Bab 4
Suara Maira menggema tegas di ruangan itu, menetapkan batasan yang tak bisa ditawar.
Lukman dan Rian yang berdiri tak jauh dari situ seakan tak percaya dengan pendengaran mereka sendiri.
Mereka sudah bertahun-tahun mengabdi pada Pak Rendra, dan belum pernah ada satu orang pun yang berani memberikan ultimatum padanya. Fakta bahwa bos mereka bahkan menawarkan pilihan saja sudah merupakan sebuah keajaiban.
Suasana di ambang pintu terasa begitu mencekam dan menekan, membuat siapa pun di sana bahkan takut untuk bernapas terlalu keras.
Para pengawal berusaha sebisa mungkin menyatu dengan bayangan, berharap tak terlihat.
Setelah hening yang terasa seperti selamanya, Rendra mendengus sinis. "Maira, kamu sadar apa yang baru saja kamu ucapkan?"
Wajah Maira tetap datar, tak gentar sedikit pun. "Apa kata-kata saya terlalu sulit untuk dipahami?"
Ketegangan di udara begitu pekat, seolah bisa diiris dengan pisau.
Semua orang menahan napas, bahkan Wisnu pun bisa merasakan tekanan berat itu.
Mata Rendra menelusuri sosok Maira, menilainya dari ujung kaki hingga kepala.
Empat tahun berlalu, dan wanita ini telah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Matanya yang dulu sering melirik ragu dan takut, kini jernih dan penuh tekad. Dia tidak lagi bicara dengan suara lirih dan rendah diri saat memanggilnya "Pak Rendra". Sekarang, nada bicaranya dingin dan acuh tak acuh.
Rendra merasakan kejengkelan yang aneh dan menjawab dengan nada sedingin es, "Dia anak saya juga. Bahkan kalau kamu panggil polisi, mereka hanya akan menganggap ini masalah keluarga."
Memang belum ada tes DNA resmi, tapi Rendra sudah menerima Lili sebagai putrinya.
Maira mengangkat sebelah alisnya dan bertanya dengan nada mengejek, "Kata siapa?"
Rendra terhenyak, sesaat kehilangan kata-kata.
Maira melangkah maju, menatap lurus ke manik mata pria itu. "Siapa bilang dia anak Bapak? Pak Rendra, apa insting Bapak sudah tumpul? Bukannya Bapak tipe paranoid yang tidak pernah mau mendengar penjelasan orang lain?"
Ucapan itu seketika melempar Rendra kembali ke pagi hari empat tahun yang lalu.
Saat itu, dia sama sekali tidak memberi Maira kesempatan untuk menjelaskan, menuduhnya menggoda demi keuntungan pribadi, lalu membiarkan wanita itu kehujanan di luar.
Maira tidak mengendurkan serangannya, justru semakin mendesak. "Keamanan di Kediaman Sanjaya sebegitu lemahnya sampai seorang anak kecil bisa menyusup masuk? Dan Bapak percaya begitu saja apa pun yang diucapkan bocah itu? Apa itu artinya siapa pun yang mengaku kerabat Bapak bisa melenggang masuk seenaknya? Pak Rendra, ternyata Bapak gampang sekali dibodohi."
Kalimat terakhirnya terdengar ringan, namun meneteskan sarkasme yang tajam.
Maira tampak tenang dari luar, tapi tangannya sedikit gemetar.
Negosiasi dan permohonan tidak akan mempan pada pria seperti Rendra, jadi dia harus mengambil langkah berisiko untuk memprovokasinya.
Benar saja, tatapan Rendra menggelap, dan suaranya berubah menjadi geraman rendah. "Maira."
Maira menelan ludah dengan gugup, rasanya seperti sedang berjalan di atas seutas tali tipis, tak tahu apa yang akan dilakukan Rendra selanjutnya.
Ketegangan itu begitu nyata. Wisnu bergeser sedikit, siap pasang badan untuk melindunginya.
"Mama!" Suara ceria dan polos Lili tiba-tiba memecahkan ketegangan yang membeku itu.
Lukman, Rian, dan yang lainnya serempak menghela napas lega.
Lili, seperti seekor anak kijang, tiba-tiba melompat ke dalam pelukan Maira.
Maira secara naluriah mendekapnya erat, lega luar biasa memastikan putrinya aman.
Lili mendusel manja di leher ibunya, berbisik pelan dengan nada sedikit bersalah, "Mama, kok cepat banget sampainya!"
Ekspresi Maira berubah serius. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Lili dengan tegas, "Kenapa kamu kabur sendirian sejauh ini?"
"Aku mau cari Papa," kata Lili sambil menatap Maira dengan mata bulatnya yang memelas, tangan kecilnya menarik-narik kerah baju ibunya. "Ma, kita nginep sini ya? Rumah Papa banyak makanan enak, ada brownies! Itu brownies paling enak yang pernah aku makan!"
Tubuh Maira seketika menegang.
Brownies adalah kue kesukaannya, dan Lili jelas mewarisi selera itu.
Masalahnya, Rendra sangat membenci kue itu. Dia selalu bilang rasanya terlalu manis.
Sebenarnya, tak ada satu pun anggota keluarga Sanjaya yang menyukai benda-benda itu.
Tapi anehnya, kenapa benda-benda itu selalu ada di setiap sudut Vila Sanjaya?
Maya tak punya waktu untuk memikirkan hal sepele itu. Ia menatap Lili dengan wajah serius dan berkata tegas, "Dia bukan Papamu."
Lili tertegun, wajah mungilnya tampak syok seolah baru saja disambar petir di siang bolong. "Kok bisa bukan? Aku sudah cari tahu banyak hal. Aku pikir akhirnya aku bukan anak haram lagi."
Mata bening bocah itu seketika berkaca-kaca, dan suaranya pecah oleh isak tangis.
Namun, Maya justru terpaku mendengar satu kata itu. "Anak haram? Siapa yang bilang begitu padamu?"
Sejak Lili lahir, Maya banting tulang setiap hari demi memberikan kehidupan yang layak, sambil berusaha sebisa mungkin meluangkan waktu untuk putrinya.
Lili adalah gadis kecil yang peka dan manis. Dia pergi ke sekolah tanpa rewel, bisa mengurus dirinya sendiri, bahkan belajar memijat bahu Maya saat ibunya pulang dalam keadaan lelah.
Maya lupa kalau Lili baru berusia tiga tahun lebih. Pemahaman bocah itu tentang hubungan keluarga masih sangat samar. Selama ini Maya selalu menghindari topik soal ayah, membuat Lili tak punya gambaran utuh tentang konsep keluarga yang benar.
Kini, mengetahui bahwa putrinya disebut dengan julukan sekejam itu di belakang punggungnya, hati Maya terasa remuk.
Lili merengek pelan, membenamkan wajahnya di ceruk leher Maya, merasa sangat terzalimi.
Rama yang melihat pemandangan itu bertanya, "Kamu masih mau bersikeras bilang dia bukan anakku?"
Lili, yang masih sesenggukan, diam-diam melirik reaksi Maya.
Meski hatinya perih, Maya tetap teguh. "Emangnya penting kalau dia anakmu atau bukan?"
Lalu ia menunduk, berbicara lembut pada Lili, "Lili, ini salah Bunda karena nggak cerita dari awal. Nanti sesampainya di rumah, Bunda ceritakan soal Papa yang sebenarnya, ya?"
Nada bicaranya terdengar sangat meyakinkan, seolah-olah ayah Lili benar-benar bukan Rama.
Rama mulai disergap keraguan. 'Masa sih Lili benar-benar bukan darah dagingku? Terus siapa bapaknya?'
Tatapannya beralih ke arah Wisnu.
Wisnu, yang menyadari tatapan itu, membalasnya dengan sorot mata tenang, yang justru dianggap sebagai tantangan oleh Rama.
Rama lantas menepis keraguannya. 'Nggak, nggak mungkin. Maya tinggal di Vila Sanjaya sejak umur enam tahun, makan dan tidur di bawah atapku. Aku tahu betul siapa saja laki-laki yang pernah berhubungan dengan Maya.'
Ia menatap Maya dengan sorot mata tajam dan suram. "Kamu sudah membiarkan Lili hidup tiga tahun tanpa sosok ayah. Apa kamu berencana membiarkan dia terus-terusan hidup yatim seperti ini?"
Maya tersenyum sinis, matanya dingin menusuk. "Sekali lagi aku tegaskan, ini urusan pribadiku dengan Lili. Nggak ada hubungannya sama kamu. Lagipula, aku harap kamu nggak usah ikut campur untuk hal yang nggak perlu."
Ia berbalik hendak pergi membawa Lili, tapi Lili tiba-tiba nyeletuk pelan, "Bunda, koperku masih di dalam."
Maya menyipitkan mata, langsung paham akal-akalan putrinya. "Lili, Bunda tahu apa maumu."
Lili langsung kicep dan tak berani bicara lagi.
Maya kemudian bicara pada Rama, "Tuan Rama, tolong suruh orang bawakan koper Lili keluar. Kamu nggak berniat menahan kopernya juga, kan?"
Rama mati kutu dan hanya bisa memberi kode lewat mata pada Pak Lukman.
Beberapa menit kemudian, Pak Lukman menyerahkan koper kecil itu langsung ke tangan Maya dengan ekspresi serbasalah.
Maya hanya menunjukkan sedikit kehangatan pada kepala pelayan itu. "Makasih ya, Pak Lukman."
Wisnu segera mengambil alih koper itu dan memasukkannya ke bagasi, lalu membukakan pintu mobil untuk Maya dengan gerakan sigap dan efisien.
Maya tidak menolak bantuan itu. Ia masuk ke dalam mobil, lalu menatap Rama lekat-lekat dari balik jendela. "Tuan Rama, aku nggak mau lihat ada orangmu yang mengganggu Lili lagi."
Lampu belakang mobil menyala merah, lalu perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan Rama yang terpaku.
