Bab [6]: Gadis Jelek Menyukainya
"Nggak boleh?"
Mendengar ucapan Bayu Surya, Sari Wijaya menoleh. Sambil mengedip-ngedipkan matanya, dia sengaja menonjolkan tahi lalat palsu di wajahnya tepat di hadapan Bayu.
"Nggak boleh tidur? Kenapa memangnya?"
"Di lantai atas sudah disiapkan kamar untukmu. Kamar yang kamu tiduri semalam itu kamarku," Bayu mengingatkan Maharani.
Bayu adalah orang yang tidak bisa tidur di sembarang tempat. Semalam, karena kamarnya dipakai Sari, dia terpaksa tidur di kamar tamu. Suasana kamar yang asing membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Karena itu, malam ini Bayu harus bicara baik-baik dengan Sari agar gadis itu mau mengembalikan kamarnya.
Mendengar permintaan Bayu, Sari hanya tersenyum tipis.
"Tapi, Kak Bayu," ujarnya lembut, "aku sukanya tidur di kamarmu ...."
Ucapan Sari itu sukses membuat Bayu tertegun sejenak.
Sebagai orang yang terbiasa menangani berbagai masalah pelik di Grup Surya, Bayu selalu percaya diri tidak ada masalah yang tidak bisa dia selesaikan. Namun, saat berhadapan dengan gadis jelek di depannya ini, dia merasakan kepanikan dan kebingungan yang tidak biasa.
Wajah Bayu seketika memerah.
Melihat ekspresi Bayu yang seperti itu, tiba-tiba saja muncul niat jahil di benak Sari.
Dia menuruni beberapa anak tangga, menghampiri Bayu.
Sambil mendekatkan tubuhnya, dia bertanya dengan senyum usil, "Kakak nggak bisa tidur di tempat lain, ya?"
Bayu mengangguk. "Iya. Aku nggak akan bisa tidur kalau pindah kamar. Aku sudah terbiasa dengan suasana di kamarku."
Mendengar jawaban itu, niat jahil Sari makin menjadi-jadi.
Sambil merendahkan suaranya, dia bertanya dengan senyum tertahan, "Kak Bayu, kalau nggak bisa tidur ... sini tidur bareng aku aja."
Seketika, raut wajah Bayu langsung berubah masam. Sebagai pria yang tidak pernah kekurangan penggemar, dia tidak menyangka di usianya yang sudah kepala dua ini, dia malah digoda oleh seorang bocah.
Melihat wajah kesal Bayu, Sari tidak bisa menahan tawanya. Saat dia tertawa, tahi lalat palsu di wajahnya ikut bergerak-gerak dengan lucu.
Bayu menatapnya tajam.
"Pergi sana!" hardiknya.
Merasa rencananya berhasil, Sari tersenyum puas. Dia sudah berhasil merebut kamar Bayu, jadi lebih baik dia tidak berlama-lama lagi. Sambil memeluk tasnya, dia bergegas naik ke lantai atas.
Melihat punggung Sari yang menjauh, tatapan Bayu berubah kelam.
Entah kenapa, dia merasa calon yang diaturkan kakeknya untuk mereka bertiga ini agak tidak beres.
Baru datang sudah langsung mengajaknya tidur bersama? Apa ini sikap yang seharusnya dimiliki seorang nona dari keluarga terpandang?
Namun, di luar sikapnya yang blak-blakan dan tahi lalat palsu yang sedikit mengganggu di wajahnya, Bayu belum merasakan kebencian yang mendalam terhadap gadis itu.
Keesokan paginya, Sari sudah turun ke bawah.
Para asisten rumah tangga Keluarga Surya sudah menyiapkan sarapan sejak pagi. Saat Sari sedang asyik menyantap sarapannya, barulah Arya Surya turun dari kamarnya sambil menguap lebar.
Melihat Sari sudah duduk di mejadan makan dengan santainya, Arya, yang sejak awal tidak menyukainya, langsung naik pitam.
"Sari Wijaya, kamu keterlaluan!"
Sari, yang sedang memegang roti lapis, nyaris menjatuhkannya saat mendengar teriakan Arya.
Arya menghampirinya dan langsung mengomel.
"Sari, ini rumah Keluarga Surya, bukan Keluarga Wijaya! Di rumah kami ada aturannya! Kedua kakakku bahkan belum turun, beraninya kamu makan duluan?"
Melihat wajah Arya yang kuyu karena kurang tidur, Sari tidak bisa menahan diri untuk tidak menyindirnya.
"Kakak Bayu sudah berangkat kerja, Kakak Aji sudah berangkat kuliah. Cuma kamu yang masih tidur sampai matahari sudah tinggi. Arya Surya, kenapa nggak sekalian tidur sampai sore saja?"
"Pakai bilang aku nggak punya aturan. Aku kan nggak bodoh, masa harus mati kelaparan?"
Sindiran Sari itu langsung membuat Arya tersadar.
Dia melirik jam dinding di ruang keluarga. Sudah hampir pukul delapan.
"Aku sudah mau telat, kenapa kamu nggak bangunin aku?" bentak Arya pada Sari.
Sari menghabiskan gigitan terakhir roti lapisnya, lalu membalas dengan nada mengejek, "Memangnya kamu bayar aku? Kenapa aku harus bangunin kamu?"
"Kamu kan numpang makan dan tinggal di sini, memangnya kenapa kalau cuma bangunin aku? Dasar cewek jelek, aku belum pernah lihat orang setidak sopan kamu!"
Arya kembali dibuat kesal oleh Sari.
Melihatnya marah seperti ayam jago yang siap bertarung, Sari sama sekali tidak takut.
Dia bangkit, mengambil tasnya, lalu menatap Arya dengan dingin. "Aku tinggal di sini juga bukan karena kemauanku sendiri. Kalau kamu nggak suka lihat aku, usir saja aku. Kamu pikir aku mau numpang di rumahmu?"
Arya terdiam seribu bahasa.
Gadis jelek di hadapannya ini benar-benar tahu cara membuatnya marah. Namun, jangankan mengusir Sari, sekalipun Arya punya seratus nyali, dia tidak akan berani melakukannya. Jika dia sampai berani menyuruh Sari pergi dari rumah Keluarga Surya, kakeknya yang sedang di luar negeri mungkin akan langsung pulang dengan penerbangan pertama hanya untuk memberinya pelajaran.
Melihat wajah Arya yang berubah-ubah karena marah, suasana hati Sari justru menjadi sangat baik.
Dia menyambar tasnya dan berbalik pergi. Sebelum benar-benar pergi, dia masih sempat berkata pada Arya, "Aku tunggu lima menit. Kalau telat, aku tinggal. Tuan Muda Ketiga Surya naik motor listrik pasti keren juga, lho."
Setelah mengatakan itu, Sari langsung melenggang pergi.
Arya tertegun sejenak, lalu segera bergegas.
Dia tidak menyangka gadis jelek ini bisa membalikkan keadaan. Bukan hanya merebut kamar kakaknya, sekarang dia juga mau merebut mobil yang biasa dia pakai untuk ke kampus.
Arya adalah Tuan Muda Ketiga Keluarga Surya yang terhormat. Kalau sampai seluruh mahasiswa di kampus melihatnya pergi kuliah naik motor listrik, reputasinya bisa hancur lebur.
Dengan terburu-buru, tepat di detik terakhir dari lima menit yang diberikan, Arya akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil.
Dia membawa sepotong roti lapis dan tasnya dijepit di ketiak. Rambutnya yang tidak sempat ditata mencuat ke segala arah.
Sopir yang melihat penampilan Arya yang berantakan itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Dia sudah mengantar Arya ke kampus selama bertahun-tahun, dan ini adalah pertama kalinya dia melihat Arya sekacau ini.
Di seluruh Jakarta Selatan, orang yang bisa membuat Arya Surya tak berdaya seperti ini mungkin hanya Sari Wijaya seorang.
Beberapa menit kemudian, mobil tiba di depan gerbang Universitas Jakarta Selatan. Saat hendak turun, Sari mendekatkan wajahnya ke Arya.
Dengan senyum jahil, dia menatap wajah tampan Arya dan berkata, "Kak Arya, tahu nggak aku suka apanya dari kamu?"
Mendengar Sari berkata suka padanya, bulu kuduk Arya langsung meremang. Dia sudah bersikap begitu buruk dan mengganggunya, tetapi Sari masih menyukainya?
Jangan-jangan cewek jelek ini memang punya kelainan?
