Bab [9] Berapa Banyak Pria yang Ingin Kau Goda
Alis Arya Pratama bertaut.
Hanya sepotong gaun dan bukan untuk dipakai setiap hari. Kenapa harus repot-repot mengembalikan dan menukarnya?
"Memangnya tidak bisa dipakai?"
Dia kembali menunduk fokus pada pekerjaannya, bahkan tidak melirik sedikit pun, nada bicaranya terdengar tidak sabar.
"Aku tidak suka. Karena kamu yang memintaku datang ke pesta ulang tahun, tentu saja aku harus memilih yang aku suka."
Sikap Maya Yanuar sangat tegas.
Ini adalah bentuk protesnya, yang terdengar lebih seperti negosiasi bisnis.
Suara dari sepatu hak tinggi yang menginjak lantai perlahan mendekat.
Pintu terbuka. Indrani Yanuar langsung masuk begitu saja, sorot matanya memancarkan keangkuhan manja.
"Kak Maya, kan, memang selalu mandiri dan punya pendirian, pasti dia tidak suka gaun pilihan Kak Arya. Kak Arya, coba lihat gaunku ini, bagaimana menurutmu?"
Arya Pratama meletakkan pulpennya, dia benar-benar mengangkat kepala untuk melihat gaun yang dikenakan Indrani.
"Bagus, cocok sekali untukmu."
Sudut bibir Indrani Yanuar terangkat, senyumnya merekah secerah mentari di luar jendela.
"Tentu saja, gaun yang Kak Arya pilihkan untukku pasti yang terbaik. Kak Arya pernah bilang aku sangat cantik memakai warna putih, makanya Kakak selalu memilihkan baju putih untukku."
Dengan bangga, dia berputar sekali. Ujung gaunnya melambung tinggi, memperlihatkan sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus.
Bentuk kakinya memang sangat indah.
Mata Arya Pratama berkedip sejenak, tampak sedikit linglung.
Maya Yanuar tersenyum tipis.
"Ini aku kembalikan."
Dia meletakkan kotak gaun itu tepat di atas meja kerja Arya, lalu berbalik untuk pergi.
Saat berpapasan dengan Indrani Yanuar, sudut matanya terangkat sedikit, dan dengan nada ringan dia bertanya, "Sinar matahari itu warnanya apa?"
Indrani Yanuar terkejut, lalu seulas senyum sinis muncul di bibirnya. "Putih, dong."
Pertanyaan sesederhana itu, apa perlu ditanyakan?
"Lalu, matahari warnanya apa?"
Indrani Yanuar tertegun sejenak.
Warna matahari? Sejujurnya dia tidak tahu.
"Biru kehijauan."
Kemudian, Maya melanjutkan dengan nada penuh makna, "Ada hal-hal yang sebenarnya punya warna, tapi kelihatannya justru seperti tidak berwarna."
Indrani semakin bingung. "Maksudmu apa?"
Maya Yanuar hanya tersenyum dan langsung melenggang pergi.
Indrani mungkin tidak mengerti, tetapi dengan kecerdasan Arya Pratama, dia pasti bisa menangkap maksud tersirat dari ucapan Maya.
Sesuatu yang terlihat makin murni, sebenarnya hatinya makin jahat.
Sama seperti putih yang paling pekat, pada akhirnya akan menjadi hitam.
Keesokan harinya adalah pesta ulang tahun Kakek.
Maya Yanuar sudah menyelesaikan semua pekerjaan di kantor lebih awal sebelum kembali ke vila.
Penata rias dan asistennya sudah menunggu cukup lama di ruang rias.
Pesta ulang tahun Kakek dari Grup Pratama diadakan dengan sangat megah. Sebagai cucu tertua Keluarga Pratama, Arya Pratama tentu akan hadir bersama istrinya dalam balutan busana terbaik.
Setelah mandi singkat, Maya Yanuar masuk ke ruang rias dengan pakaian santai dan wajah polos tanpa riasan.
"Silakan duduk, Nyonya Pratama."
Penata rias mempersilakannya duduk di depan cermin.
Maya Yanuar terlahir dengan kecantikan alami sehingga riasan apa pun akan membuatnya tampak luar biasa memesona.
Riasan yang indah membuat wajahnya yang sudah berfitur tegas menjadi semakin cerah dan menawan.
Tepat pada saat itu, gaun pesanan khusus Maya Yanuar pun tiba.
Itu adalah gaun panjang berwarna merah menyala dengan ekor yang menjuntai. Bagian depannya memiliki desain cut-out di area dada, sementara bagian punggungnya terbuka, hanya tertutup di garis pinggang yang melengkung indah.
Ini adalah gaun yang sudah lama dia dambakan, tetapi karena Arya Pratama tidak menyukainya, dia tidak pernah punya kesempatan untuk memakainya.
Sekarang sudah tidak penting lagi. Hubungan mereka sudah berakhir, jadi dia tidak perlu peduli lagi dengan apa yang disukai atau tidak disukai oleh Arya.
Maya Yanuar mengenakan gaun merah itu, lalu keluar dari kamar.
Penata rias dan beberapa asistennya sontak berdecak kagum.
Di depan cermin, riasan wajah Maya Yanuar begitu anggun. Gaun itu menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, dan desain pinggangnya yang pas membuat pinggangnya terlihat semakin ramping.
Kulitnya yang sangat putih tampak berkilau seperti pualam di bawah sorotan lampu.
"Nyonya Pratama cantik sekali!" puji sang penata rias dengan tulus.
Sebagai seorang penata rias, dia sudah bertemu dengan banyak sekali wanita cantik, tetapi wanita secantik Nyonya Pratama memang jarang dia temui.
Maya Yanuar tersenyum lembut.
"Pak Pratama pasti akan sangat suka kalau melihatnya."
Sang penata rias menatapnya tanpa berkedip, matanya penuh kekaguman seolah sedang memandangi sebuah karya seni.
Hati Maya Yanuar mencelos, tetapi dia tidak menjawab.
Setelah keluar dari ruang rias, dia melangkah anggun menuruni tangga.
Mendengar suara langkah kaki, Arya Pratama yang sedang duduk di sofa sambil membalas pesan, mengangkat pandangannya. Seketika, gerakannya terhenti.
Dia meletakkan ponselnya, menatap Maya lekat-lekat, tetapi alisnya justru bertaut.
Maya Yanuar di hadapannya tampak seperti permata yang begitu indah dan berkilauan, membuatnya ingin segera memilikinya saat itu juga.
Sudut bibirnya sedikit terangkat, memunculkan senyum sinis.
"Sebagai menantu Keluarga Pratama, memangnya pantas kamu berpakaian seperti ini?"
"Memangnya ada yang salah dengan pakaianku?"
Dia berjalan mendekat, menantang tatapan Arya yang tajam. Setiap langkahnya begitu menggoda.
Sepasang mata indahnya menatap Arya. Tatapannya masih selembut dulu, hanya saja kelembutan itu kini menyiratkan sedikit provokasi.
Wajah Arya Pratama menjadi gelap. Kemudian, dia berdiri.
"Keluar semua!"
Dia masih menatap Maya, tetapi tidak diragukan lagi, kalimat itu adalah perintah untuk semua orang di ruangan itu.
Penata rias, para asisten, dan Bu Wati pun bergegas keluar.
Saat pergi, Bu Wati bahkan dengan hati-hati menutup pintu dari luar.
Ruang tamu yang luas itu kini hanya menyisakan mereka berdua.
Udara di sekitar mereka mendadak menjadi tegang.
"Satu Rahman Hartono saja tidak cukup, berapa banyak lagi laki-laki yang mau kamu goda? Ternyata kamu begitu suka tebar pesona, ya?"
Kata-katanya terdengar begitu menusuk. Tanpa sadar, tubuh Maya Yanuar sedikit gemetar.
"Kalau kamu memang suka dipermainkan laki-laki, aku bisa memuaskanmu sekarang juga."
Arya Pratama melangkah cepat, lalu mendorong Maya ke sofa dan menciumnya dengan buas.
Maya mencoba mendorongnya, tetapi Arya justru menahan kedua lengannya di atas kepala, gerakannya semakin kasar.
Dia mencium Maya dengan ganas, membuatnya sulit bernapas.
"Kamu suka diperlakukan seperti ini oleh laki-laki?" bisiknya lirih, sambil merobek gaunnya.
Dalam sentakan itu, tali gaun di bahunya putus dan melorot, memperlihatkan separuh dadanya yang padat.
Ini bukan cinta, ini seperti pemerkosaan.
Perasaan ini membuatnya begitu terhina, air matanya perlahan mengalir.
Setetes air mata yang hangat jatuh di bibir Arya.
Seolah tersengat, gerakan Arya Pratama terhenti.
Ekspresi Maya menunjukkan perasaan tersakiti, penuh dengan kepedihan.
"Gaun ini adalah gaun pengantin yang sudah lama aku siapkan. Aku sangat menyukainya. Tapi kamu tidak suka. Kamu hanya mengatur penampilanku sesuai seleramu."
Dia membuka matanya, menatap Arya. "Indrani Yanuar suka warna putih, jadi kamu menyuruhku memakai warna putih. Kamu menyuruhku berdandan sepertinya, apa itu karena aku hanya penggantinya?"
Tidak, Arya tidak bermaksud begitu.
Saat itu, Maya Yanuar mendorongnya dengan sekuat tenaga dan bergegas naik ke lantai atas.
Gaunnya sudah rusak, jadi dia terpaksa memilih gaun lain berwarna kuning pucat.
Bagaimanapun juga, hari ini adalah pesta ulang tahun Kakek, dia harus tetap hadir tepat waktu.
Saat dia selesai berganti pakaian dan turun kembali, Arya Pratama sudah menunggunya di dalam mobil.
Maya Yanuar masuk ke mobil, dan mereka langsung berangkat ke kediaman utama Keluarga Pratama.
Pesta ulang tahun Kakek dari Keluarga Pratama benar-benar sangat megah.
Ketika Arya Pratama dan Maya Yanuar muncul bersama, senyum Kakek merekah dari ujung bibir hingga ke sudut matanya.
"Maya, akhirnya kamu datang juga. Kakek sudah cemas menunggumu."
Kakek langsung menggenggam tangan Maya Yanuar, mengamatinya dari atas ke bawah. "Penampilan yang cerah dan mencolok seperti ini memang lebih cocok untukmu."
"Terima kasih, Kakek."
"Sudah Kakek bilang, Maya-ku ini seperti bintang di langit, bersinar dan memukau."
Arya Pratama yang berdiri di samping mereka, justru terlihat seperti orang asing.
Tiba-tiba, seseorang menggenggam tangannya.
Arya Pratama menoleh dan ternyata itu adalah Indrani Yanuar.
"Indrani, kenapa kamu di sini?"
Indrani Yanuar tersenyum manis. "Hari ini, kan, pesta ulang tahun Kakek. Cepat atau lambat aku dan Kakek, kan, harus bertemu, jadi aku manfaatkan kesempatan ini untuk membangun hubungan baik dengan Kakek."
Mendengar percakapan mereka, Maya Yanuar pun menoleh.
'Indrani Yanuar, dia benar-benar datang?'
