Bab [1] Rian Pratama, Sang Tidak Berguna
Di sebuah vila mewah milik keluarga Trisna di Bandung, pohon Natal menghiasi setiap sudut, baik di dalam maupun di luar rumah.
Hari ini adalah Hari Natal.
"Nenek, selamat Natal. Ini salib yang sudah diberkati oleh pemuka agama, saya beli khusus untuk Nenek. Harganya 600 juta rupiah. Semoga di bawah lindungan Tuhan, Nenek selalu sehat dan terhindar dari penyakit!"
"Nenek, selamat Natal. Ini cucu bawakan anggur Lafite tahun '82..."
Nyonya Besar Trisna memandangi hadiah-hadiah di hadapannya, senyum tak pernah lepas dari wajahnya.
Tepat pada saat itu, Rian Pratama, menantu laki-laki tertua Nyonya Besar Trisna, angkat bicara. "Nenek, saya dengar Nenek mendirikan sebuah yayasan. Bisakah Nenek memberikan saya satu alokasi dana khusus? Panti asuhan tempat saya dibesarkan dulu digusur paksa. Ibu direkturnya syok sampai pendarahan otak dan sekarang dirawat di rumah sakit. Kami sangat butuh dana untuk menampung anak-anak panti dan membiayai pengobatan beliau."
Suasana hangat dan ceria di keluarga Trisna seketika membeku.
Semua mata serentak tertuju pada Rian Pratama.
Menantu tertua ini benar-benar keterlaluan!
Di hari sebahagia Natal, bukannya memberi hadiah untuk Nenek, dia malah berani-beraninya meminta uang untuk orang lain!
Rian Pratama dibawa ke keluarga ini dua tahun lalu oleh almarhum Kakek Trisna. Tanpa memedulikan pertentangan keluarga, sang kakek bersikeras menikahkan cucu perempuan tertuanya dengan Rian. Saat itu, Rian miskin papa, bahkan lebih melarat dari pengemis di jalanan.
Namun, karena desakan Kakek Trisna, mereka berdua akhirnya menikah.
Sayangnya, belum genap setahun pernikahan mereka, Kakek Trisna meninggal dunia.
Sejak hari itu, keluarga Trisna selalu mencari cara untuk mengusir Rian Pratama.
Akan tetapi, Rian memiliki watak yang sabar. Bahkan ketika diprovokasi dan dihina terang-terangan, ia tetap tidak bergeming.
Hari ini, ia terpaksa meminta jatah dana yayasan karena sudah tidak ada pilihan lain.
Ibu Mulyani, direktur panti asuhan yang pernah menyelamatkan hidupnya, kini terbaring sakit karena pendarahan otak setelah panti asuhannya digusur. Untuk menampung anak-anak yatim piatu itu setidaknya butuh ratusan juta rupiah, belum lagi biaya pengobatan Ibu Mulyani yang sangat tinggi. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Karena putus asa, ia hanya bisa menggantungkan harapan pada yayasan milik Nyonya Besar Trisna.
Ia berpikir, hari ini adalah Natal, semua orang pasti sedang dalam suasana hati yang baik.
Jika ia bicara sekarang, mungkin ia akan mendapatkan bantuan.
Namun, di luar dugaan, senyum di wajah Nyonya Besar Trisna langsung kaku dan raut mukanya berubah muram.
Wanita tua itu membanting tongkatnya ke lantai dengan keras seraya berdiri. "Dasar tidak tahu malu! Kenapa harus membahas hal seperti ini di hari yang baik!"
Istri Rian, Lia Trisna, segera maju untuk menenangkan.
"Nenek, Rian hanya panik ingin menolong. Mohon jangan diambil hati, Nek!"
Selesai berkata, Lia mencoba menarik Rian menjauh.
Saat itu, Linda Trisna, sepupu Lia, nyeletuk dengan nada menghina, "Kak Lia, lihat dong suamimu itu siapa! Aku dan Samuel saja yang belum menikah sudah memberi Nenek hadiah salib. Suamimu itu, datang dengan tangan kosong saja sudah untung, masih berani minta bantuan Nenek!"
"Betul itu. Rian, kita ini sama-sama menantu di keluarga Trisna, dan kamu itu menantu tertua. Kalau tidak bisa jadi contoh, setidaknya jangan memalukan seperti ini!"
Yang berbicara adalah tunangan Linda, Tuan Muda dari keluarga Rahman, Samuel Rahman.
Meskipun Samuel akan menikahi Linda tahun depan, hatinya masih selalu mendambakan kecantikan Lia Trisna yang luar biasa. Bagaimanapun, meski sama-sama cucu perempuan keluarga Trisna, perbedaan di antara mereka terlalu jauh.
Lia Trisna adalah dewi impian bagi banyak pria di Bandung. Melihat sang dewi menikah dengan pria tak berguna seperti Rian, hati Samuel terasa sangat kesal.
"Kalau aku jadi kamu, sudah tidak akan tahan lagi tinggal di sini. Benar-benar seperti sampah!"
"Bagaimana bisa keluarga Trisna punya menantu seperti ini? Memalukan sekali!"
"Aku rasa dia sengaja cari gara-gara, merusak suasana hati semua orang biar kita tidak bisa menikmati Natal dengan gembira!"
Mendengar seluruh keluarga Trisna menyalahkannya, Rian mengepalkan tangannya erat-erat.
Jika bukan demi menyelamatkan nyawa orang yang telah berjasa padanya, ia tidak akan pernah membuka mulut dan tidak akan sudi bertahan di sini!
Tetapi, begitu teringat bahwa orang itu adalah Ibu Mulyani yang telah menyelamatkan hidupnya, ia menahan diri.
Sambil menekan rasa malunya, Rian menatap Nyonya Besar Trisna dengan tatapan memohon.
"Nenek, Nenek kan orang yang taat pada Tuhan, setiap tahun juga rajin beramal. Anggap saja kali ini Nenek berbuat baik..."
Mendengar itu, seseorang tertawa sinis.
"Rian, jangan memutarbalikkan fakta! Apa urusannya penolongmu dengan Nenek? Bukannya berusaha cari uang sendiri, malah datang minta ke Nenek. Sudah numpang hidup, masih tidak tahu diri!"
Yang berbicara adalah Leon Trisna, kakak laki-laki Linda.
Mereka berdua memang sudah lama tidak menyukai Lia Trisna. Namun, karena Lia selalu sempurna dalam segala hal dan sulit dicari kesalahannya, mereka hanya bisa melampiaskannya pada Rian.
Raut wajah Lia menjadi sedikit canggung.
"Nenek, ayah Rian meninggal saat dia berumur sepuluh tahun. Kalau bukan karena Ibu Mulyani dari panti asuhan, mungkin dia tidak akan hidup sampai sekarang. Ini menunjukkan kalau dia orang yang tahu balas budi. Bagaimana kalau Nenek membantunya kali ini?"
Mendengar itu, wajah Nyonya Besar Trisna semakin gelap.
"Aku tidak bilang tidak mau membantunya. Boleh saja, asalkan kalian berdua bercerai, dan kamu menikah dengan Mas Bima! Kalau kalian mau menuruti syaratku, aku akan langsung telepon yayasan untuk mencairkan dana 1 miliar rupiah!"
Mas Bima yang dimaksud Nyonya Besar Trisna adalah Bima Setiawan, pria yang mengejar Lia sejak zaman kuliah. Keluarga Setiawan adalah salah satu keluarga paling terpandang di Bandung, beberapa tingkat di atas keluarga Trisna.
Nyonya Besar Trisna sudah lama ingin menjalin hubungan dengan mereka, tapi tidak pernah ada kesempatan. Sekarang, ini adalah momen yang pas baginya!
Tiba-tiba, kepala pelayan berlari masuk dengan napas terengah-engah dan mengumumkan dengan suara lantang.
"Mas Bima Setiawan, untuk merayakan Natal, secara khusus mengirimkan hadiah untuk Nyonya Besar berupa satu set terumbu karang merah kualitas terbaik, senilai 4 miliar rupiah!"
Nyonya Besar Trisna sangat gembira dan tanpa sadar berkata, "Cepat bawa ke sini, aku mau lihat!"
Kepala pelayan segera membawa masuk satu set terumbu karang yang masih utuh dan indah.
Warna merahnya yang menyala begitu memikat mata.
Konon, terumbu karang adalah lambang keberuntungan.
Saat ini, Samuel Rahman yang tadi memberikan hadiah salib merasa sedikit kehilangan muka melihat hadiah terumbu karang yang begitu mahal.
Ia tidak menyangka Bima Setiawan, yang bahkan tidak punya hubungan keluarga dengan keluarga Trisna, rela memberikan hadiah semahal itu untuk Natal.
Nyonya Besar Trisna mengitari terumbu karang itu beberapa kali dengan wajah berseri-seri. "Hadiah dari Mas Bima ini benar-benar menyentuh hatiku. Sayang sekali aku tidak punya keberuntungan untuk menjadikannya sebagai cucu menantuku!"
Sambil berkata, tatapannya jatuh pada Rian Pratama.
"Bagaimana? Mau mempertimbangkan syaratku? Kesempatan tidak datang dua kali, lho!"
Sebelum Rian sempat menjawab, Lia dengan tegas menolak.
"Nenek, aku tidak akan setuju bercerai dengan Rian untuk menikah lagi dengan Bima Setiawan!"
Mendengar ucapan cucunya, wajah Nyonya Besar Trisna langsung sehitam dasar panci, matanya berkilat penuh amarah.
"Aku ini sedang menyelamatkanmu dari penderitaan, tapi kamu malah keras kepala, mau-maunya terikat pada pohon yang sudah mau tumbang ini!"
Sampai di situ, Nyonya Besar Trisna tiba-tiba murka, "Apa kalian semua ini hanya makan gaji buta? Cepat usir si tidak berguna yang bikin kesal ini keluar!"
Mendengar itu, Rian Pratama seketika merasa sangat kecewa pada keluarga Trisna. Ia sudah tidak punya keinginan lagi untuk tinggal di sana.
Maka, ia berinisiatif berkata pada Lia Trisna, "Lia, aku ke rumah sakit dulu untuk melihat Ibu Mulyani."
Lia Trisna segera menyahut, "Aku ikut denganmu. Dua kepala lebih baik daripada satu, mungkin kita bisa menemukan jalan keluar!"
Siapa sangka, sebelum Lia sempat melangkah, Nyonya Besar Trisna membentak dengan marah, "Lia Trisna, kalau hari ini kamu berani meninggalkan rumah ini, aku anggap aku tidak punya cucu sepertimu! Kalau kamu memang suka si tidak berguna ini, bawa saja ayah dan ibumu pergi bersamanya, keluar dari keluarga Trisna!"
Lia tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka Neneknya akan bertindak sejauh ini.
Seketika, Lia menggigit bibirnya, matanya dipenuhi keraguan.
Rian melihat keraguan di mata Lia dan segera berkata, "Aku bisa pergi sendiri. Hari ini Natal, kamu di rumah saja!"
Tanpa memberi Lia kesempatan untuk menjawab, Rian langsung meninggalkan kediaman keluarga Trisna.
Saat ia hampir mencapai gerbang utama, ia mendengar suara tawa mengejek Leon Trisna yang sama sekali tidak ditahan-tahan dari belakang.
"Kakak ipar, di hari Natal begini, semua toko di luar tutup. Kamu keluar dari rumah ini mungkin tidak akan menemukan tempat makan. Biar kamu tidak mati kelaparan, ini aku masih punya sepotong roti. Ambil saja buat ganjal perut!"
Selesai bicara, entah dari mana Leon mengambil sepotong roti yang sudah lecek dan melemparkannya tepat ke kaki Rian.
Seketika, tawa mengejek meledak di dalam rumah.
Rian tidak menoleh ke belakang. Ia hanya menggertakkan giginya dan melangkah keluar dari gerbang keluarga Trisna, langsung menuju rumah sakit.
Karena tidak berhasil mendapatkan dana, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memohon pada pihak rumah sakit untuk memberinya kelonggaran waktu.
Namun, saat ia bertanya pada perawat, ia justru diberi tahu bahwa Ibu Mulyani sudah tidak lagi dirawat di rumah sakit itu. Beliau telah dipindahkan semalam ke rumah sakit yang lebih canggih.
Rian terdiam membeku.
"Apa karena kondisinya memburuk? Berapa biaya yang dibutuhkan? Bisakah diberi kelonggaran beberapa hari?"
Perawat itu menggelengkan kepala. "Ini tagihan biaya dari rumah sakit sana. Anda sudah membayar uang muka sebesar 600 juta rupiah, tapi masih butuh sekitar 2 miliar rupiah lagi. Semuanya harus dilunasi sebelum operasi!"
Mendengar itu, Rian sedikit mengernyitkan dahi.
"Uang muka 600 juta rupiah itu dari mana?"
Perawat itu menggelengkan kepala dengan ekspresi bingung.
Rian sendiri merasa sangat heran. Ia mengeluarkan ponselnya, hendak menelepon Lia untuk bertanya, ketika ia menyadari seorang pria berusia sekitar lima puluhan, mengenakan setelan jas hitam, berdiri di belakangnya.
Melihat Rian, pria itu membungkuk hormat sembilan puluh derajat dan berkata, "Tuan Muda, bagaimana kabar Anda selama ini?"
Rian menatapnya, ekspresi paniknya seketika berubah dingin. "Chandra Pratama?"
Pria itu tampak sedikit terkejut. "Tidak kusangka, Tuan Muda masih mengingat nama saya!"
Mendengar itu, raut wajah Rian menjadi semakin suram.
Nama itu tidak akan pernah ia lupakan.
"Tentu saja aku ingat! Aku juga ingat lima belas tahun yang lalu, karena kamu, Chandra Pratama, dan orang-orangmu, orang tuaku terpaksa membawaku kabur dari Jakarta. Mereka bahkan meninggal di perjalanan, dan aku berakhir di panti asuhan!"
Sampai di situ, Rian menggertakkan giginya. "Sekarang kalian merasa aku masih hidup dan ingin datang untuk menghabisiku sampai tuntas?"
Mendengar tuduhan itu, wajah Chandra Pratama menjadi pucat, matanya dipenuhi penderitaan.
"Tuan Muda, dulu saat mendengar kabar Pewaris meninggal, Tuan Besar langsung jatuh sakit. Sekarang beliau akhirnya sadar dan terus mencari keberadaan Anda. Akhirnya saya menemukan Anda. Kumohon, ikutlah saya pulang untuk bertemu Tuan Besar!"
Rian tertawa sinis.
"Aku tidak akan pernah mau bertemu dengan musuhku!"
"Tuan Muda, ada alasan lain di balik kejadian itu. Anda tidak seharusnya menyalahkan Tuan Besar!"
Mendengar itu, ekspresi Rian menjadi semakin meremehkan.
"Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya membencinya!"
Melihat tatapan penuh kebencian Rian, Chandra Pratama hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
"Sebenarnya, saat kami datang mencari Anda, Tuan Besar sudah menduga Anda pasti tidak akan mau kembali!"
Rian berkata dingin, "Sepertinya dia belum lupa dengan semua perbuatan brengsek yang telah dilakukannya!"
Chandra tidak melanjutkan topik itu. Ia dengan khidmat mengeluarkan sebuah kartu bank berlogo naga emas dari sakunya.
"Ini Kartu Ultimate Naga Hitam, tanpa kata sandi. Anda bisa menggunakannya sesuka hati!"
Sambil berbicara, ia menyerahkan kartu yang jumlahnya tidak lebih dari tiga di seluruh negeri itu dengan hormat ke hadapan Rian.
Rian bahkan tidak meliriknya sama sekali dan berkata dingin, "Aku tidak butuh barang-barangnya!"
Menghadapi penolakan Rian, Chandra tidak memaksa, melainkan mengalihkan pembicaraan.
"Saya dengar saat Tuan Muda menjadi yatim piatu, Ibu Mulyani dari panti asuhan yang menampung Anda. Sekarang beliau butuh biaya operasi sebesar 2 miliar. Jika tidak segera dioperasi, beliau mungkin tidak akan punya banyak waktu lagi. Selain itu, anak-anak di panti juga butuh tempat tinggal. Mereka sudah tidak punya orang tua, jika panti asuhan juga tidak ada..."
Mendengar itu, kelopak mata Rian berkedut.
Ia sudah merasa aneh, kenapa Ibu Mulyani tiba-tiba dipindahkan ke rumah sakit lain.
Ternyata ini semua ulah mereka!
"Kalian sengaja mengatur semua ini untuk memaksaku tunduk?"
Chandra segera menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Kami tidak berani mempermainkan Tuan Muda! Kami hanya datang untuk membantu meringankan beban Tuan Muda."
Mendengar kata-katanya, sambil membayangkan wajah Ibu Mulyani yang penuh penderitaan, Rian menjadi ragu.
"Berapa batas limit kartu ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Chandra tahu Tuan Mudanya sudah mulai luluh. Ia segera menjawab.
"Tuan Besar berkata, kartu ini memiliki batas pemakaian bulanan hingga ratusan triliun!"
Satu kartu dengan batas pemakaian bulanan mencapai ratusan triliun?
Rian terperangah.
Meskipun sejak kecil ia tahu kakeknya sangat kaya, saat itu ia sama sekali tidak punya konsep tentang uang. Ia hanya tahu bahwa keluarga Pratama adalah salah satu keluarga papan atas di Jakarta, bahkan di seluruh negeri.
Tapi berapa persisnya total aset mereka, ia sama sekali tidak tahu.
Namun, melihat Kartu Ultimate Naga Hitam dengan batas pemakaian bulanan ratusan triliun di hadapannya, ia akhirnya mengerti.
Kekayaan keluarga Pratama setidaknya seratus kali lipat dari angka itu, atau bahkan lebih. Perkiraan konservatifnya saja sudah melebihi ribuan triliun!
Chandra mengira Rian masih bimbang, ia pun buru-buru menjelaskan.
"Tuan Muda, Anda adalah bagian dari keluarga Pratama. Uang ini pada dasarnya adalah milik ayah Anda, dan sekarang hanya dialihkan kepada Anda sebagai ahli warisnya!"
"Tuan Besar berkata, jika Anda bersedia kembali ke keluarga Pratama, seluruh aset dan industri keluarga akan diwariskan kepada Anda seorang. Jika Anda tidak bersedia, anggap saja uang ini sebagai biaya hidup untuk Anda!"
Sampai di situ, Chandra menambahkan satu kalimat lagi.
"Oh ya, sebelum saya datang, Tuan Besar sudah mengatur akuisisi penuh Grup Bangsa Perkasa, perusahaan nomor satu di Bandung, dengan dana sebesar 16 triliun. Saat ini, perusahaan tersebut sudah dialihkan atas nama Anda. Anda bisa datang ke Grup Bangsa Perkasa kapan saja untuk serah terima!"
Mendengar itu, Rian benar-benar tercengang.
Tindakan keluarga Pratama ini bukan main-main.
Kartu Ultimate Naga Hitam dengan batas pemakaian bulanan ratusan triliun, ditambah lagi perusahaan raksasa di Bandung, Grup Bangsa Perkasa!
