Kekayaan Semalam

Unduh <Kekayaan Semalam> gratis!

UNDUH

Bab 08 Mediasi Ryder

Sam ketakutan setengah mati. Yang ada di kepalanya cuma satu: kabur secepat mungkin dari situ.

Di bawah ancaman Ryder, dia sama sekali tak berani membantah. Dia cuma mengangguk-angguk cepat, berkali-kali.

“Pergi sana!” Ryder menendang Sam sampai terseret.

Sam tunggang-langgang bangkit lalu lari, tak sekali pun menoleh ke belakang.

Ruang tamu berbau darah dan alkohol.

Acara “kenalan calon menantu baru” yang susah payah disusun Karen hancur berantakan. Karen kaget sekaligus ciut. Biasanya, dia sudah menampar Ryder sekuat tenaga. Tapi setelah menyaksikan apa yang barusan terjadi, Karen keburu gentar dan tak berani menantangnya terang-terangan.

Ia memutar bola mata, lalu menjatuhkan diri ke lantai dan mulai mengamuk sambil meraung. “Hidup aku ini sial banget! Nikahin anakku sama laki-laki gak guna, sekarang dia malah berani mukul orang di rumahku! Suatu hari nanti aku pasti dipukuli sampai mati sama berandal ini!”

Lalu ia menoleh ke Sarah dan melengking, “Sarah, di TV juga suka bilang, ada laki-laki yang kelihatannya lembut di luar, tapi begitu di rumah jadi kasar! Kalau dia masih di sini, Ibu pindah! Ngeri, tau!”

Dan ia harus mengakui—cara itu manjur.

Sarah tak punya pilihan selain berkata, “Ryder… kalau memang sudah nggak bisa—”

“Aku nggak pulang beberapa hari. Aku jaga Ava di rumah sakit.” Ryder memotongnya tanpa basa-basi.

Ada nyeri halus menyusup di dada Sarah. Ia merasa kasihan pada Ryder.

Tapi begitu dipikir lagi, tingkah Ryder belakangan ini terlalu menyeramkan, sampai-sampai terasa seperti orang asing baginya. Mungkin membiarkan Ryder pergi beberapa hari untuk menenangkan diri memang lebih baik.

Ryder mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan menyerahkannya pada Sarah. “Ini buat kamu. Aku masih ada urusan. Aku berangkat.”

Habis itu ia melangkah keluar tanpa menoleh.

Begitu pintu tertutup, Karen langsung berhenti menangis. Ia meludah ke arah pintu. “Pergi sana, sampah! Mati di luar sana sekalian, itu paling bagus! Ibu bakal nyalain petasan buat ngerayain!”

Sarah membuka kotaknya. Di dalamnya ada sebuah kalung.

Berlian di kalung itu besar—jauh lebih besar dari yang pernah diberikan Sam padanya.

Tak disangka, Karen menyambar kalung itu dan melemparkannya ke tempat sampah sambil menggerutu, “Kelihatan kayak barang murahan pasar malam. Berani-beraninya dia ngasih ginian! Jauh banget sama punya Sam! Kamu udah bikin Sam tersinggung, tunggu aja akibatnya!”

Selesai bicara, Karen melengos menuju kamar.

Ernest ikut-ikutan berjalan dengan kepala tertunduk. Karen yang masih mendidih menampar bagian atas kepalanya. “Ngapain ngikutin Ibu? Sana pel lantainya!”

Ernest terpaksa menurut.

“Nikah sama kamu, Ernest! Pasti dulu aku buta! Kalian laki-laki semuanya sama—nggak tau terima kasih! Pada punah aja sekalian!”

Dengan begitu, Karen membanting pintu kamar sampai bergetar.

...

Ryder turun ke bawah. Porsche milik Sam sudah tidak ada.

Hari ini Sam menelan rugi besar di tangan Ryder—dan jelas dia bakal membalas.

Biar saja.

Ryder yang sekarang tidak takut siapa pun.

Pukul lima setengah sore, Ryder meninggalkan rumah sakit untuk menghadiri makan malam yang sempat disebut Sophia. Ia naik bus menuju The Pint House.

Di perjalanan, ia membuka TikTok.

Video pertama yang muncul di rekomendasi lokal adalah sebuah cuplikan.

Di situ tampak Tom dan kepala keamanan Maple Real Estate dalam keadaan yang… menjijikkan, di kamar mandi. Detailnya tak pantas dibahas.

Di bagian komentar, orang-orang ramai menulis macam-macam—“jijik,” “demi terkenal ngapa-ngapain”—yang bikin Ryder muak. Ia cuma menonton beberapa detik sebelum keluar. Perasaannya campur aduk. Tom memang pantas mendapatkannya, dan Ryder sama sekali tidak merasa kasihan. Kalau saja Ryder tidak punya posisi seperti sekarang, dia yakin dirinya justru akan diinjak lebih parah oleh orang-orang semacam itu.

“Uang memang bikin orang bisa ngapa-ngapain,” batinnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Sarah.

Ryder cepat-cepat mengangkat.

Suara Sarah terdengar kesal dari seberang. “Kamu lari ke mana lagi?”

Ryder menjawab, “Aku cuma keluar sebentar, mau cari makan.”

“Gimana keadaan adikmu sekarang?”

“Operasinya berhasil. Dia sudah lewat masa kritis! Dan… makasih juga sudah transfer uangnya.”

Sarah memang dingin pada Ryder, tapi pada dasarnya dia tipe yang mulutnya tajam tapi hatinya lembut. Kalau tidak, dengan provokasi Karen yang tak ada habisnya, Sarah pasti sudah lama minta cerai dari Ryder.

“Syukurlah dia nggak apa-apa, tapi ingat ya, uang itu bukan dikasih ke kamu. Itu pinjaman. Jangan lupa bikin surat utang, sama bunganya juga!”

Sarah mendadak mengembuskan napas panjang. “Oh iya, jangan lupa, besok rapat keluarga bulanan. Kamu harus datang. Sepupu kita, Abigail, punya pacar baru, dan dia ngomong khusus kamu wajib ada! Semua orang juga tahu dia cuma pamer! Bikin aku emosi!”

Ryder paham, Sarah takut kehilangan muka kalau harus bawa dia.

Tapi dia sudah terbiasa. “Kalau gitu aku cari alasan aja biar nggak ikut?”

Nada Sarah langsung tegas. “Nggak. Dari kecil Abigail memang hobi banget saingan sama aku. Dulu aku selalu lebih bagus dari dia di semua hal. Kalau kali ini kamu nggak datang, itu sama aja ngaku kalah. Aku nggak mau lihat muka dia yang nyengir puas. Jadi kamu harus datang. Nanti aku transfer tiga puluh juta buat kamu. Beli baju yang pantas. Besok kita berangkat lebih awal.”

Teleponnya ditutup.

Tak lama kemudian, ponsel Ryder bergetar—ada notifikasi transfer masuk dari Sarah sebesar Rp30.000.000.

“Perempuan… kenapa sih harus selalu adu-aduan sama orang?” Ryder menghela napas, pasrah.

Sepuluh menit kemudian

Bus berhenti di halte dekat The Pint House.

Ryder melangkah menuju area parkir alun-alun hotel ketika sebuah Mercedes putih tiba-tiba melesat keluar.

Ryder buru-buru meloncat ke samping—nyaris terserempet.

Mercedes putih itu berhenti di petak parkir tak jauh. Seorang perempuan turun, memakai gaun belahan dada rendah dan kacamata hitam. Tubuhnya bagus, usianya kurang lebih seumuran Ryder. Belum sempat Ryder bicara, perempuan itu sudah menunjuk dan membentak, “Mata kamu buta, ya? Kalau mobilku lecet, kamu sanggup benerinnya?”

Ryder merasa benar-benar tidak salah. “Mbak, saya jalan biasa. Anda yang tiba-tiba nyelonong keluar sampai hampir nabrak saya, ya?”

Perempuan berkacamata hitam itu justru makin tidak masuk akal. “Aku mau nyetir gimana juga terserah aku, urusan kamu apa? Makin aku lihat, muka kamu tuh nggak kayak orang bener. Kamu mau nipu aku, ya?”

Ryder sampai terkekeh.

“Kita cek aja dashcam mobil Anda, atau CCTV sekitar sini. Kalau memang saya yang salah, saya ganti rugi, gimana?”

Perempuan itu menatap Ryder dari kepala sampai kaki, lalu meludah ke tanah dengan jijik. “Lihat tampang kamu aja… sekalipun kamu jual diri, juga nggak bakal kebayar!”

Ryder menoleh ke Mercedes putih itu. Dalam pikirannya, paling harganya sekitar lima sampai enam miliar rupiah.

Bahkan masih lebih kecil dari bunga harian uang tunjangannya yang mengendap di bank. Konyol.

“Mampu atau nggak itu urusan lain. Ayo sekarang kita cek dashcam!”

Perempuan itu melirik jam tangannya dengan tidak sabar. “Udah! Aku ada janji makan malam. Nggak ada waktu debat sama kamu hari ini. Anggap aja aku apes.”

Habis itu dia melangkah ke pintu masuk Fly Restaurant tanpa menoleh lagi.

Ryder berdiri di situ, cuma bisa tersenyum kecut.

Insiden kecil itu sama sekali tidak mengganggu mood Ryder. Dia ikut berjalan ke arah pintu restoran dan melihat perempuan berkacamata hitam itu sedang menelepon, bilang dia sudah sampai dan minta seseorang menjemputnya.

Perempuan itu menutup telepon.

Begitu menyadari Ryder ada di dekatnya, keningnya berkerut dan dia menyeringai sinis. “Ngapain kamu ngikutin aku? Masih mau nipu?”

Ryder memutar bola mata. “Saya ke sini mau makan!”

Perempuan itu jelas tidak percaya. Dengan nada meremehkan, dia berkata, “Lihat tempatnya. Pake baju lusuh begitu, kamu kira bisa makan di sini? Dengar ya, masuk aja harus reservasi. Kalau nggak, kamu bahkan nggak bakal lewat pintu!”

Dia menoleh ke dua petugas pintu dan memperingatkan, “Orang ini tadi di parkiran coba bikin-bikin kecelakaan sama aku. Nggak beres. Usir aja. Nanti kalau dia nyelonong masuk terus nyuri barang di restoran kalian gimana?”

Dua petugas pintu melirik Ryder. Melihat penampilannya memang tampak pas-pasan, mereka langsung membentak, “Pergi! Jangan berdiri di depan pintu restoran!”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya