Jatuh ke Dalam Dirimu

Jatuh ke Dalam Dirimu

Dripping Creativity

172.0k Words / Completed
Tambahkan ke Perpustakaan
884
Hot
884
Views

Unduh 125 Bab <Jatuh ke Dalam Dirimu> di Aplikasi

UNDUHGRATIS

Pengenalan

Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.

Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.

Bukan sekadar hidup baru.

Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.

Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.

Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.

Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.

Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.

Bel bunyi lagi.

Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.

“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.

“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”

Dada gue langsung mengeras.

Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.

Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.

“Iya, Pak?”

Yang di depan mengangkat map.

“Bu Hana Pradipta?”

Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.

“Iya. Ada apa?”

“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”

Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.

Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.

“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.

Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.

“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”

Gue kepal tangan di balik pintu.

“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.

“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”

“Nggak.”

“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”

Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.

“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”

Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.

“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”

Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.

Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.

Gue berbalik, mau kembali ke dapur.

Bel rumah bunyi lagi.

Bulu kuduk gue langsung berdiri.

Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.

Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.

Tapi bel itu dibarengi ketukan.

Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.

Tok. Tok. Tok.

Gue intip lewat lubang pintu.

Bukan polisi.

Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.

Gue mundur satu langkah.

Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.

“Buka.”

Bukan permintaan.

Itu perintah.

Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.

“Siapa?”

“Orang yang perlu ketemu lo.”

Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.

“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.

Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.

“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”

Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.

“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”

Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.

“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”

Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.

Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.

Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.

Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.

Ketukan itu berhenti.

Hening.

Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.

Teras kosong.

Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.

Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.

Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.

Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.

Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.

Tok. Tok.

Gue tetap diam.

Tok. Tok.

Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.

“Hana?”

Nama gue.

Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”

Hana.

Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.

“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”

Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.

“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.

“Nama saya Hunter Wijaya.”

Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.

Wijaya.

Jantung gue melompat.

“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.

Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.

Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?

Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.

Bukan percaya.

Cuma… berhenti.

Gue mengintip lewat lubang pintu.

Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.

Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.

Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.

Seharusnya gue nggak buka.

Gue tahu itu.

Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.

Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.

Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.

“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”

“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.

Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.

“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”

Darah gue terasa dingin.

“Bapak tahu dari mana?”

“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”

Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.

Gue menatapnya curiga.

“Terus Bapak datang buat apa?”

Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.

“Buat pastikan kamu aman.”

Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.

“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.

Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.

“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”

Gue menggigit bibir.

“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.

“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.

Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.

Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.

Seharusnya.

Tapi kata-kata itu nggak keluar.

Malah, yang keluar:

“Bapak mau masuk… sebentar?”

Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”

Gue lepas rantai. Pintu terbuka.

Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.

Itu yang paling mengganggu.

Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.

Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Baca Lebih

Tentang Penulis

Dripping Creativity

Komentar

Belum ada komentar.

Anda Mungkin Suka 😍

Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO

Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Robert
Setelah dikhianati oleh pacarku, aku langsung beralih ke temannya, seorang CEO tampan dan kaya, dan tidur dengannya. Awalnya aku pikir itu hanya tindakan impulsif semalam saja, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa CEO ini sudah lama tergila-gila padaku. Dia mendekati pacarku hanya karena aku...
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.

Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.

2.4k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Setelah kematiannya yang tragis, didorong oleh keputusasaan dan pengkhianatan, miliader yang dulu memburu balas dendam kini hanya bisa bersujud memohon ampun.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan

Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Selama Tiga Tahun Menikah, Suaminya Selalu Menghilang Setiap Malam.

Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.

Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.

Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.

Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.

Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Mantan Istri yang Tak Terlupakan

Mantan Istri yang Tak Terlupakan

2.4k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Momen paling memalukan dalam hidupku adalah ketika ayahku mengusir ibu dan aku keluar dari rumah. Setelah insiden itulah aku menerobos masuk ke dalam kehidupan Ari Limbong. Sejak saat itu, duniamu hancur berantakan, dan satu-satunya harapanku hanyalah menua bersamanya.

Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.

Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.

Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."

Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Perselingkuhan Tersembunyi: Istriku Jatuh Cinta pada Ayahku

Perselingkuhan Tersembunyi: Istriku Jatuh Cinta pada Ayahku

1.2k Dilihat · Selesai · Stephen
Nama saya Kevin. Di usia tiga puluh tahun, saya diberkahi dengan seorang istri yang baik hati, cantik, dan mempesona, terkenal dengan tubuhnya yang menawan, serta keluarga yang bahagia. Penyesalan terbesar saya berasal dari kecelakaan mobil yang mengakibatkan kerusakan ginjal, membuat saya impoten. Meskipun berada di dekat istri saya yang memikat dan tak pernah puas, saya tidak bisa mencapai ereksi.

Ibu saya meninggal saat saya masih kecil, dan ayah saya yang baik hati dan kuat telah mengambil peran merawat anak-anak saya di rumah. Mencoba berbagai macam pengobatan untuk mengembalikan fungsi ereksi normal tidak membuahkan hasil. Suatu hari, saat menjelajahi internet, saya menemukan literatur dewasa yang melibatkan mertua laki-laki dan menantu perempuan, yang entah bagaimana langsung menarik dan membangkitkan gairah saya.

Berbaring di samping istri saya yang tidur dengan tenang, saya mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu perempuan dari cerita tersebut, yang membangkitkan gairah saya dengan luar biasa. Saya bahkan menemukan bahwa membayangkan istri saya bersama ayah saya saat saya memuaskan diri sendiri lebih memuaskan daripada berhubungan intim dengannya. Menyadari bahwa saya secara tidak sengaja membuka kotak Pandora, saya mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Miliarder Satu Malam

Miliarder Satu Malam

427 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ragib Siddiqui
Chloe adalah putri kedua dari keluarga Bishop, dia adalah gadis yang memiliki segalanya - penampilan yang memukau, ayah angkat yang mencintainya seperti putri kandungnya sendiri, dan tunangan yang tampan serta kaya.

Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ternyata dia juga memiliki ibu angkat dan saudara perempuan yang bisa menghancurkan semua yang dimilikinya.

Malam sebelum pesta pertunangan, ibu angkatnya meracuni minumannya dan merencanakan untuk mengirimnya ke preman-preman. Untungnya, Chloe masuk ke kamar yang salah dan menghabiskan malam dengan seorang pria asing.

Ternyata pria itu adalah CEO dari grup multinasional terbesar di Amerika, yang baru berusia 29 tahun tetapi sudah masuk dalam daftar Forbes. Setelah menghabiskan satu malam dengannya, dia melamarnya, "Menikahlah denganku, aku akan membantumu membalas dendam."
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia

Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia

586 Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Pada hari tergelap dalam hidupku, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan di sebuah bar jalanan di Jakarta. Pria itu memiliki otot dada yang sangat menawan untuk disentuh. Kami melewatkan malam penuh gairah yang tak terlupakan, namun itu hanyalah hubungan satu malam, dan aku bahkan tidak tahu namanya.

Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!

Jantungku hampir berhenti berdetak.

Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.

Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.

Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!

Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.

Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

1.3k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Perangkap Ace

Perangkap Ace

1.2k Dilihat · Selesai · Eva Zahan
Tujuh tahun yang lalu, Emerald Hutton meninggalkan keluarga dan teman-temannya untuk bersekolah di New York City, sambil memeluk hatinya yang hancur, demi melarikan diri dari satu orang saja. Sahabat kakaknya, yang telah ia cintai sejak hari dia menyelamatkannya dari para pengganggu saat berusia tujuh tahun. Hancur oleh anak laki-laki impiannya dan dikhianati oleh orang-orang yang dicintainya, Emerald belajar untuk mengubur kepingan hatinya di sudut terdalam ingatannya.

Hingga tujuh tahun kemudian, dia harus kembali ke kampung halamannya setelah menyelesaikan kuliahnya. Tempat di mana sekarang tinggal seorang miliarder berhati dingin, yang dulu hatinya yang mati pernah berdetak untuknya.

Terluka oleh masa lalunya, Achilles Valencian telah berubah menjadi pria yang ditakuti semua orang. Kehidupan yang membakar telah memenuhi hatinya dengan kegelapan tanpa dasar. Dan satu-satunya cahaya yang membuatnya tetap waras adalah Rosebud-nya. Seorang gadis dengan bintik-bintik dan mata pirus yang dia kagumi sepanjang hidupnya. Adik sahabatnya.

Setelah bertahun-tahun berjarak, ketika saatnya akhirnya tiba untuk menangkap cahayanya ke dalam wilayahnya, Achilles Valencian akan memainkan permainannya. Permainan untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Apakah Emerald akan mampu membedakan api cinta dan hasrat, serta pesona gelombang yang pernah membanjirinya untuk menjaga hatinya tetap aman? Atau dia akan membiarkan iblis itu memikatnya ke dalam perangkapnya? Karena tidak ada yang pernah bisa lolos dari permainannya. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan permainan ini disebut...

Perangkap Ace.
Bermain Dengan Api

Bermain Dengan Api

1.5k Dilihat · Selesai · Mariam El-Hafi🔥
Dia menarikku ke depannya, dan aku merasa seperti sedang berhadapan dengan setan sendiri. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku, begitu dekat hingga jika aku bergerak sedikit saja, kepala kami akan bertabrakan. Aku menelan ludah saat menatapnya dengan mata terbelalak, takut akan apa yang mungkin dia lakukan.

“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.

Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Bapak Forbes

Bapak Forbes

1.1k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."

Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.

"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.

Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.



Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.

Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.

Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati

Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati

899 Dilihat · Sedang Berlangsung · FancyZ
Menikah selama empat tahun, Emily tetap tidak memiliki anak. Diagnosis rumah sakit membuat hidupnya terjun ke neraka. Tidak bisa hamil? Tapi suaminya jarang di rumah selama empat tahun ini, jadi bagaimana dia bisa hamil?
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Membawa Anda ke Fantasi.

Unduh Aplikasi AnyStories untuk menemukan lebih banyak Cerita Fantasi.