Bab 7 7. Anne - Meninggalkan 2
Tak butuh waktu lama sampai balasan muncul di layar ponselku: Terus? Kamu pikir ini bakal nyelametin kamu dari kewajiban ngirim bayaranku tiap bulan? Coba aja, nanti kamu lihat akibatnya. Aku tahu kamu jelek setengah mati, tapi aku baru sadar kalau kamu juga bego. Tapi… harusnya aku udah ngerti sejak pertama ketemu kamu.
Gigiku menekan bibir bawahku.
Pesan lain menyusul. Kalau kamu telat bayar sekali lagi, aku bakal ngajarin kamu pelajaran yang nggak bakal kamu lupain seumur hidup. Pelacur tolol. Tolol dan jelek. Mukamu bikin aku mimpi buruk.
Aku menarik napas tajam.
Jangan biarin kata-kata busuk itu masuk ke kepala.
Kata-kata itu—busuk atau tidak—memang benar.
Aku mengarsipkan pesan-pesan itu sebelum menggulir percakapan antara Vasiliy dan aku.
“Ебать’ меня,” pramugari itu merintih. Tolong, entot aku.
“Встань на колени, сучка, и покажи мне, как сильно ты жаждешь моего члена,” kata Dominick dengan suara beratnya.
Berlutut, jalang, dan tunjukkan seberapa keras kamu ngidam kontolku.
Ini salah satu momen langka ketika aku berharap aku tidak mengerti bahasa Rusia.
Seharusnya aku membawa earphone, tapi tidak ada tempat di tas. Aku bisa saja mengurangi jumlah kaus, tapi aku cuma punya lima.
Pramugari itu berlutut dan beberapa detik kemudian dia tersedak oleh batang Dominick, sementara Ivan bergerak di belakangnya, mengangkat roknya, lalu menampar pantatnya berkali-kali.
“Я собираюсь’ так сил’но трахнуть’ твою задницу, что ты не сможешь’ спокойно сидеть’ несколь’ко дней,” geramnya sebelum membuka resleting celananya.
Akan kuentot pantatmu sekeras itu sampai kamu nggak bakal bisa duduk tenang berhari-hari.
Rintihannya makin keras.
Yuri berdiri dan menghilang ke bagian lain pesawat, sementara aku tetap duduk di tempatku. Aku memejamkan mata, menutup telinga, dan pura-pura aku tidak ada di sini.
Terdengar suara seperti sesuatu disobek.
Beberapa detik kemudian, rintihan keras yang dibuat-buat memenuhi udara.
Aku berdiri dan berjalan ke arah yang sama dengan Yuri. Aku melewati lorong pesawat sampai berhenti di depan sebuah pintu. Haruskah aku membukanya dan melihat apa yang ada di baliknya?
Aku bimbang beberapa detik sebelum meraih gagangnya dan mendorong pelan. Di baliknya ada kamar tidur. Yuri rebahan di ranjang, mengisap rokok linting dan menggulir ponselnya.
Tatapannya naik menemuiku, dan aku buru-buru memalingkan muka.
“Apa-apaan kamu ke sini?” desisnya. “Balik ke kursimu sebelum aku melakukan sesuatu yang bakal kusesali.” Lalu dalam bahasa Rusia, dia menambahkan, “Как будто я выкину тебя из самолёта, сука.”
Kayak melempar kamu keluar dari pesawat, jalang.
“Maaf,” gumamku, lalu aku menutup pintunya.
Aku kembali ke kursiku, dipaksa bertahan mendengarkan Dominick, Ivan, dan pramugari itu berhubungan seks lebih dari satu jam. Dia bahkan tidak sekali pun berhenti dengan rintihan palsunya.
Aku berusaha menyibukkan diri dengan ponsel, tapi sesekali pandanganku tetap terseret ke arah mereka. Di satu titik, dua-duanya ada di dalam pantatnya. Setidaknya mereka pakai kondom.
Begitu akhirnya selesai, aku buru-buru ke kamar mandi dan memercikkan air ke wajahku. Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya apakah mereka akan melakukan hal yang sama pada Isla. Rasa dingin menjalar di tulang punggungku. Semoga tidak. Pramugari itu beberapa kali tampak dan terdengar seperti kesakitan.
Beberapa menit kemudian, aku keluar dan nyaris menabrak pramugari—wajahnya kusut, badannya tampak seperti habis dipakai habis-habisan.
Dia membuka bibir, menjilat dari ujung ke ujung, lalu berbisik, “Enak,” sebelum melenggang pergi.
Aku juga tidak yakin maksudnya apa, karena menurutku tidak mungkin ada perempuan yang benar-benar menikmati cara Dominick dan Ivan meniduri. Dan ditiduri dari belakang… itu pasti sakit sekali.
Kepalaku mulai berdenyut di belakang mata. Aku kembali ke kursiku, pura-pura tidur, menunggu rasa sakitnya mereda.
Pesawat butuh dua hari untuk sampai—dua hari terpanjang dalam hidupku. Dominick dan Ivan meniduri pramugari itu berkali-kali selama penerbangan, dan setiap kali selalu di hadapanku.
Saat pesawat akhirnya mendarat, aku yang pertama turun, menyeret koper di belakang. Dominick, Ivan, dan Yuri lewat begitu saja tanpa melirik, menuju sebuah mobil yang terparkir dekat bandara. Mereka naik dan menunggu aku ikut.
Memasukkan koper ke bagasi memakan waktu lebih dari semenit; mengangkatnya rasanya mustahil. Di pesawat aku hampir tidak makan apa-apa—pramugari itu terlalu sibuk dengan Dominick dan Ivan. Kalau dia tidak sedang ditiduri, dia membawakan mereka makanan, sama sekali mengabaikanku. Aku tidak keberatan. Aku memang tidak suka bicara dengan orang. Buku dan hewan lebih baik daripada kebanyakan manusia.
Tapi aku sempat tahu namanya, karena Dominick dan Ivan cukup sering mengerang menyebutnya saat penis mereka masuk ke tenggorokannya. Ekaterina.
Begitu koper akhirnya masuk bagasi, aku masuk ke kursi belakang, memeluk ransel erat di dada, memejamkan mata, dan menyandarkan kepala ke kaca jendela.
Gagasan menikah dengan Dimitri membuatku ketakutan, tapi setidaknya begitu sampai di rumahnya, aku bisa mengeluarkan Arthur. Aku tidak berani mengeluarkannya selama penerbangan—aku tak mau ada yang melihat. Di rumah, aku harus menyembunyikannya pada siang hari karena ayahku lebih dari sekali membuangnya. Setiap kali, aku menyelamatkannya dari tong sampah sampai aku belajar menyembunyikannya dengan lebih baik.
Aku tahu Arthur cuma boneka beruang, tapi bagiku dia nyata. Itu sebabnya aku menyebutnya “dia”, bukan “itu”, saat membicarakannya.
Perjalanan mobil berlangsung sampai sisa hari habis.
Malam sudah turun ketika Ivan mematikan mesin dan memarkir mobil di tengah-tengah entah di mana.
Aku mengernyit, tidak paham kenapa kami berhenti, tapi aku tidak perlu bertanya lama. Dominick berkata, “Ada kabin beberapa menit di depan. Dimitri nungguin kamu di sana.”
Aku tidak mengerti kenapa Dimitri tinggal di tengah Siberia. Mungkin dia aneh, atau mungkin dia memang lebih suka hidup tenang, jauh dari kota.
Begitu aku turun dari mobil, udara dingin langsung membungkus tubuhku. Bahkan di musim panas pun, bagian Siberia ini menggigit.
Butuh sekitar setengah jam berjalan untuk mencapai kabin itu. Ketika akhirnya kami berhenti di depan pintu, lututku hampir ambruk, tapi aku sempat menahan diri.
Aku masih berusaha menarik napas ketika pintu terbuka, cahaya tumpah dari dalam. Seorang pria berdiri di ambang pintu.
“Selamat datang di rumah barumu, Malyshka.”
