Sang CEO Di Atas Mejaku
Sedang Berlangsung · McKenzie Shinabery
“Kamu pikir dia butuh kamu,” katanya.
“Aku tahu dia butuh.”
“Terus kalau dia nggak mau dilindungi kayak gini?”
“Dia bakal mau,” jawabku, suaraku turun sedikit. “Karena dia butuh laki-laki yang bisa ngasih dia dunia.”
“Kalau dunianya kebakar?”
Tanganku mengencang samar di pinggang Violeta.
“Kalau gitu aku bangunin dunia baru buat dia,” balasku. “Sekalipun aku harus ngebakar yang lama dengan tangan aku sendiri.”
Aku bukan kerja untuk Raka Ashcroft.
Aku kerja di bawah dia.
Dari meja kerjaku, aku yang nentuin siapa yang boleh ketemu CEO paling kejam di kota ini, dan siapa yang bahkan nggak bakal lewat dari lobi. Aku ngatur waktunya, diamnya, musuh-musuhnya. Aku bikin dunianya tetap jalan, sementara duniaku sendiri pelan-pelan ambruk di bawah tagihan yang nunggak, seorang ibu yang dikunci di panti rehabilitasi, dan seorang adik laki-laki yang lenyap tanpa pamit.
Raka Ashcroft itu kekuasaan yang dibungkus jas potongan rapi.
Dingin. Nggak tersentuh. Tanpa ampun.
Dia nggak ngerayu. Dia nggak senyum. Dia nggak lihat orang, cuma lihat guna.
Dan lama sekali, aku cuma—berguna.
Sampai dia mulai memperhatikan.
Perubahan fokusnya halus di awal. Diam yang kelamaan. Tatapan yang nggak segera pergi. Perintah-perintah yang narik aku lebih dekat, bukan ngejauh. Lelaki yang berdiri menjulang di atas mejaku mulai ngatur lebih dari sekadar jadwalku, dan aku sadar terlambat: diperhatikan Raka Ashcroft jauh lebih berbahaya daripada diabaikan.
Karena laki-laki seperti dia nggak ngidam kasih sayang.
Mereka ngidam punya.
Ini seharusnya cuma pekerjaan.
Bukan ujian batas-batasku.
Bukan jatuh pelan-pelan, sengaja, ke dalam kuasanya.
Tapi kalau Raka Ashcroft memutuskan tempatku ada di bawah mejanya, ya sudah.
Bertahan hidup itu ada harganya, dan tagihan-tagihan itu nggak peduli aku bayarnya pakai cara apa.
“Aku tahu dia butuh.”
“Terus kalau dia nggak mau dilindungi kayak gini?”
“Dia bakal mau,” jawabku, suaraku turun sedikit. “Karena dia butuh laki-laki yang bisa ngasih dia dunia.”
“Kalau dunianya kebakar?”
Tanganku mengencang samar di pinggang Violeta.
“Kalau gitu aku bangunin dunia baru buat dia,” balasku. “Sekalipun aku harus ngebakar yang lama dengan tangan aku sendiri.”
Aku bukan kerja untuk Raka Ashcroft.
Aku kerja di bawah dia.
Dari meja kerjaku, aku yang nentuin siapa yang boleh ketemu CEO paling kejam di kota ini, dan siapa yang bahkan nggak bakal lewat dari lobi. Aku ngatur waktunya, diamnya, musuh-musuhnya. Aku bikin dunianya tetap jalan, sementara duniaku sendiri pelan-pelan ambruk di bawah tagihan yang nunggak, seorang ibu yang dikunci di panti rehabilitasi, dan seorang adik laki-laki yang lenyap tanpa pamit.
Raka Ashcroft itu kekuasaan yang dibungkus jas potongan rapi.
Dingin. Nggak tersentuh. Tanpa ampun.
Dia nggak ngerayu. Dia nggak senyum. Dia nggak lihat orang, cuma lihat guna.
Dan lama sekali, aku cuma—berguna.
Sampai dia mulai memperhatikan.
Perubahan fokusnya halus di awal. Diam yang kelamaan. Tatapan yang nggak segera pergi. Perintah-perintah yang narik aku lebih dekat, bukan ngejauh. Lelaki yang berdiri menjulang di atas mejaku mulai ngatur lebih dari sekadar jadwalku, dan aku sadar terlambat: diperhatikan Raka Ashcroft jauh lebih berbahaya daripada diabaikan.
Karena laki-laki seperti dia nggak ngidam kasih sayang.
Mereka ngidam punya.
Ini seharusnya cuma pekerjaan.
Bukan ujian batas-batasku.
Bukan jatuh pelan-pelan, sengaja, ke dalam kuasanya.
Tapi kalau Raka Ashcroft memutuskan tempatku ada di bawah mejanya, ya sudah.
Bertahan hidup itu ada harganya, dan tagihan-tagihan itu nggak peduli aku bayarnya pakai cara apa.





























