Terdampar Bersama CEO yang Memesona

Unduh <Terdampar Bersama CEO yang Mem...> gratis!

UNDUH

Bab [2] Pulau Terpencil

Angin kencang menghantam pipiku begitu keras sampai aku tidak bisa buka mata. Kemeja tipis di badanku diterjang badai, berkibas-kibas sambil menimbulkan suara nyaring yang menusuk telinga. Dalam hati yang tersisa cuma rasa takut, sementara bayangan tentang Julia Hartini yang baru saja masih memenuhi pikiranku, di saat itu benar-benar lenyap.

Aku merasa tubuhku terus jatuh ....

Sampai satu hentakan keras menghantam, lalu semuanya gelap.

Tidak tahu berapa lama, kesadaranku pelan-pelan balik. Belum sempat buka mata, mulutku sudah duluan mengeluarkan rentetan makian. Aku menghujat para petinggi perusahaan, menghujat Julia Hartini, perempuan brengsek itu, menghujat hidup sialan yang aku jalani. Seolah-olah cuma dengan cara itu, dadaku bisa sedikit lega.

Cukup lama aku tidak berhenti mengumpat, sampai akhirnya di telingaku terdengar suara Julia.

“Andi Rahman, aku udah susah payah nyelametin kamu, terus kamu balasnya begini?” Suara Julia kali ini tidak setajam biasanya, ada sedikit nada lembut di sana.

Masih terdengar sombong, tetapi tidak lagi seangkuh yang buat orang ingin menabok.

Aku tidak sempat berpikir banyak, hatiku langsung penuh rasa lega. Julia menyelamatkan aku? Aku buka mata cepat-cepat, yang masuk ke pandangan adalah wajah Julia yang cantik, dengan sedikit rona marah di sana.

Kelihatan jelas, habis dengar aku maki-maki tanpa jeda, dia memang kesal. Namun, dari semua emosi di wajahnya, marah cuma sebagian kecil.

Di matanya juga kelihatan jelas rasa syukur karena baru saja lolos dari maut.

Satu hal lagi yang langsung menarik perhatianku, bibirnya yang penuh dan seksi itu sekarang tampak agak bengkak.

Baru saat itu aku sadar, kami lagi ada di sebuah pantai kosong yang luas. Selain aku, cuma ada dia. Bisa ditebak, dia yang narik aku keluar dari maut.

Begitu kepikiran itu, rasa dongkolku ke Julia mendadak lumer lumayan banyak. Kami baru aja mengalami kecelakaan pesawat, tetapi masih hidup. Hal itu saja sebenarnya sebuah keajaiban.

Dia malah sempat-sempatnya menyelamatkan nyawaku. Di situasinya begini, aku sebenarnya tidak pantas terus mengungkit-ungkit kejadian sebelumnya.

Kupandangi wajah Julia yang cantik dan sedikit murka itu, aku nekat maksa tersenyum. Aku tidak peduli situasi sekitar, cuma buat menunjukkan kalau aku ingin berdamai dan kerja sama.

Dia juga balik menatapku, cuma tatapan di matanya kali ini rumit dan campur-aduk.

“Tadi pikiranku lagi kacau. Kebanyakan aku maki-maki manajemen kantor, bukan sengaja nyerang kamu doang,” kataku sambil nyengir canggung, lalu mulai mengamati keadaan sekitar dan mengecek kondisiku sendiri.

Sepertinya kami lagi ada di sebuah pulau kecil terpencil di tengah laut. Di mana persisnya, aku sama sekali tidak tahu.

Yang bikin lega, di badanku tidak ada luka berarti. Orang banyak tahu, di pulau terpencil tanpa obat yang tepat, luka kecil saja bisa jadi musibah besar.

Dalam hati aku mengingatkan diri sendiri: mulai sekarang, harus ekstra hati-hati. Jangan sampe terluka, sama sekali.

Habis puas mengamati sekitar, pandanganku balik lagi ke tubuh Julia. Baru saat itu aku sadar, kalung yang tadi selalu menempel di lehernya sudah tidak ada. Bajunya sobek-sobek, bagian dada yang besar itu keliatan lebih dari setengah, menyingkap bra hitam yang menempel di kulitnya.

Mungkin karena tadi sempat kebawa ombak, dadanya kelihatan malah lebih besar dari sebelumnya. Entah bagaimana, dalam keadaan begini pun, otakku masih sempat memperhatikan hal begitu. Malah gara-gara pemandangan itu, kejantananku mulai bereaksi lagi.

Aku sama sekali tidak merasa malu. Justru ada sedikit rasa senang. Buat laki-laki muda yang masih sehat, bisa berdiri artinya tubuhku tidak kenapa-kenapa. Kejantananku yang keras jadi bukti kalau aku masih hidup.

Tiba-tiba aku teringat lagi, waktu pesawat mulai jatuh, aku sepertinya sempat refleks meremas dada Julia sekuat tenaga. Kalau diingat sekarang, sensasinya membuat jantungku berdebar puas.

Lalu terpikir satu hal lain, ini pulau sepi, tidak kelihatan tanda-tanda manusia lain. Bisa jadi cuma aku sama Julia di sini. Dari sudut pandang tertentu, itu kabar yang ... cukup menyenangkan.

Mungkin fantasi yang dulu cuma berani aku bayangkan, sekarang benar-benar bisa kejadian. Bukan lagi di kabin pesawat atau di kasur empuk hotel, tetapi di pasir pantai pulau terpencil yang sepi.

“Kamu lagi mikirin hal yang nggak bener, ya?” Julia melotot tajam ke arahku. Mungkin tatapanku terlalu terang-terangan, sampai dia merasa terancam. Dia juga sepertinya kepikiran, situasi sekarang sama sekali tidak nguntungkan buat dirinya.

“Aku peringatkan, aku pernah latihan tinju. Lagian, aku yang nyelametin kamu!” Julia buru-buru bangkit berdiri, pasang kuda-kuda tinju, pura-pura kelihatan kuat biar bisa menakut-nakutkan niat busuk yang mungkin ada di kepalaku.

Yang dia tidak mengerti, pose yang sekarang dia tunjukkan sama sekali tidak ada wibawanya di mataku. Justru makin kelihatan menggoda.

Rok Julia sepertinya sudah kebawa ombak. Di bawah, dia cuma pakai celana dalam dan stocking tipis yang bahannya kelihatan mahal. Celana dalamnya yang tipis kena air laut, jadi agak transparan.

Dengan posisi tangan terangkat dan kaki sedikit terbuka pas bikin kuda-kuda, bagian paling sensitif di antara pahanya jadi kelihatan jelas. Sebenarnya aku ingin sangat memuji dia, cuma sayangnya, otakku lagi sibuk memperhatikan semua detail itu sampai aku merasa sayang kalau harus berkedip.

Harus diakui, kaki Julia juga bagus—panjang, lurus, kencang. Mungkin dia benar-benar pernah latihan tinju atau olahraga lain. Betis dan pahanya kelihatan kuat. Otakku langsung melantur, membayangkan kalau satu hari nanti pinggangku dikunci di antara kedua pahanya, kira-kira tulang pinggangku masih selamat atau tidak.

“Kamu liat-liat apa sih, gila! Aku nyelametin kamu, ngerti nggak? Aku nyelametin kamu! Kamu nggak boleh begini sama aku. Lagi pula, tim penyelamat pasti segera datang. Kamu mau jadi narapidana, hah?” Julia akhirnya tidak tahan lagi sama cara aku melihat dia. Dia juga sadar, dengan pakaian yang sekarang, jangankan menakut-nakutkan, yang ada malah membuat salah paham.

Jadi dia mulai panik dan takut, berulang kali menekankan kalau dia yang menyelamatkan aku, lalu menyebut soal tim penyelamat.

Secara teori, memang setelah kecelakaan pesawat, pencarian dan penyelamatan bakal dijalankan. Namun, entah kenapa, aku tidak yakin semuanya bakal secepat yang dia bayangkan.

Kalaupun nanti tim SAR datang, butuh waktu banyak. Sebelum itu, cara kami bertahan hidup di pulau inilah yang paling penting.

Kami harus memikirkan cara untuk hidup dan kebetulan aku punya modal buat itu. Aku cukup percaya diri.

Di kantor aku bukan karyawan paling hebat, tetapi di luar kantor, aku lumayan tergila-gila sama dunia survival alam liar. Aku menghabiskan banyak waktu belajar teknik bertahan hidup di hutan dan pulau terpencil. Semua pengetahuan itu sekarang jadi pegangan utamaku.

Soal Julia, aku jelas tidak berniat maksa melakukan apa pun ke dia. Namun, demi bertahan hidup, cepat atau lambat dia bakal butuh aku. Soal makanan, air bersih, tempat berteduh—semua itu jelas bukan keahliannya.

Ini pulau terpencil, bukan Jakarta. Tidak ada burger, ayam goreng, cola, atau kentang goreng. Tanpa kemampuan mencari makan, dia cepat atau lambat bakal kalah sama rasa lapar.

Yang membuat aku hampir ketawa adalah, beberapa waktu kemudian dia memutari pantai, mencari sesuatu buat dijadiin senjata. Dia menemukan sepotong plat besi tipis, bentuknya mirip pisau, tetapi jelas tidak setajam itu. Dalam kondisi begini, paling-paling benda itu cuma bisa jadi sumber rasa aman yang rapuh.

Aku tidak menertawakan dia. Sebaliknya, aku angkat jempol ke arahnya, lalu mulai jalan menyusuri pantai, dengan sengaja mengumpulkan apa pun yang kira-kira berguna.

Plat besi tipis seperti yang dia pegang itu sebenarnya barang berharga. Bisa dipakai sebagai pisau makan darurat, atau alat buat mengeruk dan mengumpulkan garam laut.

Garam sama pentingnya dengan air buat tubuh manusia.

Julia memang memperhatikan gerak-gerikku. Dia kelihatan tidak terlalu mengerti apa yang kulakukan, tetapi dia juga tidak bertanya. Dia cuma jongkok di pasir, lalu dengan potongan besi itu mulai menulis besar-besar: SOS.

Itu sinyal darurat yang dipakai di seluruh dunia.

Kalau kebetulan ada pesawat atau helikopter penyelamat lewat dan melihat tulisan itu dari udara, mungkin mereka bakal datang.

Mungkin.

Namun, soal berhasil atau tidaknya, cuma Tuhan yang tahu. Sementara aku, dibanding berharap pada keberuntungan, aku lebih ingin secepatnya mengisi perut.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya