan. Jake adalah satu-satunya yang mampu menghancurkan eksterior dingin dan teratur Emma, yang tidak terpengaruh oleh sikap tertutup dan sopan santunnya, tetapi meskipun dia ingin, membiarkannya masuk adalah hal yang sangat berbeda. Masa lalu yang membuatnya waspada terhadap pria dan tidak ada keinginan untuk membiarkan satu pun cukup dekat untuk menyakitinya lagi, Jacob Carrero memiliki pekerjaan yang sulit. Dia bukan seseorang yang menerima jawaban TIDAK dan harus belajar bagaimana menembus jika dia menginginkan lebih dari topeng yang dia tunjukkan kepada dunia. Jake perlu menunjukkan padanya bahwa bahkan seseorang seperti dia bisa berubah ketika gadis yang penting itu berhasil menembus. Karakter yang seksi dan menyenangkan serta topik emosional yang mendalam. Mengandung beberapa konten dewasa dan bahasa yang matang.
Ayah Sahabat Terbaikku
984 Dilihat · Sedang Berlangsung · P.L Waites
Elona, yang berusia delapan belas tahun, sedang berada di ambang babak baru dalam hidupnya—tahun terakhirnya di SMA. Dia memiliki impian untuk menjadi model. Namun, di balik penampilan percaya dirinya, ada rahasia yang ia simpan—perasaan suka pada seseorang yang tak terduga—Pak Crane, ayah dari sahabatnya.
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder
1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Bapak Forbes
1.1k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Kesempatan Kedua Sang Miliarder
604 Dilihat · Selesai · Nia Kas
McKenzie Peirce menyembunyikan masa lalunya dengan alasan tertentu. Dia malu dengan masa lalunya dan tidak ingin hal itu terbuka. Penyelamatnya adalah seseorang dari keluarga terkaya di Ardwell. Dia setuju untuk menikahi cucu penyelamatnya yang dingin dan jauh. Sedikit demi sedikit, Dimitri mulai terbuka, begitu juga dengan McKenzie. Ketika dia berpikir dia bisa mempercayainya, pihak ketiga masuk ke dalam kehidupan mereka dan membuat McKenzie tidak nyaman.
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.
Pengantin Mafia-Nya
1.2k Dilihat · Selesai · Adaririchichi
Cengkeraman besinya mengikat erat pinggangku dan dia menekanku ke dinding.
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Kecintaan Satu Malam
570 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Sebelum menikah.
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
889 Dilihat · Sedang Berlangsung · FancyZ
Menikah selama empat tahun, Emily tetap tidak memiliki anak. Diagnosis rumah sakit membuat hidupnya terjun ke neraka. Tidak bisa hamil? Tapi suaminya jarang di rumah selama empat tahun ini, jadi bagaimana dia bisa hamil?
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · Elowen Thorne
Natalie mengambil peran sebagai pembantu di rumah keluarga Cullen demi ibunya yang sakit parah. Dia diminta untuk berpura-pura menjadi Nona Cullen. Dia harus berinteraksi dengan tunangan Nona Cullen, Adrian Howard, bahkan berbagi tempat tidur dengannya! Saat menyamar sebagai Nona Cullen, Adrian bersikap baik padanya, tetapi ketika Natalie kembali ke identitas aslinya, Adrian salah mengira dia sebagai pemburu harta. Meskipun ada kebingungan identitas, ada percikan yang tak terbantahkan antara Natalie dan Adrian. Pertanyaannya adalah: kapan Adrian akan menyadari bahwa kasih sayangnya yang tulus bukan untuk Nona Cullen yang licik, tetapi untuk Natalie yang sebenarnya?
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Pelacur Kakakku
1.1k Dilihat · Selesai · Melody Raine
"Ucapin, Payton! Minta aku buat kamu klimaks dan kamu akan klimaks seperti belum pernah sebelumnya." Dia berjanji padaku. Saat dia mengatakannya, jarinya menelusuri segitiga kecil celana dalamku.
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
2.3k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Setelah kematiannya yang tragis, didorong oleh keputusasaan dan pengkhianatan, miliader yang dulu memburu balas dendam kini hanya bisa bersujud memohon ampun.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Bapak Ryan
1.4k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Apa yang tidak bisa kamu kendalikan malam ini?" Aku memberikan senyum terbaikku, bersandar di dinding.
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.
Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.
Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.
Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!
Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.
Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.
Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.
Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.
Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!
Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.
Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Tentang Penulis

Dripping Creativity
Membawa Anda ke Fantasi.
Unduh Aplikasi AnyStories untuk menemukan lebih banyak Cerita Fantasi.












