Wajah Ganda Sang Menantu

Unduh <Wajah Ganda Sang Menantu> gratis!

UNDUH

Bab [3] Memutus Bisnis Keluarga Rahman

Mendengar ini, seulas senyum dingin tersungging di bibir Rian Pratama.

Dia pikir sehebat apa Samuel Rahman itu, ternyata bahkan untuk bertemu dengan asisten Direktur Utama saja tidak bisa.

Tapi mulai sekarang, jangankan bertemu, menginjakkan kaki di Grup Bangsa Perkasa pun dia tidak akan punya hak lagi!

Memikirkan hal ini, Rian Pratama berkata dengan nada dingin.

"Mulai hari ini, Grup Bangsa Perkasa memutuskan semua kerja sama bisnis dengan keluarga Rahman. Kalau sampai aku tahu keluarga Rahman masih punya hubungan kerja dengan grup, kamu tidak perlu lagi jadi asisten!"

Mendengar perintah itu, raut wajah Cindy Setiawan langsung berubah serius.

Tanpa perlu bertanya, dia sudah paham kalau keluarga Rahman pasti telah menyinggung Tuan Muda.

Sambil mengangguk, dia berkata, "Tuan Muda tidak perlu khawatir. Saya akan segera menghentikan semua kerja sama dengan mereka dan akan mengumumkan masalah ini ke publik!"

Mendengar jawaban itu, Rian Pratama menatapnya dengan sedikit kekaguman.

Wanita ini tahu keluarga Rahman telah menyinggungnya, jadi dia sengaja mengatakan hal itu. Tujuannya jelas, agar keluarga Rahman tidak punya kesempatan lagi untuk bangkit di Bandung!

Pantas saja di usianya yang masih muda sudah bisa mencapai posisi ini. Otaknya memang encer!

Rian Pratama pun mengangguk setuju.

"Oh ya, nanti waktu mengusir mereka, jangan lupa pakai sapu! Sampah, kan, memang harus disapu bersih!"

...

Sementara itu, di ruang tamu, Samuel Rahman dan Linda Trisna sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka masih menunggu dengan penuh harap, membayangkan Cindy Setiawan akan segera keluar dan menawarkan kerja sama yang lebih besar.

Namun, yang datang bukanlah Cindy Setiawan, melainkan asistennya bersama segerombolan petugas kebersihan yang berjalan dengan aura mengintimidasi.

Samuel Rahman yang bingung memberanikan diri untuk bertanya.

"Permisi, kira-kira kapan Asisten Setiawan ada waktu untuk bertemu kami?"

Mendengar pertanyaan itu, asisten junior tersebut mendengus dingin.

"Saya baru saja menerima perintah dari Asisten Setiawan. Katanya, Grup Bangsa Perkasa tidak pernah bekerja sama dengan sampah! Mulai sekarang, semua kerja sama bisnis kita dibatalkan!"

Sontak, Samuel Rahman langsung berdiri, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya.

Saat dia masih mencoba mencerna apa yang terjadi, asisten junior itu memberi isyarat dengan tangannya.

Para petugas kebersihan di belakangnya langsung maju sambil mengacungkan sapu ke arah mereka.

"Ingat, bersihkan sampah ini sampai tuntas! Pastikan mereka benar-benar keluar dari gedung perusahaan!" perintah asisten junior itu, menatap Samuel Rahman dengan jijik.

Namun, bagi Samuel Rahman, kalimat itu terdengar sangat tidak asing. Rasanya baru beberapa saat yang lalu dia mengatakan bahwa Rian Pratama akan disapu keluar dari Grup Bangsa Perkasa seperti sampah.

Siapa sangka, pada akhirnya dialah yang diperlakukan seperti sampah dan diusir!

Bukan hanya itu, semua kerja sama bisnis mereka juga diputus.

Keluarga Rahman bisa sebesar sekarang terutama karena bergantung pada bisnis dari Grup Bangsa Perkasa. Jika mereka kehilangan dukungan ini, mereka akan seperti pohon yang kehilangan akarnya.

Cepat atau lambat, keluarga Rahman pasti akan hancur.

Tiba-tiba, dia berteriak histeris.

"Kamu pasti bohong! Aku mau bertemu Bu Setiawan!"

Mendengar itu, ekspresi jijik di wajah asisten junior itu semakin jelas.

"Memangnya kamu pantas? Dengar baik-baik, saya secara resmi memberitahumu, mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Grup Bangsa Perkasa!"

Kepala Samuel Rahman terasa pusing. Tanpa peduli lagi dengan citranya, dia memaki dengan marah.

"Pasti kamu mengada-ada! Keluarga kami tidak pernah membuat kesalahan apa pun dengan Grup Bangsa Perkasa. Atas dasar apa kalian tiba-tiba membatalkan semua kerja sama?"

Asisten junior itu sudah malas meladeninya. Dia menoleh ke para petugas kebersihan.

"Cuma membersihkan sampah begini saja tidak becus? Apa kalian semua mau dipecat?"

Mendengar ancaman itu, beberapa petugas kebersihan wanita langsung mengayunkan sapu mereka ke tubuh Samuel Rahman dan Linda Trisna.

Melihat Samuel Rahman yang enggan beranjak, salah seorang petugas berkata, "Dasar sampah keras kepala! Disapu saja tidak mau pergi. Tunggu, biar saya ambilkan seember air!"

Petugas itu pun bergegas pergi untuk mengambil air.

Awalnya Samuel Rahman masih berkeras tidak mau pergi, tapi saat melihat petugas itu kembali dengan seember penuh air dan langsung menyiramkannya ke arahnya, dia refleks menghindar.

Meski begitu, separuh tubuhnya tetap basah kuyup.

Setelan jas buatan tangan yang tadinya terlihat pas dan mahal kini menempel lepek di tubuhnya, membuatnya tampak sangat menyedihkan. Kesombongan yang tadi dia tunjukkan lenyap tak berbekas.

Penderitaannya tidak berhenti di situ.

Saat dia dengan lunglai diusir hingga ke lobi bawah Grup Bangsa Perkasa, ponselnya tiba-tiba bergetar.

Samuel Rahman merogoh ponselnya yang basah dari saku. Meskipun tahan air, layarnya menjadi kurang responsif. Setelah bersusah payah menjawab panggilan, terdengar suara bentakan dari seberang.

"Dasar anak tidak berguna! Biasanya Ayah tidak pernah ikut campur urusanmu di luar, tapi kali ini kamu benar-benar membuat masalah besar!"

Samuel Rahman merasa sangat dirugikan.

"Ayah, kali ini aku tidak melakukan apa-apa! Aku hanya membawa seseorang untuk bertemu Bu Setiawan, tapi aku bahkan tidak berhasil menemuinya..."

Belum selesai dia bicara, suara di telepon kembali menyela dengan kasar.

"Grup Bangsa Perkasa bilang mereka tidak mau bekerja sama dengan keluarga Rahman karena moral kita busuk, sama seperti sampah di pinggir jalan! Mereka juga sudah menyebarkan berita ini. Sekarang bukan hanya Grup Bangsa Perkasa, perusahaan lain juga mau memutuskan kontrak dengan kita! Cepat pulang sekarang juga!"

Telepon langsung ditutup.

Samuel Rahman terpaku.

Dia mencoba mengingat kembali kalimat familiar yang didengarnya tadi. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada satu orang.

"Linda Trisna, apa kakak iparmu itu kenal dengan orang dari Grup Bangsa Perkasa?"

Linda Trisna, yang penampilannya juga sama kacaunya, langsung menyangkal.

"Kakak iparku yang tidak berguna itu? Selama ini dia hidup dari uang kakakku. Mana mungkin dia kenal orang dari Grup Bangsa Perkasa!"

Linda melanjutkan, "Coba kamu pikir, kalau memang dia kenal orang penting di sana, apa mungkin dia rela ditindas oleh keluarga Trisna selama ini?"

Masuk akal juga!

Samuel Rahman mengangguk. Teringat bentakan ayahnya di telepon tadi, raut wajahnya menjadi muram.

"Ayah menyuruhku pulang. Aku pergi dulu!"

Tanpa menunggu lebih lama, dia bergegas meninggalkan Grup Bangsa Perkasa.

Tidak sampai satu jam, berita pemutusan kerja sama Grup Bangsa Perkasa dengan keluarga Rahman menyebar luas.

Tidak ada yang tahu persis apa penyebabnya. Tapi semua orang tahu, keluarga mana pun yang sudah dibuang oleh Grup Bangsa Perkasa, hampir tidak mungkin bisa bangkit kembali.

Banyak perusahaan yang langsung memilih membayar denda penalti demi memutuskan kontrak dengan keluarga Rahman.

Keluarga Rahman yang tadinya begitu berjaya, dalam waktu kurang dari sehari, berubah menjadi sampah yang dipandang rendah oleh semua orang.

Sementara itu, Rian Pratama yang sudah mengetahui apa yang terjadi di lantai bawah, tersenyum puas.

"Aku sudah sering dengar kinerjamu sangat bisa diandalkan. Sekarang kulihat sendiri, memang benar begitu," katanya pada Cindy Setiawan yang berdiri di hadapannya.

Cindy Setiawan segera berdiri tegak dan membungkuk hormat pada Rian Pratama.

"Bisa melayani Tuan Muda adalah kehormatan bagi Cindy. Asalkan Tuan Muda tidak merasa Cindy merepotkan, itu sudah cukup!"

Di hadapan Rian Pratama, Cindy Setiawan menempatkan dirinya dengan sangat rendah hati.

Rian Pratama mengangguk.

"Selama kamu bekerja dengan baik, aku bisa menaikkan gajimu dua kali lipat!"

Meskipun Rian Pratama belum pernah mengelola perusahaan, dia tahu bahwa dengan imbalan yang cukup, karyawan akan memiliki motivasi yang cukup pula.

Mendengar itu, senyum Cindy Setiawan menjadi semakin tulus.

Sementara itu, Rian Pratama menatap tumpukan kontrak di hadapannya.

Dia teringat perkataan istrinya semalam.

Alasan Nyonya Besar Trisna menjodohkan Linda Trisna dengan Samuel Rahman salah satunya adalah untuk menjalin kerja sama dengan Grup Bangsa Perkasa melalui keluarga Rahman.

Sekarang setelah keluarga Rahman tidak punya hubungan lagi dengan Grup Bangsa Perkasa, Nyonya Besar Trisna mungkin akan mencari cara untuk membatalkan pertunangan itu.

Namun, menurut pemahaman Rian Pratama tentang Nyonya Besar Trisna, dia tidak akan bertindak gegabah untuk saat ini.

Tapi satu hal yang pasti, keinginan keluarga Trisna untuk bekerja sama dengan Grup Bangsa Perkasa tidak akan pernah berubah.

Rian teringat kembali bagaimana selama bertahun-tahun ini, setiap kali dia dihina di keluarga Trisna, istrinya, Lia Trisna, selalu maju untuk membelanya.

Hati Rian Pratama menjadi mantap. Kali ini, setelah mengambil alih Grup Bangsa Perkasa, dia harus membantu istrinya!

Dengan pikiran itu, tatapan Rian Pratama jatuh pada dokumen di depannya.

"Dokumen-dokumen ini, untuk sementara tidak perlu aku pelajari!"

Mendengar itu, Cindy Setiawan tampak sedikit bingung.

Ini semua adalah proyek-proyek terbaru Grup Bangsa Perkasa. Bisa dibilang, dokumen ini akan menentukan keuntungan perusahaan untuk enam bulan, bahkan satu tahun ke depan.

Mengapa Direktur Utama yang baru ini berkata begitu?

Di tengah kebingungan Cindy Setiawan, Rian Pratama angkat bicara dengan tenang.

"Karena Grup Bangsa Perkasa sudah ganti pemilik, peraturan yang lama juga harus diubah!"

Sambil menatap Cindy Setiawan dengan serius, dia melanjutkan, "Setahuku, proyek-proyek perusahaan selama ini disubkontrakkan ke pihak luar. Banyak dari kontraktor ini sudah bekerja sama dengan kita cukup lama. Sulit untuk menjamin tidak ada 'tikus' di antara mereka!"

Ekspresi Cindy Setiawan terlihat agak ragu.

"Tuan Muda, bagaimana Anda bisa tahu tentang adanya 'tikus'?"

Bagaimanapun, ini adalah era Direktur Utama sebelumnya, dan dia merasa manajemennya seharusnya tidak ada celah.

Rian Pratama tersenyum tipis.

"Ini sama seperti supermarket. Harga yang dipajang di rak pasti bukan harga beli dari pemasok. Supermarket dapat untung, tapi orang yang melakukan pembelian juga bisa dapat untung. Perlahan-lahan, harganya akan terus naik, dan pada akhirnya yang menanggung bebannya adalah kita, Grup Bangsa Perkasa."

Fenomena seperti ini bisa dia sadari karena Rian Pratama pernah berada di lapisan masyarakat paling bawah. Itulah mengapa dia bisa melihat masalah semacam ini.

"Maksud Tuan Muda, ada orang yang mengambil komisi di tengah-tengah?"

Masalah ini pada dasarnya ada di setiap perusahaan. Jika tidak terlalu parah, biasanya tidak akan diusut.

"Ada atau tidak, sekarang karena Grup Bangsa Perkasa sudah punya pemilik baru, semua mitra kerja sama di bawah harus diganti!"

Sambil berkata demikian, Rian Pratama menutup semua kontrak di tangannya.

"Mulai sekarang, perusahaan yang menawarkan harga murah dengan kualitas barang yang bagus adalah mitra yang harus kita pilih!"

Mendengar itu, raut pencerahan muncul di wajah Cindy Setiawan.

"Saya akan segera mengaturnya!"

Tak lama kemudian, berita bahwa Grup Bangsa Perkasa telah berganti pemilik menyebar ke mana-mana.

Sebuah grup perusahaan sekuat itu bisa berganti pemilik begitu saja, ini hanya bisa berarti satu hal: pemilik baru ini memiliki kekuatan yang luar biasa, mampu membeli Grup Bangsa Perkasa di puncak kejayaannya.

Karena itu, semua orang sangat penasaran dengan sosok pemilik baru ini.

Namun, setelah mencari tahu ke sana kemari, mereka hanya berhasil mengetahui bahwa nama pemilik baru ini mengandung kata 'Rian'. Informasi lainnya sangat misterius.

Di saat semua orang sedang menebak-nebak identitas pemilik baru ini, sebuah berita heboh lainnya dirilis.

"Hanya karena ganti pemilik, semua mitra kerja sama mau diganti?"

Ketika keluarga Trisna mendengar berita ini, mereka akhirnya mengerti mengapa keluarga Rahman tiba-tiba kehilangan kerja sama dengan Grup Bangsa Perkasa.

Karena orang-orang yang sebelumnya menertawakan keluarga Rahman, kini hampir semuanya menghadapi situasi yang sama.

Berita ini juga memberikan harapan bagi banyak orang.

Semua orang tahu bahwa Grup Bangsa Perkasa menguasai tujuh puluh persen bisnis di Surabaya. Bisa bekerja sama dengan mereka, bahkan untuk proyek kecil sekalipun, sudah cukup untuk melambungkan sebuah keluarga menjadi keluarga kelas atas di Surabaya.

Oleh karena itu, ketika keluarga Trisna mendapatkan berita ini, mereka langsung menjadi sangat bersemangat.

"Peluang yang dibuka oleh Grup Bangsa Perkasa kali ini sangat besar. Kemampuan bisnis keluarga Trisna jelas tidak kalah dari keluarga Rahman. Kalau kita bisa mendapatkan kerja sama dengan Grup Bangsa Perkasa, di masa depan keluarga Trisna pasti bisa menjadi keluarga papan atas di Surabaya!" kata Nyonya Besar Trisna kepada kepala pelayan di sampingnya.

Kepala pelayan itu mengangguk.

"Nyonya Besar benar, tapi bagaimana cara mendapatkan kerja sama itu, memang perlu kita pikirkan matang-matang!"

Nyonya Besar Trisna sudah punya rencana di dalam hatinya.

Keturunan keluarga Trisna tidak sedikit. Jika kali ini ada yang berhasil mendapatkan kontrak dari Grup Bangsa Perkasa, dia bisa mengangkat orang tersebut ke posisi penting. Demi mendapatkan pengakuan, mereka pasti akan berusaha keras untuk memperebutkan kontrak ini.

"Kumpulkan dulu semua anggota keluarga Trisna!"

Kali ini, dia harus mengerahkan seluruh kekuatan keluarga Trisna untuk merebut kesempatan ini.

Tak lama setelah meninggalkan Grup Bangsa Perkasa, Rian Pratama menerima telepon dari Lia Trisna.

"Nenek bilang, Grup Bangsa Perkasa membuka banyak lowongan kerja sama. Beliau ingin kita mendapatkan kesempatan itu, tapi katanya masalah ini tidak boleh terburu-buru. Jadi, Nenek mau mengumpulkan semua orang untuk berdiskusi!"

Mendengar itu, Rian Pratama tidak terlalu terkejut. Kesempatan ini memang sengaja dia ciptakan.

Daripada harus mempelajari mitra-mitra lama, lebih baik dia mencari darah baru yang tentunya akan lebih menguntungkan baginya.

"Baik, aku datang setelah selesai belanja sayur!"

Rian Pratama langsung setuju. Dia juga harus membantu istrinya mendapatkan muka nanti!

Mendengar Rian Pratama mau belanja sayur dulu, Lia Trisna mengerutkan kening. Tadinya dia ingin suaminya segera datang, tapi Rian Pratama keburu menutup telepon.

Dia tidak menelepon lagi, melainkan langsung menyetir mobilnya menuju kediaman utama keluarga Trisna.

Saat itu, semua anggota keluarga Trisna yang menerima kabar tersebut langsung bergegas datang ke rumah utama.

Karena mereka tahu betul, jika mereka berhasil kali ini, posisi kepala keluarga Trisna di masa depan bisa menjadi milik mereka!

Meskipun keluarga Trisna bukan keluarga papan atas di Surabaya, mereka tetaplah sebuah klan keluarga yang besar. Kekayaan yang mereka miliki jauh melampaui orang biasa.

Saat semua orang sedang berkumpul dan saling berbincang, Lia Trisna pun tiba.

"Lho, ini bukannya Kakak? Kok datang sendirian?"

Linda Trisna, yang hari ini baru saja menelan pil pahit, sengaja menyindir dengan nada ketus.

"Rian bilang dia akan datang setelah selesai belanja sayur!" jawab Lia Trisna dengan ekspresi tenang, bahkan dengan sedikit senyum tipis di wajahnya.

Mendengar itu, Linda Trisna memutar bola matanya dengan jijik.

"Ini masalah besar bagi keluarga Trisna, dan dia masih sempat-sempatnya memikirkan sayuran diskon!"

Sambil berkata begitu, Linda Trisna tersenyum aneh.

"Sampah memang tetap sampah! Tidak punya otak, tidak tahu mana urusan yang penting!"

Setelah itu, terdengar gelak tawa dari orang-orang di sekitarnya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya