Mantan Istri yang Tak Terlupakan

Unduh <Mantan Istri yang Tak Terlupak...> gratis!

UNDUH

Bab [2]

"Dia ada di rumah atau tidak, kamu tidak tahu?"

"Adik, setelah bertahun-tahun, kamu masih menyalahkanku? Aku benar-benar tidak datang untuk merusak keluargamu."

"Tiara Helena, kamu bicara begitu tidak merasa bersalah? Dulu ibumu yang merusak keluargaku, memfitnah ibuku, sekarang kamu datang lagi merebut milikku, Ari Limbong."

Aku tertawa dingin.

"Bawa anakmu pergi, ini rumahku."

Tiara Helena menatapku dengan wajah polos.

"Leo kan anak Kakak Ari, adik, kalau kamu tidak punya toleransi sedikit pun ...."

Plak!

Aku sama sekali tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kata-katanya, aku langsung menamparnya.

"Sari Soewanto, kamu!"

"Aku kenapa?" Aku menepuk-nepuk tanganku dengan santai. "Dari kemarin aku sudah ingin menampar si manis tapi penuh kepalsuan ini."

Aku mendengus.

"Kamu mau pergi atau tidak? Kalau tidak, aku panggil security."

Anak laki-laki yang berdiri di sampingnya langsung menangis.

"Ibu ...."

Aku melihat alis matanya yang mirip dengan Ari Limbong, teringat bagaimana dulu mereka bermain api. Seketika kepahitan menyebar di hatiku, lalu aku memalingkan wajah.

"Adik, aku tidak minta hak asuh kok, aku hanya tidak ingin Leo ikut denganku."

Aku menutup pintu dengan keras, meredam suara Tiara Helena.

Kenangan masa lalu berputar di kepalaku.

"Ibuku masih terbaring di tempat tidur rumah sakit antara hidup dan mati, kenapa mereka yang menjadi pihak yang diuntungkan, masih ingin menguasai keluarga masa lalu dan masa kiniku, aku tidak rela."

Ketika pembantu memberitahu bahwa Tiara Helena sudah pergi, aku menggumam dan menyuruh sopir mengantarkanku ke rumah sakit.

Ibuku terbaring di tempat tidur rumah sakit, hanya napas lemah yang membuktikan dia masih hidup.

Aku merebahkan diri di samping tempat tidurnya, seolah-olah dia tidak pernah dalam kondisi koma.

"Ibu, aku berencana melepaskan Ari Limbong."

"Tiara Helena sudah kembali, setelah bertahun-tahun pun, aku masih kalah darinya. Aku tidak berguna ya, ibu dan anak yang dulu menginjak-injak kita, sekarang aku masih tidak punya kemampuan untuk menjatuhkan mereka."

"Ibu, aku rindu kamu."

Ketika teringat segala hal yang kulakukan dengan Ari Limbong, aku tidak bisa menahan tangis.

Luna Atmaja segera menemukanku di rumah sakit, dia melihat mataku yang bengkak merah, tidak bisa menahan diri untuk memaki bahwa aku tidak berguna.

"Di dunia ini Ari Limbong bukan satu-satunya pria, kodok berkaki tiga susah dicari, pria berkaki dua ada di mana-mana."

"Menurutku sih, Ari Limbong kan kaya, kamu minta lebih banyak saja, kalau punya uang, siapa yang masih peduli sama pria!"

"Kejadian dulu kamu juga korban, tapi apa dia percaya kamu? Orang sombong begini masih mau buat apa."

Aku menelan kepahitan di hati, lalu menggeleng.

"Kamu benar, cowok ganteng banyak, aku mau pakai uangnya untuk memelihara pria."

"Ayo, kita ke bar cari cowok ganteng."

Luna Atmaja tersenyum sambil merangkul lenganku.

"Nah gitu dong, ini baru Sari kita."

Aku pergi ke bar malam yang panas dan memabukkan.

Biasanya untuk menjaga nama baik Keluarga Limbong, aku jarang datang ke tempat seperti ini.

Setelah kejadian dulu, aku sengaja mengurangi kehadiranku, takut ada yang mengungkit masa lalu.

Namun sekarang ....

Aku mau cerai, siapa peduli?

Lebih baik membuat kesal Ari Limbong.

Aku minum sampai pusing, lalu Luna Atmaja menarikku untuk menari.

Di lantai dansa, ada yang melihatku dengan wajah merah.

"Cantik, kamu cantik banget, boleh aku ajak kamu dance?"

Melihat penampilannya yang gugup, aku merasa dia lucu sekali, aku tidak bisa menahan tawa.

"Boleh."

Mungkin karena mabuk, aku mengikat kemejaku dengan simpul kupu-kupu di pinggang, memperlihatkan pinggang ramping, dan melampiaskan emosi tertekanku di lantai dansa.

"Ayo, lanjut dong."

Aku melihat cowok ganteng itu berhenti bergerak. Karena tidak puas, aku mengulurkan tangan. Saat baru mau menyentuhnya, pergelangan tanganku dicengkeram.

"Sari Soewanto, kamu mabuk ya?"

Apa aku berhalusinasi?

Kok aku mendengar suara Ari Limbong.

Karena penasaran aku pun berbalik. Dan benar saja, aku melihat pria dengan aura dingin.

"Ngapain?"

Aku menarik pergelangan tanganku dengan keras.

Ari Limbong menggertakkan gigi.

Mata pria itu dipenuhi kemarahan.

"Harusnya aku yang tanya kamu mau ngapain? Kenapa kamu tidak biarkan Leo masuk?"

Lima tahun sudah berlalu, tetapi dia masih sangat mencintai Tiara Helena?

Sangat mencintai Tiara sampai harus datang ke bar untuk menemukanku untuk mempertanyakan perbuatanku.

Aku juga naik darah, aku menatapnya tidak mau kalah.

"Aku memang tidak mengizinkannya, kenapa? Kalau kamu sangat sayang anak haram dan Tiara Helena itu, kenapa tidak langsung nikahi dia? Mau aku jadi ibu tiri, mimpi kamu!"

Aku jelas merasakan ketidaksenangan dari pria itu.

Dia mengenakan jas bermerek, berkelas, sangat tidak cocok dengan tempat ini.

Wajah yang bisa membuat siapa saja terpesona itu, meski sedang marah, itu tidak mempengaruhi ketampanannya.

Pria itu menahan amarah, dia mengerutkan kening. "Kamu mabuk, aku tidak akan bertengkar denganmu, ikut aku pulang."

"Aku tidak mau!"

Mungkin aku benar-benar mabuk atau mungkin pernikahan lima tahun ini menekan semua emosi negatifku.

Aku mendengus, menunjuk dadanya, berkata satu per satu, "Pak Limbong, aku mau cerai denganmu, aku tidak bercanda."

"Dan juga, jangan ganggu aku cari jodoh lagi."

Saat aku baru mau berbalik, mata pria itu seperti direndam air dingin. Lalu tanpa basa-basi dia langsung mengangkatku, memikulku di bahunya.

"Coba kamu ulangi sekali lagi."

Alkohol itu mudah memengaruhi pikiranku.

Air mataku benar-benar tidak terkendali, aku menangis sambil mengeluh.

"Mau kuulangi sejuta kali pun aku tetap mau cerai denganmu, Ari Limbong dasar bajingan, tua, pendek kecil, jelek pula, kamu pikir aku peduli sama kamu."

"Turunkan aku, kamu pikir kamu raja? Apa yang kamu bilang ya itu yang harus terjadi?"

"Kenapa aku harus dengerin kamu, kenapa harus memelihara anak harammu!"

Aku memaki sepanjang jalan. Ari Limbong pura-pura tidak tidak medengar sebelum akhirnya membuka pintu mobil, melemparkanku masuk.

Aku terjatuh di kursi belakang, kepalaku pusing, butuh waktu lama sampai akhirnya aku sadar.

Ari Limbong melonggarkan dasinya dengan satu tangan, menatapku dari atas.

"Sari Soewanto, memangnya punya hak membicarakan perceraian denganku?"

Kata-kata ini seperti pisau yang menusukku hingga berdarah.

Aku tertawa pelan.

"Aku kasih tempat untuk cinta sejatimu memangnya tidak boleh?"

"Kapan kita mengakhiri pernikahan, bukan kamu yang tentukan. Sari Soewanto, kamu tidak punya hak bernegosiasi denganku."

Pria itu bicara sambil menutup pintu mobil, berlutut satu kaki di kursi belakang, mendekatiku, dan membuka kancing kemeja.

"Dan lagi, aku pendek kecil? Jelek?"

Suasana menjadi sensual, jari panjang pria itu mengangkat daguku, tiba-tiba dia tersenyum.

"Sepertinya Nyonya Limbong benar-benar kesepian."

Aku mencium aroma bahaya, membuatku benar-benar sadar.

Nafsu Ari Limbong sangat tinggi, meski kami hanya terlihat harmonis di luar, tetapi kami sangat sering melakukan hubungan suami-istri.

Setiap kali melakukannya, aku selalu dibuatnya lelah sekali.

Apakah tadi otakku kemasukan air? Kenapa aku bicara begitu?

Aku hancur!

Tanpa pikir panjang, aku hendak turun dari mobil, tetapi Ari Limbong langsung menarikku kembali dengan satu tangan melingkari pinggangku.

"Sari Soewanto, kamu tidak pandai bicara? Lanjutkan."

Telapak tangan lebar pria itu jatuh di pinggangku. Ketika melihat pinggang rampingku yang terbuka, matanya jelas menunjukkan ekspresi tidak senang.

Dia menggigit leherku dengan keras, seperti sedang melampiaskan dendam.

Saat ini, aku seperti domba yang dikirim ke mulut harimau.

Tangan pria itu jatuh di tempat paling sensitifku.

"Bicara dong, kok tidak bicara lagi? Hm?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya