Kecanduan Cinta CEO Rahasia

Unduh <Kecanduan Cinta CEO Rahasia> gratis!

UNDUH

Bab 3

"Lancang sekali mulutmu!" Wajah Siska memerah padam menahan amarah.

Selama empat tahun terakhir, Siska selalu setia menempel di sisi Radit. Meski orang luar melihat mereka begitu dekat, Siska sendiri selalu merasakan adanya tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka.

Setiap kali ia mencoba meruntuhkan jarak itu dan mendekat, Radit akan menepisnya dengan dingin, tanpa perasaan.

Siska terus menghibur dirinya sendiri, berpikir mungkin Radit memang tipe pria yang tidak terlalu tertarik pada perempuan.

Tapi sekarang Maya muncul kembali, dan semua kenangan pahit itu membanjiri benaknya! Ia tidak akan pernah lupa pagi itu, empat tahun yang lalu, saat ia melihat tubuh Radit penuh dengan bekas cakaran intim—dan bagaimana rasa cemburu nyaris membuatnya gila saat itu!

Dan sekarang, Maya datang lagi untuk mengacaukan segalanya!

Melihat reaksi Siska yang meledak-ledak, Maya hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia memang sengaja memancing emosi wanita itu, ingin melihat apakah topengnya akan retak, dan sepertinya umpannya berhasil telak.

"Nona Siska, masih perawan ting-ting, ya? Butuh kursus privat? Bilang saja, nanti aku ajari semuanya sampai mahir," ejek Maya dengan nada santai namun menusuk.

Empat tahun lalu, Siska selalu memandang rendah Maya yang saat itu hanya seorang pembantu, dan tak henti-hentinya mempersulit hidupnya. Dulu, Maya hanya bisa menelan semua perlakuan itu diam-diam.

Tapi roda nasib sudah berputar. Keadaannya kini berbeda, dan ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi!

Siska menatap Maya tak percaya, terkejut dengan keberanian perempuan itu.

Rasa terhina mendidih di dadanya. Siapa sebenarnya Maya ini? Berani-beraninya anak yatim piatu murahan ini menantangnya?

Siska menegakkan punggungnya, menatap Maya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan, lalu mencibir, "Nyallimu besar juga setelah menghilang empat tahun. Kalung safir yang kau pakai itu pasti harganya selangit. Berapa kali kau harus 'jual diri' untuk bisa membelinya?"

Matanya melirik sinis ke arah Wisnu yang berdiri di samping Maya, menyiratkan bahwa Maya adalah wanita simpanan pria itu.

Wisnu sedikit mengernyitkan dahi mendengar tuduhan kasar itu.

Maya tidak ingin Wisnu terseret dalam lumpur ini, jadi ia mendengus pelan. "Siska, jangan samakan semua orang dengan dirimu yang begitu bernafsu mencari om-om kaya. Untuk apa kau datang mencari Radit? Berencana menyusup ke kamarnya, mengambil foto tidak senonoh, lalu memerasnya supaya dia mau menikahimu?"

Mendengar kata 'menikah', Siska yang tadinya kehabisan kata-kata, mendadak memasang wajah penuh kemenangan. "Maya, aku tidak sepertimu. Aku tidak butuh trik murahan untuk mendapatkan apa yang aku mau. Asal kau tahu, Radit sudah setuju untuk bertunangan denganku. Karena kau sudah kembali, aku secara resmi mengundangmu untuk menyaksikannya, supaya kau bisa membuang jauh-jauh angan-anganmu untuk merayunya!"

Maya sesaat terpaku mendengar kata "bertunangan".

Benarkah Radit yang sedingin es itu akan menikah?

Namun pikiran itu segera berlalu, tergantikan oleh rasa geli yang mencemooh.

Maya tersenyum miring, "Siska, tidak semua perempuan butuh laki-laki untuk bertahan hidup. Apa yang kau banggakan itu sama sekali tidak berarti bagiku. Selamat atas pertunanganmu. Tapi soal pestanya, maaf saja, aku tidak akan datang. Aku tidak mau ketularan nasib sialmu."

Siska, yang kembali dibuat mati kutu, menjadi semakin gelisah dan berang. "Kurang ajar kau—!"

Sebuah suara bariton yang dingin memecah ketegangan itu. "Apa kau tersesat?"

Tubuh Maya seketika membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir, jantungnya berdegup kencang menghantam rusuk.

Selama di pesawat dan perjalanan mobil tadi, ia sudah melatih skenario ini ratusan kali—bagaimana ia harus bersikap saat bertemu Radit. Namun kini, sekadar mengangkat wajah pun ia kehilangan nyali.

Di tengah keheningan yang mencekam, Wisnu yang pertama kali membuka suara, "Selamat siang, Pak Radit."

Radit bahkan tidak melirik Wisnu sedikit pun. Sepasang matanya yang tajam terkunci sepenuhnya pada sosok Maya. Wanita itu telah berubah; kepolosan masa mudanya telah lenyap, berganti dengan aura dingin yang memikat.

Ia terlihat begitu memesona sekarang. Matanya masih seindah dulu, namun Maya menolak untuk menatapnya, seolah lebih tertarik pada pria yang berdiri di sebelahnya.

Raka akhirnya melirik ke arah Wisnu, matanya menyipit menyembunyikan rasa tidak suka.

"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" Suara Raka terdengar dingin.

Siska mengira Raka sedang bicara padanya. Wanita itu segera merapat, menggelayut manja di lengan Raka. "Raka, jangan marah dong. Aku tadi cuma nggak sengaja ketemu teman lama, jadi agak tertahan sedikit."

Namun, tatapan Raka tetap terpaku pada Mega, sama sekali tidak menggubris keberadaan Siska.

Suara manja Siska yang seperti gula-gula itu menyentak Mega kembali ke alam sadar. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak untuk menjernihkan pikiran, lalu mendongak. Tatapannya langsung beradu dengan mata Raka. "Pak Raka, di mana Lili?"

Pertanyaan Mega sarat dengan amarah yang tertahan.

Mendengar nada bicara Mega dan merasakan jarak yang sengaja diciptakan wanita itu, dada Raka terasa sesak. Ia justru semakin bertekad untuk tidak membiarkan Mega menang begitu saja. "Kamu pikir saya berutang jawaban sama kamu? Memangnya kamu siapa?"

Sadar bahwa mengambil kembali Lili tidak akan mudah, Mega berusaha tetap tenang. "Lili itu anak saya. Apa yang Bapak lakukan ini namanya penahanan ilegal. Saya bisa menuntut Bapak."

Raka tidak gentar sedikit pun. "Anak di bawah lima tahun tidak boleh terbang sendirian. Kamu pikir berapa lama saya bisa membuatmu mendekam di penjara kalau saya melaporkan kelalaian ini ke pihak berwenang?"

Ketegangan di antara mereka terasa begitu pekat.

Melihat mereka bersitegang, Siska seharusnya senang, tapi hatinya justru gelisah.

Dua orang ini seolah punya dunia sendiri yang tak bisa disentuh orang lain.

Dan siapa itu "Lili"? Terdengar seperti nama anak Mega, tapi kenapa Raka begitu peduli?

Apa jamuan makan malam ini terganggu gara-gara anak itu?

Pikiran Siska berkabut kebingungan.

Karena putus asa ingin mengerti situasi, Siska kehilangan kendali diri dan menyela, berpura-pura menjadi penengah yang bijak, "Nggak bisa dibicarakan baik-baik saja? Mega kan dulu pernah kerja sama kamu. Nggak perlu lah galak-galak begitu..."

Kalimatnya menggantung begitu melihat tatapan Raka yang dingin dan menusuk. 'Apa aku salah ngomong?' batinnya.

Siska menggigit bibir, mencoba menarik ucapannya, tapi suara dingin Raka memotongnya lebih dulu.

"Pak Raka, serahkan anak saya, atau kehadiran saya di sini bakal merusak waktu berduaan Bapak dengan Nona Siska," Mega menatap Raka tanpa gentar.

Raka tidak pantas membuatnya ragu.

Ucapan Mega sepertinya mengingatkan Raka pada sesuatu. Ia menoleh ke arah Siska, melirik gaun merah yang dikenakan wanita itu, lalu tiba-tiba berkata, "Saya paling benci warna merah."

"Apa?" Siska bingung setengah mati.

Lukman dengan sigap melangkah maju, memberi isyarat tangan. "Nona Siska, mari."

Siska menatap tajam ke arah Mega, tidak rela harus pergi, lalu berkata dengan nada memelas, "Aku datang lebih awal supaya kita bisa pilih cincin tunangan tanpa mengganggu jadwal kerjamu yang padat..."

Suaranya nyaris seperti bisikan.

Kening Raka berkerut dalam.

Hanya dengan satu tatapan itu, Lukman langsung paham perintah tuannya.

Siska bahkan belum sempat menginjakkan kaki ke dalam Kediaman Sanjaya sebelum Lukman dengan tegas memaksanya masuk kembali ke dalam mobil.

Dari balik jendela mobil, ia melihat Mega dan Raka yang masih berhadapan di luar. Rasa cemburunya mendidih. Kenapa selalu Mega yang mendapatkan seluruh perhatian Raka!

Amarah dan kecemburuannya kian membesar seiring mobil itu melaju pergi.

Suasana di pintu gerbang kembali sunyi. Tanpa berkedip, Raka berkata, "Mega, masuk dan bicara baik-baik, atau pulang dengan tangan kosong. Pilihan ada di tanganmu."

Seolah-olah Mega punya pilihan lain.

Tidak, sekarang dialah yang akan menentukan opsinya sendiri.

Mega menyipitkan matanya dan membalas, "Serahkan Lili, atau berurusan dengan polisi. Pilihan ada di tangan Bapak."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya