
Jatuh ke Dalam Dirimu
Dripping Creativity
172.0k Words / Completed
884
Populer
884
Dilihat
Tambahkan ke Perpustakaan
Tambahkan ke Perpustakaan
884
Hot
884
Views
Unduh 125 Bab <Jatuh ke Dalam Dirimu> di Aplikasi
UNDUHGRATIS
Pengenalan
Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.
Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.
Bukan sekadar hidup baru.
Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.
Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.
Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.
Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.
Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.
Bel bunyi lagi.
Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.
“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.
“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”
Dada gue langsung mengeras.
Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.
Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.
“Iya, Pak?”
Yang di depan mengangkat map.
“Bu Hana Pradipta?”
Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.
“Iya. Ada apa?”
“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”
Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.
Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.
“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.
Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.
“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”
Gue kepal tangan di balik pintu.
“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.
“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”
“Nggak.”
“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”
Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.
“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”
Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.
“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”
Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.
Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.
Gue berbalik, mau kembali ke dapur.
Bel rumah bunyi lagi.
Bulu kuduk gue langsung berdiri.
Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.
Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.
Tapi bel itu dibarengi ketukan.
Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.
Tok. Tok. Tok.
Gue intip lewat lubang pintu.
Bukan polisi.
Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.
Gue mundur satu langkah.
Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.
“Buka.”
Bukan permintaan.
Itu perintah.
Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.
“Siapa?”
“Orang yang perlu ketemu lo.”
Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.
“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.
“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”
Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.
“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”
Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.
“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”
Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.
Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.
Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.
Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.
Ketukan itu berhenti.
Hening.
Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.
Teras kosong.
Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.
Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.
Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.
Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.
Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.
Tok. Tok.
Gue tetap diam.
Tok. Tok.
Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.
“Hana?”
Nama gue.
Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”
Hana.
Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.
“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”
Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.
“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.
“Nama saya Hunter Wijaya.”
Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.
Wijaya.
Jantung gue melompat.
“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.
Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.
Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?
Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.
Bukan percaya.
Cuma… berhenti.
Gue mengintip lewat lubang pintu.
Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.
Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.
Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.
Seharusnya gue nggak buka.
Gue tahu itu.
Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.
Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.
Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.
“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”
“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.
Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.
“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”
Darah gue terasa dingin.
“Bapak tahu dari mana?”
“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.
Gue menatapnya curiga.
“Terus Bapak datang buat apa?”
Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.
“Buat pastikan kamu aman.”
Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.
“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.
Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”
Gue menggigit bibir.
“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.
“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.
Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.
Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.
Seharusnya.
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Malah, yang keluar:
“Bapak mau masuk… sebentar?”
Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”
Gue lepas rantai. Pintu terbuka.
Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.
Itu yang paling mengganggu.
Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.
Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.
Bukan sekadar hidup baru.
Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.
Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.
Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.
Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.
Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.
Bel bunyi lagi.
Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.
“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.
“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”
Dada gue langsung mengeras.
Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.
Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.
“Iya, Pak?”
Yang di depan mengangkat map.
“Bu Hana Pradipta?”
Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.
“Iya. Ada apa?”
“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”
Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.
Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.
“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.
Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.
“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”
Gue kepal tangan di balik pintu.
“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.
“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”
“Nggak.”
“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”
Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.
“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”
Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.
“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”
Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.
Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.
Gue berbalik, mau kembali ke dapur.
Bel rumah bunyi lagi.
Bulu kuduk gue langsung berdiri.
Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.
Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.
Tapi bel itu dibarengi ketukan.
Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.
Tok. Tok. Tok.
Gue intip lewat lubang pintu.
Bukan polisi.
Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.
Gue mundur satu langkah.
Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.
“Buka.”
Bukan permintaan.
Itu perintah.
Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.
“Siapa?”
“Orang yang perlu ketemu lo.”
Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.
“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.
“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”
Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.
“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”
Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.
“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”
Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.
Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.
Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.
Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.
Ketukan itu berhenti.
Hening.
Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.
Teras kosong.
Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.
Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.
Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.
Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.
Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.
Tok. Tok.
Gue tetap diam.
Tok. Tok.
Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.
“Hana?”
Nama gue.
Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”
Hana.
Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.
“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”
Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.
“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.
“Nama saya Hunter Wijaya.”
Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.
Wijaya.
Jantung gue melompat.
“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.
Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.
Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?
Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.
Bukan percaya.
Cuma… berhenti.
Gue mengintip lewat lubang pintu.
Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.
Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.
Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.
Seharusnya gue nggak buka.
Gue tahu itu.
Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.
Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.
Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.
“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”
“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.
Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.
“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”
Darah gue terasa dingin.
“Bapak tahu dari mana?”
“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.
Gue menatapnya curiga.
“Terus Bapak datang buat apa?”
Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.
“Buat pastikan kamu aman.”
Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.
“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.
Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.
“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”
Gue menggigit bibir.
“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.
“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.
Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.
Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.
Seharusnya.
Tapi kata-kata itu nggak keluar.
Malah, yang keluar:
“Bapak mau masuk… sebentar?”
Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”
Gue lepas rantai. Pintu terbuka.
Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.
Itu yang paling mengganggu.
Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.
Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Baca Lebih
Tentang Penulis

Dripping Creativity
Bab Terbaru
#125 Epilog
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#124 Bab 124
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#123 Bab 123
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#122 Bab 122
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#121 Bab 121
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#120 Bab 120
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#119 Bab 119
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#118 Bab 118
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#117 Bab 117
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33#116 Bab 116
Terakhir Diperbarui: 04/28/2026 01:33
Komentar
Belum ada komentar.
Anda Mungkin Suka 😍
Ketika Aku Mencintaimu
662 Dilihat · Selesai · Yulinda Li
Cinta. Bolehkah seorang Shakila memperjuangkannya? Bertahan atas nama CINTA.
Bahagia. Meski terkadang, Shakila tahu untuk saat ini ia belum mendapatkan cinta.
Memperjuangkan cinta sepihaknya. Mengejar laki-laki yang telah memiliki seorang kekasih. Tapi, bukankah seseorang memiliki sebuah alasan ketika ia memutuskan untuk terus berjuang?
Shakila bukanlah seorang pelakor, namun tanpa sengaja sebuah peristiwa membuat dirinya dapat menikah dengan pria impiannya.
Tentu saja, hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Namun, berbanding terbalik dengan Delvin Arsalan Davendra. Bos Shakila itu menganggap jika pernikahannya adalah salah. Benar-benar salah. Tetapi, untuk saat ini ia tak mungkin menceraikan Shakila dengan cepatnya.
Lantas, bagaimana dengan saat yang akan datang? Apa Delvin masih menganggap jika pernikahannya adalah kesalahan? Atau malah sebaliknya?
Bahagia. Meski terkadang, Shakila tahu untuk saat ini ia belum mendapatkan cinta.
Memperjuangkan cinta sepihaknya. Mengejar laki-laki yang telah memiliki seorang kekasih. Tapi, bukankah seseorang memiliki sebuah alasan ketika ia memutuskan untuk terus berjuang?
Shakila bukanlah seorang pelakor, namun tanpa sengaja sebuah peristiwa membuat dirinya dapat menikah dengan pria impiannya.
Tentu saja, hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Namun, berbanding terbalik dengan Delvin Arsalan Davendra. Bos Shakila itu menganggap jika pernikahannya adalah salah. Benar-benar salah. Tetapi, untuk saat ini ia tak mungkin menceraikan Shakila dengan cepatnya.
Lantas, bagaimana dengan saat yang akan datang? Apa Delvin masih menganggap jika pernikahannya adalah kesalahan? Atau malah sebaliknya?
7 Malam dengan Tuan Black
1.3k Dilihat · Selesai · ALMOST PSYCHO
PERINGATAN: Buku ini mengandung adegan seks eksplisit yang sangat detail... sekitar 10-12 bab. Tidak cocok untuk pembaca muda!
"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.
"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.
"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."
Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.
"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."
Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................
Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.
Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.
🔻KONTEN DEWASA🔻
"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.
"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.
"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."
Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.
"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."
Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................
Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.
Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.
🔻KONTEN DEWASA🔻
Pengantin Mafia-Nya
1.2k Dilihat · Selesai · Adaririchichi
Cengkeraman besinya mengikat erat pinggangku dan dia menekanku ke dinding.
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan
488 Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
[Ada male lead, alur romance 1 point, alur karier 9 point]
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder
1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Kecintaan Satu Malam
587 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Sebelum menikah.
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Trilogi Efek Carrero
1.6k Dilihat · Sedang Berlangsung · Leanne Marshall
Emma Anderson memiliki segalanya dalam hidupnya yang sudah terencana dengan baik. Dia memiliki pekerjaan sempurna di sebuah perusahaan besar di Manhattan yang memungkinkannya menjalani kehidupan yang tenang dan teratur. Hal ini sangat penting baginya, setelah masa kecil yang penuh dengan kenangan buruk, pelecehan, dan seorang ibu yang tidak berguna. Namun, ada satu masalah yang bisa menggagalkan semua yang dia pikir dia butuhkan dalam hidupnya. Promosinya membawanya langsung ke dalam pekerjaan dekat dengan Jacob Carrero, seorang miliarder muda, tampan, dan playboy dengan reputasi yang menakutkan sebagai pemain. Terjebak sebagai tangan kanannya, setiap saat dalam setiap hari, dia menyadari bahwa Jacob adalah tipe orang yang bisa membuatnya gila, dan bukan dalam arti yang baik. Seperti langit dan bumi, dia adalah segalanya yang bukan Emma. Impulsif, percaya diri, santai, dominan, dan menyenangkan, dengan sikap yang sangat santai terhadap seks kasual dan kencan. Jake adalah satu-satunya yang mampu menghancurkan eksterior dingin dan teratur Emma, yang tidak terpengaruh oleh sikap tertutup dan sopan santunnya, tetapi meskipun dia ingin, membiarkannya masuk adalah hal yang sangat berbeda. Masa lalu yang membuatnya waspada terhadap pria dan tidak ada keinginan untuk membiarkan satu pun cukup dekat untuk menyakitinya lagi, Jacob Carrero memiliki pekerjaan yang sulit. Dia bukan seseorang yang menerima jawaban TIDAK dan harus belajar bagaimana menembus jika dia menginginkan lebih dari topeng yang dia tunjukkan kepada dunia. Jake perlu menunjukkan padanya bahwa bahkan seseorang seperti dia bisa berubah ketika gadis yang penting itu berhasil menembus. Karakter yang seksi dan menyenangkan serta topik emosional yang mendalam. Mengandung beberapa konten dewasa dan bahasa yang matang.
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
2.4k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Momen paling memalukan dalam hidupku adalah ketika ayahku mengusir ibu dan aku keluar dari rumah. Setelah insiden itulah aku menerobos masuk ke dalam kehidupan Ari Limbong. Sejak saat itu, duniamu hancur berantakan, dan satu-satunya harapanku hanyalah menua bersamanya.
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Ayo! Mas Leng!
546 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Dia adalah "ayah baptis elektronik" paling terkenal di dunia, dia adalah seorang psikolog yang tidak diheralkan.
Dia berkata: "Garis hidup Anda begitu lama, itu berarti bahwa sumpah Anda dapat dilakukan untuk waktu yang lama, wanita yang Anda cintai akan sangat bahagia dan bahagia ..."
"Apakah Anda ingin menjadi wanita bahagia itu?" tanyanya. "
Dia pikir dia mencintainya, tapi itu masih konspirasi.
Pada hari pernikahan, cinta lama datang dan pergi, dan melihat dinginnya pria itu sendiri dalam sekejap, dan dia tahu bahwa cinta itu berakhir lagi.
Untuk melupakan rasa sakit, lupakan dia, dia mengeluarkan jam saku menghipnotis dirinya sendiri, menghapus semua kenangan tentang dia,
Tapi pria itu tidak membiarkannya pergi, "Wanita! Tidak peduli berapa kali kau melupakanku! Aku akan memanggil kembali cintamu untukku!
Dia berkata: "Garis hidup Anda begitu lama, itu berarti bahwa sumpah Anda dapat dilakukan untuk waktu yang lama, wanita yang Anda cintai akan sangat bahagia dan bahagia ..."
"Apakah Anda ingin menjadi wanita bahagia itu?" tanyanya. "
Dia pikir dia mencintainya, tapi itu masih konspirasi.
Pada hari pernikahan, cinta lama datang dan pergi, dan melihat dinginnya pria itu sendiri dalam sekejap, dan dia tahu bahwa cinta itu berakhir lagi.
Untuk melupakan rasa sakit, lupakan dia, dia mengeluarkan jam saku menghipnotis dirinya sendiri, menghapus semua kenangan tentang dia,
Tapi pria itu tidak membiarkannya pergi, "Wanita! Tidak peduli berapa kali kau melupakanku! Aku akan memanggil kembali cintamu untukku!
Putri Raja Judi: Kebangkitan Sang Putri
445 Dilihat · Sedang Berlangsung · Rangga Wijaya
Putri Raja Judi: Tak Ada Lagi Topeng Setelah Buang Mantan!
Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan
1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Selama Tiga Tahun Menikah, Suaminya Selalu Menghilang Setiap Malam.
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Gadis Gemerlap
535 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Setelah bersatu kembali dengan orang tua kandungnya, Sari dikenal sebagai seorang pecundang. Di kuliahnya, dia menjilat, suka berkelahi, dan bolos setiap hari. Bahkan pertunangannya dengan keluarga Rahman putus akibat kehidupan pribadinya yang berantakan! Semua orang menanti kehancurannya.
Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.
Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.
Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Tentang Penulis

Dripping Creativity
Membawa Anda ke Fantasi.
Unduh Aplikasi AnyStories untuk menemukan lebih banyak Cerita Fantasi.












