Bab 2 Pertemuan dengan Mason
"Kamu..."
Melihat wajah yang begitu mirip dengan Jasper dan Chase, dada Alya terasa sesak seketika.
Anak ini!
Ini adalah anaknya!
"Siapa kamu, berani-beraninya mengganggu kesenangan kami?" teriak bocah yang lebih tua dengan angkuh.
Alya naik pitam. Dia baru saja kembali ke Jakarta dan sebenarnya tidak ingin mencari masalah, tapi anak ini jelas adalah putranya yang telah lama hilang.
Sekarang, melihat anaknya sendiri diintimidasi di jalanan, bagaimana mungkin ia bisa tinggal diam?
"Kenapa kalian mengganggunya? Apa orang tua kalian tidak mengajari sopan santun? Ada orang-orang tertentu yang tidak bisa kalian ganggu!"
Mata Alya berkilat tajam. Ia berdiri, menghadap anak-anak itu, lalu menyingsingkan lengan bajunya seolah siap berkelahi.
Anak-anak itu gentar melihat aura Alya. Salah satu yang lebih kecil mulai menangis dan lari terbirit-birit.
"Kabur!"
Anak-anak itu pun bubar, lari tunggang langgang. Alya, yang amarahnya masih membara, berbalik untuk mencari putranya, tetapi anak itu sudah bergeser menjauh.
Bocah itu berdiri sekitar sepuluh langkah darinya, menatapnya dengan waspada.
"Sayang, aku ini ibumu. Coba lihat baik-baik, kita mirip, kan?" Alya mengambil satu langkah ragu ke arahnya.
Anak itu mundur selangkah, mata jernihnya dipenuhi ketegangan dan kehati-hatian.
Alya menyadari kaki kiri anak itu sepertinya terluka, membuatnya berjalan sedikit pincang.
Hatinya terasa perih dan bingung.
Lima tahun lalu, dengan berat hati ia mengirim putra sulungnya ke apartemen pria itu, berharap anaknya akan dirawat dengan baik.
Tapi sekarang, tampaknya anaknya tidak mendapatkan kehidupan yang layak.
"Sayang, maafkan Ibu. Tunggu sebentar lagi, ya? Ibu pasti akan menjemputmu," ucap Alya lembut pada bocah yang tegang dan waspada itu.
'Ibu?'
Bagi Bima Adhitama kecil, "ibu" adalah kata yang terasa sangat, sangat jauh.
Keluarga Adhitama adalah nama besar di Jakarta, dengan anggota keluarga yang tak terhitung jumlahnya, dan Bima adalah putra dari Rangga Adhitama, kepala keluarga saat ini.
Seharusnya, Bima memiliki segalanya—kasih sayang, perhatian, dan semua kemewahan.
Namun pada kenyataannya, ia tidak pernah merasakan kehangatan sedikit pun.
Bima menderita autisme dan tidak bisa berbicara sejak kecil. Anak-anak lain di keluarga besar sering mengejeknya, memanggilnya "si bisu". Dua bulan lalu, kaki kirinya terluka dalam sebuah kecelakaan, dan kini mereka menjulukinya "si pincang".
Para kerabat memperlakukannya seolah-olah ia tidak ada, seolah-olah ia adalah aib bagi keluarga Adhitama.
Meskipun begitu, Rangga sangat menyayanginya. Sesibuk apa pun, ia selalu meluangkan waktu untuk Bima, memasak untuknya, dan menghabiskan waktu berkualitas bersama. Tapi Rangga sering kali terlalu sibuk, sampai-sampai terkadang Bima tertidur dalam keadaan lapar saat menunggunya pulang.
Dan Rangga, sebagai seorang pria, tentu tidak bisa mengisi peran seorang ibu. Jadi, meskipun Bima merasakan kasih sayang seorang ayah, ia tetap merasa kesepian.
Dan sekarang, wanita asing ini tiba-tiba mengaku sebagai ibunya?
Haruskah ia percaya?
Bima menggigit bibirnya dengan gugup, menatap takut-takut pada senyum lembut di wajah Alya. Ia teringat bagaimana Alya baru saja memeluknya dengan protektif, sebuah perasaan yang begitu hangat dan aman.
Apakah pelukan seorang ibu selalu sehangat dan senyaman ini?
Mungkinkah ia, seperti anak-anak lain, bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu?
Tapi, James pernah berpesan padanya untuk tidak mudah percaya pada orang asing.
Memikirkan hal itu, Mason mundur beberapa langkah, tatapannya masih penuh waspada.
"Sayang?"
Alya menatap mata Mason yang penuh pertahanan dengan perasaan campur aduk antara sakit hati dan tak berdaya. Ia sadar tindakannya barusan memang sedikit gegabah. Tentu saja, tidak ada orang normal yang akan percaya begitu saja pada orang asing yang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai ibu mereka.
Ah, dapat ide!
Mata Alya berbinar, dan ia tersenyum lembut pada Mason.
"Tunggu sebentar di sini, ya. Ibu akan carikan teman main untukmu, oke?"
'Teman main?'
Mason tidak mengerti. Ia menatap Alya dengan tatapan yang bercampur antara takut dan penasaran.
Alya mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian, dua anak laki-laki tampan dan keren yang berwajah identik berjalan mendekat.
"Bunda!"
Bagas berlari menghampiri dan langsung memeluk kaki Alya.
Baskara mengikuti di belakang Bagas dalam diam, matanya yang jernih dan dingin menatap Mason dengan rasa ingin tahu.
Mason terpana. Ia memandangi kedua anak laki-laki berjas mahal yang berdiri di samping wanita itu, salah satunya memanggilnya "Bunda" dengan begitu mesra.
Jadi, wanita ini telah membohonginya.
Dia bukan ibunya; dia adalah ibu mereka.
Hidung Mason terasa perih. Ia menundukkan kepala, meremas ujung kausnya erat-erat, merasa tersesat dan bingung.
Alya melirik Mason sekilas, lalu menarik kedua putranya mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga mereka.
Sesaat kemudian, kedua anak laki-laki itu berjalan menghampiri Mason.
"Halo, aku Bagas, dan ini kembaranku, Baskara. Nama kamu siapa?"
Bagas yang lincah lebih dulu menyambar tangan kecil Mason, memperkenalkan diri dengan senyum lebar.
Mason mengerjapkan matanya yang jernih menatap kedua anak di hadapannya, bibirnya terkatup rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Lho, kok kamu diam saja? Kata Bunda, kalau ada yang mengajak bicara, kita harus menjawab. Itu baru sopan," kata Bagas dengan gaya sok dewasa sambil menggelengkan kepala.
Mason tetap membisu.
'Apa anak ini tidak bisa bicara?' Alya teringat ejekan anak-anak lain pada Mason tadi, hatinya terasa semakin pedih.
Ia berjalan mendekat dan berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya dengan Mason.
"Kamu bisa menulis?" tanya Alya lembut.
Mason mengangguk.
"Kalau begitu, coba tulis nama kamu untuk kami, mau ya?"
Alya mengulurkan telapak tangannya pada Mason.
Mason mengerjap, lalu perlahan mengulurkan tangan kecilnya yang kurus, menorehkan huruf demi huruf di telapak tangan Alya.
Mata Alya terbelalak saat melihat bekas luka di pergelangan tangan Mason yang rapuh—bekas luka bakar sundutan rokok.
Ya Tuhan! Apa saja yang telah dialami putranya selama lima tahun mereka terpisah?
"Mason?"
Bagas membaca tulisan itu dengan lantang, lalu tersenyum cerah pada Mason. "Nama kamu bagus sekali."
Wajah Mason sedikit memerah. Ini pertama kalinya ia menerima pujian setulus itu, dan sebersit rasa bahagia yang langka menyelimuti hatinya.
"Mason," Alya tersenyum, menggenggam tangan kecil Mason dengan lembut. "Apa kamu tidak merasa kalau wajahmu sangat mirip dengan kedua abangmu ini?"
