2
R E Y N A
Permainan itu sudah dimulai.
Aku hanya bisa menatap amarah di tiap gulungan ombak saat menghantam karang. Aroma asin laut yang licin segera memenuhi rongga hidungku. Aneh, sesuatu yang segarang ini justru sanggup menuntunku masuk ke perasaan sendu. Mungkin karena kenangan yang selalu naik ke permukaan tiap kali aku melangkah ke sini. Mungkin karena cara angin menyibak rambutku dengan elusan yang keibuan. Mungkin karena telapak kakiku yang tenggelam ke pasir, seolah pasir itu menarikku makin dalam ke dunia.
Sebentar lagi hujan turun. Langit lebih gelap dari biasanya, dan burung-burung nyaris menghilang.
Hujan adalah hal favoritku di dunia. Hujan membuktikan sesuatu. Bahwa hidup tak lebih dari sebuah siklus. Seperti air, kita menguap, mengembun, lalu jatuh. Penguapan adalah awal kita—tempat kita bermimpi dan berharap. Pengembunan adalah saat kita sadar umur dan kekejaman datang bahkan pada mereka yang paling tak pantas menerimanya. Presipitasi—bagian favoritku—tentang melepaskan semuanya untuk memulai lagi.
Tetes pertama mengenai lenganku, disusul tetes berikutnya. Pandanganku terangkat ke abu-abu awan ketika butiran air jatuh dari langit. Mereka muncul di sekujur tubuhku, tapi aku tak keberatan. Aku menyambutnya.
Inilah dunia yang benar-benar ada—hujan, pasir, dan ombak yang marah. Bukan ketakutan, bukan kebencian, tanpa kekhawatiran. Hanya alam yang indah, memelukku sepenuh hati lewat tiap tetes hujan.
Aku berputar. Kakiku berderak di atas pasir saat aku kembali menuju rumahku… rumah ibuku. Ada frustrasi yang menyodok-nyodok dadaku. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku melihat ibu. Setiap pertanyaan tentang apakah ibu masih hidup kini kutumbuk masuk ke belakang kepalaku. Kukunci rapat sampai ada bukti kematian. Dia harus hidup; aku bisa merasakannya.
Pintuku berdecit nyaring saat kudorong terbuka. Ada sesuatu yang tidak beres di rumahku. Ketika pandanganku jatuh pada pot tanaman yang terguling, aku tahu aku tidak mengada-ada.
Aku menyisir rumah sampai terdengar bunyi bip yang konstan. Dengan hati-hati, aku melangkah masuk sebelum menutup pintu di belakangku. Takut mengambil alih tindakanku—aku mengunci semua kunci yang ada di pintu, satu per satu.
Aku bisa merasakan jantungku balapan semakin dekat ke kamar tidur. Dengan setiap langkah menuju kamar, bunyi bip makin keras. Seolah menjerit padaku, menghantui.
Lantai menciut melengking saat telapak kakiku menjejaknya. Aku takut dengan apa yang menunggu di balik pintu kamar. Pelan-pelan, aku mendorongnya terbuka. Bunyi bip itu berasal dari laptopku. Saat aku mendekat, aku melihat kata-kata muncul di layar terkunci.
Aku tahu siapa kamu, Red. Ini bukan permainan. Kembalikan file kami. Aku punya semua rahasiamu. Kalau kamu mau identitasmu tetap tersembunyi, kamu punya tiga puluh detik.
Ransomware. Itu pasti salah satu jenis peretasan yang paling rumit. Ransomware adalah bentuk malware yang mengunci seseorang dari sistemnya dan merampas apa pun yang diincar si peretas. Aku pernah melakukannya beberapa kali, tapi tidak sebanyak yang orang kira. Ransomware bisa jadi berantakan secepat ia bisa menguntungkan.
Tak butuh waktu lama sampai hitung mundur muncul di layar. Aku buru-buru duduk di kursi dan mulai memainkan sihirku dengan peretasan balasan. Mereka punya file-fileku, jadi aku tahu mereka sadar persis siapa aku. Mereka tahu siapa yang kucari.
Seharusnya aku memasang perlindungan lebih ketat sebelum menancapkan diriku ke sistem seorang pria busuk—Santino “Saint” Venturi.
Bagian terburuknya, file-file miliknya justru mengembalikanku ke titik nol. Dia bukan orang baik, tapi dia tidak bersalah atas kejahatan yang selama ini kukejar. Apa yang kutemukan tentang Saint malah membuat bulu kudukku meremang. Dia tak kenal takut, dan orang yang tak kenal takut berarti berbahaya.
Aku melirik hitung mundur—masih sekitar dua puluh detik. Cepat-cepat kukirim pesan pada si peretas.
Gertak sambal.
Jariku bergerak tajam, memaksa masuk melewati firewall orang ini. Terlalu banyak kode enkripsi—butuh berhari-hari untuk memecahkannya. Mataku membesar saat aku kembali melirik layar hitung mundur dan melihat sebuah pesan di bawahnya.
1105 Harpin Rd.
“Tidak,” bisikku. Itu alamat rumahku.
Mereka tahu aku tinggal di mana. Apa pun yang terjadi, mustahil aku bisa keluar hidup-hidup. Saint terkenal tak punya belas kasihan. Apalagi untuk orang yang nekat membobol databasenya dan menemukan hal-hal yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.
Aku tak habis pikir bagaimana orang ini bisa menembus firewall-ku. Butuh bertahun-tahun sampai sistemnya jadi seperti yang kubutuhkan.
Tinggal sepuluh detik.
Tanganku bergerak secepat mesin. Aku harus keluar dari ini. Aku harus menemukan Ibu.
Ajaibnya, aku berhasil menerobos firewall mereka dan hitung mundurnya berhenti. Senyum lebar memecah di wajahku saat komputerkku akhirnya terbuka lagi. Aku berhasil. Tapi pekerjaanku belum selesai. Mereka tahu aku tinggal di mana.
“Aku bisa mengancam akan membongkar mereka, tapi itu nggak bakal mempan, kan?”
“Ayo, Reyna. Pikir,” bisikku pada diri sendiri. “Pikir, pikir, pikir.”
Lalu aku memutuskan mengirim pesan pada peretas itu.
Aku nggak akan menyerahkan file itu ke polisi, tapi kamu harus berhenti ganggu aku.
Itu entah sangat pintar atau sangat bodoh—nggak ada tengahnya. Aku mengancam mafia. Mengancam orang-orang yang terorganisir dan kejam seperti itu jelas tidak akan membuatku selamat. Aku seperti menandatangani surat kematianku sendiri saat menekan tombol kirim. Aku harus pergi. Aku harus angkat kaki dari sini sekarang juga.
Komputerkku mendecit nyaring. Suaranya menggesek gendang telingaku sampai aku meringis. Saat semua lampu di rumahku mati, aku tahu aku dalam masalah. Masalah besar.
Aku cepat-cepat bergerak ke jendela dan melihat sebuah mobil hitam besar terparkir di luar. Ada sesuatu yang menekan dadaku. Banyak sekali kemungkinan berputar di kepala, tapi tak satu pun sampai ke ujung. Tak ada yang cukup cerdas untuk lari lebih cepat dari mafia.
“Aku salah di mana?” bisikku. Semua yang dulu kupakai untuk melindungi diri seharusnya mustahil ditembus. Bahkan Gary McKinnon pun tidak akan menemukan cara untuk mengurai firewall-ku. Kecuali… kecuali mereka mengaksesnya dari komputerkku sendiri.
Berarti mereka sudah masuk ke rumahku.
Suara pintu depan dijebol menghantam telingaku lalu turun ke jantungku. Aku memaksa otak memikirkan cara menghadapi ini, karena aku tahu lari bukan pilihan. Mereka makin dekat, dan aku bisa merasakannya. Reaksi instingtifku: bersembunyi.
Tempat pertama yang tidak terlalu ketara adalah di bawah ranjang. Di bawah kasurku ada rangka kayu yang memungkinkan aku menyelip ke dalam ruang sempit itu. Siapa pun yang masuk rumah pasti akan mengecek bawah ranjang, tapi mereka tidak akan mengecek ruang tersembunyi di bawah kasur.
Tak butuh waktu lama sampai pintu kamarku berdecit terbuka. Mataku terpejam saat aku mendadak berdoa pada siapa pun yang mau mendengar. Hal terakhir yang kuinginkan adalah mati. Aku tidak boleh mati. Masih terlalu banyak yang harus kulakukan.
“Dia nggak di sini,” sebuah suara menggema. Dia berbicara bahasa Italia, dan itu hanya menguatkan kecurigaanku. Ini mafia—mafia Italia. Saint pasti ada di balik semua ini, dan pikiran itu membuat bulu kudukku meremang.
“Dia pasti ada. Cari lebih teliti,” suara lain memerintah.
Ketakutan mengalir deras di tubuhku. Sulit sekali menghentikan napasku yang berat.
Pandangan mataku bergeser ke sepatu mengilap yang muncul di sisi ranjang. Aku langsung menutup mulut dengan tangan. Sepatu itu disusul sepasang tangan, lalu sebuah kepala menyembul ke bawah ranjang. Keberuntungan masih berpihak padaku ketika dia menarik kepalanya, berdiri lagi. “Dia ada di kamar ini. Aku lihat dia dari jendela.”
“Bos bakal marah kalau kita nggak bawa dia,” suara yang lain berkata. Tekanan mulai menimpa tubuhku saat ranjang terasa turun, suaranya jelas di telingaku.
“Rasakan ini,” kata pria itu. Aku ingin mengerti apa yang dia ucapkan, tapi aku sama sekali tak bisa.
Tekanan lain menyusul. Sakitnya nyaris membuatku berteriak. Mereka menekan ranjang ke punggungku. Saat tekanannya dilepas, aku mengembuskan napas kecil, tapi itu hanya sebentar.
“Ketemu.”
