Bab [4]
Joanna Wijaya menatap balik mata Adrian Pratama yang dingin dan kelam, lalu mengangguk pelan.
Sejujurnya, sudah sejak lama dia seharusnya sadar. Bagi Adrian Pratama, dirinya tidak lebih dari sekadar pajangan indah atau mungkin jimat keberuntungan.
Tugas seperti ini tidak diberikan kepada Dewi Setiawan, mungkin karena Adrian khawatir wanita itu akan dimarahi.
Keesokan paginya, Joanna Wijaya bangun lebih awal dari biasanya.
Dia berencana menyetir sendiri ke bandara, tetapi mendadak mendapat kabar bahwa jadwal penerbangan kliennya diubah.
Suasana hatinya mendadak kacau. Sambil menatap pantulan wajahnya di cermin, dia melihat lingkaran hitam yang menggantung di bawah matanya dan menghela napas dalam-dalam.
Kapan dia bisa terbebas dari kehidupan yang seperti boneka tali ini?
Joanna Wijaya akhirnya memutuskan untuk menyetir ke rumah sakit.
Jenni Kusuma sudah membantunya mendaftarkan ulang ke dokter spesialis. Pemeriksaan kemarin ternyata tidak akurat dan kurang lengkap, sehingga diagnosis ulang diperlukan.
Sambil duduk di seberang dokter, Joanna memperhatikan raut wajah sang dokter yang semakin serius. Jantungnya ikut berdebar cemas.
Tidak tahan lagi dia lantas memberanikan diri bertanya, “Dok, bagaimana kondisi saya?”
Bukankah ini hanya tukak lambung biasa? Kenapa wajah dokter itu terlihat begitu tegang?
Dokter itu meletakkan kacamatanya dan menatap Joanna dengan tatapan tajam.
“Nona Wijaya, kondisi lambung Anda sama sekali tidak baik. Sudah ada risiko perubahan sel ke arah keganasan.”
Tangan Joanna seketika terkepal erat. Dia menatap dokter itu lekat-lekat.
“Sudah berubah ... menjadi apa?”
“Kanker lambung,” jawab dokter itu dengan suara berat.
Penyakit seperti kanker biasanya baru terdeteksi pada stadium lanjut, dan pada akhirnya, kemoterapi menjadi satu-satunya jalan.
Hati Joanna seketika diselimuti kabut kelam.
Masih dengan rasa tidak percaya, dia bertanya lagi, “Tapi kemarin hasil pemeriksaan saya hanya tukak lambung.”
“Kondisi Anda jauh lebih parah dari sekadar tukak lambung. Bahkan sudah ada perforasi atau lubang kecil di dinding lambung Anda. Untuk sekarang, coba tenangkan pikiran Anda di rumah. Ingat, makan harus tepat waktu setiap hari. Kembali lagi untuk pemeriksaan ulang sebulan lagi.”
Dokter itu kembali melirik laporan medis di tangannya.
“Mungkin saja ... ada kemungkinan salah diagnosis. Kita lihat lagi sebulan dari sekarang.”
“Baik, Dok.”
Setelah menebus obat, Joanna Wijaya melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai.
Pagi tadi cuaca begitu cerah, tetapi entah sejak kapan langit berubah menjadi kelabu. Udara terasa lembap, pertanda hujan akan segera turun. Petir sesekali menyambar di antara awan-awan gelap.
Sepertinya hujan deras akan segera mengguyur.
Jakarta Utara hampir selalu terasa kering—hujan seperti tamu langka yang jarang mampir.
Joanna Wijaya menatap langit yang muram sambil memegangi perutnya. Rasa sakit itu kembali terasa.
Dia tidak membawa mobil, tadi dia datang ke rumah sakit naik taksi online.
Joanna membuka aplikasi di ponselnya, tetapi sudah cukup lama menunggu, tidak ada satu pun pengemudi yang menerima pesanannya. Ini jam sibuk, tidak ada taksi kosong yang lewat di pinggir jalan.
Saat dia sedang bingung memikirkan cara pulang, sebuah Rolls-Royce hitam tiba-tiba berhenti di sampingnya. Pengemudinya menekan klakson pelan.
Joanna menoleh.
Ternyata Adrian Pratama.
Dengan satu tangan bersandar santai di kemudi, Adrian menatap wajah Joanna yang terlihat lebih tirus. Dia berkata dengan nada yang tak terbantahkan, “Masuk.”
Joanna hanya berdiri mematung.
Pada jam seperti ini, Adrian seharusnya berada di kantor, bukan di sekitar rumah sakit.
Dia tidak mau lagi berkhayal bahwa Adrian sengaja mengikutinya karena khawatir. Satu-satunya orang yang bisa membuat Adrian mengubah rutinitasnya pastilah Dewi Setiawan.
Kilatan tak sabar muncul di mata kelam pria itu.
“Masuk.”
Adrian tidak punya kebiasaan mengulang perintah sampai tiga kali, bahkan dua kali pun jarang.
Sambil menggertakkan gigi dan melirik status pesanannya yang masih dalam antrean, Joanna akhirnya membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan.
Di sana, tergeletak beberapa kotak obat.
Joanna iseng mengambilnya. Ternyata obat untuk meredakan nyeri haid.
Senyum sinis terukir di bibirnya. Dugaannya benar.
“Tidak kusangka, Pak Pratama begitu perhatian sampai repot-repot datang ke rumah sakit membelikan obat nyeri haid untuk Ibu Setiawan.”
Ucapannya terdengar manis di permukaan, tetapi penuh sindiran. Dia lalu melempar kotak obat itu ke kursi belakang.
Harus diakui, Adrian benar-benar memanjakan Dewi Setiawan seperti menatang minyak penuh.
Mata Adrian berkilat dingin. Dia mengatupkan bibirnya, menyembunyikan rasa tidak senang.
“Bagaimana kondisimu?”
“Masih hidup,” jawab Joanna tanpa ekspresi sambil memasang sabuk pengaman.
Kemarin Adrian sudah melihat laporan medisnya, tahu dia harus melakukan pemeriksaan ulang, tetapi tetap saja tanpa ragu memberinya tugas. Sementara dirinya sendiri malah punya waktu untuk membelikan obat nyeri haid bagi Dewi Setiawan.
Joanna bahkan tak berani membayangkan. Bagaimana cara Adrian menjelaskan gejala nyeri haid itu kepada dokter? Sampai sejauh mana sebenarnya dia memanjakan Dewi Setiawan?
Joanna melirik alis Adrian yang tajam dan dingin.
Sebenarnya pria ini bukan tidak mengerti cara mencintai, dia hanya tidak mencintainya. Kesadaran ini terasa lebih menyakitkan daripada nyeri di lambungnya.
Adrian menyalakan mesin mobil, suaranya terdengar menusuk. “Kamu sedang merajuk kepadaku?”
Joanna masih mempertahankan nada manis penuh sindiran itu.
“Mana saya berani cari masalah dengan Pak Pratama?”
Hatinya sedang kesal, dan dia hanya ingin meluapkan kekesalannya. Dokter bilang, kondisi mental dan emosinya sangat penting sekarang. Dia tidak boleh marah-marah lagi.
Jadi, persetan dengan Adrian Pratama, persetan dengan Dewi Setiawan. Dia tidak akan menahannya lagi.
Mata sipit Adrian perlahan menyipit, memancarkan aura berbahaya.
Namun, sebelum dia sempat bicara, ponsel Joanna tiba-tiba berdering nyaring.
Dia hanya melihat sekilas, nomor tak dikenal. Tidak tersimpan di kontak, tetapi kode teleponnya jelas dari Bandung.
Joanna langsung menolak panggilan itu tanpa ekspresi.
Adrian menatapnya tajam. “Kenapa tidak diangkat?”
“Telepon iseng dari orang tak dikenal,” jawab Joanna asal, lalu memejamkan mata, seolah tidak ingin lagi berbicara dengan Adrian.
Dulu, dia tak akan pernah berani bersikap seperti ini pada Adrian.
Kilatan kelam melintas di mata Adrian.
Sebenarnya, tanpa Joanna memberitahunya pun, dia tahu siapa penelepon itu.
Ya, pria dari Keluarga Saputra itu lagi.
Joanna sudah menikah tiga tahun, tetapi pria itu masih saja terus mengganggunya.
Dengan kening berkerut, Adrian tiba-tiba menginjak pedal gas dalam-dalam. Akselerasi mendadak itu memaksa Joanna membuka matanya.
Dia menggertakkan gigi menatap Adrian. “Ini jalanan kota, jangan gila kamu! Bagaimana kalau terjadi kecelakaan?”
Mobil-mobil di sekitar mereka tersalip dengan cepat. Dengan kecepatan seperti ini, jika terjadi kecelakaan, mereka berdua bisa tewas di tempat.
Sambil mencengkeram kemudi, Adrian menyeringai dingin. “Sudah tidak pura-pura mati lagi?”
Joanna terdiam sejenak. Melihat jarum speedometer yang terus naik, dia terpaksa melunakkan suaranya.
“Perutku sakit, aku tidak ingin bicara.”
Kecepatan mobil Adrian akhirnya melambat.
Joanna melirik wajahnya yang masih kelam dan menghela napas dalam hati.
Mungkin di kehidupan sebelumnya dia telah berbuat dosa besar, sehingga di kehidupan ini dia harus bertemu dengan Adrian Pratama.
Setibanya di rumah, hal pertama yang Joanna lakukan adalah memasak semangkuk bubur nasi. Perutnya benar-benar sakit tidak tertahankan.
Dia mengambil segelas air hangat, mengeluarkan dua butir pil dari kotaknya, lalu menelannya.
Adrian menghampirinya, melihat deskripsi di kotak obat, dan matanya berkilat marah.
“Bukankah kamu hanya tukak lambung biasa? Kenapa harus minum obat seperti ini?”
Oxycodone Hydrochloride.
Itu adalah obat pereda nyeri yang sangat kuat. Biasanya diresepkan untuk penyakit dengan rasa sakit yang hebat.
Seperti ... kanker.
Kening Adrian berkerut dalam.
“Sebenarnya apa kata dokter tentang kondisimu hari ini?”
Joanna balas menatap matanya yang dalam dan bertanya balik, “Apa kamu sedang mengkhawatirkanku?”
“Jangan terlalu berharap.” Adrian mendorong kembali kotak obat itu ke arahnya dan menatapnya dengan tenang. “Bagaimanapun juga, kamu menyandang nama Nyonya Pratama. Jika tubuhmu bermasalah, misalnya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan, aku harus membuat rencana dari sekarang.”
Joanna bertanya bingung, “Rencana apa?”
Adrian menjawab tanpa ragu, “Cerai.”
Joanna tertawa dingin. “Kalau kamu mau, aku bisa pergi bersamamu ke pengadilan agama sekarang juga. Kalaupun ini benar-benar kanker lambung, aku tidak akan pernah menghalangimu.”
Kilatan misterius melintas di mata Adrian. “Kanker lambung?”
