Bab 2 2. Anne - Di mana pengantin pria? 1
Dua hari berikutnya berlalu begitu saja, nyaris tak terasa.
Di hari pernikahanku, Narcissa membantuku bersiap. Kami berada di kamarnya. Aku duduk di depan meja rias, sementara dia berdiri di belakangku, menatap pantulan kami di cermin. Mataku terpaku pada deretan alat rias di atas meja, sengaja menghindari sisi kiri wajahku—bekas luka buruk yang tak sanggup kulihat.
“Kamu yakin mau pakai ini?” tanyanya sambil memandangi gaun hitam yang kupilih khusus untuk hari yang seharusnya membahagiakan ini.
Aku menemukannya kemarin di toko barang bekas saat sedang mencari buku-buku lama. Potongannya kuno, seperti pakaian perempuan dari zaman perintis.
“Aku suka,” gumamku pelan.
Narcissa meletakkan kedua telapak tangannya di bahuku. “Ayahmu pasti nggak akan senang.”
Sekujur punggungku langsung meremang membayangkan reaksi Ayah saat melihat penampilanku seperti ini.
“Gimana kalau kamu pinjam salah satu gaunku?” usulnya.
Sesaat aku tergoda untuk menerima. Tapi setiap bantuan, sekecil apa pun, selalu ada harganya. Mana tahu kali ini Narcissa akan memintaku melakukan apa? Terakhir kali, dia menyuruhku membersihkan seluruh rumah sampai kinclong. Dua kali.
“Nggak usah, terima kasih,” tolakku lirih.
Dia mendecak, jelas tak senang dengan jawabanku. “Terserah kamu,” gumamnya. “Setidaknya biarin aku dandanin kamu dan ngatur rambutmu.”
Aku ingin bilang tidak perlu, toh aku menikah bukan karena wajahku. Tapi yang keluar dari bibirku hanya, “Baik.”
Setengah jam berikutnya, Narcissa merias wajahku. Bibirku dipulas merah menyala—warna yang tak akan pernah kupilih sendiri—dan mataku dibingkai garis hitam pekat. Bahkan kuku-kukuku juga dicat, separuh merah, separuh hitam.
Aku jadi curiga dia sengaja ingin membuatku terlihat seperti gadis goth.
Rambutku disentuhnya paling akhir.
“Jangan,” kataku cepat ketika dia mengumpulkan rambut hitamku menjadi ekor kuda, menyingkap sisi kiri wajahku—sisi dengan bekas luka mengerikan itu.
Sekilas aku tak sengaja menatap cermin.
Bekas luka itu menatap balik, seolah mengejekku.
Air mata langsung menggenang di pelupuk mataku.
Aku buru-buru memalingkan wajah, tak sanggup melihat diriku sendiri. “Biarin aja seperti ini,” pintaku nyaris memohon.
Kamu cantik.
Tidak.
Aku tidak cantik.
Aku... menjijikkan. Membuat muak.
Narcissa melepaskan rambutku, dan aku buru-buru membiarkannya jatuh menutupi wajahku lagi.
“Kamu nggak mau aku tata?” tanyanya.
“Nggak penting.” Suaraku terdengar kalah sebelum benar-benar selesai. “Pria yang akan menikahiku pasti membayangkan seseorang yang... bukan aku. Begitu dia melihatku, kemungkinan besar dia bakal membatalkan semuanya.”
Aku justru berharap begitu.
Kalau itu terjadi, aku tidak perlu pergi ke Russia.
“Tenang saja,” katanya, berusaha menenangkanku. “Sebelum hari ini berakhir, kamu pasti sudah jadi istri orang. Dan memangnya kenapa kalau suamimu nggak mencintaimu? Atau bahkan nggak menyukaimu? Tinggal pakai uangnya buat beli anggur mahal dan baju-baju bagus. Jalan-jalan. Kenal orang baru, lihat tempat-tempat baru,” ujarnya santai.
Aku takkan pernah punya keberanian untuk hidup seperti itu.
Satu-satunya hal yang benar-benar kusukai hanyalah berdiam di kamar dan membaca buku sejarah. Mempelajari peradaban lain, cara hidup mereka, dan apa yang mereka yakini selalu terasa begitu memikat.
Kadang aku juga membaca novel romantis, lalu membayangkan bagaimana rasanya dicintai seperti itu. Tapi setelahnya aku selalu merasa bersalah, karena Isla tidak akan pernah punya kesempatan merasakan cinta.
“Mungkin aku bakal dikurung di sebuah mansion, dipaksa punya banyak anak, lalu dibuang ke jalan saat suamiku menemukan istri yang lebih muda,” gumamku pelan.
Ibu tiriku tertawa. “Jangan berlebihan begitu, Sayang.” Ia melirik jam dinding. “Ayo. Hakim dan calon suamimu sebentar lagi sampai.”
Kami turun ke ruang tamu. Di sana sudah ada ayahku, Rayan, dan pacarnya, Lucy, yang menunggu bersama petugas pernikahan. Semua orang sudah hadir, kecuali pria yang akan menikahiku.
Begitu ayah melihatku, wajahnya langsung menghitam karena murka. Kalau saja petugas pernikahan tidak ada di sini, mungkin dia sudah menamparku.
“Ke sini, adik kecil,” kata Rayan sambil bergeser, memberi ruang di antara dirinya dan Lucy agar aku bisa duduk di tengah.
Aku tidak mau duduk di antara mereka, tapi tetap kulakukan.
“Gaunmu jelek sekali,” komentar Lucy. “Kenapa, sih, kamu memilih pakai itu?”
“Karena murah,” jawabku singkat.
Rayan merangkul bahuku, membuat seluruh tubuhku menegang. “Menurutku dia kelihatan manis,” ujarnya sambil terkekeh.
Tanganku mengepal di atas pangkuan.
Kamu bukan manis. Tidak pernah. Kamu cantik.
Tidak. Aku tidak cantik.
“Ganti gaun itu sebelum Dimitri datang,” desis ayah. “Dan cuci mukamu. Penampilanmu seperti badut.”
Dimitri.
Itu nama pria yang akan kunikahi.
Jari-jariku mencengkeram kain tipis gaunku. “Tapi... aku harus pakai apa? Aku tidak punya—”
“Sekarang!” bentak ayah, suaranya meninggi.
“Biarkan dia pakai apa yang dia mau,” Rayan mencoba membelaku. “Biar... semua ini jadi lebih menarik.”
“Kalau aku harus mengulang perkataanku sekali lagi,” ancam ayah.
Aku langsung bangkit dari sofa dan berlari ke kamarku. Pintu segera kukunci, lalu aku menyandarkan tubuh ke sana.
Air mata mulai menggenang dan terasa perih di pelupuk. Kurasa aku tidak sanggup melakukan ini.
Sesaat, aku sempat ingin meraih ponsel dan menelepon sepupuku, Alekos, memohon agar dia menolongku. Tapi aku tidak bisa menyeretnya ke dalam masalahku. Istrinya baru saja melahirkan. Aku tak bisa seegois itu, memisahkannya dari keluarganya saat itulah yang seharusnya menjadi prioritas utamanya.
Setelah sedikit menenangkan diri, aku mencuci muka lalu mengganti gaun yang tadi kupakai. Kali ini aku mengenakan gaun biru navy berlengan panjang. Gaun itu milik ibuku. Sesaat, aku membayangkan beliau ada di sini, memelukku.
Itu satu-satunya peninggalan yang masih kumiliki darinya—gaun ini dan perekam suara kecil itu—karena ayah membuang semua barang milik ibu. Tapi entah kenapa, dia memutuskan menyimpan gaun ini, lalu memberikannya kepadaku saat aku berusia delapan belas tahun.
Begitu sudah siap, aku kembali ke ruang tamu.
Saat aku duduk lagi di antara kakak tiriku dan pacarnya, ayah menatapku dengan sorot penuh racun, tetapi kali ini dia tidak mengomentari penampilanku. Artinya, sekarang dia setuju dengan bagaimana aku terlihat.
Dimitri masih belum datang.
Kami menunggunya.
Dan menunggu.
Dan terus menunggu.
