Bab [4]
"Sari ...." Ari Limbong menyipitkan mata, ada sinyal berbahaya yang terpancar dari matanya. "Kamu sudah kecanduan ngambek, ya?"
"Kapan pernikahan ini berakhir, bukan kamu yang menentukan."
Hatiku sedikit nyeri mendengarnya. Aku mengalihkan pandangan.
"Aku mundur dengan sukarela, biar kamu nikah sama orang yang kamu suka, itu masih belum cukup?"
"Kamu sebaik hati itu?"
Ari Limbong mengeluarkan korek api mahal dari sakunya, menekannya pelan. Nyala api terpantul di matanya, membuatnya terlihat makin dingin.
Dia mengisap rokoknya sebentar lalu menatapku, baru berkata dengan nada datar, "Sari Soewanto, kamu begitu cinta uang, kalau memang rela melepaskan kemewahan yang didapat dari jadi Nyonya Limbong, pasti sudah dari dulu kamu pergi."
"Kalau terus bikin masalah, hati-hati rugi sendiri."
Memang benar kata orang, orang yang tidur di sampingmu selalu menjadi orang yang paling tahu cara menyakitimu.
Ari Limbong tahu persis kata-kata apa yang akan membuatku terluka, tetapi dia tetap melakukannya.
Di matanya, aku selalu saja menjadi Sari Soewanto yang menghalalkan segala cara demi uang untuk naik ke tempat tidurnya.
Aku menunduk, berkedip perlahan, harga diriku tidak mengizinkanku menunjukkan sedikit pun kesedihan.
Saat aku mengangkat kepala, Tiara Helena sudah berdiri di samping Ari Limbong, dia tersenyum lembut kepadaku.
"Dik, aku benar-benar tidak mau merusak hubungan kalian sebagai suami-istri. Tapi Leo itu anak Ari, tidak bisa terus terlantar di luar."
"Kalau tahu kamu bakal bereaksi seheboh ini, aku tidak akan bawa Leo pulang ke Indonesia, Dik. Maaf, ya. Dulu waktu aku kenal sama Ari, kamu belum ada hubungan apa-apa sama dia. Aku ke luar negeri juga benar-benar ingin memberkati kalian."
"Cukup, Tiara Helena, jangan bikin aku mual lagi, ya? Kalau memang mau melepaskan, kamu tidak akan dengan sengaja sesekali muncul di kota yang sama dengan Ari Limbong. Dan, jangan panggil aku 'Dik' terus, ibuku cuma punya satu anak perempuan. Aku tidak punya kakak."
"Kamu sama ibumu, benar-benar mirip sekali."
Detik berikutnya mata Tiara Helena sudah berkaca-kaca, seolah baru saja mendapatkan perlakuan yang sangat tidak adil. Namun, aku jelas melihat seringai dingin yang sekilas muncul di matanya.
Ternyata dia sedang memprovokasiku.
Membuatku mual melihatnya.
Ari Limbong mengerutkan alis, tatapannya makin dingin.
"Ngapain ngomong begitu ke dia?"
"Sari Soewanto, jangan datang ke kantor bikin masalah lagi."
Setelah berkata begitu, dia tidak menatapku lagi, dia membungkuk lalu memeluk Leo.
Gerakannya begitu lembut dan terlatih.
Kalau bukan karena sudah sering menggendong, mana mungkin ....
Saat itu juga, hatiku terasa sangat sakit.
Memang benar, dalam kisah cinta mereka aku memang selalu jadi orang yang tidak penting.
Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri lagi, jadi aku langsung berbalik pergi.
Sampai di bawah, perasaan sesak masih terus menyertaiku.
Aku naik taksi pulang ke Vila Gunung Barat.
Ketika sudah sampai di depan pintu, aku baru tersadar ketika sopir taksi mengingatkanku.
Aku naik ke atas, kembali ke kamar tidurku dan Ari Limbong.
Saat melihat perabotan yang kupilih sendiri di dalamnya, hatiku tidak bisa menahan sedih.
Orang yang sudah kuberikan semua keberanian dan kepolosanku itu begitu sulit kulepaskan.
Kalau tidak pergi, aku harus menyaksikan dia dengan dalang yang membuat ibuku sekarang terbaring di tempat tidur rumah sakit, muncul di depanku setiap hari.
Tiara Helena sudah membuat separuh hidupku jadi tragedi. Namun, sepertinya itu masih belum cukup, sekarang dia masih ingin menginjak-injak harga diriku.
Aku mencintai Ari Limbong, karena itulah aku rela melepaskan semua kebanggaanku.
Namun, aku tidak akan pernah membiarkan Tiara Helena menginjak-injak harga diriku.
Aku mengeluarkan koper, memasukkan barangku asal-asalan, mengusap cincin kawin di jari manis, dan akhirnya aku melepaskannya dengan berat hati.
Barang-barangku terbagi menjadi tiga koper besar, pembantu rumah membantuku meletakkannya di depan pintu. Kemudian aku menelepon Luna Atmaja, memintanya menjemputku.
Namun, dia membutuhkan waktu setengah jam untuk datang.
Aku menutup telepon. Ketika membalikkan badan, aku melihat sebuah Cayenne hitam berhenti tepat di depan vila.
Mobilnya agak asing.
Dengan kebingungan aku mendorong koper maju beberapa langkah.
Ketika aku melihat jelas orang yang turun dari mobil, seluruh tubuhku mulai gemetar karena kesal.
"Ngapain kamu ke sini?"
Aku menatap Suryo Soewanto, teringat ibuku yang terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur rumah sakit, membuat kebencian memenuhi hatiku.
"Kamu pikir aku mau melihatmu?"
Suryo Soewanto menyeringai dingin.
"Cerai sama Ari Limbong!"
Dia memerintahku tanpa perasaan.
Amarahku langsung meledak.
"Atas dasar apa aku harus nurut sama kamu? Kenapa, ternyata dulu maksa Ibu cerai buat kasih tempat ke orang asing masih belum cukup, sekarang mau maksa aku cerai juga?"
Di mata Suryo Soewanto hanya ada tatapan dingin tanpa batas.
Dia melipat tangan, menatapku dengan sombong.
"Karena Tiara melahirkan cucu laki-laki tertua Keluarga Limbong! Begitu dia bisa jadi Nyonya Limbong, keluarga kita bisa menjalin hubungan dengan Keluarga Limbong. Tidak seperti kamu, aku membesarkanmu dua puluh dua tahun, tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluarga."
Aku menggertakkan gigi, tertawa kesal karena sikapnya yang dingin.
"Jadi, selama ini, kamu tidak merasa bersalah sedikit pun ke ibuku?! Keluarga Soewanto sekarang bisa punya posisi seperti ini, semua berkat modal dari ibuku."
"Dulu dia sendiri yang mati-matian mau ikut aku. Sekarang dia sudah seperti orang mati, memangnya kalau ngomong begitu masih ada gunanya? Kalau kamu tidak mau cerai, jangan salahkan aku kalau aku tidak mengakuimu lagi."
Suryo Soewanto berkata dengan nada seolah itu hal yang wajar.
Orang di depanku ini perlahan bertumpang tindih dengan sosoknya lima tahun lalu yang terang-terangan mengusirku di pernikahan.
Kebencian yang selama ini kusembunyikan di hati kembali meluap.
"Bagus, aku mau lihat kali ini kamu mau tidak mengakuiku dengan cara apa. Mengusirku dari rumah untuk kedua kalinya atau lagi-lagi sengaja tidak bayar biaya pengobatan ibuku. Memaksaku mengurus surat cerai? Suryo Soewanto, kamu benar-benar orang paling menjijikkan yang pernah kutemui."
Aku menegakkan punggung, menatapnya.
Padahal bukan salahku, kenapa aku harus dengan sukarela memberikan tempatku untuk Tiara Helena?
Kalau mereka begitu mengharapkan aku bercerai, aku justru mau tetap di sini untuk membuat mereka kesal.
"Mau aku cerai?"
Aku tersenyum jahat sambil melihat wajah Suryo Soewanto yang sudah menghitam, lalu aku pun berkata dengan santai, "Sayang sekali, Ari Limbong bilang, selama aku mau mengasuh Leo, aku masih jadi nyonya rumah di sini."
"Anak perempuanmu salah perhitungan."
Aku menyeringai jahat, sengaja menelepon Tiara Helena di depannya, bahkan menyalakan speaker.
"Tiara Helena, antar anakmu ke sini. Kamu kan katanya mulia banget? Kamu bilang cuma mau kasih kehidupan terbaik buat anakmu, sekarang aku wujudkan kemuliaan hatimu, oh iya, makasih ya sudah melahirkan anak laki-laki buatku, jujur aku agak takut melahirkan karena takut tubuhku berubah bentuk."
Setelah berkata begitu, aku menutup telepon.
Suryo Soewanto merasa kesal sampai dadanya naik turun dengan hebat.
"Anak durhaka!"
"Aku kan anakmu! Kamu orangnya seperti apa, ya aku akan jadi seperti itu, tidak usah memaki diri sendiri begitu."
Aku melipat tangan, aku jarang sekali merasa sepuas ini.
"Suryo Soewanto, aku bukan orang seperti ibuku, juga bukan orang yang lemah. Kalau kamu maksa aku cerai, ya kita lihat saja."
Tatapan Suryo Soewanto langsung berubah, seperti serigala ganas, kalau aku lengah sedikit saja, dia bisa menerkam dan merobek dagingku.
"Kamu pikir kalau kamu tidak mau cerai aku tidak punya cara lain? Sari Soewanto, aku datang ke sini karena masih ingat kita ada hubungan ayah anak, jangan lupa, ibumu sekarang masih terbaring di tempat tidur."
"Jangan berani menyentuhnya!"
Begitu disebut soal ibu, aku tidak bisa mengendalikan diri lagi.
"Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja, aku akan ajak kalian semua masuk neraka bareng-bareng, toh aku sudah tidak punya apa pun yang ditakutkan lagi, Suryo Soewanto, jangan lupa di tulang belulangku mengalir darah yang sama denganmu!"
