Jatuh ke Dalam Dirimu

Jatuh ke Dalam Dirimu

Dripping Creativity

172.0k Words / Completed
Tambahkan ke Perpustakaan
884
Hot
884
Views

Unduh 125 Bab <Jatuh ke Dalam Dirimu> di Aplikasi

UNDUHGRATIS

Pengenalan

Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.

Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.

Bukan sekadar hidup baru.

Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.

Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.

Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.

Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.

Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.

Bel bunyi lagi.

Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.

“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.

“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”

Dada gue langsung mengeras.

Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.

Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.

“Iya, Pak?”

Yang di depan mengangkat map.

“Bu Hana Pradipta?”

Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.

“Iya. Ada apa?”

“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”

Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.

Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.

“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.

Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.

“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”

Gue kepal tangan di balik pintu.

“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.

“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”

“Nggak.”

“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”

Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.

“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”

Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.

“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”

Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.

Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.

Gue berbalik, mau kembali ke dapur.

Bel rumah bunyi lagi.

Bulu kuduk gue langsung berdiri.

Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.

Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.

Tapi bel itu dibarengi ketukan.

Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.

Tok. Tok. Tok.

Gue intip lewat lubang pintu.

Bukan polisi.

Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.

Gue mundur satu langkah.

Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.

“Buka.”

Bukan permintaan.

Itu perintah.

Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.

“Siapa?”

“Orang yang perlu ketemu lo.”

Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.

“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.

Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.

“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”

Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.

“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”

Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.

“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”

Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.

Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.

Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.

Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.

Ketukan itu berhenti.

Hening.

Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.

Teras kosong.

Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.

Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.

Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.

Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.

Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.

Tok. Tok.

Gue tetap diam.

Tok. Tok.

Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.

“Hana?”

Nama gue.

Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”

Hana.

Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.

“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”

Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.

“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.

“Nama saya Hunter Wijaya.”

Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.

Wijaya.

Jantung gue melompat.

“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.

Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.

Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?

Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.

Bukan percaya.

Cuma… berhenti.

Gue mengintip lewat lubang pintu.

Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.

Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.

Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.

Seharusnya gue nggak buka.

Gue tahu itu.

Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.

Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.

Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.

“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”

“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.

Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.

“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”

Darah gue terasa dingin.

“Bapak tahu dari mana?”

“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”

Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.

Gue menatapnya curiga.

“Terus Bapak datang buat apa?”

Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.

“Buat pastikan kamu aman.”

Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.

“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.

Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.

“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”

Gue menggigit bibir.

“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.

“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.

Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.

Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.

Seharusnya.

Tapi kata-kata itu nggak keluar.

Malah, yang keluar:

“Bapak mau masuk… sebentar?”

Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”

Gue lepas rantai. Pintu terbuka.

Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.

Itu yang paling mengganggu.

Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.

Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Baca Lebih

Tentang Penulis

Dripping Creativity

Komentar

Belum ada komentar.

Anda Mungkin Suka 😍

Miliarder Satu Malam

Miliarder Satu Malam

422 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ragib Siddiqui
Chloe adalah putri kedua dari keluarga Bishop, dia adalah gadis yang memiliki segalanya - penampilan yang memukau, ayah angkat yang mencintainya seperti putri kandungnya sendiri, dan tunangan yang tampan serta kaya.

Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ternyata dia juga memiliki ibu angkat dan saudara perempuan yang bisa menghancurkan semua yang dimilikinya.

Malam sebelum pesta pertunangan, ibu angkatnya meracuni minumannya dan merencanakan untuk mengirimnya ke preman-preman. Untungnya, Chloe masuk ke kamar yang salah dan menghabiskan malam dengan seorang pria asing.

Ternyata pria itu adalah CEO dari grup multinasional terbesar di Amerika, yang baru berusia 29 tahun tetapi sudah masuk dalam daftar Forbes. Setelah menghabiskan satu malam dengannya, dia melamarnya, "Menikahlah denganku, aku akan membantumu membalas dendam."
Guru Montok dan Menggoda Saya

Guru Montok dan Menggoda Saya

1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · Henry
Nama saya Kevin, dan saya seorang siswa SMA. Saya mengalami pubertas lebih awal, dan karena penis saya yang besar, saya sering memiliki tonjolan yang jelas saat pelajaran olahraga. Teman-teman sekelas saya selalu menghindari saya karena hal itu, yang membuat saya sangat tidak percaya diri ketika masih muda. Saya bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang drastis untuk menghilangkannya. Sedikit yang saya tahu, penis besar yang saya benci sebenarnya adalah sesuatu yang dikagumi oleh guru-guru saya, wanita cantik, dan bahkan selebriti. Hal itu akhirnya mengubah hidup saya.
(Terdapat banyak konten seksual dan merangsang, anak di bawah umur tidak diperbolehkan membaca!!!)
Kecanduan Cinta CEO Rahasia

Kecanduan Cinta CEO Rahasia

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Eileen Fee
Empat tahun yang lalu, dia dengan kejam mengusirnya dari rumah, hujan deras mengguyur. Hati Margaret jatuh bersama hujan, menghilang dalam kesunyian malam yang putus asa itu.

Empat tahun kemudian, Margaret berubah menjadi seorang CEO berwajah dingin, tegas dan cakap, dengan hanya seorang putri manis dan patuh yang melunakkan hatinya.

Dia pikir Raymond membencinya sampai ke tulang, tidak menyadari bahwa setelah malam itu, Raymond menjadi gila mencari berita tentangnya di seluruh dunia.

Saat bertemu lagi, dikelilingi oleh banyak CEO, dia sengaja mengabaikannya.

Raymond maju mendekatinya, "Aku sudah bilang, kamu hanya bisa menjadi wanitaku."
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard

Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard

1.9k Dilihat · Sedang Berlangsung · Elowen Thorne
Natalie mengambil peran sebagai pembantu di rumah keluarga Cullen demi ibunya yang sakit parah. Dia diminta untuk berpura-pura menjadi Nona Cullen. Dia harus berinteraksi dengan tunangan Nona Cullen, Adrian Howard, bahkan berbagi tempat tidur dengannya! Saat menyamar sebagai Nona Cullen, Adrian bersikap baik padanya, tetapi ketika Natalie kembali ke identitas aslinya, Adrian salah mengira dia sebagai pemburu harta. Meskipun ada kebingungan identitas, ada percikan yang tak terbantahkan antara Natalie dan Adrian. Pertanyaannya adalah: kapan Adrian akan menyadari bahwa kasih sayangnya yang tulus bukan untuk Nona Cullen yang licik, tetapi untuk Natalie yang sebenarnya?

Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
CEO Miliarder Mencari Pernikahan Ulang

CEO Miliarder Mencari Pernikahan Ulang

700 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eileen Fee
Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, dia dengan dingin menyerahkan dua lembar kertas, sebuah perjanjian perceraian dan perjanjian sponsor.
Dia merobek perjanjian-perjanjian itu: "Perceraian tidak masalah, tapi jangan pernah bertemu lagi."
Bertahun-tahun kemudian, mantan suaminya mengejarnya di sebuah pesta: "Sayang, sudah cukup bersenang-senangnya? Biar aku antar pulang."
Bibir merah wanita itu melengkung sedikit, dan dia dengan dingin mengucapkan satu kata: "Pergi!"
Pasangan Alpha yang Dibenci

Pasangan Alpha yang Dibenci

1.2k Dilihat · Selesai · WAJE
"Aku tidak mau melihat wajah malaikatnya yang menipuku dan membunuh anakku, dia menjijikkan, dia tidak lebih dari pembohong yang tidak berguna. Aku begitu baik padanya dan ini balasannya? Aku benar-benar mencintainya, aku mengubah diriku demi dia. Aku tahan dengan segala keanehan dan rasa malunya, tapi tahu tidak, bawa dia kembali ke Ryan kalau perlu, aku yakin Ryan sangat lega ketika aku mengambilnya, tapi bahkan aku menyesal mengambilnya."
Camilla mencoba menenangkan diri, mencari keseimbangan tapi masih menangis. "Kamu tidak serius, kamu cuma marah. Kamu mencintaiku, ingat?" gumamnya, pandangannya melayang ke Santiago. "Katakan padanya kalau dia mencintaiku dan dia cuma marah." pintanya, ketika Santiago tidak merespon, dia menggelengkan kepala, pandangannya kembali ke Adrian yang menatapnya dengan jijik. "Kamu bilang kamu mencintaiku selamanya." bisiknya.
"Tidak, aku benar-benar benci kamu sekarang!" teriaknya.
*****
Camilla Mia Burton adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang tidak memiliki serigala, penuh dengan ketidakamanan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Dia setengah manusia setengah werewolf; dia adalah serigala yang kuat meskipun tidak menyadari kekuatan dalam dirinya dan memiliki binatang yang langka. Camilla semanis mungkin.
Namun, apa yang terjadi ketika dia bertemu dengan pasangannya dan dia bukan seperti yang dia impikan?
Dia adalah Alpha berusia delapan belas tahun yang kejam dan berhati dingin. Dia tidak peduli dengan pasangan dan tidak ingin ada hubungannya dengan Camilla. Dia berusaha mengubah pandangannya tentang segala hal, namun dia membenci dan menolaknya, mendorongnya menjauh tapi ikatan pasangan terbukti kuat. Apa yang akan dia lakukan ketika dia menyesal menolak dan membencinya?
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Hari Pernikahan, Mantan Suami Memohon Kembali

Hari Pernikahan, Mantan Suami Memohon Kembali

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Sarah
Enam tahun yang lalu, Isabella Beniere secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pria dan berakhir di ranjang bersamanya. Frederick Valdemar menuduhnya berselingkuh. Dia menyerahkan surat cerai, mengusirnya, dan meninggalkannya tanpa harta.

Enam tahun kemudian, dia kembali dengan seorang anak. Ketika Frederick melihat seorang anak di sampingnya yang sangat mirip dengannya, dia menyadari bahwa pria dari tahun-tahun lalu itu tidak lain adalah dirinya sendiri.

Frederick sangat menyesali tindakannya dan tiba-tiba dipenuhi dengan keinginan untuk mencari pengampunannya.

Anak sulung mereka menggelengkan kepala dalam diam. "Aku tidak mau tahu tentang pria ini."

Anak kedua mereka menutup matanya dengan jijik. "Dia terlalu memalukan. Aku tidak mau melihatnya."

Anak ketiga mereka tampak khawatir. "Ya ampun! Ayah dalam masalah malam ini."

Anak keempat mereka mengerutkan kening dan memutar matanya dengan tidak senang. Dia merasa sangat tak berdaya.

Hanya putri kecil mereka, yang mengenakan gaun putri, berlari mendekat, menarik-narik baju Frederick, memiringkan kepalanya dengan manis dan bertanya, "Ayah, bolehkah Ibu jadi pengiring pengantin?"

Frederick terdiam.

Dia belum pernah merasa seberat ini sebelumnya!

Buku ini diperbarui dengan satu bab per minggu.
Mencintai Quinn

Mencintai Quinn

1.3k Dilihat · Selesai · North Rose 🌹
Quinn mengeluarkan geraman persetujuan sebelum jarinya menyelusup masuk. "Kamu basah sekali untukku. Aku ingin merasakanmu lagi, Annie."

Sebelum aku sempat menyadari apa yang dia ingin lakukan, Quinn berlutut, mengaitkan kakiku di atas bahunya, lalu menempelkan mulutnya ke inti tubuhku. Aku mengerang keras saat dia mulai bekerja pada klitorisku. Dia menyelipkan dua jarinya dalam-dalam ke dalam diriku.

Dengan satu tangan mencengkeram meja dan tangan lainnya terkubur di rambutnya, aku mendongakkan kepala lebih jauh saat dia melahapku dengan lidahnya. "Oh, sial, Quinn."

"Sebut namaku, Annie."

********************

Annora Winters memiliki pekerjaan yang hebat, rumah yang nyaman, dan keluarga yang penuh kasih. Namun dia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Sesuatu yang pernah dia genggam, tetapi waktunya tidak tepat untuk mempertahankannya. Cinta yang begitu murni sehingga dia sering memimpikan wajahnya lebih dari yang seharusnya.

Quinn Greyson berinvestasi dengan baik dan menjadi miliarder sebelum dia menyadari apa yang terjadi. Wanita-wanita melemparkan diri padanya setiap malam. Dengan setiap penaklukan baru, dia merasa lebih banyak jiwanya yang hancur. Dia merindukan cinta sejati. Sesuatu yang pernah dia miliki tetapi hilang sejak lama.

Sebuah pertemuan kebetulan menempatkan mereka di jalur yang sama sekali lagi. Ketegangan memuncak di antara mereka ketika sebuah rahasia dari masa lalu mereka terungkap. Ketika mereka berciuman, api hasrat meledak, dan kenangan dari masa lalu terbangun. Bisakah Quinn dan Annora menemukan jalan mereka melalui ladang ranjau yang menunggu mereka saat mereka saling mengenal lagi? Atau akankah mereka terpisah oleh seorang kekasih dari masa lalunya?

18+ Konten Seksual Dewasa
Alpha Killian

Alpha Killian

376 Dilihat · Sedang Berlangsung · LS Barbosa
"Aku, Eleanor Bernardi, menolakmu, Alpha Killian Ivanov, sebagai pasangan dan Alpha-ku." Dia berkata, menatap tajam ke arah Alpha yang hanya menggelengkan kepala, tampak tak terpengaruh oleh kata-katanya.
Dia berjalan mendekatinya, matanya terpaku padanya, seperti pemangsa yang mengejar mangsanya.
"Di atas mayatku." Dia berkata, menyambungkan bibirnya dengan bibirnya. "Kamu milikku, Eleanor, dan aku sarankan kamu ingat itu."


Melarikan diri dari kawanan bukanlah hal yang mudah.
Namun ketika Eleanor Bernardi mendapati dirinya terikat dengan musuh dari kawanan lamanya, Alpha dari segala Alpha, Pakhan dari Mafia, Alpha Killian Ivanov, dia terjebak dalam konflik apakah dia bisa mempercayainya atau tidak.
Dan dengan sosoknya yang dominan, dia tidak ingin melepaskannya. Setidaknya, tidak dengan syaratnya sendiri...
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.

Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.

2.3k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
Setelah kematiannya yang tragis, didorong oleh keputusasaan dan pengkhianatan, miliader yang dulu memburu balas dendam kini hanya bisa bersujud memohon ampun.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Membawa Anda ke Fantasi.

Unduh Aplikasi AnyStories untuk menemukan lebih banyak Cerita Fantasi.