
Jatuh ke Dalam Dirimu
Dripping Creativity
172.0k Words / Completed
884
Populer
884
Dilihat
Tambahkan ke Perpustakaan
Tambahkan ke Perpustakaan
884
Hot
884
Views
Unduh 125 Bab <Jatuh ke Dalam Dirimu> di Aplikasi
UNDUHGRATIS
Pengenalan
Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.
Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.
Bukan sekadar hidup baru.
Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.
Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.
Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.
Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.
Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.
Bel bunyi lagi.
Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.
“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.
“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”
Dada gue langsung mengeras.
Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.
Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.
“Iya, Pak?”
Yang di depan mengangkat map.
“Bu Hana Pradipta?”
Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.
“Iya. Ada apa?”
“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”
Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.
Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.
“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.
Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.
“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”
Gue kepal tangan di balik pintu.
“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.
“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”
“Nggak.”
“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”
Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.
“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”
Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.
“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”
Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.
Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.
Gue berbalik, mau kembali ke dapur.
Bel rumah bunyi lagi.
Bulu kuduk gue langsung berdiri.
Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.
Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.
Tapi bel itu dibarengi ketukan.
Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.
Tok. Tok. Tok.
Gue intip lewat lubang pintu.
Bukan polisi.
Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.
Gue mundur satu langkah.
Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.
“Buka.”
Bukan permintaan.
Itu perintah.
Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.
“Siapa?”
“Orang yang perlu ketemu lo.”
Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.
“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.
“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”
Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.
“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”
Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.
“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”
Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.
Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.
Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.
Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.
Ketukan itu berhenti.
Hening.
Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.
Teras kosong.
Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.
Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.
Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.
Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.
Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.
Tok. Tok.
Gue tetap diam.
Tok. Tok.
Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.
“Hana?”
Nama gue.
Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”
Hana.
Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.
“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”
Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.
“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.
“Nama saya Hunter Wijaya.”
Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.
Wijaya.
Jantung gue melompat.
“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.
Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.
Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?
Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.
Bukan percaya.
Cuma… berhenti.
Gue mengintip lewat lubang pintu.
Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.
Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.
Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.
Seharusnya gue nggak buka.
Gue tahu itu.
Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.
Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.
Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.
“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”
“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.
Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.
“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”
Darah gue terasa dingin.
“Bapak tahu dari mana?”
“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.
Gue menatapnya curiga.
“Terus Bapak datang buat apa?”
Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.
“Buat pastikan kamu aman.”
Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.
“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.
Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”
Gue menggigit bibir.
“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.
“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.
Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.
Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.
Seharusnya.
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Malah, yang keluar:
“Bapak mau masuk… sebentar?”
Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”
Gue lepas rantai. Pintu terbuka.
Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.
Itu yang paling mengganggu.
Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.
Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.
Bukan sekadar hidup baru.
Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.
Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.
Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.
Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.
Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.
Bel bunyi lagi.
Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.
“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.
“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”
Dada gue langsung mengeras.
Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.
Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.
“Iya, Pak?”
Yang di depan mengangkat map.
“Bu Hana Pradipta?”
Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.
“Iya. Ada apa?”
“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”
Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.
Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.
“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.
Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.
“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”
Gue kepal tangan di balik pintu.
“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.
“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”
“Nggak.”
“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”
Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.
“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”
Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.
“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”
Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.
Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.
Gue berbalik, mau kembali ke dapur.
Bel rumah bunyi lagi.
Bulu kuduk gue langsung berdiri.
Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.
Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.
Tapi bel itu dibarengi ketukan.
Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.
Tok. Tok. Tok.
Gue intip lewat lubang pintu.
Bukan polisi.
Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.
Gue mundur satu langkah.
Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.
“Buka.”
Bukan permintaan.
Itu perintah.
Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.
“Siapa?”
“Orang yang perlu ketemu lo.”
Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.
“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.
“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”
Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.
“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”
Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.
“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”
Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.
Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.
Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.
Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.
Ketukan itu berhenti.
Hening.
Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.
Teras kosong.
Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.
Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.
Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.
Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.
Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.
Tok. Tok.
Gue tetap diam.
Tok. Tok.
Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.
“Hana?”
Nama gue.
Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”
Hana.
Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.
“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”
Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.
“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.
“Nama saya Hunter Wijaya.”
Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.
Wijaya.
Jantung gue melompat.
“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.
Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.
Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?
Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.
Bukan percaya.
Cuma… berhenti.
Gue mengintip lewat lubang pintu.
Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.
Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.
Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.
Seharusnya gue nggak buka.
Gue tahu itu.
Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.
Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.
Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.
“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”
“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.
Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.
“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”
Darah gue terasa dingin.
“Bapak tahu dari mana?”
“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.
Gue menatapnya curiga.
“Terus Bapak datang buat apa?”
Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.
“Buat pastikan kamu aman.”
Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.
“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.
Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”
Gue menggigit bibir.
“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.
“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.
Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.
Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.
Seharusnya.
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Malah, yang keluar:
“Bapak mau masuk… sebentar?”
Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”
Gue lepas rantai. Pintu terbuka.
Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.
Itu yang paling mengganggu.
Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.
Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Baca Lebih
Tentang Penulis

Dripping Creativity
Bab Terbaru
#125 Epilog
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#124 Bab 124
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#123 Bab 123
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#122 Bab 122
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#121 Bab 121
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#120 Bab 120
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#119 Bab 119
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#118 Bab 118
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#117 Bab 117
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#116 Bab 116
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33
Komentar
Belum ada komentar.
Anda Mungkin Suka 😍
Gadis Gemerlap
535 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Setelah bersatu kembali dengan orang tua kandungnya, Sari dikenal sebagai seorang pecundang. Di kuliahnya, dia menjilat, suka berkelahi, dan bolos setiap hari. Bahkan pertunangannya dengan keluarga Rahman putus akibat kehidupan pribadinya yang berantakan! Semua orang menanti kehancurannya.
Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.
Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.
Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · Elowen Thorne
Natalie mengambil peran sebagai pembantu di rumah keluarga Cullen demi ibunya yang sakit parah. Dia diminta untuk berpura-pura menjadi Nona Cullen. Dia harus berinteraksi dengan tunangan Nona Cullen, Adrian Howard, bahkan berbagi tempat tidur dengannya! Saat menyamar sebagai Nona Cullen, Adrian bersikap baik padanya, tetapi ketika Natalie kembali ke identitas aslinya, Adrian salah mengira dia sebagai pemburu harta. Meskipun ada kebingungan identitas, ada percikan yang tak terbantahkan antara Natalie dan Adrian. Pertanyaannya adalah: kapan Adrian akan menyadari bahwa kasih sayangnya yang tulus bukan untuk Nona Cullen yang licik, tetapi untuk Natalie yang sebenarnya?
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Putri Sang Kesatria
394 Dilihat · Sedang Berlangsung · Rangga Wijaya
Dengan hati penuh harap, ia menanti di rumah selama tiga tahun yang panjang. Namun, kabar yang diterimanya justru kemenangan sang pahlawan dan pernikahannya dengan wanita lain.
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA
Putri Raja Judi: Kebangkitan Sang Putri
445 Dilihat · Sedang Berlangsung · Rangga Wijaya
Putri Raja Judi: Tak Ada Lagi Topeng Setelah Buang Mantan!
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Robert
Setelah dikhianati oleh pacarku, aku langsung beralih ke temannya, seorang CEO tampan dan kaya, dan tidur dengannya. Awalnya aku pikir itu hanya tindakan impulsif semalam saja, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa CEO ini sudah lama tergila-gila padaku. Dia mendekati pacarku hanya karena aku...
KEHAMILAN MANTAN ISTRI MILYARDER
270 Dilihat · Selesai · Avaya0627
Empat tahun menjalani pernikahan, tak disangka wanita cantik bernama Miselia Saputro digugat cerai oleh suaminya, seorang CEO dari Atmadja Company, tepat di malam ulang tahun pernikahan mereka. Alasan perceraian dikarenakan Miselia yang tidak bisa memberikan anak lagi untuk suaminya. Suaminya, Evan sedang menjalin hubungan asmara lagi dengan mantan kekasihnya.
Beberapa bulan kemudian Miselia mendapati dirinya hamil. Tiba-tiba Evan kembali datang dan mendeklarasikan jika Miselia adalah miliknya. Tetapi, Miselia yang kini menjadi ahli waris menolak kedatangan Evan, sang mantan suami.
Akankah CEO yang penuh teka-teki itu memenangkan cintanya kembali atau kebencian akan menang pada akhirnya?
Beberapa bulan kemudian Miselia mendapati dirinya hamil. Tiba-tiba Evan kembali datang dan mendeklarasikan jika Miselia adalah miliknya. Tetapi, Miselia yang kini menjadi ahli waris menolak kedatangan Evan, sang mantan suami.
Akankah CEO yang penuh teka-teki itu memenangkan cintanya kembali atau kebencian akan menang pada akhirnya?
Kesayangan CEO
604 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Dalam sebuah persekongkolan, Gu Mengmeng menikahi kakak perempuan tertuanya, dan calon kakak iparnya menjadi seorang suami. Sejak saat itu, ia memulai kehidupan pernikahan yang harmonis setiap malam.
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku
1.7k Dilihat · Sedang Berlangsung · Rangga Wijaya
Namaku Kevin. Di usia tiga puluh tahun, aku dikaruniai seorang istri yang baik, cantik, dan memesona, terkenal dengan tubuhnya yang menakjubkan, serta keluarga yang bahagia. Penyesalan terbesarku berawal dari sebuah kecelakaan mobil yang merusak ginjalku dan membuatku menjadi impoten. Meskipun berada di dekat istriku yang menggairahkan dan penuh hasrat, aku merasa tidak mampu mencapai ereksi.
Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.
Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.
Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Sang Profesor
1k Dilihat · Selesai · Mary Olajire
"Di tangan dan lututmu," dia memerintah.
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."
Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."
Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.
Cinta Terburu-buru Sang CEO
941 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Setelah pengantinnya kabur, dia terpaksa menikahi keluarga kaya raya dengan reputasi buruk, menjadi Nyonya Fajar. Saat hamil dua bulan, sang suami memberinya surat cerai dan pergi tanpa ampun. Bertahun-tahun kemudian, dia telah menjadi seorang selebriti yang bersinar, dikelilingi banyak pelamar. Melihat anak lelaki yang sangat tampan di dekatnya, pria itu tersenyum sinis: "Hei, putramu mirip sekali denganku!" "Kita sudah cerai!" hardik wanita itu, menahan amarah.
Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan
1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Selama Tiga Tahun Menikah, Suaminya Selalu Menghilang Setiap Malam.
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
2.4k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Momen paling memalukan dalam hidupku adalah ketika ayahku mengusir ibu dan aku keluar dari rumah. Setelah insiden itulah aku menerobos masuk ke dalam kehidupan Ari Limbong. Sejak saat itu, duniamu hancur berantakan, dan satu-satunya harapanku hanyalah menua bersamanya.
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Tentang Penulis

Dripping Creativity
Membawa Anda ke Fantasi.
Unduh Aplikasi AnyStories untuk menemukan lebih banyak Cerita Fantasi.












