Bab [8] Hadiah Ulang Tahun
Di dalam kamar rumah sakit, sinar matahari yang masuk melalui jendela menyinari Cantika Kesuma, membuat wajahnya tampak lembut dan cerah. Sekretaris Hartono dengan hati-hati menyerahkan sebuah kotak perhiasan beludru merah ke tangan sang kakek.
Kakek tersenyum tipis, lalu perlahan membukanya. Di dalamnya terbaring sebuah gelang giok yang berkilauan indah diterpa cahaya, perhiasan kelas kolektor.
“Ini peninggalan nenekmu, dulu ini tanda cinta kami berdua,” suara Kakek terdengar lembut. “Nenekmu bilang, gelang ini harus diberikan pada istri cucu laki-lakinya. Kakek harap kamu mau menerimanya, sebagai bentuk permintaan maaf dari kami.”
Kilau gelang itu semakin nyata di bawah cahaya, warnanya hijau zamrud yang pekat. Jika diperhatikan lebih dekat, serat-serat halus di dalamnya tampak samar-samar. Cantika menatap gelang itu, hatinya dipenuhi rasa haru sekaligus dilema. Seulas senyum pahit terukir di bibirnya. “Kek, aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Aku dan Rizky sudah ...”
“Walaupun kalian bercerai, Kakek tetaplah kakekmu! Hadiah dari kakek harus diterima!” Kakek tiba-tiba merajuk seperti anak kecil, mengangkat gelang itu seolah-olah akan menjatuhkannya. “Kalau kamu tidak mau, Kakek lempar saja sekarang!”
“Jangan, jangan, Kek! Aku terima, aku terima !”
Barulah Kakek tertawa puas seakan rencananya berhasil. Namun, tawanya meredup saat melihat wajah datar cucunya. Dengan hati-hati, dia bertanya, “Cantika, apa benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi?”
“Kek, kalau Kakek memang benar-benar menyayangi aku, biarkan aku menjalani hidup yang aku inginkan.” Cantika menggelengkan kepalanya dengan mantap, sorot matanya menunjukkan keteguhan. “Aku tidak mau terikat lagi.”
Tatapan Kakek menyapu wajah Cantika, perlahan rasa kecewanya berubah menjadi pengertian. Justru karena rasa sayangnya pada Cantika, dia merasa begitu sedih dan berat untuk melepaskannya. Namun, kini dia sadar, memaksanya untuk tinggal hanya akan membuat Cantika semakin muak.
“Baiklah, Kakek akan menghormati keputusanmu.” Kakek mengangguk, lalu menghela napas panjang dan memohon, “Tapi, bisakah kamu menunggu sampai ulang tahun Kakek yang ke-80 selesai, baru pergi? Hanya tinggal beberapa hari lagi.”
“Kek, itu tidak pantas,” sela Rizky Wijaya, alisnya bertaut, suaranya terdengar rendah dan tegas.
“Apanya yang tidak pantas? Apa kamu pikir lebih pantas membawa putri Keluarga Santoso itu ke sini untuk merayakan ulang tahun Kakek, lalu memaksaku mengakuinya sebagai istrimu?! Apa para sepupu dari pihak tante itu mau menguasai semua laki-laki di Keluarga Wijaya dan berbuat sesuka hati? Suruh saja mereka bermimpi!”
Kakek Wijaya memukul ranjang dengan keras karena marah. “Kalau kamu masih menganggapku kakekmu dan ingin aku hidup lebih lama, jauhi putri Keluarga Santoso itu! Kakek beritahu kamu, sampai mati pun Kakek tidak akan pernah menerimanya!”
Di luar pintu, Kirana Santoso dan Cynthia Setyawan mendengar teriakan marah itu dengan sangat jelas.
Suara Kakek yang menggelegar itu jelas ditujukan untuk mereka.
“Dasar tua bangka!” umpat Kirana pelan. Cynthia buru-buru membekap mulutnya sambil melotot tajam seolah berkata, 'Dinding ini tidak tebal, hati-hati kalau bicara!'
“Aku kesal saja! Orang tua yang hidupnya tinggal sebentar lagi, apa yang mau disombongkan?!”
“Kamu sendiri bilang hidupnya tidak akan lama lagi, jadi untuk apa kamu terburu-buru? Lebih baik manfaatkan waktu sekarang untuk memegang erat hati Rizky. Selama dia tergila-gila padamu, orang tua itu bukan lagi ancaman,” ujar Cynthia dengan tenang, membagikan pengalamannya. “Dulu dia juga tidak setuju aku masuk ke Keluarga Wijaya, tapi lihat hasilnya? Agung Wijaya tetap menjadi pamanmu. Selama kita bisa mengendalikan ayah dan anak itu, Grup Wijaya cepat atau lambat akan berada di tangan kita.”
Cynthia tersenyum penuh pesona. Kirana pun berhasil menenangkan hatinya setelah mendengar nasihat itu.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Rizky Wijaya dan Cantika Kesuma berjalan keluar berdampingan. Mereka tampak sangat serasi, tetapi di mata Kirana, pemandangan itu sungguh menyakitkan. Terlebih lagi, gelang giok yang baru melingkar di pergelangan tangan Cantika tampak begitu indah, jauh lebih bagus daripada gelang yang dia kenakan.
Kenapa orang tua itu begitu baik pada Cantika, tetapi begitu sinis padanya?
Namun, di depan Rizky, Kirana tetap mempertahankan citra manis dan polosnya.
Begitu Rizky melangkah keluar, Kirana langsung melompat seperti pegas ke arahnya, wajahnya menunjukkan ekspresi cemas. “Rizky, aku baru dengar Kakek masuk rumah sakit, aku kaget sekali! Aku khawatir sekali padanya!” Suaranya terdengar lembut dan rapuh, seperti anak rusa yang ketakutan, dengan sempurna menunjukkan kelemahannya.
Di mata Cantika, akting Kirana terlihat sangat palsu. Namun, dia hanya bisa menghela napas dalam hati. Rizky tampaknya sama sekali tidak menyadarinya. Dia menatap Kirana dengan penuh perhatian, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.
“Jangan khawatir, Kakek akan baik-baik saja,” kata Rizky, alisnya masih berkerut cemas.
Kirana memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekat pada Rizky. Dengan senyum manis di wajahnya, matanya memancarkan kilatan kemenangan. Dia memeluk erat lengan Rizky dan bersandar di bahunya, seolah-olah mereka memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Cynthia, yang mengamati dari samping, tersenyum puas dalam hati, merasa keponakannya telah memenangkan satu poin lagi.
“Kirana, jangan terlalu cemas, kamu juga harus jaga kesehatanmu,” balas Rizky, matanya penuh perhatian pada Kirana. Dia benar-benar terpikat oleh citra rapuh Kirana, dan hatinya dipenuhi rasa tanggung jawab untuk melindunginya.
Kilatan kemenangan kembali bersinar di mata Kirana. Dia tahu, Rizky memang selalu berhati lembut. Semua sandiwara ini sengaja dipertontonkan di depan Cantika. Hati Cantika terasa kelam. Dia tidak tahan lagi melihat kemesraan mereka, terutama saat melihat perhatian Rizky yang begitu hangat tercurah pada Kirana. Hatinya terasa seperti disayat sembilu.
Dua tahun lalu, saat penyakitnya kambuh di rumah, dia kesakitan dan hanya mampu menelepon satu orang. Bukan ambulans yang dia hubungi, melainkan Rizky. Namun, apa yang dilakukan Rizky? Jangankan pulang untuk membawanya ke rumah sakit, mengangkat telepon pun tidak.
Sebetulnya, yang dia inginkan tidak banyak, hanya agar Rizky mengangkat teleponnya. Namun, Rizky tidak bisa melakukannya. Ternyata, bukan Rizky tidak mengerti cinta, bukan Rizky tidak punya hati. Hanya saja, seluruh perasaannya telah dia berikan pada Kirana.
“Sial, bikin sakit mata saja!”
Cantika memalingkan wajah, tidak ingin melihat lebih lama. Dia diam-diam berjalan melewati Kirana, berniat untuk pergi.
Namun, seseorang tampaknya tidak ingin dia pergi begitu saja.
Saat berpapasan dengan Cantika, Kirana tiba-tiba menerjang ke arahnya.
“Ah!”
Rencana Kirana adalah berpura-pura terkilir dan jatuh menimpa Cantika, lalu dalam kekacauan itu, dia akan menarik gelang giok Cantika hingga pecah.
Siapa sangka, Cantika yang menyipitkan matanya, dengan sigap mengelak.
Kirana pun langsung jatuh tersungkur di depannya.
Seketika, terdengar suara retakan yang nyaring—
PRAKK!
Gelang di pergelangan tangan Kirana patah menjadi dua
