Bab [3]
Aku terdiam sejenak, tak bisa berkata apa-apa.
Ari Limbong menindihku, mata sipit itu dipenuhi hasrat. Jari-jari panjangnya meremas tubuhku, setiap sentuhannya seperti aliran listrik yang membuatku mendesah tanpa sadar, membuat tubuhku bergetar.
Saat aku tersadar, pakaianku sudah robek-robek seperti kain compang-camping. Aku sudah hampir telanjang, sementara dia hanya melepas jasnya saja.
Ini kan di depan pintu bar, apa Ari Limbong sudah gila?
Aku memberontak, menggigit bibirnya dengan keras.
Ari Limbong melepaskanku karena kesakitan.
Aku menatapnya, hasrat yang sempat bangkit kini berganti menjadi amarah, tanganku bergerak turun perlahan.
"Buru-buru sekali, Ari Limbong. Kamu sama Tiara Helena sudah main api, apa dia tidak bisa memuaskanmu?"
"Dia berbeda denganmu."
Dia menyadari mataku sudah jernih kembali dengan ejekan untuknya, tatapannya menjadi makin dingin.
Setelah berkata begitu, dia langsung memiliki tubuhku tanpa ampun.
Aku tak sempat bereaksi, seketika itu tubuhku seolah terbelah dua.
Aku merasakan sakit sampai hampir kehilangan kesadaran.
Berbeda denganku?
Aku tak bisa membedakan mana sakit fisik dan mana sakit hati, aku hanya bisa mencengkeram punggungnya erat-erat, ingin merobek dan melahap pria yang kucintai sampai ke tulang sumsum tetapi juga kubenci habis-habisan ini.
Bagaimana bisa dia berkata seperti itu?
Tiara Helena adalah bulan putih yang mulia, sedangkan aku hanya pelacur yang sah?
"Kamu lepaskan ... mmh ...."
Ari Limbong selalu bersikap dominan dan otoriter di saat seperti ini.
Dia langsung membalikkan tubuhku dengan tidak sabar, menutup mulutku.
Cinta adalah seks, tetapi saling benci adalah siksaan.
Entah berapa lama Ari Limbong baru berhenti. Dia merapikan ikat pinggangnya, kembali berpakaian rapi, sementara aku hampir tanpa busana.
"Beli obat sendiri."
Pria itu menyalakan rokok, menoleh menatapku.
"Sari Soewanto, jangan diam-diam bikin anak. Kamu tahu apa yang akan kulakukan."
Seluruh tubuhku sakit sampai tak bisa menggerakkan satu jari pun, wajahku terasa perih, mataku juga perih.
Mungkin di dunia ini selain Tiara Helena, perempuan lain tak layak melahirkan anaknya.
Namun, kenapa dulu dia mau menikahiku?
Kenapa dulu dia bersikap seolah mengharapkan aku melahirkan anaknya?
Ari Limbong selesai merokok, melihatku masih terbaring lemah, dia melempar jasnya seperti sedekah.
"Bersihkan dirimu, pulang jangan sampai Leo lihat."
Pulang?
Aku seolah tertusuk kata-katanya, dengan sisa tenaga aku bangkit duduk, asal-asalan membungkus tubuh dengan rok dan jas.
"Aku tidak mau pulang! Ari Limbong, itu rumahmu sama dia. Kalau kamu tidak mau cerai, aku akan bunuh anak harammu itu."
"Toh hidupku sudah begini, paling tidak kita sama-sama menderita."
"Kamu tidak akan berani." Suaranya terdengar rendah dan seksi, dia bicara dengan keyakinan tak terbantahkan. "Ibumu masih di rumah sakit."
Melihat pria yang duduk seolah bisa mengendalikan segalanya itu, kebencianku mencapai puncak.
Dia selalu seperti itu. Dingin, keras, tak ada yang bisa mendapat kelembutan dan kehangatan darinya.
Setidaknya, aku bukan orang itu.
Ketenangan dan ketegasannya membuatku tampak seperti orang gila yang tak masuk akal.
Aku tak peduli lagi, aku memukul bahunya dengan keras.
"Kamu pikir kamu kenal aku, kemarin aku sudah ingin bunuh anak haram itu."
"Ari Limbong, aku benci kamu. Ya, aku memang tak tahu malu, berharap yang tidak-tidak. Kalau kamu begitu jijik sama aku, kenapa dulu mau nikah sama aku? Kamu begitu cinta Tiara Helena, kenapa tidak nikah sama dia? Kamu pikir aku mau hamil palsu? Dokter salah diagnosis, itu salahku? Aku sudah jelasin ke kamu, kenapa kamu tidak percaya?"
"Aku dulu bukan harus banget nikah sama kamu, suka sama kamu ...."
Aku seperti berdiri di tepi jurang, tidak peduli apa-apa lagi.
"Selama ini, aku berusaha jadi Nyonya Limbong yang pantas, mati-matian menyenangkan keluargamu. Di matamu aku ini apa? Pelacur yang sah? Kamu senang ya tidur sama aku, tidak senang ya acuh tak acuh sama aku. Ari Limbong, kenapa kamu begitu kejam sama aku? Aku cuma mau cerai aja, aku cuma suka sama kamu aja ...."
Aku menyeka air mata dengan berantakan, pria yang duduk dalam kegelapan itu menatapku dengan pandangan tak terbaca.
"Sudah selesai marahnya?"
Dia turun dari mobil, cepat-cepat duduk di kursi kemudi.
"Kalau belum selesai turun, kalau sudah selesai pulang."
Pria itu memunggungi aku, duduk dengan punggung tegak dan dingin.
Sekarang aku benar-benar sadar dari mabuk.
Ternyata, semua ini di matanya hanya aku yang ribut tak masuk akal, tidak lebih.
Aku tertawa, tertawa sampai air mataku mengalir deras.
"Ari Limbong, kamu benar-benar kejam."
Entah perasaanku saja atau tidak, aku melihat punggung pria itu menegang sejenak.
Aku juga malas memikirkannya lagi. Aku menahan sakit di tubuh, turun dari mobil, lalu membanting pintu mobil keras-keras.
Luna Atmaja keluar dari bar dan mendapati aku hilang. Saat melihatku di pinggir jalan, aku duduk begitu saja tanpa memedulikan penampilan.
"Sari, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, pasangan yang mau cerai, kesepian, cari hiburan saja."
"Luna, aku bisa tinggal sementara di tempatmu?"
Luna Atmaja mengangguk, menopangku naik mobil.
Kelelahan fisik dan sakit hati membuatku cepat tertidur.
Setengah sadar, aku seperti mendengar Luna Atmaja berkata, "Sayang, yang ngikutin di belakang itu mobilnya si Limbong bukan?"
Saat aku sadar dari mabuk pada sore hari berikutnya.
Aku merasakan tubuhku lengket. Ketika teringat kejadian semalam, tubuhku langsung kaku.
Sial!
Sepertinya aku belum minum pil KB.
Wajahku pucat, aku langsung pesan pil KB lewat aplikasi.
Masa iya sial sampai hamil?
Setelah minum obat, aku baru agak tenang.
Luna Atmaja sudah keluar, dia travel blogger, berasal dari keluarga berada, sering keluar hunting foto, diskusi dengan tim untuk planning.
Aku menatap surat cerai di meja, tidak lama kemudian aku mengirim pesan kepada sekretaris Ari Limbong, Citra.
[Sekretaris Citra, Ari Limbong ada di kantor?]
Sekretaris Citra dengan cepat membalas.
[Pak Limbong ada di kantor]
[Oke]
Setengah jam kemudian, aku tiba di lobby kantor Ari Limbong. Resepsionis yang melihatku tidak kaget.
Namun, entah kenapa hari ini dia melarangku masuk ke ruang kerja Ari Limbong.
"Nona Soewanto, ruang direktur ada tamu."
"Aku cuma antar dokumen sebentar, tidak akan lama."
Aku berterima kasih atas perhatiannya, lalu masuk lift.
Sampai di ruang direktur, aku baru tahu alasan kenapa resepsionis mengingatkanku.
Tiara Helena ada di ruang direktur, bersama anaknya dan Ari Limbong. Mereka sedang makan. Ari Limbong tidak menyentuh sendoknya, tetapi cara dia menatap Tiara Helena penuh kelembutan dan kerinduan yang tak pernah kulihat.
Pemandangan ini sangat menyakitkan.
Tiara Helena yang pertama melihatku, dengan agak canggung dia berdiri.
"Adik, jangan salah paham, Leo kangen ayahnya, makanya aku ...."
"Anakmu yang kangen ayahnya atau kamu yang mau naik kelas?"
Aku menyindir tanpa basa-basi.
"Tiara Helena, lima tahun di luar negeri tidak belajar apa-apa ya? Caramu masih begitu murahan."
Sudah lima tahun kamu pura-pura baik dan penurut, aku sudah bosan. Lagi pula, sekarang aku mau cerai, aku malas pura-pura lagi.
Wajah Tiara Helena berubah. "Ari, aku ...."
Ari Limbong menggendong Leo yang menunduk, kemudian dia menatapku.
"Sari Soewanto, minta maaf sama Tiara Helena."
"Kenapa? Waktu mereka merebut tempatku, mereka minta maaf sama Ibu belum?" Meski sudah menduga reaksinya, hatiku tetap perih. Aku tidak mau tampak lemah dan ditertawakan oleh mereka. "Ini buat kamu."
Ari Limbong mengerutkan dahi, tidak menerimanya.
"Apa ini?"
"Surat cerai. Tanda tangan, mulai sekarang kamu mau cari berapa perempuan dan punya berapa anak haram terserah."
Melihat dia berdiri bersama Tiara Helena, mataku perih.
