Bab [3]
Aku bersandar di kepala ranjang, mengangguk lemah. "Taruh saja di situ. Nanti aku minum, sekarang kepalaku masih pusing."
Sampai detik ini, aku sudah bertekad tidak akan meminum obat itu lagi. Aku hanya bisa menunggu Dewi keluar untuk membuangnya.
Namun, tepat pada saat itu, pintu kamar didorong terbuka oleh Adrian Lim. Dia mengenakan setelan kerja yang membuatnya tampak begitu rapi dan segar.
"Sayang, sudah minum obatnya?"
Aku hampir lupa, setiap pagi sebelum berangkat kerja, Adrian selalu datang ke kamarku untuk mengobrol sebentar.
Belum sempat aku menjawab, Dewi sudah menyela, "Belum, Nyonya bilang kepalanya pusing."
Begitu kalimat itu keluar, aku melihat dengan jelas keduanya saling bertatapan sekilas, seolah sedang bertukar informasi rahasia.
Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua!
Adrian menatapku dengan tatapan pura-pura menegur. "Sayang, obat itu harus diminum tepat waktu. Kalau tidak, kapan kamu bisa sembuh, hm?"
Suaranya begitu lembut, seolah menunjukkan kesabaran yang luar biasa padaku.
"Biar Ayah yang suapi, ya."
Sambil berkata begitu, dia mengambil mangkuk obat, menyendok isinya, dan mengarahkannya ke bibirku.
Aku mendorong tangannya pelan, berpura-pura malu. "Ada Dewi di sini, kamu ini apa-apaan, sih?"
"Ayah, kamu berangkat kerja saja dulu. Nanti aku minum sendiri."
Adrian tertawa kecil. "Dewi itu sudah seperti keluarga sendiri, tidak perlu malu dilihat olehnya."
"Lagi pula, kalau istriku tidak minum obat, bagaimana aku bisa fokus bekerja hari ini? Cepat minum obatnya, jangan buat Ayah khawatir."
Tanganku di bawah selimut terkepal erat.
Dulu, aku tidak pernah merasa Adrian begitu memaksa soal minum obat. Namun, kalau dipikirkan sekarang, setiap pagi sebelum berangkat kerja, dia selalu memastikan aku meminum obat itu sampai habis.
Alasan di baliknya membuatku bergidik ngeri.
Aku memaksakan seulas senyum, sambil berpikir keras bagaimana cara menghindari obat hari ini.
Tepat pada saat itu, ponsel Adrian berdering. Aku segera mengambil mangkuk obat. "Ayah, angkat saja teleponnya. Aku minum sendiri."
Melihat itu, dia tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan ke dekat jendela.
Sementara dia menelepon, aku berkata pada Dewi, "Tolong ambilkan aku gula batu. Mulutku pahit, mau kumakan setelah minum obat."
Wajah Dewi menunjukkan ekspresi aneh. "Nyonya, tapi biasanya Anda tidak pernah ...."
"Memangnya sekarang aku tidak boleh ingin memakannya? Perlu kuulang lagi?" tanyaku dengan nada tegas sambil mengerutkan kening.
Dewi akhirnya meninggalkan kamar untuk mengambilkan gula batu.
Dan pada saat itulah, aku segera menuangkan seluruh isi mangkuk obat ke bawah tempat tidur.
Tepat setelah itu, Adrian selesai menelepon dan berbalik.
Jantungku berdebar tak karuan, takut dia menyadari sesuatu.
Untungnya, Adrian tidak menyadari apa pun. Dia duduk di tepi ranjang, punggung tangannya mengusap pipiku dengan lembut.
"Tadi telepon dari kantor. Sayang, cepatlah sembuh, ya. Biar Ayah tidak perlu menggantikanmu mengurus perusahaan lagi."
Punggung tangannya terasa hangat di pipiku.
Namun, aku tak bisa berhenti gemetar.
Apakah ini tangan seorang kekasih, atau tangan seorang pembunuh?
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengecup keningku.
Pada saat yang sama, Dewi kembali membawa gula batu. Melihat adegan itu, raut wajahnya langsung berubah masam, matanya penuh dengan rasa cemburu.
Aku memasukkan gula batu yang dibawakan Dewi ke dalam mulut, lalu berbaring seperti biasa.
Setelah Adrian menyelimutiku, dia pun keluar.
Biasanya, pada saat seperti ini aku sudah tertidur, jadi mereka pasti akan lengah.
Maka, aku langsung bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela, dan mengamati halaman bawah.
Namun, aku tidak melihat apa-apa. Adrian , seperti biasa, menerima jas dan tas kerjanya dari Dewi, lalu masuk ke dalam mobil.
Mungkinkah aku salah sangka?
Mungkinkah Adrian tidak tahu rencana Dewi, dan dia juga telah ditipu olehnya?
Namun, sejak Dewi datang ke rumah kami, aku merasa sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Kenapa dia tega melakukan ini padaku?
Aku teringat tatapan matanya tadi yang membuatku merinding. Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas.
Jangan-jangan Dewi jatuh cinta pada Adrian , dan karena itulah dia menggunakan cara keji ini padaku?
Semakin kupikirkan, semakin aku merasa ngeri. Aku ingin segera menceritakan semuanya pada Adrian.
Namun, sejak aku sakit, aku hampir tidak pernah menggunakan ponsel, hanya menghabiskan hari-hariku dengan tidur di kamar ini.
Jika aku nekat keluar untuk mencarinya, Dewi pasti akan tahu.
Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap gulita, memaksakan diri untuk tetap terjaga.
Namun, semalam aku memang kurang tidur. Tak lama kemudian, aku tak sanggup lagi menahan kantuk yang berat dan akhirnya tertidur lelap.
Saat terbangun, hari sudah senja. Seberkas cahaya matahari terbenam menyelinap masuk melalui celah gorden yang tebal.
Tepat pada saat itu, pintu kamar terbuka. Aku segera memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Biasanya pada jam segini, Dewi datang untuk membawakanku obat.
Namun, biasanya dia selalu membangunkanku. Aku tidak pernah tahu apa yang dia lakukan saat aku tertidur.
Aku hanya merasakan seseorang perlahan mendekat. Aku seolah sedang ditatap oleh sepasang mata yang penuh kebencian.
Detik berikutnya, Dewi mulai berbicara, "Kenapa kamu tidak mati juga? Kalau kamu mati, Adrian akan menjadi milikku."
"Kenapa kamu dari lahir sudah seperti anak emas? Kenapa semua hal baik selalu jatuh padamu? Kenapa Adrian harus menjadi milikmu?"
"Mati saja sana, mati saja!"
Suaranya seperti bisikan iblis, membuatku merinding ketakutan.
Aku menggertakkan gigi, menahan diri. Tiba-tiba, aku merasakan sakit yang tajam di pipiku.
Aku sadar dia menusukku dengan sesuatu. Takut dia akan melakukan hal lain, aku berpura-pura seperti baru akan bangun.
"Nngh ... Dewi, jam berapa sekarang?"
"Jam empat, Nyonya."
Aku membuka mata. Wajah Dewi tampak tenang seperti biasanya, seolah wanita gila tadi bukanlah dirinya.
Dia menyodorkan mangkuk obat padaku. "Nyonya, sudah waktunya minum obat."
Aku baru saja hendak menggunakan alasan yang sama seperti pagi tadi, tetapi ternyata tangan satunya sudah menyodorkan gula batu. "Nyonya, gulanya sudah saya siapkan."
Aku tahu hari ini dia tidak akan pergi sebelum melihatku menghabiskan obat ini. Dengan terpaksa, aku meminum obat itu lalu pura-pura berbaring dengan tenang.
"Keluarlah, aku mau tidur lagi sebentar."
Setelah Dewi pergi, aku cepat-cepat bangkit dan berlari ke kamar mandi. Aku memasukkan jari ke tenggorokan dan memuntahkan semua obat yang tadi kuminum.
Tepat pada saat itu, aku mendengar suara klakson mobil.
Aku segera berjalan ke jendela. Benar saja, Adrian sudah pulang.
Aku baru saja bersiap untuk menceritakan semua yang terjadi hari ini padanya, ketika aku melihat Adrian turun dari mobil dan meremas pantat Dewi.
Seketika itu juga, Dewi menyembunyikan wajahnya yang memerah malu di dada Adrian.
Aku bagai disambar petir, tak percaya dengan apa yang kulihat.
Jadi benar-benar dia, suamiku yang telah menemaniku selama delapan tahun dan memperlakukanku seperti permata, ternyata ingin mencelakaiku.
Sejak aku menyadari ada yang salah dengan obat itu, aku selalu tidak mau dan tidak berani mencurigai Adrian.
Karena aku tidak percaya, hubungan kami selama bertahun-tahun ini hanyalah kepalsuan.
Namun sekarang pemandangan di halaman bawah itu telah memberiku pukulan telak.
Ternyata, cinta yang mendalam pun bisa dipalsukan.
Wajahku pucat pasi seperti kertas. Aku mencengkeram tirai jendela dengan sekuat tenaga agar tubuhku yang goyah ini tidak tumbang.
Baru setelah mendengar suara langkah kaki menaiki tangga, aku tersadar dari lamunan dan bergegas kembali ke tempat tidur.
Aku mendengar langkah kaki itu berhenti di depan pintuku.
Adrian bertanya, "Obat hari ini sudah diminum?"
Dewi tertawa kecil. "Tentu saja sudah. Wanita bodoh itu masih mengira itu obat mujarab, langsung diminumnya sekali teguk."
