20 Book(s) Related to a boy and his familiar

Bos Dominanku

Bos Dominanku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Emma- Louise
Aku selalu tahu bahwa bosku, Pak Sutton, memiliki kepribadian yang dominan. Aku sudah bekerja dengannya selama lebih dari setahun. Aku sudah terbiasa. Aku selalu berpikir itu hanya untuk urusan bisnis karena dia perlu begitu, tapi aku segera menyadari bahwa itu lebih dari sekadar itu.

Hubunganku dengan Pak Sutton hanya sebatas profesional. Dia memerintahku, dan aku mendengarkan. Tapi semua itu akan berubah. Dia butuh pasangan untuk menghadiri pernikahan keluarga dan memilihku sebagai targetnya. Aku bisa dan seharusnya menolak, tapi apa lagi yang bisa kulakukan ketika dia mengancam pekerjaanku?

Setuju untuk satu permintaan itu mengubah seluruh hidupku. Kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama di luar pekerjaan, yang mengubah hubungan kami. Aku melihatnya dengan cara yang berbeda, dan dia melihatku dengan cara yang berbeda juga.

Aku tahu salah untuk terlibat dengan bosku. Aku mencoba melawan perasaan itu tapi gagal. Ini hanya seks. Apa salahnya? Aku sangat salah karena apa yang dimulai sebagai hanya seks berubah arah dengan cara yang tak pernah kubayangkan.

Bosku tidak hanya dominan di tempat kerja tapi di semua aspek kehidupannya. Aku pernah mendengar tentang hubungan Dom/sub, tapi itu bukan sesuatu yang pernah kupikirkan. Saat hubungan antara aku dan Pak Sutton semakin panas, aku diminta menjadi submisifnya. Bagaimana seseorang bisa menjadi seperti itu tanpa pengalaman atau keinginan untuk menjadi satu? Ini akan menjadi tantangan bagi kami berdua karena aku tidak suka diperintah di luar pekerjaan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa hal yang sama sekali tidak kuketahui akan menjadi hal yang membuka dunia baru yang luar biasa bagiku.
Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Pengasuh Untuk Bos Mafia

Pengasuh Untuk Bos Mafia

290 Dilihat · Sedang Berlangsung · Page Hunter
Bos mafia Alessandro Rossi mengambil kembali pewarisnya dari istrinya yang kabur.

Dia mempekerjakan Victoria muda untuk merawat putranya. Setelah menghabiskan satu malam mabuk bersama, Victoria hamil oleh Alessandro.

Hidup mereka kini terjalin dan mereka berakhir dalam pernikahan tanpa cinta. Victoria menemukan kenyamanan di pelukan orang lain.

Baca untuk mengetahui apa yang terjadi ketika pengasuh dan istri bos mafia membawa musuh langsung ke depan pintu mereka.
Istri Bos Mendisiplinkan Keluarga

Istri Bos Mendisiplinkan Keluarga

613 Dilihat · Sedang Berlangsung · Alisa
Amelia berpikir bahwa dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di pedesaan bersama nenek angkatnya, tetapi tiba-tiba keluarga Martinez datang mengetuk pintu, mengatakan bahwa dia adalah pewaris sejati yang telah lama hilang.
Namun, yang menantinya bukanlah reuni keluarga yang bahagia, melainkan seorang pewaris palsu yang licik, nenek yang berat sebelah, saudara-saudara dengan sikap ambigu, sepupu yang bodoh, dan... tunangan yang cacat.
Sebelum kembali ke rumah, nenek angkatnya berulang kali memperingatkannya: "Amelia, jangan gunakan kekerasan. Dunia luar adalah masyarakat yang diatur oleh hukum."
Setelah kembali ke rumah, pewaris palsu yang licik itu berlagak menjadi korban dan menyebarkan rumor bahwa Amelia mencuri barang. Tidak tahan lagi, Amelia menggunakan kekuatannya yang besar untuk merobek kalung pewaris palsu itu. Ketika saudara angkat tunangannya secara tidak jelas memfitnahnya, Amelia langsung memberinya bantingan ala judo, membuat saudara angkat itu harus dirawat di rumah sakit selama setengah bulan.
Menghadapi kutukan dan kecaman semua orang, tunangannya yang cacat, William, melindungi Amelia di belakangnya: "Maaf, saya akan menerima semua tuntutan hukum atas nama tunangan saya."
Tapi siapa yang berani menuntut orang terkaya!
Amelia tersenyum manis sambil mengepalkan tinjunya: "Ada lagi yang mau menantangku?"
Tergoda oleh Bos-Bosku

Tergoda oleh Bos-Bosku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Taize Dantas
“Orang-orang bisa lihat kita, Pak,” bisikku, mencoba berpikir waras, sementara jarinya keluar-masuk, membuatku basah kuyup oleh gairah yang mendadak membesar—gairah raksasa yang lahir dari kenyataan kalau ini salah, tapi justru itu yang bikin semuanya terasa makin menggila.


Saat Alya akhirnya sadar bahwa romansa terlarangnya dengan dosen yang seharusnya menjaga jarak hanya menyisakan luka dan ilusi, ia terseret ke permainan berbahaya antara Vincent Wijaya—CEO dingin yang mengendalikan segalanya—dan rekan bisnisnya, Thomas Wiraatmaja. Di tengah hasrat yang mengikat seperti jerat dan intrik yang menyusup lewat celah-celah kekuasaan, Alya terjebak di pusat segitiga cinta yang meledak-ledak, di mana setiap pilihan bisa berubah jadi bumerang dengan konsekuensi yang tak main-main.

Di luar semua itu, hidup Alya tampak biasa saja: seorang sekretaris di firma raksasa Wijaya & Wiraatmaja, perusahaan yang namanya disegani, pintunya dijaga rapat, dan senyum di lobi selalu terlihat terlalu rapi untuk disebut tulus. Tapi sebentar lagi, Alya akan masuk ke dunia yang dipenuhi rahasia, gairah terlarang, dan pengkhianatan yang bersembunyi rapi di balik kaca-kaca kantor yang mengilap.

Semua bermula setelah petualangan yang memabukkan di karnaval besar—sebuah pesta kota yang riuh, panas, dan penuh lampu—saat Alya dan sahabatnya, Jeni, pergi hanya untuk “cari angin” dan pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kenangan. Sejak malam itu, hidup mereka berbelok tajam; jalan yang mereka tempuh seolah dipaksa menabrak jalur para lelaki paling berpengaruh di kota, lalu saling mengait begitu rapat—intens, liar, dan terasa seperti candu.

Sebuah kisah tentang cinta dan kuasa, yang menantang batas-batas kepatutan, dan membuat siapa pun yang terlibat harus memilih: menyerah pada aturan, atau terbakar oleh keinginan sendiri.
Mantan Istriku adalah Bos Misterius

Mantan Istriku adalah Bos Misterius

975 Dilihat · Sedang Berlangsung · Miranda Lawrence
Setelah dua tahun menikah, Charles Lancelot tiba-tiba mengajukan cerai.
Dia berkata, "Dia sudah kembali. Kita cerai saja. Kamu bisa ambil apa pun yang kamu mau."
Setelah dua tahun menikah, Daphne Murphy tidak bisa lagi mengabaikan kenyataan bahwa dia tidak lagi mencintainya, dan jelas bahwa ketika hubungan masa lalu menyebabkan tekanan emosional, hubungan saat ini akan menderita.
Daphne Murphy tidak bertengkar, dia memilih untuk merestui pasangan ini dan mengajukan syarat-syaratnya sendiri.
"Aku mau mobil sport edisi terbatasmu yang paling mahal."
"Ya."
"Sebuah vila di pinggiran kota."
"Baiklah."
"Bagikan miliaran dolar yang kita hasilkan setelah dua tahun menikah."
"?"

Buku ini diperbarui dengan satu bab per minggu.
Setelah Bayi Bos, Dia Melarikan Diri

Setelah Bayi Bos, Dia Melarikan Diri

596 Dilihat · Sedang Berlangsung · Leslie
Di sebuah acara makan malam perusahaan, Ophelia mabuk berat dan dalam keadaan mabuknya, dia secara tidak sengaja masuk ke kamar bos perusahaan, di mana mereka menghabiskan malam bersama! Ketika bangun, Ophelia memilih untuk kabur, tidak menyadari bahwa dia sudah menarik perhatian bosnya, Finnegan! Finnegan segera menempatkannya untuk bekerja di sisinya sebagai sekretaris, membuat Ophelia kebingungan. Apakah dia sudah ketahuan? Apakah bos akan menyadari bahwa itu adalah dia malam itu? Tunggu sebentar! Sepertinya dia hamil? Apa yang harus dia lakukan? Kabur? Sialan! Sepertinya dia tidak bisa melarikan diri!
Terjebak Dengan Tiga Bos Seksi Saya

Terjebak Dengan Tiga Bos Seksi Saya

1.7k Dilihat · Sedang Berlangsung · Oguike Queeneth
"Memekmu basah banget buat kami, minta banget buat dipakai." Suaranya yang dalam membuatku merinding.

"Kamu mau itu, sayang? Kamu mau kami kasih apa yang diinginkan memek kecilmu?"

"Y...ya, Pak." Aku menghela napas.


Kerja keras Joanna Clover selama kuliah terbayar ketika dia mendapat tawaran pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaan impiannya, Dangote Group of Industries. Perusahaan ini dimiliki oleh tiga pewaris mafia, mereka tidak hanya memiliki bisnis bersama, tetapi juga kekasih dan sudah bersama sejak masa kuliah.

Mereka tertarik secara seksual satu sama lain tetapi mereka berbagi segalanya bersama termasuk wanita dan mereka menggantinya seperti baju. Mereka dikenal sebagai playboy paling berbahaya di dunia.

Mereka ingin berbagi dirinya, tapi apakah dia akan menerima kenyataan bahwa mereka juga bercinta satu sama lain?

Apakah dia akan mampu menavigasi antara bisnis dan kesenangan?

Dia belum pernah disentuh oleh pria sebelumnya apalagi tiga sekaligus. Apakah dia akan menurut?
Anak Kembar dan Ayah Bos Mafia

Anak Kembar dan Ayah Bos Mafia

360 Dilihat · Sedang Berlangsung · Amelia Hart
Di tengah-tengah putaran nasib yang tak terduga, dia mendapati dirinya terjerat dengan pemimpin Mafia paling terhormat di jantung Crownhaven. Pertemuan mereka menghasilkan seorang anak, memaksanya untuk memulai pelarian yang dipaksakan. Enam tahun berlalu, dan jalan mereka tak sengaja bertemu lagi. Bertekad untuk menghindarinya dengan segala cara, dia berjuang mati-matian untuk menjaga jarak. Tapi takdir punya rencana lain.

Betapa terkejutnya dia ketika pria itu datang tanpa pemberitahuan, menggendong buah hati mereka yang mempesona, dan dengan berani menghadapinya, "Wanita, kamu telah melahirkan anak kita—apakah kamu benar-benar percaya bisa lari dariku?"

Anna berdiri membeku, tak mampu menemukan kata-kata yang tepat. Dia tak lain adalah Giorgio Vittorio, raja yang dihormati dari kerajaan, seorang pria yang namanya mengundang kekaguman dan ketakutan. Dia mengira dunia mereka tak mungkin bersatu, sebuah kemustahilan. Sedikit yang dia tahu bahwa dia tanpa sadar akan menjadi cinta sejati dari raja yang tak terkalahkan ini.
Dikejar Bos Tirani untuk Jadi Istrinya

Dikejar Bos Tirani untuk Jadi Istrinya

650 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
Di bawah gemerlap lampu kota metropolis fiksi Jakarta, Aditya Wijaya sang konglomerat memiliki segalanya—kekayaan, kekuasaan, dan pemuja tak terhitung. Namun, dunia sempurnanya runtuh ketika dia terseret ke dalam konspirasi keji.

Dia adalah Kirana Sekar, perempuan yang hidup dalam bayang-bayang dengan banyak identitas. Sebagai peretas ulung, petualang tak kenal takut, dan seniman tak dikenal, masa lalunya diselimuti misteri dan setiap gerak-geriknya tak terduga.

Rasa terima kasih Aditya pada Kirana berubah cepat menjadi hasrat yang tak terbendung. Namun, dia segera sadar: mendekatinya jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Dunia Kirana penuh rahasia dan bahaya; siapa pun yang mendekat berisiko tersedot ke dalam jurang.

Dalam usahanya mendapatkan Kirana, Aditya harus menghadapi musuh-musuh yang mengintai di balik bayangannya dan mengungkap kebenaran mengejutkan di balik hidupnya yang misterius. Hubungan mereka menguat di antara gairah dan bahaya, tetapi mampukah mereka menemukan kebahagiaan sejati dalam hasrat terlarang ini?

Seiring konspirasi perlahan terungkap, Aditya dan Kirana harus berjalan di jalan berliku antara kepercayaan dan pengkhianatan. Akankah mereka mengatasi segala rintangan dan menemukan satu sama lain, ataukah cinta mereka ditakdirkan ditelan pusaran rahasia dan nafsu?
Pengantin yang Enggan dari Bos Mafia yang Kejam

Pengantin yang Enggan dari Bos Mafia yang Kejam

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Kierra King
“Kau kira bisa pergi begitu saja, cantik?”

Suara Melo rendah dan berbahaya, jarinya menyusup mengangkat dagunya, memaksa Isabella menatapnya. “Kau sudah tanda tangan menanggung utang bapakmu pakai namamu sendiri. Artinya kau jadi milikku.”

Isabella menahan napas, menatap balik mata kelabu itu yang dingin seperti besi. Ia tak mau memalingkan wajah. “Kau boleh punya tubuhku, Melo Rossi,” bisiknya, “tapi hati gue nggak akan pernah jadi milik lo.”

Seringainya tajam, seolah bisa mengiris. “Kita lihat nanti.”

Ketika utang ayahnya menyeretnya ke dalam jerat yang tak bisa ditawar, Isabella Bianchi dipaksa menjadi pengantin dari Carmelo Rossi—seorang bos mafia yang namanya dibisikkan orang dengan takut, dipuja karena kuasanya, dan dibenci karena kejamnya.

Terkurung di dunia Melo yang penuh bahaya sekaligus godaan, Isabella mati-matian menjaga agar hatinya tetap utuh, tak tersentuh. Mampukah ia kabur dari pria yang menggenggam nasibnya—atau justru ia akan jatuh pada sosok monster yang selama ini ia pelajari untuk ditakuti?
Divonis Hidup Tanpamu: Bos Menangis Gila Pegang Tes Kehamilan

Divonis Hidup Tanpamu: Bos Menangis Gila Pegang Tes Kehamilan

539 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
"Aku manusia, bukan alat pelampiasan nafsumu!" teriakku dalam hati.

Suara Rangga dingin menusuk, "Kau istriku. Memenuhi kebutuhan fisiologisku adalah halal dan sewajarnya."

"Perang dingin kita belum berakhir!" Perlawananku sia-sia. Rangga sudah memasuki tubuhku.

Tangannya yang dingin mengusap payudaraku. Dalam lima tahun pernikahan, setelah berhubungan badan tak terhitung kali, dia tahu persis bagaimana membangkitkan gairahku.

Persis saat tubuhku menggigil, hendak mencapai klimaks, telepon berdering kasar. Rangga langsung berhenti, menutup mulutku, dan mengangkat telepon.

Di seberang sana, seorang perempuan merengek manja, "Sayang, aku sudah sampai."
Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

896 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lysandra Veyne
Pada abad ke-24, seorang pemuda bernama Cui Xiaoyu mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya terlempar ke tahun 80-an, menjadi seorang gadis biasa dari keluarga petani miskin di desa.

Katanya sih bakal menikmati kehidupan pedesaan yang santai, tapi kenapa baru saja sampai malah hampir dijual oleh pedagang manusia? Dia harus mengurus makanan keluarganya, dan juga menghadapi dua paman yang memandangnya seperti musuh!

Orang lain yang terlempar ke masa lalu biasanya punya "cheat" yang membuat hidup mereka lancar dan sukses. Tapi dia hanya punya sepasang mata yang bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. Di zaman yang keras ini, mata seperti itu berguna buat apa?

Jadi, dia hanya bisa bekerja keras menanam jagung, mencari sumber air, dan melihat apakah ada tambang tersembunyi di sekitar sini! Dia tidak percaya bahwa dengan otaknya ini, dia bisa mati kelaparan di zaman kekeringan ini!

Dengan menendang paman yang jahat dan memukul preman tambang di desa, dia akan membawa seluruh keluarga Cui menuju jalan kekayaan!
Empat atau Mati

Empat atau Mati

395 Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
"Emma Grace?"
"Ya."
"Aku minta maaf harus memberitahumu ini, tapi dia tidak berhasil." Dokter itu berkata sambil menatapku dengan penuh simpati.
"T-terima kasih." Kataku dengan napas yang bergetar.
Ayahku sudah meninggal, dan orang yang membunuhnya berdiri tepat di sampingku saat ini. Tentu saja, tidak mungkin aku bisa memberitahu siapa pun tentang ini karena aku akan dianggap sebagai kaki tangan karena mengetahui apa yang terjadi dan tidak melakukan apa-apa. Aku berusia delapan belas tahun dan bisa menghadapi hukuman penjara jika kebenaran ini terungkap.
Belum lama ini aku hanya mencoba menyelesaikan tahun terakhir sekolahku dan keluar dari kota ini untuk selamanya, tapi sekarang aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku hampir bebas, dan sekarang aku akan beruntung jika bisa bertahan satu hari lagi tanpa hidupku benar-benar hancur.
"Kamu bersama kami, sekarang dan selamanya." Napas panasnya berbisik di telingaku, membuat bulu kudukku merinding.
Mereka telah menggenggamku erat sekarang dan hidupku bergantung pada mereka. Bagaimana semua ini bisa terjadi sulit untuk dijelaskan, tapi di sinilah aku...seorang yatim piatu...dengan darah di tanganku...secara harfiah.


Neraka di bumi adalah satu-satunya cara aku bisa menggambarkan hidup yang telah kujalani.
Setiap bagian dari jiwaku direnggut setiap hari, bukan hanya oleh ayahku tetapi juga oleh empat anak laki-laki yang disebut The Dark Angels dan pengikut mereka.
Disiksa selama tiga tahun adalah batas yang bisa kutahan dan tanpa ada yang berpihak padaku, aku tahu apa yang harus kulakukan...aku harus keluar dengan satu-satunya cara yang kutahu, Kematian berarti kedamaian tapi semuanya tidak pernah semudah itu, terutama ketika orang-orang yang membawaku ke tepi jurang adalah orang-orang yang akhirnya menyelamatkan hidupku.
Mereka memberiku sesuatu yang tidak pernah kupikirkan mungkin...balas dendam yang terhidang mati. Mereka telah menciptakan monster dan aku siap untuk membakar dunia ini.

Konten Dewasa! Menyebutkan obat-obatan, kekerasan, bunuh diri. Direkomendasikan untuk 18+. Reverse Harem, bully-to-lover.
Bereinkarnasi Untuk Balas Dendam

Bereinkarnasi Untuk Balas Dendam

783 Dilihat · Sedang Berlangsung · A R Castaneda
Kawanan Batu Malam dibantai sampai habis.

Dan dia bersumpah akan menuntut balas untuk orang-orangnya.

Tenggelam di kedalaman danau yang membeku, Dewi Bulan memberinya kesempatan kedua untuk hidup.

Tapi kenapa dia justru terbangun di tubuh orang lain—seorang omega rendahan—yang ingatannya cuma berisi sakit hati, penindasan, dan hidup yang tak pernah diberi jeda untuk bernapas?

Saat dia tahu dua puluh tahun telah berlalu dan Kawanan Biru Perak adalah dalang di balik kematian bangsanya, dia bergerak. Balas dendam tak lagi sekadar sumpah; itu jadi alasan dia bertahan.

Namun diikat sebagai pasangan takdir putra Alfa—seorang alfa yang ikut bertanggung jawab atas pembantaian kawanan Batu Malam—bukan bagian dari rencananya.

Kenapa dia harus bersikap baik? Manis? Lembut padanya?

Kenapa dia tidak bisa seperti mereka yang lain—sombong, sok tahu, dan gemar merendahkan?

Jatuh cinta sampai kehilangan pegangan sama sekali bukan kesepakatan. Dan semakin lama dia berada di dekatnya, semakin kabur garis yang memisahkan dendam dari rasa yang pelan-pelan menghancurkan tekadnya.
Jangan Menoleh Kembali

Jangan Menoleh Kembali

451 Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
Setelah kematian mendadak orang tuanya, Maya terpaksa melarikan diri dan memulai hidup baru.

Dengan hanya mengetahui bahwa pria yang telah membunuh orang tuanya masih mengejarnya, dia meninggalkan kota manusia tempat dia dibesarkan dan memulai hidup barunya sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Maine.

Tanpa teman atau keluarga yang tersisa, dia berusaha sebaik mungkin untuk berbaur sebagai manusia, tetapi ketika orang-orang aneh dan kejadian aneh mulai terjadi di sekitarnya, dia segera menyadari bahwa mungkin takdir yang membawanya ke sini.

Akankah dia akhirnya menemukan kebenaran tentang kematian orang tuanya atau hanya akan terjerumus lebih dalam ke dalam kegilaan yang telah menjadi hidup barunya?

Sebuah kawanan baru...

Seorang pasangan... tidak, lebih dari satu pasangan?

Kemampuan yang tidak diketahui?

Segalanya menjadi jauh lebih rumit sekarang.
Pengantin Kilat Sang Miliarder

Pengantin Kilat Sang Miliarder

571 Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
Kenapa Miliarder Teknologi Artemis Rhodes memposting hal seperti itu?!

"Semua orang membicarakan hashtag yang baru saja viral dalam beberapa jam. Gadis ini telah menjadi misteri yang ingin dipecahkan semua orang. Bahkan, kami memiliki foto-foto dari beberapa orang yang telah melihat gadis ini secara langsung."

Layar ponsel kecil, tapi aku melihat beberapa foto diriku muncul di layar. Ini tidak mungkin terjadi!

Kamu tahu serangan panik yang sudah lama kutahan? Nah, sekarang serangan itu kembali dengan balas dendam. Rasanya seperti semua udara tersedot keluar dari tubuhku dan dadaku terasa sesak. Penglihatanku kabur dan aku sadar aku jatuh sebelum semuanya menjadi gelap.

"Tenang, Nona Riley, ini Tuan Rhodes, seorang donatur rumah sakit kami. Wanita ini adalah tunangannya. Saya akan menangani ini." kata dokter itu dan memberi jalan kepada perawat untuk keluar.

Aku melihat perawat itu bergegas pergi sebelum aku fokus pada dokter. Dia pria tua dengan rambut putih dan wajah ramah, tapi dia memberiku perasaan aneh.

Tunggu... dia baru saja bilang tunangan?

"Maaf, apa yang Anda katakan?" tanyaku.

"Saya punya tawaran untuk Anda." kata pria itu.

"Tawaran untuk saya? Apa maksud Anda?"

"Tawaran? Itu artinya-"

Aku melambaikan tangan. "Bukan itu! Saya bukan idiot. Maksud saya, tawaran apa?"

"Saya ingin Anda menikah dengan saya." katanya dengan wajah datar.

Jadi, kamu pasti bertanya-tanya bagaimana seorang wanita yang tinggal di gerbong kereta yang ditinggalkan bisa menikah dengan miliarder teknologi besar.

Sederhana saja. Kami bertemu secara tidak sengaja, saling menatap, dan sisanya adalah sejarah.

Oke, tidak persis seperti itu. Lihat, Artemis Rhodes sedang dalam kesulitan. Dia butuh istri sebelum ulang tahunnya yang berikutnya... enam hari lagi. Jadi apa yang dia lakukan? Dia mencariku seperti penguntit gila dan menawarkan banyak uang untuk menikah dengannya.

Gila, kan?

Tentu saja aku menolak karena aku punya harga diri, tapi ketika duniaku terbalik, aku tidak punya pilihan selain menerima. Berkat dia, aku tidak bisa kembali ke hidupku yang lama, dan sekarang aku terjebak dalam hidupnya.

Aku adalah pemberontakannya terhadap keluarganya dan duri dalam dagingnya... Kata-katanya, bukan kata-kataku...

Kami berasal dari dunia yang berbeda dan itu berarti pada akhirnya dunia-dunia itu akan bertabrakan dan dengan itu bencana siap menghancurkan seluruh rencana. Kamu tahu, hanya hari Selasa biasa.

Jadi apa yang dilakukan dua orang ketika semuanya mulai salah?

Nah, biar aku ceritakan...
Setelah Cinta Pertamaku

Setelah Cinta Pertamaku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · G O A
Cinta pertama.

Mereka datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bisa jadi indah atau menyakitkan, dan segala sesuatu di antaranya.

Sawyer dan aku dulu adalah sahabat, sampai dia mengikuti mimpinya dan meninggalkan kehidupan lamanya. Termasuk aku. Aku berharap hidup tidak akan memisahkan kami, tapi seperti kebanyakan cinta pertama, itu terjadi dan segera dia menjadi orang asing bagiku. Ketika akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya dan memulai hidup baru, dia muncul lagi.

Hidupnya tergantung pada seutas benang dan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan apa yang telah dia perjuangkan dengan keras. Sekarang dia berpikir itu termasuk aku. Dia siap memperbaiki apa yang hilang, tapi aku tidak tertarik memberikan kesempatan kedua. Sayangnya, aku tidak pernah pandai menolaknya, dan bahkan setelah waktu kami terpisah, sepertinya tidak ada yang berubah.

Yah, itu tidak benar. Banyak yang akan berubah. Jauh lebih banyak dari yang bisa kami bayangkan, tapi semuanya dimulai saat pertama kali aku menemukan cinta.

Sekarang, saatnya untuk menemukan segala sesuatu yang datang setelahnya.
Menculik Pengantin yang Salah

Menculik Pengantin yang Salah

632 Dilihat · Sedang Berlangsung · A R Castaneda
"Dia bermain api.
Dan sialnya, aku tidak bisa bilang kalau aku tidak menginginkannya juga.
Di sana dia berdiri, cantik dan seksi sekali dengan baju tidur tipis yang hampir tidak menutupi apa-apa."


"Kamu benar-benar perawan." Dia berbisik dengan kagum.
Aku rasa dia tidak bermaksud mengatakannya dengan keras, lebih berbicara pada dirinya sendiri daripada padaku. Fakta bahwa dia meragukan kata-kataku seharusnya membuatku marah, tapi tidak. Jadi, daripada marah, aku menggigit bibir dan mengerang. "Tolong." Aku memohon padanya.

—————— Gabriela: Aku hanya ingin hidup normal. Tapi itu diambil dariku ketika ayahku menuntut aku menikah dengan pria yang belum pernah aku temui. Takdir sepertinya bermain-main lagi. Pada hari kami seharusnya bertemu, aku malah diculik oleh geng Mafia saingan. Hanya untuk mengetahui bahwa aku adalah pengantin yang salah diculik! Tapi ketika Enzo Giordano muncul, aku tahu aku tidak ingin kembali. Aku diam-diam mencintainya sejak kecil. Jika ini adalah kesempatan untuk membuatnya akhirnya memperhatikanku, maka aku akan melakukannya. Tapi apakah dia juga menginginkanku? Aku tidak begitu yakin.
Raja Para Alfa

Raja Para Alfa

286 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ana Karoline Mendes
Ditolak habis-habisan oleh belahan jiwa yang selama ini kupercaya ditakdirkan untukku, aku lari dari sakit hati dan mencari pegangan di pelukan seorang asing. Ada sesuatu pada dirinya—tatapan yang dalam, wibawa yang menyesakkan dada—yang membuatku tak mampu menolak, seolah tubuhku sudah lebih dulu menyerah sebelum pikiranku sempat bertahan.

Malam itu berubah jadi badai. Hasrat, amarah, dan kesepian bercampur jadi satu, menenggelamkanku sampai aku lupa siapa diri sendiri. Aku mengira aku hanya membiarkan diriku jatuh pada orang yang tak akan pernah kutemui lagi setelah fajar.

Aku salah.

Aku baru paham setelah semuanya terlambat—bahwa lelaki yang kupilih untuk melupakan takdir justru adalah takdir yang lebih besar: Raja Kaum Serigala.

Dan kini, di dalam rahimku tumbuh pewaris takhtanya.

Aku terjepit di antara dua hal yang sama-sama berbahaya: menolak tarikan dirinya yang seperti hipnosis, atau membiarkan ikatan rapuh di antara kami tumbuh hingga cukup kuat untuk menyelamatkan kami berdua. Setiap kali ia mendekat, udara terasa lebih berat. Suaranya seperti perintah yang tak terdengar namun ditaati. Kehadirannya membuatku ingin kabur sekaligus ingin pulang—padahal aku bahkan tak tahu di mana rumahku lagi.

Di luar sana, bayang-bayang bergerak mengincar kami. Ancaman datang dari lorong-lorong gelap, dari bisik-bisik yang berhenti saat aku lewat, dari mata-mata yang terlalu lama menatap. Ada yang tak sudi melihat seorang perempuan tanpa nama, tanpa darah bangsawan, membawa calon raja.

Setiap pertemuan dengannya menguji tekadku.

Ia bukan hanya lelaki. Ia mahkota, hukum, dan kutukan. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang menuntut—bukan sekadar tubuhku, tapi kepercayaanku. Dan setiap kali ia menyebut anak itu, suaranya melembut seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah. Aku ingin percaya kelembutan itu nyata, bukan sekadar cara lain untuk menundukkanku.

Namun bagaimana caranya mencintai seseorang yang hidupnya milik takhta? Bagaimana caranya melindungi sebuah ikatan ketika dunia terus menajamkan pisau?

Aku tahu, aku harus memilih: menyerah pada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara kami, atau bertahan pada akal sehat yang terus berteriak agar aku lari sebelum mahkota itu menghancurkan semuanya.

Karena di dunia serigala, cinta sering kalah oleh kewajiban.

Dan aku takut—bukan pada gelap, bukan pada kematian—melainkan pada kemungkinan bahwa aku akan jatuh terlalu dalam, lalu ditinggalkan lagi. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena beratnya mahkota di kepalanya tak pernah mengizinkan siapa pun untuk benar-benar bahagia.
1