Bab 01 Kehilangan Martabat
“Dek, Kakak nggak berguna. Ini saja yang bisa Kakak lakukan. Mulai sekarang, kamu harus hidup baik-baik...”
Ryder Clark sudah memantapkan hati.
Tiga hari lalu, adik perempuannya mengalami luka parah karena kecelakaan tabrak lari. Biaya rumah sakit yang mencekik membuat napasnya terasa pendek setiap kali memikirkan angka-angkanya.
Ia berniat melompat ke dalam mesin pabrik dan merekayasa kecelakaan kerja. Dengan begitu, ia bisa mendapat uang ganti rugi enam ratus ribu dolar.
“Semoga uang ganti ruginya nggak disikat juga sama ibu mertua...” pikir Ryder.
Pagi itu, ia akhirnya menerima pencairan asuransi dari kecelakaan mobil—hanya untuk direbut begitu saja oleh ibu mertuanya!
“Ma! Tolong balikin tiga ratus ribu dolar itu! Adik saya butuh buat operasi, waktunya udah nggak ada!” Ryder memohon sambil berlutut.
Ibu mertuanya, Karen, menampar pipinya keras-keras. “Minggat! Dasar nggak ada gunanya! Sejak kapan aku utang uang sama kamu?!”
“Pihak asuransi bilang Ibu yang ngambil!” Ryder menjelaskan dengan gelisah.
Karen sama sekali tak masuk akal. “Terus kenapa kalau aku yang ambil? Kamu udah makan dan numpang tinggal di rumahku bertahun-tahun—kamu yang utang sama aku! Jadi laki-laki, duit buat operasi adik sendiri aja nggak bisa ngumpulin. Kamu itu gunanya apa? Keluar sana, ketabrak truk sekalian!”
Saat itu, istrinya, Sarah Johnson, baru pulang kerja.
Karen langsung menoleh pada Sarah dan mengomel, “Tuh lihat! Itu suami nggak guna yang kamu pilih! Bokek, pecundang, nggak ada yang beres!”
“Ma, dia orang biasa. Gimana caranya dia bisa ngumpulin uang sebanyak itu?” Sarah menatap Ryder yang masih berlutut di lantai. Meski ia muak dengan suami yang tak pernah bisa diandalkan, ada sekelebat iba yang lewat di matanya.
Sarah menambahkan, “Ma, bagaimanapun juga, mungkin sebaiknya uang asuransi itu dikasih ke dia. Soalnya...”
“Diam!” Karen memotong tajam. “Uang itu belum tentu bikin adiknya sembuh kalau dipakai berobat. Lebih baik dipakai buat ningkatin hidup kita. Nggak ada yang boleh sentuh!”
Karen menendang perut Ryder dengan nada mengejek. “Uang kamu sendiri aja nggak bisa kamu ambil balik! Kalau kamu punya nyali, ambil pisau terus bunuh aku, ayo?!”
Ryder memegangi perutnya, amarahnya membara—tapi saat ia melirik Sarah, ia menelan kembali semua itu.
“Udah ketebak, penakut.” Karen mendengus. “Keluar! Keluarga ini nggak butuh benalu kayak kamu. Beberapa hari lagi urus cerai, habis itu kita anggap lunas!”
Selesai bicara, Karen mendorong Ryder keluar.
Sarah tidak mencegah. Wajahnya penuh kekecewaan pada Ryder.
Ayah Sarah, Ernest Johnson, tetap menunduk membaca koran, seolah tak ada apa-apa.
Pintu menutup.
Di luar, hati Ryder rasanya mati. Tiga tahun jadi menantu numpang, ia sudah tahu Karen tajam lidah dan kejam—tapi ia tak pernah menyangka perempuan itu bisa sedingin ini.
“Bagaimanapun caranya, aku harus dapat uang buat operasi,” Ryder mengepalkan tangan. Ia menaiki skuter listriknya yang sudah kusam dan melaju ke pabrik tanpa ragu—ia masih punya satu harapan terakhir: mengambil gaji enam bulan yang ditahan mandornya.
Ryder pernah kuliah jurusan arsitektur. Setelah lulus, ia bekerja di pabrik. Meski direkrut untuk posisi teknis, ia tetap disuruh mengerjakan kerja kasar seperti buruh lain, dibayar lima ribu dolar sebulan sambil banting tulang sampai jari-jarinya seperti mau copot.
Itu pula yang membuat ibu mertuanya makin memandangnya rendah.
Setengah jam kemudian
Pabrik
Ruang kepala mandor
Tom dan beberapa pengawas pabrik sedang berjudi, tumpukan uang berserakan di atas meja.
Ryder memohon putus asa, “Bos, tolong bayarin gaji saya yang nunggak. Enam bulan saya nggak digaji! Adik saya butuh uang buat berobat...”
Tom mengisap rokok dengan tidak sabar lalu membentak, “Sialan! Dari pagi sampai malam yang kamu pikirin duit, duit, duit! Pembayaran proyek aja belum turun! Aku bayar kamu pakai apa?!”
“Bos, kalau uang proyek belum turun, kenapa yang lain tetap digaji, cuma saya yang nggak?” Ryder mendesak.
Tom saling melirik dengan para pengawas, lalu tiba-tiba menyeringai. “Jujur aja, gaji kamu memang sengaja aku tahan!”
“Kenapa?!” Ryder menatapnya, terpaku kaget.
“Kenapa?” Tom melempar puntung rokoknya ke arah Ryder dan menyeringai bengis. “Soalnya sampah nggak guna kayak lo bisa nikahin perempuan paling cantik di Houston. Gue nggak sudi lihatnya. Masalah? Kalau gitu cari orang buat ngajar gue!”
Ryder rasanya seperti jatuh ke jurang.
Tom sudah lama berkeliaran di Houston, relasinya luas. Di hadapannya, Ryder tak lebih berarti dari semut.
Tom menatapnya dengan mata jelalatan. “Sebenernya... kalau lo bawa istri cantik lo ke sini buat nemenin gue sebentar, mungkin gue kasih lo beberapa juta. Gimana?”
Para mandor lain yang duduk di meja ikut menimpali dengan tawa mengejek.
“Gue nambah tiga juta! Abis bos selesai, giliran gue!”
“Lebih seru lagi, suruh si tolol itu nonton. Kata orang Sarah masih perawan! Pasti rapet!”
Kata-kata jorok itu menghujam telinga Ryder. Ia tak sanggup lagi.
Ryder menerjang Tom dan menghantam wajahnya keras-keras.
Tom terhuyung, kaget sekaligus murka. “Hajar dia!”
Satu kantor langsung mengerubungi. Dua tangan tak mungkin melawan empat—apalagi lebih. Ryder segera dibanting dan ditahan di lantai.
Tak sampai beberapa saat, tubuhnya penuh memar.
“Tolol!” Tom menginjak kepala Ryder, membuka ritsleting celananya, lalu mengencinginya. “Seret dia keluar, buang!”
Malam turun.
Ryder jongkok di pinggir jalan, memeluk kepalanya, menangis tersedu. Hari itu, habis sudah harga dirinya.
Tak ada yang tahu, sebenarnya ia adalah tuan muda keluarga Jones di New York. Di balik hidupnya yang menyedihkan, ada kisah yang mengoyak dada.
Dua puluh lima tahun lalu, ayahnya, John Clark, menikah masuk ke keluarga Jones di New York sebagai menantu tinggal. Setahun kemudian, Emma Jones—putri sulung keluarga Jones—melahirkan seorang anak laki-laki.
Menurut tradisi keluarga, anak itu memakai marga sang ibu, dan diberi nama Ryder Jones.
John berwatak lemah. Di rumah besar keluarga Jones, ia menelan penghinaan tanpa henti—kedudukannya bahkan lebih rendah daripada para pelayan. Sementara Emma hidup bergelimang kemewahan dan pesta pora, gonta-ganti lelaki tanpa peduli apa pun.
Tak lama kemudian, Emma yang keras kepala itu terang-terangan mengambil suami lagi. Keterlaluan.
Di kalangan orang-orang berduit, pria sukses beristri lebih dari satu bukan hal yang menghebohkan; pewaris kaya punya dua suami pun bukan sesuatu yang mustahil.
Pria itu kemudian menjadi ayah tiri Ryder Jones.
Setelah ayah tiri itu dan Emma punya anak laki-laki sendiri, posisi John jatuh semakin dalam. Meski Ryder Jones adalah darah daging Emma, ia jauh lebih tidak disayang dibanding adiknya. Sepuluh tahun lalu, Emma tanpa perasaan membuang John—dan mengusir ayah dan anak itu keluar dari keluarga Jones sekaligus.
“Kalian orang kaya baru itu nggak pantas makan semeja sama keluarga Jones. Mulai sekarang, hubungan kita putus!”
Itu kata-kata Emma sebelum menutup pintu.
Setelah meninggalkan New York, ayah dan anak kembali ke pelosok Houston dan saling bergantung satu sama lain. Ryder Jones mengganti namanya menjadi Ryder Clark.
Belakangan, John mengangkat anak perempuan tujuh tahun bernama Ava. Mereka bertiga hidup melarat, tapi mereka punya satu sama lain. Namun kebahagiaan tak lama. Tiga tahun lalu, John mendadak menghilang sebulan tanpa kabar. Saat kembali, ia sudah berada di tahap akhir penyakit mematikan. Mereka berutang besar demi pengobatan, tapi tetap saja John tak terselamatkan.
Setelah John meninggal, demi melunasi utang, Ryder yang baru lulus terpaksa menelan gengsi: ia menikah masuk ke keluarga Johnson sebagai menantu tinggal, bekerja seperti babu selama tiga tahun. Ketika adiknya bermasalah, Ryder jungkir balik mencari uang untuk biaya pengobatan.
Ia bahkan menguatkan diri menghubungi ibu kandungnya, Emma, yang sudah tak ia ajak bicara selama sepuluh tahun, untuk meminjam uang. Namun yang ia dapat hanya suara dingin di seberang sana, “Aku nggak punya anak kayak kamu. Melahirkan kamu itu kebodohan paling besar dalam hidupku!”
Lalu telepon itu diputus.
Saat paling gelap dalam hidupnya tiba.
Ryder menangis lama. Begitu ia berdiri, siap berjalan ke pabrik dan mengakhiri hidupnya, sebuah Rolls-Royce hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
Seorang lelaki tua berwibawa turun dari mobil.
Ia membungkuk dalam-dalam kepada Ryder. “Tuan muda, saya membuat Anda menunggu.”
