Bab 1
Namaku Nolan. Aku mahasiswa, dan untuk sementara tinggal di rumah kakakku.
Malam itu aku sudah rebahan, mata nyaris terpejam, ketika tiba-tiba ada suara aneh dari kamar utama di sebelah.
Aku langsung bangkit tanpa alas kaki. Pelan-pelan kubuka pintu kamar, menyembulkan kepala ke luar, lalu menahan napas—memasang telinga.
Iya. Suaranya jelas dari kamar utama.
Mula-mula terdengar bunyi berderit, seperti ranjang yang digeser. Setelah itu, bunyi duk-duk—kepala ranjang menghantam dinding.
Aku melangkah jinjit, lalu menempelkan telinga ke celah pintu. Dari dalam, terdengar napas berat kakakku, diselingi erangan yang ditahan.
Bersamaan dengan itu, istrinya juga mengeluarkan desah yang teratur—lembut tapi menggoda, seolah sengaja dibuat-buat.
Dylan dan Grace sedang berhubungan seks.
Kepalaku mendadak pening. Badanku kaku seperti membeku.
Aku ingin pergi. Harusnya aku pergi. Tapi kaki ini seperti tidak menurut. Rasa penasaran pada hal yang seharusnya tabu justru membuat jantungku berdegup makin kencang.
Beberapa saat kemudian, bunyi kepala ranjang menghantam dinding terdengar lagi—lebih keras, lebih brutal—lalu, mendadak… senyap.
Senyap yang menakutkan, sampai rasanya suara jarum jatuh pun bakal terdengar.
Di luar pintu, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Lalu terdengar suara Grace, datar tapi menusuk, “Udah?”
Jelas dia tidak puas.
Dylan menjawab singkat, “Iya.”
Grace mendecak. “Maksudku, Dylan, kamu kenapa sih? Cepet banget. Kalau begini terus, kita kapan punya anak? Kayaknya kita nggak bakal punya anak deh.”
Dylan itu kakakku.
Suara Dylan meninggi, seolah meledak menahan kesal. “Bisa nggak kamu berhenti bawa-bawa anak terus? Itu bikin aku makin tertekan!”
Grace itu kakak iparku—perempuan yang, harus kuakui, terlalu seksi dan memikat.
“Jadi ini salahku? Kamu nyalahin aku?” suara Grace dingin. “Aku udah bilang. Kalau kamu mandul, jangan nyalahin aku! Dan kalau kamu nggak bisa jaga diri, terus aku deket sama laki-laki lain, jangan salahin aku juga!”
Setelah itu terdengar langkah menjauh. Tak lama kemudian, bunyi pintu kamar mandi, lalu suara shower menyala.
Aku seperti tersadar. Cepat-cepat aku kembali ke kamarku dan menjatuhkan diri ke kasur, napas masih berantakan.
Di kepalaku muncul pikiran yang membuatku sendiri muak: Grace seseksi itu… apa Dylan bisa ngimbangin? Kalau aku yang…
Plak!
Aku menampar pipiku sendiri keras-keras, jijik pada arah pikiranku.
Walau Dylan dan aku bukan saudara sedarah, di kampung kami satu marga. Dan selama ini dia baik padaku. Tanpa bantuannya, aku mungkin nggak bakal bisa masuk kampus ini—apalagi numpang tinggal di rumahnya sekarang.
Urusan kemampuan ranjang itu privasinya. Dan aku sama sekali tidak pantas punya pikiran kotor tentang istrinya.
Tapi desahan Grace barusan terus terngiang di telingaku. Bayangan tubuhnya yang montok dan menggoda memenuhi kepala, memaksa imajinasiku berputar tanpa ampun.
Aku tahu aku seharusnya berhenti.
Namun tanganku tetap bergerak, jari-jariku mengusap naik turun, dan aku mulai melampiaskan semuanya sendirian.
Beberapa menit kemudian, sekujur tubuhku bergetar. Aku tak bisa menahan diri—aku memuncak. Setelah itu, tubuhku mendadak lemas, seperti semua ketegangan runtuh sekaligus.
Terlalu cepat. Aku bahkan belum sempat ambil tisu. Cairannya terlanjur mengenai celana dalamku. Basah, lengket, menjijikkan.
Aku buru-buru bangun, mengganti celana dalam dengan yang bersih, lalu meninggalkan yang kotor di dekat ranjang. Anehnya, di dalam dada ada rasa puas yang memalukan. Setelah itu aku berbaring lagi dan akhirnya tertidur.
Karena kegiatan ospek dan latihan kedisiplinan belum mulai, aku tidur sampai jam delapan, baru terbangun ketika Grace memanggilku sarapan.
Aku bangkit dan tanpa sengaja menunduk.
Celana dalam yang kutinggalkan di samping ranjang semalam… hilang.
Aku berjalan ke jendela. Di balkon, aku melihatnya sudah dicuci bersih dan dijemur rapi di rak jemuran.
Dalam hati aku mengumpat.
Sial. Nanti gimana aku ngadepin Grace? Gimana kalau dia lihat… kalau aku ejakulasi di celana dalam? Harus gimana aku?
Dylan sudah pergi sejak pagi buta, tapi Grace ternyata sengaja nungguin buat sarapan bareng aku.
Aku cuma bisa nunduk, makan bakpao kukus dan minum susu, sama sekali nggak berani ngangkat kepala buat ketemu tatapannya.
“Nolan, jangan lempar baju sama celana yang kamu ganti di kamar. Taruh aja di kamar mandi bawah,” kata Grace, datar seperti lagi ngingetin hal sepele.
Panas langsung nyamber ke wajahku. Aku mengangguk pelan, malu setengah mati.
Yang bikin makin parah—Grace malah terkekeh lirih melihat reaksiku.
“Kamu kenapa, Nolan?” nada suaranya santai, malah seperti geli. “Guru SMA kamu nggak pernah ngajarin pengetahuan fisiologi?”
Aku nggak paham maksudnya. Aku menatapnya sebentar dengan wajah bingung, lalu buru-buru nunduk lagi.
“Hm, kayaknya memang nggak.” Grace melanjutkan, tenang. “Kamu tahu, perempuan itu tiap bulan haid, kan?”
Wajahku makin merah. Aku diam, nggak sanggup jawab.
Lalu Grace menambahkan, “Nolan, kamu itu sudah dewasa. Harusnya punya sedikit pemahaman soal hal-hal begitu. Jangan kayak anak kecil, dikit-dikit merah kalau bahas yang berhubungan sama seks.”
Dalam hati aku menghela napas. Itu juga tergantung siapa yang ngomong. Kalau sama temen-temen cowokku, mah biasa. Tapi kalau yang ngomong Grace… rasanya aneh kalau aku nggak salah tingkah.
“Kayak perempuan punya haid,” Grace melanjutkan, “tubuh laki-laki juga butuh ‘keluarin’. Ada yang keluarnya pas mimpi, ada juga lewat masturbasi.” Tatapannya tajam tapi tetap santai. “Aku lihat celana dalammu banyak banget spermanya. Kamu masturbasi?”
Meski dari tadi dia bilang itu hal normal, tetap aja rasanya aku pengin menghilang ditelan lantai. Telingaku panas, dada sesak karena malu.
“Nolan, ini memang normal.” Grace menyandarkan punggungnya, suaranya seperti ngasih nasihat. “Tapi kamu juga harus perhatiin frekuensinya. Aku mulai curiga Dylan dulu kebanyakan waktu muda, makanya sekarang… performanya di ranjang jelek.”
Aku nyaris tersedak. Susu di mulutku muncrat, menyiprat ke meja.
“Maaf! Maaf!” Aku bangkit panik, kikuk mau nyari lap, tapi Grace sudah santai ngambil tisu dari meja.
“Nolan,” katanya, lalu melirik noda susu di meja seperti memberi pelajaran hidup. “Kayak segelas susu ini. Kamu minum sebanyak apa pun, nggak akan sia-sia. Tapi kalau kamu semprot di meja, sayang banget, kan?”
Aku melongo, nggak langsung ngeh maksudnya.
“Dasar anak polos,” Grace tersenyum. “Sperma kamu nggak akan sia-sia kalau masuk ke tempat yang benar. Tapi kalau kamu terus-terusan keluar di celana dalam… itu baru namanya mubazir.”
Begitu kalimat itu masuk ke telingaku, tubuhku langsung kaku.
Aku buru-buru duduk lagi, menunduk sedalam-dalamnya, pura-pura fokus mengunyah bakpao.
“Hati-hati jangan keselek.” Grace mencondongkan botol minumnya ke arahku. “Nih, minum susu aku.”
Aku terpaku sepersekian detik—lalu refleks mataku meluncur ke dadanya.
Grace memutar bola mata, kesal tapi tetap tenang. “Ngapain kamu lihat begitu? Aku belum pernah punya anak, dari mana aku punya susu?”
Setelah itu dia menyodorkan botol yogurt yang dari tadi dia pegang.
Wajahku rasanya merah banget sampai seperti mau meledak. Malunya bukan main.
Di saat yang sama, dari arah pintu terdengar suara perempuan yang enak didengar, bening dan manis.
“Grace ada di rumah?”
Cuma dari suaranya aja, tanpa lihat orangnya, aku sudah yakin—ini pasti perempuan cantik.
Begitu mendengar panggilan itu, aku cepat-cepat berdiri dan berlari ke pintu, seperti nemu alasan buat kabur dari meja makan.
Dan begitu pintu kebuka—
Dalam hati aku cuma bisa ternganga.
Ya Tuhan… cantik banget.
Rambut panjang tergerai, wajah oval sempurna, hidung mancung tegas, bibir merah menyala—belum lagi tubuhnya yang aduhai, seperti patung hidup. Kecantikannya melampaui siapa pun yang pernah kulihat. Dia terlihat begitu memukau sampai rasanya nggak nyata, seperti Aphrodite yang keluar dari mitologi Yunani.
Perempuan itu juga tampak sedikit terkejut begitu melihatku. Dia berkedip beberapa kali, lalu menyunggingkan senyum menggoda.
“Hei, handsome,” katanya ringan. “Aku salah pintu, ya?”
