3 Book(s) Related to unsent message to asal

Asal Usul

Asal Usul

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Maria McRill
Itu seekor serigala besar, aku belum pernah melihatnya dari dekat sebelumnya. Aku menatap mata serigala itu, mereka tampak berubah dari hijau ke biru ke ungu, dan aku bernapas dengan berat. Apakah ia akan membunuhku? Pikirkan saja, aku benar-benar tidak peduli. Hampir seperti aku berharap serigala itu melakukan kebaikan untukku.

"Janji padaku kamu akan bertahan hidup," aku melihat binatang itu lagi.

"Kamu akan membuatku menepati janjiku, bukan?"

Serigala itu duduk di atas kaki belakangnya, mengangkat kepalanya, dan melolong panjang dan kuat. Suaranya bergetar di tanah di bawahku dan langsung menuju ke hatiku, menenangkan api di dalamnya. Awalnya aku terkejut, lalu aku merasakan energi marah mengalir keluar dari tubuhku. Aku terjatuh di pasir, butiran-butiran kecilnya menggores kulit kering di lututku tapi itu tidak menggangguku, rasa sakit itu tidak sebanding dengan yang ada di dadaku.

Aku gemetar, menangis, mencoba mempertahankan amarah yang membuatku terus berjalan tapi itu perlahan menghilang. Serigala itu mengelilingiku beberapa kali lalu mengambil tempat di sampingku, merengek sedikit sebelum mengejutkanku dengan meletakkan kepalanya yang besar di pangkuanku.

***Ketika Dewi ingin membuat putranya bahagia, dia tidak tahu bahwa tindakannya akan menghasilkan dua spesies baru dan menentukan nasib seorang gadis.
Pengejaran Putus Asa Sang CEO

Pengejaran Putus Asa Sang CEO

958 Dilihat · Sedang Berlangsung · Celine
Namaku Laila.

Dulu aku berpikir Satria adalah seluruh duniaku, tapi pengkhianatannya menghancurkan tiga tahun kesetiaanku.

Aku sudah muak. Cerai, dan aku takkan pernah menoleh ke belakang. Tapi tiba-tiba saja dia panik. Dia mulai mengejarku, menolak untuk melepaskanku.

Jadi, aku ini sebenarnya apa buatmu, Satria? Kamu menyia-nyiakanku saat aku begitu mencintaimu. Sekarang, setelah aku berhasil melupakanmu, kamu malah tak mau membiarkanku pergi?

Semuanya sudah terlambat.
Si Kembar Mafia

Si Kembar Mafia

879 Dilihat · Sedang Berlangsung · Tonje Unosen
Si kembar Elina dan Ian lenyap dari keluarga mereka saat baru berusia empat tahun. Sejak itu, hidup mereka cuma berisi kekerasan dan kesengsaraan yang panjang, seolah dunia menutup semua pintu bagi dua anak kecil yang bahkan belum sempat paham apa artinya rumah.

Lima tahun kemudian, ketika usia mereka sembilan, mereka terlihat hidup menggelandang di jalanan Meksiko. Bukannya diselamatkan, mereka justru “diambil” oleh sebuah geng. Di tempat yang keras itu, mereka belajar satu hal paling cepat: kalau mau bertahan, jangan pernah terlihat lemah.

Lalu, entah bagaimana, mereka menghilang lagi. Kali ini bukan sekadar hilang—mereka ditahan sebagai tawanan selama setahun penuh. Setahun yang menghapus sisa-sisa masa kanak-kanak mereka, setahun yang mengajari mereka rasa sakit dalam bentuk yang tak semestinya dikenali anak-anak. Berbagai macam penyiksaan dan perlakuan keji jadi makanan harian sampai akhirnya, pada suatu hari, mereka berhasil diselamatkan.

Namun keselamatan tidak langsung terasa seperti keselamatan.

Saat Elina akhirnya keluar dari tempat itu, sesuatu di dalam dirinya patah. Semangatnya hancur berantakan. Ia berubah jadi anak perempuan yang selalu ketakutan, yang napasnya mudah tersendat hanya karena suara pintu ditutup terlalu keras. Ketika ia kembali ke keluarga—kembali ke rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman—Elina lebih banyak menunduk, bicara pelan, dan mengecil seolah ingin menghilang.

Ian berbeda. Ia tetap diam seperti biasa, tapi ada ketegangan yang menetap di bahunya, kewaspadaan yang tak pernah padam di matanya. Seakan-akan ia sudah memutuskan: apa pun yang terjadi nanti, ia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Elina lagi.

Waktu berjalan, perlahan, sesuatu di dalam Elina mulai bergerak lagi. Rasa takut itu tidak hilang begitu saja, tapi ia tidak selamanya akan tinggal di sana. Sedikit demi sedikit, di balik sikapnya yang pemalu dan penurut, sisi Elina yang keras mulai muncul. Sisi yang dulu membuatnya bertahan hidup. Sisi yang tidak mau diinjak.

Sampai akhirnya orang-orang akan tahu, Elina bukan anak yang bisa dipermainkan.

Mereka berdua bukan korban tanpa bekal. Di masa mereka bersama geng yang menemukan mereka di jalanan, pemimpin geng itu tidak hanya mengajarkan cara memukul atau cara kabur dari situasi berbahaya. Ia melatih mereka—membentuk mereka—jadi seseorang yang mematikan saat terdesak. Elina dan Ian tumbuh dengan kemampuan bertarung yang tajam, refleks yang terlatih, dan naluri membaca ancaman yang nyaris instingtif.

Anehya, di tempat yang seharusnya hanya mengenal kekerasan, mereka juga dididik. Pemimpin itu memastikan mereka pintar. Buku, latihan, disiplin—semuanya diberikan dengan tujuan yang jelas. Dan hasilnya terlihat: mereka bukan hanya kuat, tapi juga cerdas luar biasa.

Di antara mereka ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Elina dan Ian bisa berkomunikasi hanya lewat tatapan. Satu kedipan, satu perubahan kecil di mata, dan yang lain sudah mengerti. Ikatan mereka seperti benang halus yang tak terlihat tapi menahan mereka tetap bersama. Mereka bisa merasakan sakit satu sama lain, seolah tubuh mereka masih berbagi satu jantung.

Mereka kembar identik—dan sering kali bergerak seperti satu kesatuan.

Maka ketika hidup “baru” menunggu mereka—keluarga yang ingin merangkul kembali, rumah yang mencoba menambal yang sudah robek, dan sekolah di Los Angeles tempat mereka harus duduk di kelas bersama saudara-saudara mereka—tantangan itu tidak kecil. Ada perhatian yang menguntit, ada bisik-bisik, ada tatapan penasaran. Ada pertanyaan yang tak bisa mereka jawab tanpa membuka luka.

Dan yang paling berat: malam.

Malam membawa mimpi buruk, bayangan masa lalu, suara-suara yang kembali menghantam ingatan. Siang hari mereka mencoba tersenyum, mencoba menjadi anak biasa, mencoba memanggil orang dengan sebutan yang hangat dan akrab seolah semuanya wajar. Tapi di dalam diri mereka, ada bagian yang masih terjebak di tempat gelap itu, masih menghitung langkah, masih mencari jalan keluar.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak.

Mampukah mereka menemukan bahagia dan cinta—bukan sebagai dua anak yang patah, tapi sebagai diri mereka sendiri?

Mampukah mereka menerima apa yang pernah terjadi tanpa membiarkannya menentukan segalanya, melihat harga diri mereka lagi, dan percaya bahwa mereka pantas hidup yang baik?

Karena satu-satunya keinginan terbesar Elina dan Ian, sejak dulu, cuma itu: hidup damai, dan hidup bahagia.
1