Bab [2] Suami yang Melakukan Tugas Resmi
Mata Maya Yanuar terbelalak, dipenuhi keterkejutan.
Pada saat yang sama, sebuah lubang besar seolah menganga di hatinya, membiarkan angin dingin bertiup masuk tanpa ampun.
Meskipun penghangat ruangan di kamar rumah sakit menyala, Maya merasa seluruh tubuhnya membeku.
Dengan gemetar, dia menatap Arya Pratama.
Tatapan mata pria itu jauh lebih dingin daripada kata-kata yang baru saja diucapkannya.
"Kenapa? Apa karena wanita yang kamu jemput dari bandara itu?"
Maya mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melontarkan pertanyaan itu, meskipun dia tahu jawabannya hanya akan menambah luka.
Selama lima tahun pernikahan mereka, kapan pernah dia melihat Arya memperlakukan seorang wanita dengan begitu lembut?
Jika diingat-ingat, satu-satunya momen kehangatan di antara mereka hanyalah di atas ranjang.
Arya menatapnya dari atas dengan pandangan merendahkan, sepasang mata kelamnya dipenuhi awan mendung.
"Kamu tahu di mana letak surat cerai itu. Pulang, tanda tangani, lalu bawa padaku."
Tangan Maya yang tersembunyi di bawah selimut terkepal erat.
Sejak hari pertama mereka menikah, surat cerai itu memang sudah ada di laci meja samping tempat tidur. Arya sudah lama menandatanganinya, hanya tinggal menunggu tanda tangan Maya.
Selama ini, Maya bersikeras bahwa dengan kegigihannya, cepat atau lambat dia bisa meluluhkan gunung es di hati suaminya. Dia mempersembahkan hatinya dengan tulus, nyaris tanpa harga diri.
Namun, Arya bukan hanya tidak menghargainya, dia malah menghancurkannya tanpa ragu.
Maya menarik napas dalam-dalam, masih tak rela. "Apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi?"
Alis Arya sedikit berkerut, pertanda dia mulai tidak sabar.
"Dia sudah kembali. Jadi, kamu harus menyerahkan posisimu."
Satu tikaman lagi, lebih dalam dari sebelumnya.
Kali ini, Maya bahkan tak sanggup lagi memaksakan seulas senyum. Dia tidak punya keberanian untuk bertanya siapa wanita itu. Sejak awal dia sudah tahu, di dalam hati Arya selalu ada 'Cinta Monokrom'-nya.
Wanita itu kembali, dan dia harus pergi.
"Aku bisa menerima perceraian, tapi aku tidak akan mengundurkan diri. Pekerjaan sebagai asisten ini aku dapatkan dengan usahaku sendiri." Maya berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang, menahan rasa sakit yang menusuk.
"Hm," jawab Arya singkat.
Dia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam. "Hari ini kamu sakit dan istirahat. Aku akan potong satu hari dari jatah cutimu bulan ini."
Nada bicaranya begitu profesional, seolah mereka hanya rekan kerja.
Maya nyaris harus menggertakkan gigi untuk bisa menjawab, "Baik."
Setelah mendapat jawaban, Arya langsung berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun. Dari awal hingga akhir, tidak ada satu kata pun berisi kekhawatiran untuk Maya.
Maya memejamkan matanya kuat-kuat. Tiba-tiba dia merasa lima tahun hidupnya ini adalah sebuah lelucon yang konyol.
Dia merasa telah melakukan segalanya sebagai istri yang baik.
Selera makan Arya sangat pemilih dan dia punya masalah lambung. Demi merawatnya, Maya belajar memasak dan menyiapkan tiga kali makan sehari dengan menu yang dirancang cermat.
Saat Arya baru mengambil alih perusahaan, konflik internal begitu parah. Paman dan sepupu-sepupunya mati-matian berusaha menjatuhkannya dari posisi Direktur Utama. Mayalah yang berjuang keras mendapatkan proyek dan bernegosiasi dengan klien demi perusahaan.
Pengalaman paling ekstrem adalah ketika seorang klien meletakkan sebotol anggur merah di hadapannya. Jika dia meminumnya sampai habis, proyek itu akan menjadi milik mereka.
Tanpa ragu, Maya menenggak habis botol itu.
Setelah berhasil mendapatkan kontrak, dia dilarikan ke rumah sakit untuk cuci lambung dan koma selama tiga hari.
Rasa sakit di dadanya makin menjadi-jadi.
Maya berjuang untuk turun dari tempat tidur. Saat menatap cermin, dia melihat seorang wanita pucat dan lelah. Untuk sesaat, dia merasa asing dengan bayangannya sendiri.
'Apa ini masih aku?'
Maya terlahir cantik, terutama sepasang matanya. Pupilnya yang berwarna cokelat terang bagaikan danau musim gugur yang jernih. Di wajahnya yang mungil, hidungnya mancung, dan bibirnya yang berwarna merah muda pucat tampak penuh.
Hanya saja, kini matanya dipenuhi kesedihan dan kelelahan yang mendalam.
Dia benar-benar lelah!
Maya diinfus di rumah sakit sepanjang hari. Malamnya, Arya tetap tidak pulang.
Keesokan harinya, dengan tubuh yang masih letih, dia memaksakan diri pergi ke kantor.
Sebagai asisten pribadi dan sekretaris Arya, pekerjaannya sangat banyak. Dia tidak hanya harus mengatur setiap jadwal kerja sama dan memantau progres proyek, tetapi juga harus terus-menerus menyesuaikan jadwal Arya dan memperhatikan kesehatannya.
Hanya satu hari tidak masuk, tumpukan dokumen di mejanya sudah setinggi gunung.
Maya cepat-cepat menata kembali suasana hatinya. Dia memilih beberapa dokumen yang paling mendesak, lalu mengetuk pintu ruang direktur utama.
"Pak Pratama."
Dulu, dia memilih pekerjaan ini hanya agar bisa lebih dekat dengan Arya.
"Masuk!"
Suara Arya terdengar dingin.
Maya mendorong pintu dan masuk, tetapi pemandangan di dalam membuatnya merasakan sakit yang lebih menusuk di hatinya. Dokumen di tangannya bahkan nyaris jatuh ke lantai.
Arya sedang duduk di kursi kerjanya, dan di pangkuannya, duduk seorang wanita.
Wanita itu membelakanginya, jadi Maya tidak bisa melihat wajahnya. Namun, dia mengenakan rok mini dan rambutnya panjang bergelombang. Dari penampilannya saja sudah bisa ditebak kalau dia sangat menarik.
"Arya, ternyata kamu sedingin ini ya di kantor. Padahal menurutku kamu lebih tampan kalau tersenyum."
Suara manja itu seketika mengingatkan Maya pada telepon malam sebelumnya. Video yang direkam diam-diam di bandara tidak jelas, dia tidak bisa melihat wajah wanita itu. Namun, berhadapan langsung seperti ini entah kenapa memberinya perasaan yang familier.
Arya menatap wanita itu dengan tatapan tak berdaya tetapi lembut. "Aku sedang bekerja, Sayang."
"Tapi, wajah seriusmu itu benar-benar menakutkan, tahu." Wanita itu merajuk sambil tangannya meraih dasi Arya. "Dasi yang kamu pakai hari ini jelek sekali. Aku lupa memberitahumu, aku sudah belajar cara memasang dasi, lho. Mulai sekarang, tugas ini bisa kamu serahkan padaku."
Ucapan itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi yang mendengarnya, maknanya sangat dalam.
Selama lima tahun, Maya-lah yang selalu memasangkan dasi untuk Arya. Itu adalah salah satu ritual kecil yang membahagiakan antara suami dan istri.
Perkataan wanita itu, apa bedanya dengan deklarasi kepemilikan? Itu seperti pemberitahuan yang halus tetapi sangat jelas bahwa Maya telah ditendang keluar.
Maya diam-diam mengeratkan genggamannya pada dokumen, matanya terpaku pada Arya.
Senyum tipis terus menghiasi bibir Arya saat dia membiarkan wanita itu bertingkah sesukanya. Kelembutan dan cinta di matanya adalah sesuatu yang tidak pernah Maya dapatkan.
"Kamu kan susah sekali bangun pagi, nanti aku minta tolong siapa untuk pasang dasi?"
Wanita itu mengerucutkan bibirnya dan mendengus manja. "Kalau begitu, aku pasangkan setiap malam sebelum tidur. Besok paginya kamu tinggal berangkat kerja."
Senyum di mata Arya makin lebar. Dia mengangguk setuju. "Boleh."
Mereka berdua bermesraan seolah tidak ada orang lain di ruangan itu, bagaikan jarum-jarum tak kasatmata yang menusuk mata Maya.
Arya selalu bersikap profesional dalam segala hal. Dia paling benci jika ada yang bertingkah tidak pantas di kantor, tetapi sekarang ....
Maya menelan ludah dengan susah payah, menahan rasa pahit di tenggorokannya. "Pak Pratama, ini dokumen yang perlu Bapak tandatangani."
Dia memberanikan diri melangkah maju. Namun, saat wanita itu menoleh, dokumen di tangan Maya langsung berjatuhan ke lantai.
Matanya terbelalak tak percaya menatap wajah yang lima puluh persen mirip dengannya itu.
Wanita itu bukan orang lain.
Dia adalah adik tirinya.
Indrani Yanuar.
