17 Book(s) Related to a hundred billion key

Ke Utara

Ke Utara

261 Dilihat · Sedang Berlangsung · eenboterham
"Aku lebih suka desahanmu, eranganmu, dan rintihanmu. Jangan ditahan, dan aku akan lebih dari puas..."
Tanganku bergerak dari rahangnya ke rambutnya, menarik ujung-ujungnya. Tangannya menjelajahi tubuhku dan menarik bahan dari bajuku ke atas tubuhku, dia menempatkan ciuman basah tepat di sebelah pusarku. Aku menegang saat mengeluarkan desahan. Dia naik perlahan, menghujani perutku dengan ciuman lambat, mempelajari tubuhku sambil terus naik sampai bajuku benar-benar terlepas dan mulutnya berada di leherku.


Aelin telah diperlakukan dengan buruk oleh kelompoknya selama yang bisa dia ingat, tetapi ketika ancaman dari Kerajaan Vampir semakin nyata, kelompoknya harus memanggil orang-orang Utara untuk membantu mereka berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi Kerajaan Vampir. Apa yang terjadi ketika Alpha Utara mulai tertarik pada Aelin?
Dilempar ke Sarang Lycan

Dilempar ke Sarang Lycan

886 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eiya Daime
''Jadi, kamu punya sesuatu yang ingin dikatakan?''
Seorang pria kekar dan berotot bertanya padaku saat dia duduk di seberangku, sementara aku juga duduk di sana telanjang, setengah terendam dalam bak besar berisi air ini.
''Jangan khawatir, aku tidak akan menggigitmu, sayang...''
Dia berkata sambil mendekatiku, menarikku ke pangkuannya dan menempatkanku di atas kakinya.
''A-apa ini, Tuan?'' Akhirnya aku bertanya padanya saat dia menyerahkan sebuah sabun kecil padaku.
''Aku bukan Tuanku,'' dia membentakku dengan nada keras.
''Aku adalah Pasanganmu.''


Setelah kematian ibu Alasia lima tahun yang lalu, ayah tirinya menggunakan dana kepercayaan yang diberikan kepadanya setelah kematian ibunya untuk mendukung kebiasaan minumnya.
Setelah dia bangkrut dan menolak untuk mengelola satu pekerjaan rendah yang dia miliki, dia merasa tidak punya pilihan lain. Dia memutuskan untuk menjual anak tirinya yang tertua dengan harapan bisa mendapatkan cukup uang untuk pindah, dan dengan demikian, membawa adik laki-lakinya bersamanya.
Alasia yang baru berusia 16 tahun dijual menjadi budak ke dalam kawanan werewolf paling ganas, The Crimson Caine, oleh ayah tirinya yang berlebihan dan kasar.
Bagaimana dia bisa bertahan di bawah Alpha yang paling kejam?
Dan bagaimana jika dia mengetahui bahwa dia adalah PASANGANNYA?
Jatuh ke Dalam Dirimu

Jatuh ke Dalam Dirimu

884 Dilihat · Sedang Berlangsung · Dripping Creativity
Setelah empat tahun jadi istri Simon, akhirnya gue bebas.

Rasanya kayak baru bisa napas lagi. Selama ini gue hidup dalam rumah yang dindingnya rapi, tapi udaranya penuh tekanan. Sekarang, kunci udah ada di tangan gue sendiri. Tinggal satu langkah terakhir: perceraian selesai, uang kompensasi yang wajib Simon kasih masuk ke rekening gue, dan gue bisa mulai hidup baru.

Bukan sekadar hidup baru.

Itu juga penutup rapi buat balas dendam gue.

Gue udah ngitung semuanya: pengacara, dokumen, saksi, bahkan kalimat yang bakal gue ucapin di depan hakim. Simon selalu suka merasa paling mengendalikan keadaan—jadi gue pengin momen itu, momen ketika dia sadar ada satu hal yang lepas dari genggamannya. Uang itu bukan hadiah. Itu harga.

Pagi itu, gue baru selesai bikin kopi ketika bel rumah bunyi.

Satu kali. Dua kali. Lalu jeda pendek, seperti orang di luar menahan napas.

Gue nengok jam. Baru jam sembilan lewat dikit.

Bel bunyi lagi.

Gue taruh cangkir, ngusap tangan ke celana santai, lalu jalan ke pintu. Kebiasaan lama bikin langkah gue ringan tapi hati gue tetap waspada—karena di rumah ini, dulu, suara langkah di lorong aja bisa jadi awal dari sesuatu yang gue nggak mau ingat.

“Siapa?” suara gue pelan, tangan udah nempel di kunci pengaman.

“Polisi, Bu. Bisa bicara sebentar?”

Dada gue langsung mengeras.

Gue intip lewat lubang pintu. Dua orang berseragam. Satu di depan, satu sedikit ke belakang. Wajah mereka datar, tapi tatapannya jelas: mereka nggak datang buat basa-basi.

Gue buka pintu secukupnya, rantai masih terpasang.

“Iya, Pak?”

Yang di depan mengangkat map.

“Bu Hana Pradipta?”

Gue kaku mendengar nama itu keluar dari mulut orang asing, seolah hidup gue yang baru aja gue bangun lagi langsung dikembalikan ke masa-masa yang gue pengin kubur.

“Iya. Ada apa?”

“Kami mau tanya soal mantan suami Ibu… Simon Wijaya.”

Nama itu seperti kuku yang menyeret kulit.

Gue tahan napas, menahan refleks lama yang selalu mau minta maaf untuk sesuatu yang bukan salah gue.

“Kenapa?” suara gue lebih tajam daripada yang gue niatkan.

Polisi itu bertukar pandang dengan rekannya.

“Kami sedang melakukan penyelidikan. Ada beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Ibu bertemu beliau?”

Gue kepal tangan di balik pintu.

“Sudah lama. Kami pisah rumah. Proses cerai juga jalan.” Gue sengaja pakai kata-kata yang rapi, formal, supaya mereka nggak bisa baca gemetar di dalamnya.

“Beliau ada menghubungi Ibu? Telepon, pesan, datang ke sini?”

“Nggak.”

“Apakah Ibu tahu beliau punya masalah dengan… orang-orang tertentu?”

Bibir gue terasa kering. Orang-orang tertentu itu bisa berarti apa pun. Tapi dari tatapan mereka, gue ngerti ini bukan soal selingkuh atau utang kecil.

“Setahu saya, nggak,” jawab gue. “Kalau memang ada, itu urusan dia.”

Mereka menatap gue beberapa detik, seolah mencari celah retak.

“Kami mungkin akan kembali kalau ada yang perlu dikonfirmasi,” kata polisi itu akhirnya. “Kalau Ibu ingat sesuatu, atau kalau beliau muncul, segera hubungi kami.”

Gue mengangguk, menutup pintu setelah mereka pergi, dan baru sadar tangan gue dingin seperti es.

Gue berdiri di depan pintu beberapa saat, mencoba meyakinkan diri: ini cuma formalitas. Polisi cuma tanya-tanya. Simon selalu cari masalah, dan kali ini dia kena batunya. Selesai.

Gue berbalik, mau kembali ke dapur.

Bel rumah bunyi lagi.

Bulu kuduk gue langsung berdiri.

Bunyi belnya berbeda. Lebih keras. Lebih lama ditekan.

Gue melangkah pelan, tapi setiap langkah rasanya ditarik masa lalu. Gue pegang gagang pintu, lalu berhenti. Ada sesuatu di dalam diri gue yang bilang: jangan buka.

Tapi bel itu dibarengi ketukan.

Bukan ketukan sopan. Ketukan yang seperti memerintah.

Tok. Tok. Tok.

Gue intip lewat lubang pintu.

Bukan polisi.

Dua lelaki berjaket hitam berdiri di depan. Rambut rapi, wajah tanpa ekspresi, tapi mata mereka kosong—jenis kosong yang bikin orang waras mundur. Ada satu lagi berdiri sedikit jauh di samping, seolah menjaga sudut, tangan di saku, bahunya tegang.

Gue mundur satu langkah.

Bel bunyi lagi, kali ini disertai suara pria yang datar.

“Buka.”

Bukan permintaan.

Itu perintah.

Gue menelan ludah. Suara gue nyaris nggak keluar.

“Siapa?”

“Orang yang perlu ketemu lo.”

Gue merasakan mual naik dari perut. Kata “lo” dari mulutnya terdengar seperti ancaman yang sengaja dibuat santai.

“Ada urusan apa?” gue berusaha terdengar tegas, tapi tenggorokan gue bergetar.

Salah satu dari mereka mendekat ke pintu, menempelkan wajahnya dekat lubang intip, seakan tahu gue sedang mengintip.

“Jangan bikin ribet. Kita cuma mau tanya.”

Jantung gue memukul keras. Gue ngerasa seperti empat tahun itu balik lagi: momen ketika segala pilihan gue selalu salah, ketika pintu apa pun yang gue buka selalu berakhir sama—sakit.

“Aku nggak tahu apa-apa,” kata gue cepat. “Kalau soal Simon, kalian tanya dia.”

Yang di luar tertawa kecil. Tanpa humor.

“Kalau dia bisa ditanya, kita nggak bakal di sini.”

Gue mundur lagi. Tubuh gue mencari rute: jendela? pintu belakang? telepon? Tapi gue sadar, tangan gue bergetar terlalu parah untuk menekan angka dengan benar.

Ketukan itu datang lagi. Lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

“Kita nggak suka nunggu,” kata suara yang sama.

Gue menahan napas sampai dada terasa sakit. Lalu, seperti yang selalu terjadi saat panik, otak gue memunculkan bayangan paling buruk: mereka mendobrak, menyeret gue, membuat gue “menghilang”—dan nggak ada yang peduli karena gue cuma mantan istri Simon.

Gue mundur menjauh dari pintu, berdiri di ruang tamu dengan napas pendek. Gue nggak buka. Nggak peduli apa pun. Kalau perlu, gue akan menunggu mereka pergi.

Ketukan itu berhenti.

Hening.

Gue berdiri, telinga menajam. Baru setelah beberapa menit, gue berani mendekat lagi dan mengintip.

Teras kosong.

Tapi rasa dingin itu masih menempel di kulit gue, seperti aroma asap yang nggak kelihatan.

Gue mengunci semua kunci, memastikan jendela tertutup, lalu duduk di sofa dengan punggung menempel kaku. Kopi di dapur sudah dingin. Dan hidup gue yang baru, yang tadi pagi terasa dekat, tiba-tiba menjauh seperti lampu yang redup.

Sore menjelang, langit mulai berubah abu-abu. Gue belum makan apa-apa. Setiap bunyi di luar—motor lewat, tetangga menutup pagar—membuat gue tersentak.

Dan ketika bel rumah bunyi untuk ketiga kalinya, tubuh gue membeku.

Belnya pelan. Satu kali. Lalu jeda. Lalu ketukan yang lebih… manusiawi.

Tok. Tok.

Gue tetap diam.

Tok. Tok.

Ada suara, lebih tua, lebih rendah, tapi tenang.

“Hana?”

Nama gue.

Bukan “Bu Hana.” Bukan “lo.”

Hana.

Tenggorokan gue mengering. Gue berdiri pelan, seperti bergerak di air keruh. Langkah gue mendekati pintu, tapi otak gue teriak: jangan. Setelah polisi dan orang-orang itu, orang ketiga nggak mungkin membawa kabar baik.

“Hana, saya nggak akan lama,” suara itu lanjut. “Saya cuma perlu bicara. Penting.”

Gue menempelkan telinga ke pintu. Suara napasnya terdengar terkendali. Nggak terburu-buru. Nggak agresif.

“Siapa?” akhirnya gue bertanya, hampir berbisik.

“Nama saya Hunter Wijaya.”

Nama keluarga itu menghantam gue seperti pintalan besi.

Wijaya.

Jantung gue melompat.

“Ayahnya Simon,” dia menambahkan, seolah tahu gue butuh penjelasan itu.

Gue menutup mata. Selama empat tahun menikah, gue nggak pernah ketemu ayah Simon. Simon selalu bilang ayahnya “nggak ada gunanya,” “hilang entah ke mana,” “nggak perlu dikenal.” Seakan lelaki itu cuma noda di riwayat hidupnya.

Kenapa sekarang dia di depan pintu gue?

Semua alarm dalam diri gue seharusnya berbunyi. Dia harusnya musuh. Dia bagian dari darah Simon, bagian dari sistem yang membentuk pria itu. Kehadirannya harusnya bikin gue lari.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suara itu yang membuat gue… berhenti.

Bukan percaya.

Cuma… berhenti.

Gue mengintip lewat lubang pintu.

Seorang pria berdiri di teras. Usianya sekitar akhir empat puluhan atau awal lima puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, rambutnya gelap dengan sedikit uban di pelipis. Dia pakai kemeja gelap yang sederhana, celana bahan, tanpa atribut mencolok. Tapi ada sesuatu di cara dia berdiri—tenang, siap, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi buruk tanpa banyak bicara.

Matanya menatap lurus ke pintu, bukan ke sekeliling, bukan mencurigakan. Tatapan itu… tajam, tapi bukan mengancam. Lebih seperti orang yang memikul beban.

Gue menelan ludah. Tangan gue di rantai pengaman.

Seharusnya gue nggak buka.

Gue tahu itu.

Tapi setelah hari ini, setelah dua ketukan yang masing-masing membawa rasa takut berbeda, suara pria ini malah terdengar seperti… jeda.

Gue buka pintu sedikit, rantai masih terpasang.

Dia langsung melihat gue. Seketika, tatapannya berubah, seperti ada sesuatu yang terhenti di dalam dirinya.

“Hana,” katanya lagi, pelan. “Maaf datang mendadak.”

“Bapak mau apa?” gue bertanya. Suara gue berusaha tegas, tapi tubuh gue masih waspada.

Dia menarik napas, seolah memilah kata-kata.

“Saya dengar polisi datang ke sini,” katanya. “Dan saya… saya dengar ada orang lain juga.”

Darah gue terasa dingin.

“Bapak tahu dari mana?”

“Teman lama,” jawabnya singkat. “Yang penting, saya nggak datang buat bela Simon.”

Nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang keras, bukan hangat.

Gue menatapnya curiga.

“Terus Bapak datang buat apa?”

Hunter menunduk sebentar, lalu menatap gue lagi.

“Buat pastikan kamu aman.”

Kata “aman” membuat dada gue berdenyut. Empat tahun gue jarang dengar kata itu dengan makna yang benar.

“Aku bisa jaga diri,” gue cepat membalas, refleks yang udah mendarah daging.

Dia nggak tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya yang melunak.

“Saya harap begitu,” katanya. “Tapi saya juga tahu orang-orang yang datang ke sini bukan tipe yang akan berhenti cuma karena kamu bilang ‘nggak tahu’.”

Gue menggigit bibir.

“Aku memang nggak tahu,” bisik gue, lebih lemah.

“Saya percaya,” jawabnya tanpa ragu.

Rantai pengaman di pintu terasa seperti garis tipis antara gue dan masalah. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, gue merasa kalau gue buka sedikit lebih lebar, bukan berarti gue menyerahkan diri.

Seharusnya aku minta dia pergi, pikir gue.

Seharusnya.

Tapi kata-kata itu nggak keluar.

Malah, yang keluar:

“Bapak mau masuk… sebentar?”

Hunter mengangguk perlahan. “Kalau kamu mengizinkan.”

Gue lepas rantai. Pintu terbuka.

Dan entah kenapa, ketika dia melangkah masuk, ruang tamu gue yang tadi terasa sempit dan mencekik mendadak terasa… lebih tenang.

Itu yang paling mengganggu.

Karena dia seharusnya jadi bagian dari ketakutan gue.

Tapi tubuh gue—yang biasanya paling cepat mengenali bahaya—malah merasakan sesuatu yang nyaris seperti aman.
Satu Salam ke Langit

Satu Salam ke Langit

556 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lorcan Veyne
Dia sudah tiga kali menikah. Pertama kali, dia adalah kepala perampok gunung, menculik anak tuan tanah dan menjadikannya sebagai istri. Kedua kali, dia bergabung dengan revolusi, membawa anak tuan tanah untuk mendaftarkan pernikahan di kantor kepala, dan ketika tidak diberikan, dia menggambar sendiri surat nikah. Ketiga kali, mereka ditangkap dan dihukum, berlutut berdampingan, pemberontak memaksa mereka untuk bersujud, dia menolak, tapi anak tuan tanah tersenyum dan menyanyikan "Sujud pertama untuk langit dan bumi—" mereka berdua bersujud, dan tidak pernah bangkit lagi, akhirnya menjadi suami istri seumur hidup. Anak tuan tanah itu bernama Qin Shu, dan perampok itu bernama Sui San. Mereka telah terikat oleh takdir, semoga di kehidupan berikutnya mereka bisa bertemu lagi.
Kembali ke Fajar Merah

Kembali ke Fajar Merah

665 Dilihat · Sedang Berlangsung · Diana Sockriter
Menyerah tidak pernah menjadi pilihan....
Sementara berjuang untuk hidup dan kebebasan telah menjadi hal biasa bagi Alpha Cole Redmen, pertarungan untuk keduanya mencapai tingkat yang sama sekali baru begitu dia akhirnya kembali ke tempat yang tidak pernah dia sebut rumah. Ketika perjuangannya untuk melarikan diri mengakibatkan amnesia disosiatif, Cole harus mengatasi satu rintangan demi rintangan untuk mencapai tempat yang hanya dia ketahui dalam mimpinya. Akankah dia mengikuti mimpinya dan menemukan jalan pulang atau akan tersesat di sepanjang jalan?
Ikuti perjalanan emosional Cole, yang menginspirasi perubahan, saat dia berjuang untuk kembali ke Crimson Dawn.

*Ini adalah buku kedua dalam seri Crimson Dawn. Seri ini sebaiknya dibaca secara berurutan.

**Peringatan konten, buku ini mengandung deskripsi tentang kekerasan fisik dan seksual yang mungkin mengganggu pembaca sensitif. Hanya untuk pembaca dewasa.
Dari Perceraian ke Pengantin Miliarder

Dari Perceraian ke Pengantin Miliarder

458 Dilihat · Sedang Berlangsung · Olivia Chase
Setelah menemukan perselingkuhan suaminya, Alex, Sharon, dalam keadaan mabuk, hampir saja melakukan hubungan satu malam dengan paman Alex, Seb.
Dia memilih untuk bercerai, tetapi Alex sangat menyesali perbuatannya dan dengan putus asa mencoba untuk berdamai. Pada saat ini, Seb melamarnya, sambil memegang cincin berlian yang sangat berharga, berkata, "Menikahlah denganku, tolong?"
Dengan paman mantan suaminya yang dengan gigih mengejarnya, Sharon menghadapi dilema. Bagaimana dia akan membuat pilihannya?
Dari Patah Hati ke Kebahagiaan

Dari Patah Hati ke Kebahagiaan

962 Dilihat · Sedang Berlangsung · Robert
Apakah kamu tahu bagaimana rasanya keputusasaan yang sebenarnya? Biar aku ceritakan.
Di pesta pertunanganku, terjadi kebakaran. Tunanganku dengan gagah berani berlari masuk ke dalam api. Tapi dia bukan datang untuk menyelamatkanku—dia menyelamatkan wanita lain.
Pada saat itu, duniaku hancur berkeping-keping.
Nirvana: Dari Abu ke Kemuliaan

Nirvana: Dari Abu ke Kemuliaan

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Lila Moonstone
Sophia meninggal karena dikhianati—oleh kekasih dan sahabatnya. Tapi kematian bukanlah akhir. Dia terbangun dalam tubuh Diana Spencer, seorang wanita dengan masa lalu tragis dan suami yang kejam.

Dengan kesempatan hidup yang baru, Sophia bukan lagi wanita yang mudah dijatuhkan. Berbekal ingatan Diana dan hasrat membara untuk balas dendam, dia siap merebut kembali apa yang menjadi miliknya dan membuat musuh-musuhnya membayar. Balas dendam tak pernah terlihat semanis ini.
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan

Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan

476 Dilihat · Sedang Berlangsung · Aji Pratama
[Ada male lead, alur romance 1 point, alur karier 9 point]
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.

Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?

Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!

Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
Keturunan Bulan

Keturunan Bulan

549 Dilihat · Sedang Berlangsung · Kay Pearson
!! Konten Dewasa 18+ !!

“Kamu pikir aku akan membiarkan putriku tidur dengan siapa saja yang dia mau?” dia meludah. Dia menendang tulang rusukku, membuatku terlempar ke lantai.
“Aku tidak...” aku terbatuk, terengah-engah mencari udara.
Rasanya seperti dadaku ambruk. Aku pikir aku akan muntah ketika Hank menarik rambutku dan mengangkat kepalaku. KRAK. Rasanya seperti mataku meledak di dalam tengkorakku ketika dia meninju wajahku. Aku jatuh di lantai beton yang dingin dan menekan wajahku ke lantai. Dia menggunakan kakinya untuk membalikkan tubuhku sehingga aku terbaring telentang.
“Lihat dirimu, pelacur menjijikkan” dia mendesis sambil berjongkok di sampingku dan menyibakkan rambut dari wajahku. Dia tersenyum, senyum jahat yang menakutkan.
“Aku punya sesuatu yang sangat istimewa untukmu malam ini” dia berbisik.


Tersembunyi di hutan gelap, di Pulau Cape Breton, hidup sebuah komunitas kecil Weres. Selama beberapa generasi mereka tetap tersembunyi dari manusia dan menjalani kehidupan yang damai. Hingga seorang wanita kecil bergabung dengan kawanan mereka dan mengubah dunia mereka terbalik.
Gunner, calon Alpha, berperan sebagai ksatria berbaju besi menyelamatkan wanita muda itu dari kematian yang pasti. Membawa serta masa lalu misterius dan kemungkinan yang telah lama dilupakan, Zelena adalah cahaya yang tidak mereka sadari mereka butuhkan.
Dengan harapan baru, datang bahaya baru. Sebuah klan pemburu ingin merebut kembali apa yang mereka yakini telah dicuri oleh kawanan itu, Zelena.
Dengan kekuatan baru, teman-teman baru, dan keluarga baru, mereka semua berjuang untuk melindungi tanah air mereka dan anugerah yang diberikan Dewi Bulan kepada mereka, Dewi Tiga.
Jangan Menoleh Kembali

Jangan Menoleh Kembali

451 Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
Setelah kematian mendadak orang tuanya, Maya terpaksa melarikan diri dan memulai hidup baru.

Dengan hanya mengetahui bahwa pria yang telah membunuh orang tuanya masih mengejarnya, dia meninggalkan kota manusia tempat dia dibesarkan dan memulai hidup barunya sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Maine.

Tanpa teman atau keluarga yang tersisa, dia berusaha sebaik mungkin untuk berbaur sebagai manusia, tetapi ketika orang-orang aneh dan kejadian aneh mulai terjadi di sekitarnya, dia segera menyadari bahwa mungkin takdir yang membawanya ke sini.

Akankah dia akhirnya menemukan kebenaran tentang kematian orang tuanya atau hanya akan terjerumus lebih dalam ke dalam kegilaan yang telah menjadi hidup barunya?

Sebuah kawanan baru...

Seorang pasangan... tidak, lebih dari satu pasangan?

Kemampuan yang tidak diketahui?

Segalanya menjadi jauh lebih rumit sekarang.
Pengantin Kilat Sang Miliarder

Pengantin Kilat Sang Miliarder

571 Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
Kenapa Miliarder Teknologi Artemis Rhodes memposting hal seperti itu?!

"Semua orang membicarakan hashtag yang baru saja viral dalam beberapa jam. Gadis ini telah menjadi misteri yang ingin dipecahkan semua orang. Bahkan, kami memiliki foto-foto dari beberapa orang yang telah melihat gadis ini secara langsung."

Layar ponsel kecil, tapi aku melihat beberapa foto diriku muncul di layar. Ini tidak mungkin terjadi!

Kamu tahu serangan panik yang sudah lama kutahan? Nah, sekarang serangan itu kembali dengan balas dendam. Rasanya seperti semua udara tersedot keluar dari tubuhku dan dadaku terasa sesak. Penglihatanku kabur dan aku sadar aku jatuh sebelum semuanya menjadi gelap.

"Tenang, Nona Riley, ini Tuan Rhodes, seorang donatur rumah sakit kami. Wanita ini adalah tunangannya. Saya akan menangani ini." kata dokter itu dan memberi jalan kepada perawat untuk keluar.

Aku melihat perawat itu bergegas pergi sebelum aku fokus pada dokter. Dia pria tua dengan rambut putih dan wajah ramah, tapi dia memberiku perasaan aneh.

Tunggu... dia baru saja bilang tunangan?

"Maaf, apa yang Anda katakan?" tanyaku.

"Saya punya tawaran untuk Anda." kata pria itu.

"Tawaran untuk saya? Apa maksud Anda?"

"Tawaran? Itu artinya-"

Aku melambaikan tangan. "Bukan itu! Saya bukan idiot. Maksud saya, tawaran apa?"

"Saya ingin Anda menikah dengan saya." katanya dengan wajah datar.

Jadi, kamu pasti bertanya-tanya bagaimana seorang wanita yang tinggal di gerbong kereta yang ditinggalkan bisa menikah dengan miliarder teknologi besar.

Sederhana saja. Kami bertemu secara tidak sengaja, saling menatap, dan sisanya adalah sejarah.

Oke, tidak persis seperti itu. Lihat, Artemis Rhodes sedang dalam kesulitan. Dia butuh istri sebelum ulang tahunnya yang berikutnya... enam hari lagi. Jadi apa yang dia lakukan? Dia mencariku seperti penguntit gila dan menawarkan banyak uang untuk menikah dengannya.

Gila, kan?

Tentu saja aku menolak karena aku punya harga diri, tapi ketika duniaku terbalik, aku tidak punya pilihan selain menerima. Berkat dia, aku tidak bisa kembali ke hidupku yang lama, dan sekarang aku terjebak dalam hidupnya.

Aku adalah pemberontakannya terhadap keluarganya dan duri dalam dagingnya... Kata-katanya, bukan kata-kataku...

Kami berasal dari dunia yang berbeda dan itu berarti pada akhirnya dunia-dunia itu akan bertabrakan dan dengan itu bencana siap menghancurkan seluruh rencana. Kamu tahu, hanya hari Selasa biasa.

Jadi apa yang dilakukan dua orang ketika semuanya mulai salah?

Nah, biar aku ceritakan...
Setelah Cinta Pertamaku

Setelah Cinta Pertamaku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
Cinta pertama.

Mereka datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bisa jadi indah atau menyakitkan, dan segala sesuatu di antaranya.

Sawyer dan aku dulu adalah sahabat, sampai dia mengikuti mimpinya dan meninggalkan kehidupan lamanya. Termasuk aku. Aku berharap hidup tidak akan memisahkan kami, tapi seperti kebanyakan cinta pertama, itu terjadi dan segera dia menjadi orang asing bagiku. Ketika akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya dan memulai hidup baru, dia muncul lagi.

Hidupnya tergantung pada seutas benang dan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan apa yang telah dia perjuangkan dengan keras. Sekarang dia berpikir itu termasuk aku. Dia siap memperbaiki apa yang hilang, tapi aku tidak tertarik memberikan kesempatan kedua. Sayangnya, aku tidak pernah pandai menolaknya, dan bahkan setelah waktu kami terpisah, sepertinya tidak ada yang berubah.

Yah, itu tidak benar. Banyak yang akan berubah. Jauh lebih banyak dari yang bisa kami bayangkan, tapi semuanya dimulai saat pertama kali aku menemukan cinta.

Sekarang, saatnya untuk menemukan segala sesuatu yang datang setelahnya.
Menculik Pengantin yang Salah

Menculik Pengantin yang Salah

632 Dilihat · Sedang Berlangsung · A R Castaneda
"Dia bermain api.
Dan sialnya, aku tidak bisa bilang kalau aku tidak menginginkannya juga.
Di sana dia berdiri, cantik dan seksi sekali dengan baju tidur tipis yang hampir tidak menutupi apa-apa."


"Kamu benar-benar perawan." Dia berbisik dengan kagum.
Aku rasa dia tidak bermaksud mengatakannya dengan keras, lebih berbicara pada dirinya sendiri daripada padaku. Fakta bahwa dia meragukan kata-kataku seharusnya membuatku marah, tapi tidak. Jadi, daripada marah, aku menggigit bibir dan mengerang. "Tolong." Aku memohon padanya.

—————— Gabriela: Aku hanya ingin hidup normal. Tapi itu diambil dariku ketika ayahku menuntut aku menikah dengan pria yang belum pernah aku temui. Takdir sepertinya bermain-main lagi. Pada hari kami seharusnya bertemu, aku malah diculik oleh geng Mafia saingan. Hanya untuk mengetahui bahwa aku adalah pengantin yang salah diculik! Tapi ketika Enzo Giordano muncul, aku tahu aku tidak ingin kembali. Aku diam-diam mencintainya sejak kecil. Jika ini adalah kesempatan untuk membuatnya akhirnya memperhatikanku, maka aku akan melakukannya. Tapi apakah dia juga menginginkanku? Aku tidak begitu yakin.
Bereinkarnasi Untuk Balas Dendam

Bereinkarnasi Untuk Balas Dendam

783 Dilihat · Sedang Berlangsung · A R Castaneda
Kawanan Batu Malam dibantai sampai habis.

Dan dia bersumpah akan menuntut balas untuk orang-orangnya.

Tenggelam di kedalaman danau yang membeku, Dewi Bulan memberinya kesempatan kedua untuk hidup.

Tapi kenapa dia justru terbangun di tubuh orang lain—seorang omega rendahan—yang ingatannya cuma berisi sakit hati, penindasan, dan hidup yang tak pernah diberi jeda untuk bernapas?

Saat dia tahu dua puluh tahun telah berlalu dan Kawanan Biru Perak adalah dalang di balik kematian bangsanya, dia bergerak. Balas dendam tak lagi sekadar sumpah; itu jadi alasan dia bertahan.

Namun diikat sebagai pasangan takdir putra Alfa—seorang alfa yang ikut bertanggung jawab atas pembantaian kawanan Batu Malam—bukan bagian dari rencananya.

Kenapa dia harus bersikap baik? Manis? Lembut padanya?

Kenapa dia tidak bisa seperti mereka yang lain—sombong, sok tahu, dan gemar merendahkan?

Jatuh cinta sampai kehilangan pegangan sama sekali bukan kesepakatan. Dan semakin lama dia berada di dekatnya, semakin kabur garis yang memisahkan dendam dari rasa yang pelan-pelan menghancurkan tekadnya.
Empat atau Mati

Empat atau Mati

395 Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
"Emma Grace?"
"Ya."
"Aku minta maaf harus memberitahumu ini, tapi dia tidak berhasil." Dokter itu berkata sambil menatapku dengan penuh simpati.
"T-terima kasih." Kataku dengan napas yang bergetar.
Ayahku sudah meninggal, dan orang yang membunuhnya berdiri tepat di sampingku saat ini. Tentu saja, tidak mungkin aku bisa memberitahu siapa pun tentang ini karena aku akan dianggap sebagai kaki tangan karena mengetahui apa yang terjadi dan tidak melakukan apa-apa. Aku berusia delapan belas tahun dan bisa menghadapi hukuman penjara jika kebenaran ini terungkap.
Belum lama ini aku hanya mencoba menyelesaikan tahun terakhir sekolahku dan keluar dari kota ini untuk selamanya, tapi sekarang aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku hampir bebas, dan sekarang aku akan beruntung jika bisa bertahan satu hari lagi tanpa hidupku benar-benar hancur.
"Kamu bersama kami, sekarang dan selamanya." Napas panasnya berbisik di telingaku, membuat bulu kudukku merinding.
Mereka telah menggenggamku erat sekarang dan hidupku bergantung pada mereka. Bagaimana semua ini bisa terjadi sulit untuk dijelaskan, tapi di sinilah aku...seorang yatim piatu...dengan darah di tanganku...secara harfiah.


Neraka di bumi adalah satu-satunya cara aku bisa menggambarkan hidup yang telah kujalani.
Setiap bagian dari jiwaku direnggut setiap hari, bukan hanya oleh ayahku tetapi juga oleh empat anak laki-laki yang disebut The Dark Angels dan pengikut mereka.
Disiksa selama tiga tahun adalah batas yang bisa kutahan dan tanpa ada yang berpihak padaku, aku tahu apa yang harus kulakukan...aku harus keluar dengan satu-satunya cara yang kutahu, Kematian berarti kedamaian tapi semuanya tidak pernah semudah itu, terutama ketika orang-orang yang membawaku ke tepi jurang adalah orang-orang yang akhirnya menyelamatkan hidupku.
Mereka memberiku sesuatu yang tidak pernah kupikirkan mungkin...balas dendam yang terhidang mati. Mereka telah menciptakan monster dan aku siap untuk membakar dunia ini.

Konten Dewasa! Menyebutkan obat-obatan, kekerasan, bunuh diri. Direkomendasikan untuk 18+. Reverse Harem, bully-to-lover.
1