Antara Cahaya dan Bayangan
Sudut Pandang Maggie
Aku menyuapkan sendok terakhir bubur buah ke mulut Jamie, dan dia tersenyum—senyum tanpa gigi yang selalu bikin hariku terang.
“Udah, jagoan, cukup ya buat sekarang,” kataku, terkekeh saat dia manyun lalu menggedor-gedor baki kursi makannya, minta lagi. “Hei, Nak, makannya pelan-pelan,” tambahku ketika dia mengerutkan kening seolah benar-benar tersinggung.
Ekspresi itu... mustahil nggak sadar betapa miripnya dia dengan Dominic. Aku nggak tahu banyak soal ayah Jamie. Cuma tahu dia lenyap secepat dia datang. Tapi cara mengernyit saat lagi fokus—atau marah—aku hafal luar kepala. Dulu ayahnya juga begitu. Suatu hari nanti, kalau Jamie sudah besar, akan kuceritakan.
“Kamu mirip dia... maaf ya, Sayang,” gumamku, mengusap pelan sela alisnya dengan ujung jari. Dia mengoceh sesuatu yang terdengar seperti, “mama,” dan aku tersenyum tanpa sadar. Anakku sudah coba ngomong, meski semua masih terdengar berantakan. Aku melepas celemek makannya lalu menggendongnya.
“Ayo, ayo. Udah cukup makannya. Sekarang waktunya berangkat, ya?”
Jawabannya adalah tangan kecil yang kembali menghajar baki kursi makan. Nggak puas. Buat mengalihkan, aku menirukan suara mobil dengan lebay.
“Brrum.”
Jamie tertawa—dan sebentar kemudian ikut meniruku. Aku tertawa bareng dia. Kadang, itu saja sudah cukup.
Aku mengelap mulut dan tangannya dengan kain lembap, lalu kami keluar dari dapur kecil. Di kamar, aku mengambil tasku dan tas Jamie, menyampirkannya di bahu seperti mau berangkat operasi. Aku melirik jam.
“Astaga, kita udah telat.”
Perutku keroncongan saat melewati ruang tamu. Nggak sempat sarapan, jadi aku meraih sepisang dari dapur. Ya sudahlah. Aku menyelipkan buah itu ke dalam tas dan keluar rumah. Di lift, papan kuning itu seperti menertawakanku: Rusak.
“Fu... ya ampun. Pas banget hari ini,” aku nyaris memaki.
Nyaris, karena kutahan. Aku nggak suka ngomong kasar—dan Jamie juga nggak perlu tumbuh dengan itu di telinganya, meski dia masih belajar bicara. Kita nggak pernah bisa terlalu hati-hati. Aku buru-buru turun lewat tangga, Jamie kupeluk erat. Setiap anak tangga jadi ujian kecil: tas berat di satu bahu, tas bawaannya di bahu lain, dan boneka jerapah yang hampir melorot dari genggaman.
Kenapa bayi selalu datang lengkap dengan seribu barang, sih? pikirku, geli sendiri sambil berusaha nggak kepeleset.
Kami hampir berlari melewati lobi gedung. Di parkiran, aku memasukkan Jamie ke car seat dengan gerakan otomatis orang yang sudah melakukannya ribuan kali, mengamankan tas-tas, lalu menjatuhkan diri di kursi depan. Semua sudah siap—tinggal nyalakan mobil.
Kunci kuputar, mesin tersendat... lalu mati. Aku menarik napas panjang dan mencoba lagi—tetap nggak mau.
“Serius?” Aku memukul setir. “Tolong, tolong, tolong,” gumamku. “Nanti aku isi bensin, sumpah. Tapi hari ini bantuin aku dulu.”
Aku coba lagi. Mesin hampir menyala... lalu mati lagi. Kesal itu menekan dadaku, aku menyandarkan dahi ke setir, mata terasa panas, ketika kudengar suara Jamie dari belakang.
“Mama... brrum brrum.”
Aku mengangkat kepala. Dia menatapku dengan mata kecilnya yang waspada—lalu tersenyum. Dadaku langsung meleleh. Kok bisa, makhluk sekecil itu menahan aku tetap berdiri?
“Oke, Sayang.” Aku menarik napas dalam. “Ayo. Mama bakal bikin mobil ini jalan.”
Sebentar aku menimbang: buang waktu di sini dan mempertaruhkan shift-ku... atau keluar uang banyak buat naik taksi keliling Las Vegas—pulang, daycare, kerja. Aku kembali ke setir, mantap. Tuhan nggak mungkin setega itu sama ibu tunggal yang kerja dua tempat.
Aku memutar kunci pelan-pelan...
Dan, seperti mukjizat, mesin akhirnya menyala. Aku memekik kecil lega. Jamie bertepuk tangan, meniruku, semringah.
“Kalian lihat? Bisa, kan!” aku tertawa, merasakan sesak di dada akhirnya mengendur.
Aku segera keluar dari area parkir, menyetir menembus jalanan Vegas dengan jantung berdegup kencang, tapi juga lega karena akhirnya bergerak. Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi, dan aku sudah merasa seperti menjalani satu hari penuh, padahal masih banyak yang harus kulalui. Dua jam kemudian, aku sudah kembali di balik konter snack bar dengan ritme yang bikin kepala pusing, tubuh terasa aneh dan lemas—efek yang bisa ditebak dari berjam-jam tanpa makan beneran dan kerja tanpa henti.
“Kamu nggak apa-apa, Maggie? Kamu pucat,” suara Jenn menarikku kembali saat aku menyeimbangkan nampan berisi piring-piring kosong.
Jam makan siang selalu kacau. Dari jam sepuluh sampai jam tiga, kami nyaris nggak sempat tarik napas. Sejak aku datang, aku belum berhenti sama sekali, dan dengan cuma pisang di perut, aku bahkan nggak ngerti gimana aku masih bisa berdiri.
“Kayaknya aku mau pingsan, tapi siapa yang punya waktu buat itu?” candaku, meletakkan nampan di jendela dapur.
Jenn nggak ketawa. Dia menatapku dengan khawatir sambil mengangkat dua nampan sekaligus.
“Kalau kamu pingsan, kamu bakal berhenti juga, mau nggak mau. Minta Clyde bikinin kamu sesuatu buat dimakan. Aku yang pegang meja-meja dua puluh menit. Nggak bakal kiamat.”
Aku menghela napas, terlalu capek buat debat.
“Makasih,” gumamku, melepas celemek dan melangkah ke dapur.
Clyde melihatku begitu aku masuk. Dia lagi bikin roti lapis, tapi langsung menjatuhkan apa yang dipegangnya dan menghampiriku.
“Kamu kelihatan kayak mau ambruk kapan aja,” katanya, serius dan cemas.
Aku mendengus pelan.
“Makasih, ya.”
Dia meraih rambutku yang diikat asal jadi, menyelipkan satu helai yang lepas ke belakang telingaku.
“Kamu harus pelan-pelan, Maggie. Kamu cantik seperti biasa... tapi capek banget.”
Aku mundur selangkah. Aku tahu perasaan Clyde, dan aku nggak mau ngasih harapan, bukan karena dia orang jahat—dia luar biasa—tapi karena aku memang nggak punya ruang untuk itu. Ayahnya Jamie saja sudah lebih dari cukup buatku. Sesuatu yang santai, tanpa beban, yang berakhir jadi kehamilan dan tanggung jawab membesarkan anak sendirian. Dan sesayang apa pun aku sama Jamie, melakukan itu dengan gaji pramusaji dan tukang ajak jalan anjing itu sama sekali nggak mudah. Clyde langsung paham. Dia ikut mundur, sopan, dengan senyum yang mengerti.
“Aku bikinin kamu sesuatu dulu sebelum kamu balik ke meja. Nggak lama.”
“Makasih,” kataku lagi, kali ini lebih tulus, sambil duduk di bangku tinggi dekat konter.
Di sekelilingku, kekacauan terus berlanjut—panci beradu, pesanan diteriakkan—tapi pikiranku mulai melayang. Hampir dua tahun lalu, akulah yang berdiri di posisi Clyde sekarang, menyiapkan roti lapis untuk dua orang, dan tempat aku duduk saat itu ditempati Dominic—pria misterius dengan tatapan paling tajam yang pernah kulihat. Dia memandangku seolah-olah aku hal paling menarik di dunia, diam, dengan aura yang bikin keseimbanganku goyah. Waktu itu, aku yakin Dominic cuma pengalih perhatian sementara, sesuatu yang bakal lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas.
Aku ingat jelas: itu malam ketiga berturut-turut Dominic muncul di diner, selalu menempati meja yang sama, dekat jendela, tempat lampu neon Las Vegas menembus gorden yang sudah kusam dan menebarkan pantulan warna-warni di lantai keramik tua. Aku tahu dia bakal ada di sana—hampir seperti dia sudah jadi bagian dari rutinitasku. Tiga malam berturut-turut, dan aku tetap nggak paham dia sebenarnya ngapain.
Saat jam menunjukkan pukul sebelas dan diner mulai sepi, dia tidak pergi. Dia bertahan sampai pelanggan terakhir keluar dan ikut membantu beres-beres—padahal aku nggak pernah membayangkan dia pernah melakukan hal seperti itu seumur hidupnya. Jadi, karena nggak mau terlihat nggak tahu berterima kasih, aku menawarinya roti lapis, dan dia menerimanya. Kami sama-sama masuk ke dapur; dia duduk di meja sementara aku menyiapkan roti lapis untuk kami.
“Wah, wangi banget,” komentarnya.
Aku terkekeh pendek sambil menggeleng.
“Dengar, aku nggak sejago Clyde. Dia rajanya bikin roti isi, aku cuma pelayan yang lagi gantiin… Tapi harusnya masih bisa dimakan.”
“Apa pun yang kamu bikin, aku mau,” jawabnya.
Senyumnya melebar—tulus, hampir seperti sengaja menggoda—dan matanya… ya ampun, matanya. Ada kilau yang bikin pipiku panas. Aku bawa piring ke meja dan menaruh roti isi itu di depannya. Dominic menatapku terlalu serius sampai aku ingin memalingkan muka—tapi, di saat yang sama, tatapannya narik aku seperti magnet.
“Aku bener-bener nggak paham,” aku mulai, menyilangkan tangan, berusaha kelihatan cuek meski jantungku lari kencang. “Kamu ada di sini, makan roti isi murah dan bantu beres-beres warung… padahal kamu bisa ada di mana aja.” Nadaku kubikin ringan, mencoba memecah canggung yang menggantung. “Bukannya kamu bilang kamu datang ke Las Vegas buat pamitan sama hidup tanpa tanggung jawab? Soalnya, jujur aja, kamu salah total cara ngejalaninnya.”
Dia mengangkat bahu. Senyumnya masih ada, sekarang lebih lembut.
“Aku nggak pengin ada di tempat lain.”
Seharusnya aku ketawa, nyeletuk sesuatu, tapi aku nggak bisa. Ada sesuatu dari cara dia bilang itu yang menampar halus. Bukan cuma kata-katanya—cara dia memandangku, seolah-olah cuma aku satu-satunya hal di tempat itu yang benar-benar penting. Aku menarik napas panjang lalu balik ke area dapur, menyelesaikan roti isiku sendiri. Saat kembali, aku duduk di seberangnya, menaruh piring di atas meja.
“Kamu nggak bakal nyerah, ya?” tanyaku sambil menggeleng. Cowok lain pasti udah mundur sejak ditolak pertama kali, tapi bukan Dominic.
Dia tersenyum penuh percaya diri.
“Kamu belum kenal aku baik-baik. Salah satu sifatku yang paling menonjol itu pantang mundur.” Dia sedikit mencondongkan badan, tanpa memutus kontak mata. Jantungku makin kencang. “Dan kalau aku mau sesuatu, Maggie… aku kejar… Dan aku pengin kamu sejak detik pertama aku lihat kamu.”
Pipiku panas.
Hangatnya merambat di seluruh tubuh seperti api, dan aku buru-buru menoleh, memainkan roti isiku, berusaha menyembunyikan betapa kalimat itu mengguncangku. Dominic bisa aja ada di mana pun di kota itu. Minum, joget, ketawa bareng perempuan lain. Itu alasan dia ada di Las Vegas—pamitan buat hidup tanpa ikatan, tanpa tanggung jawab. Tapi dia malah ada di sini, ngabisin malamnya di warung murah, ngelap meja bareng aku, cuma demi kesempatan buat dekat.
Sampai kapan aku bisa menahan diri dari orang seperti dia?
Dia ngomong ke aku dengan cara yang belum pernah orang lakukan sebelumnya. Bukan pujian kosong; rasanya seperti dia benar-benar melihat aku—lebih dari sekadar pelayan yang kelelahan.
“Kenapa sih kamu ngelakuin ini?” tanyaku, hampir tanpa sadar. “Kenapa kamu balik lagi?”
Dia menatapku sejenak, dengan kilau di matanya yang mulai kukenal.
“Karena ini sepadan.”
Aku tertawa gugup dan kembali fokus ke rotiku.
Mungkin… mungkin saja… aku mau cari tahu sejauh apa kegigihannya bakal berjalan.
“Nih.”
Suara Clyde menarikku balik ke kenyataan. Dia menaruh roti isi sederhana di depanku.
“Makan dulu, terus istirahat bentar, ya?” Aku mengangguk dan menggigit sedikit. Enak—dan aku memang lapar.
“Makasih, Clyde. Serius.”
Dia tersenyum lalu kembali kerja. Sambil makan, aku nggak bisa menahan senyum saat ingat malam itu bersama Dominic di dapur yang sama. Awal dari satu minggu yang luar biasa, momen ketika hatiku nyasar ke tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Dominic benar… ini sepadan, dan aku dapat buktinya setiap hari saat melihat senyum Jamie di pagi hari.
Setelah delapan jam berdiri di warung makan, lanjut empat jam lagi keliling ngajak anjing-anjing jalan, aku benar-benar habis. Kaki rasanya seberat timah, tiap otot minta ampun, tapi begitu lihat Jamie tertidur di jok belakang, diayun pelan oleh gerak mobil di jalan, aku akhirnya bisa menarik napas.
Akhir hari—seberat apa pun capeknya—selalu jadi waktu favoritku, karena saat itu Jamie ada bersamaku. Saat malam sunyi dan tenang, dan dia begitu dekat, beban tanggung jawabku seperti lenyap begitu saja.
Aku melirik lewat spion tengah, melihat wajah kecilnya yang damai, pipinya merona karena tidur. Anakku… cuma dia yang bikin aku terus jalan. Pagi hari, sebelum berangkat kerja, aku sudah tahu aku bakal jauh darinya berjam-jam, jadi aku nikmati tiap detik yang kami punya. Aku bikin sarapan seolah itu acara paling penting sedunia, ketawa mendengar kata-kata baru dan bunyi-bunyi aneh yang dia ciptakan, meski aku ngebut melawan waktu, karena begitu aku melangkah keluar pintu, aku langsung kangen. Malamnya, saat akhirnya aku bisa memeluknya lagi, rasa rindu itu menyesakkan. Lelah seberat apa pun diganti oleh cinta yang meledak di dadaku.
Kadang dia sudah keburu tidur—seperti sekarang—dan aku cukup bahagia cuma menatapnya. Kadang dia masih melek, dan aku bakal memeluknya berkali-kali, sepuasnya, menikmati momen itu.
Begitu aku parkir di depan rumah susun, aku menghela napas panjang—lega bercampur letih. Aku turun dari mobil dengan Jamie di satu lengan dan beberapa kantong belanjaan di lengan lain. Angin malam yang dingin menampar wajahku saat aku menutup pintu, lalu membetulkan selimut yang menutupi tubuh kecilnya. Area parkir sepi, lampu jalan yang pucat nyaris tak mampu mengusir rasa terasing. Dengan bayi menempel di dadaku, aku melangkah menuju pintu masuk gedung, berusaha merogoh kunci di saku jaket.
Lalu aku mendengar langkah kaki—lebih dari satu.
Di belakangku.
Tubuhku kaku, dan sebelum sempat bereaksi, sesuatu yang dingin dan tajam menekan punggung bawahku.
“Jangan kepikiran buat teriak,” bisik sebuah suara rendah dengan logat Italia yang kental.
Aku membeku.
Jamie bergerak kecil di pelukanku. Naluri keibuanku menjerit, dan aku memeluknya lebih erat.
“Tolong…” suaraku keluar gemetar. “Kalian mau apa?”
Mereka muncul di depanku. Lima pria bersetelan rapi, tanpa penutup wajah. Wajah mereka sama—dingin, terukur. Mereka tidak terlihat tergesa, juga tidak ragu. Mereka tahu persis apa yang mereka lakukan. Panik menghantamku, dan sebelum aku sempat menghindar, tangan-tangan kuat merenggut Jamie dari pelukanku.
“Tidak!” aku menjerit, mencoba menariknya kembali. “Tolong! Jangan ambil bayiku! Dia masih bayi! Tolong!”
Penglihatanku kabur oleh air mata. Aku memberontak, tapi kakiku seperti bukan milikku; tanganku gemetar, putus asa menelan semuanya. Salah satu dari mereka menggendong Jamie dengan kelembutan yang tidak masuk akal—nyaris kejam—seolah dia memegang sesuatu yang terlalu berharga untuk diperlakukan kasar. Yang lain mendorongku menjauh dengan tenang—tegas, tanpa emosi.
“Yakin kita nggak sekalian ambil perempuannya?” salah satu bertanya santai. “Atau minimal bikin dia pingsan?”
Jantungku serasa berhenti. Si pemimpin berpikir sesaat sebelum menjawab, dengan dingin yang sama.
“Tidak perlu. Dia nggak ada harganya buat kita. Cuma bayinya.” Kata-kata itu merobek sesuatu di dalam dadaku.
Saat mereka mulai berjalan pergi membawa anakku, lututku lemas, dan aku jatuh berlutut di lantai dingin.
“Tolong…” aku memohon, tersedu-sedu. “Apa pun lakuin ke aku, tapi jangan bawa dia. Tolong!”
Mereka bahkan tidak menoleh. Mereka masuk ke sebuah mobil hitam yang terparkir beberapa meter dari situ. Mesin meraung sebelum aku sempat bangkit. Aku merangkak di lantai, telapak tanganku tergores, berteriak dengan tenaga yang bahkan aku sendiri tak tahu aku punya, tapi mobil itu sudah lenyap ditelan malam.
Membawa pergi sisa hidupku bersamanya.
