7 Book(s) Related to ariel morris

Dari Pengantin Menjadi Tawanan: Penebusan Sang Raja

Dari Pengantin Menjadi Tawanan: Penebusan Sang Raja

497 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Morris
Pada malam sebelum pernikahanku, aku diculik bersama saudari tiriku. Dengan pistol di kepalaku, penculik memaksa tunanganku untuk memilih: dia atau aku. Dia memilih saudari tiriku.
Ditinggalkan oleh keluargaku dan kehilangan segalanya, aku tak punya apa-apa lagi.
Namun kemudian, Dominic Voss, pemimpin berdarah dingin dari sebuah organisasi gelap, menyelamatkanku. "Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama," katanya. "Jadilah wanitaku, dan aku akan membantumu membalas dendam." Tanpa pilihan lain, aku setuju.
Tak disangka, Dominic memperlakukanku sebagai satu-satunya, memberiku cinta dan perhatian yang tulus. Dia menghadapi masalah keluargaku, menghukum ayahku yang tidak bertanggung jawab dan ibu tiriku yang jahat.
Dengan dukungannya, aku bangkit dari seorang penari yang berjuang menjadi seniman terkenal di dunia.
Ketika mantan tunanganku mencoba untuk mendapatkan aku kembali, dia dihadapkan dengan pemandangan yang mengejutkan: Dominic melamarku di depan umum!
"Chloe, kamu sudah mencintaiku begitu lama..." dia memulai. Aku mengabaikannya, mencium Dominic dengan dalam dan menjawab, "Aku buta sebelumnya, memilih pria yang salah, tapi sekarang aku punya cinta sejati. Menjauhlah; suamiku mungkin saja akan menghajarmu."
Terus diperbarui, dengan 2 bab ditambahkan setiap hari.
Rayuan dari Saudara Tiri Mafioso Saya

Rayuan dari Saudara Tiri Mafioso Saya

942 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Morris
Pada hari tergelap dalam hidupku, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan di sebuah bar jalanan di New York, yang memiliki otot dada yang sangat menggoda untuk disentuh. Kami menghabiskan malam yang tak terlupakan bersama, tapi itu hanya sekadar one-night stand, dan aku bahkan tidak tahu namanya.
Ketika aku kembali ke Los Angeles dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku terpaksa menghadiri pernikahan ibu angkatku—dan di sanalah dia. Kakak tiriku adalah pasangan one-night stand-ku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang kuat dan kaya di LA, terjerat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselimuti misteri, termasuk nuansa gelap dan kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Italia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Meskipun aku berusaha menjauh, dia sekarang kembali ke LA, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah campuran berbahaya antara perhitungan dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jaring takdir yang tak bisa kuelakkan.
Secara naluriah aku ingin menjauh dari bahaya, menjauh darinya, tapi takdir mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku sangat kecanduan padanya meskipun aku tidak menginginkannya. Bagaimana masa depan kita?
Baca bukunya.
Penyihir Luna

Penyihir Luna

1.4k Dilihat · Sedang Berlangsung · Ariel Eyre
Cora, seorang wanita berisi yang dibesarkan dalam isolasi dan kini menjadi canggung secara sosial, tiba-tiba terlempar ke dunia makhluk ajaib. Dia menemukan bahwa dirinya sendiri adalah seorang penyihir. Tidak hanya itu, dia juga mengetahui bahwa dia berjodoh dengan seorang manusia serigala. Bukan sembarang manusia serigala, tapi seorang alfa dari salah satu kawanan terkuat di benua ini. Kedua spesies ini adalah musuh bebuyutan, tetapi entah bagaimana mereka ditakdirkan untuk bersama. Jadi, sementara Cora sedang menemukan sihir dan belajar menggunakannya, dia juga harus menghadapi tugas memimpin kawanan yang tidak mempercayainya dan membencinya karena dia adalah seorang penyihir.

Ibunya telah melarikan diri dari koven mereka dan mereka telah menemukan bahwa Cora tidak lagi disembunyikan. Mereka mencoba merekrutnya karena dia adalah keturunan langsung dari Dewi Hecate sendiri. Hal ini membuat Cora sangat kuat, dan mereka ingin menggunakannya untuk melakukan hal-hal mengerikan. Ketika mereka mengetahui bahwa pasangannya adalah manusia serigala, mereka semakin menginginkannya, bukan hanya untuk menggunakannya tetapi juga untuk mengeksploitasi hubungannya dengan para serigala.


"Aku bukan manusia; aku manusia serigala." Aku menatapnya dengan kebingungan total. Manusia serigala. Itu hanya cerita, kan? Maksudku, orang-orang tidak benar-benar berubah menjadi serigala di bawah bulan purnama. Ini pasti semacam lelucon. Jax pasti melihat bahwa dia hampir kehilangan perhatianku. "Coba, lihat, aku akan menunjukkan padamu." Dia melihat sekeliling, dan kami benar-benar sendirian, lalu dia mulai membuka pakaiannya. "Apa yang kamu lakukan?" "Aku tidak bisa berubah dalam pakaian. Mereka akan robek." Aku memalingkan wajah, belum siap melihatnya telanjang. "Cora, kamu harus melihat." Aku memutar kepalaku untuk melihatnya.

Ya Tuhan, dia sangat menakjubkan dalam keadaan telanjang. Tato-tatonya menutupi sebagian besar tubuhnya. Otot-ototnya sangat terdefinisi dengan baik dan melengkapi seni tubuhnya. Aku melirik ke bawah dan melihat kemaluannya yang besar.
Kutukan Bulan

Kutukan Bulan

310 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ariel Eyre
Begitu kulit mereka bersentuhan, Ember merasa seperti akan meledak. Dia pasti merasakannya juga karena dia mendorong Ember ke dinding, membanting punggungnya ke sana. Menekan bibirnya ke bibir Ember, dia merasakan tangan Hayden menjelajahi tubuhnya sambil menjelajahi mulutnya.

"Aku Hayden," kata pria itu.

Sejak kecelakaan di ulang tahunnya yang ke-16, Ember merasa dirinya dikutuk. Dia terpaksa menjalani hidup sendirian dengan binatang buasnya—sampai dia bertemu Hayden. Alphan-nya, pasangannya. Mungkin itu bukan kutukan, tapi berkah.
Valentineku yang Buas

Valentineku yang Buas

400 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ariel Eyre
Aku lahir ke dunia dengan kekerasan seperti semua anak lainnya, namun setelah kekerasan kelahiran itu seharusnya memudar, tapi tidak untukku. Sejarah keluargaku yang penuh kekacauan datang dengan garis panjang darah dan kebiadaban. Dari kelahiranku hingga kematianku, aku ditakdirkan untuk hidup di tengah-tengah kekacauan dan kehancuran. Tidak peduli bahwa aku mencoba melarikan diri dari kekejaman semacam ini. Aku mencoba mendapatkan pekerjaan terhormat di mana aku akan melawan monster-monster yang mengelilingiku sepanjang masa kecilku. Aku mencoba melampaui itu dan bekas luka yang ditinggalkannya padaku. Tapi seperti bekas luka yang tergores di kulitku, begitu pula Fox Valentine, hanya bekas luka yang ditinggalkannya ada di jiwaku. Dia membentukku dan aku tumbuh bersamanya, hanya untuk melarikan diri darinya. Tapi ketika pekerjaanku menginginkanku untuk mengkriminalkannya, aku dilempar kembali ke cengkeramannya, dan aku mendapati diriku ditarik kembali ke kehidupan yang telah kuusahakan keras untuk melarikan diri.

Ini adalah novel Romansa Mafia Gelap. Pembaca disarankan untuk berhati-hati.

“Nah, kalau bukan Ophelia Blake kecil.” Suaranya gelap seperti racun yang jatuh dari mulutnya yang sempurna. Dia memiliki tato yang mengintip dari kemeja putih berkancingnya. Dia tampak seperti dosa, dan senyum setan itu bisa membuat malaikat jatuh hanya untuk mencicipinya. Tapi aku bukan malaikat, maka dimulailah tarianku dengan setan.
Bibi Muda

Bibi Muda

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Silas Morrow
Bibi kecilku, adalah seorang wanita yang luar biasa mempesona.

Suatu ketika saat menginap, dia akhirnya tak mampu menahan gejolak dalam hatinya, menarik bibi kecil yang cantik itu ke dalam pusaran bersama-sama...
Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
1