3 Book(s) Related to ten sura

Surga Kejam: Romansa Mafia

Surga Kejam: Romansa Mafia

240 Dilihat · Sedang Berlangsung · nicolefox859
Apa yang lebih memalukan daripada kepencet telepon bokong?

Kepencet telepon bokong… ke bos sendiri.

Dan ninggalin pesan suara yang cabul waktu kamu, uh… lagi “berpikir” soal dia.

Kerja jadi asisten pribadi Ruslan Oryolov itu neraka yang dibayar. Seharian penuh gue ngurusin miliarder itu—setiap maunya, setiap tingkahnya, setiap perubahan mood yang datangnya kayak hujan dadakan. Begitu pulang malam itu, gue butuh pelampiasan. Pelepas tegang. Apa pun yang bisa bikin kepala gue berhenti berdengung.

Jadi di rumah, itulah yang gue lakukan.

Masalahnya, pikiran gue masih nyangkut di si bos brengsek yang tiap hari bikin hidup gue berantakan. Nggak apa-apa—karena dari sekian banyak dosa Ruslan, yang paling berbahaya mungkin justru satu: dia keterlaluan gantengnya. Malam ini, fantasi tentang dia adalah satu-satunya hal yang gue butuhin buat bikin gue lepas kendali.

Sampai kemudian gue ngelirik ke bawah.

Ponsel gue kejepit di sebelah tubuh gue, layarnya nyala redup, notifikasi kecil yang bikin darah gue seketika beku.

Ada voicemail.

Durasi: 7 menit 32 detik.

Tujuan: Ruslan Oryolov.

Dunia gue runtuh tanpa suara. Gue menjerit pelan, refleks, lalu melempar ponsel itu sekuat tenaga ke arah karpet seberang kamar, seolah-olah kalau benda itu jauh dari gue, kenyataan ikut menjauh.

Tapi nggak ada tombol “batal” untuk kerusakan yang udah terjadi. Nggak ada cara ngambil balik… itu. Desahan gue yang terlalu jelas. Kalimat-kalimat putus-putus yang seharusnya cuma jadi rahasia di balik pintu terkunci. Puncak yang, sialnya, sangat vokal.

Jadi gue harus gimana?

Rencana gue sederhana: jauhin dia. Pura-pura nggak pernah kejadian. Lagipula, orang sesibuk itu mana sempat ngecek voicemail, kan?

Ternyata gue terlalu naif.

Karena keesokan harinya, di kalender kerja gue muncul undangan rapat pribadi—satu lawan satu.

Durasi rapat: tepat 7 menit 32 detik.

Dan satu hal jadi pasti.

Dia.

Dengar.

Semuanya.
Rantai Sutra dan Sorotan Lampu

Rantai Sutra dan Sorotan Lampu

456 Dilihat · Sedang Berlangsung · Diana Matthew
Kelopak mataku bergetar lalu menutup. Pikiran dan kepalaku seperti saling berkejaran, saling mendahului, saat gigi Xerxes menggesek bibir bawahku. Desahan kaget lolos begitu saja—dan dia memanfaatkannya tanpa ragu, menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku, menjelajah dan mengecap hangat yang tersimpan di sana.

Untuk pertama kalinya, aku kewalahan mengikuti liar dan panasnya ciuman itu.

Xerxes menciumku seperti orang yang berniat memiliki. Murni, telanjang, tanpa memberi ruang untuk apa pun selain dirinya. Dia menarikku dengan tenaga yang tak kutolak. Tubuhku jatuh ke pangkuannya. Aku menempatkan lututku di kedua sisi pinggulnya, menindihnya, merangkul lehernya, dan membiarkan diriku dikuasai oleh lelaki yang mendominasi itu.


Ciel Reid bukan orang asing bagi skandal. Sebagai aktor pemberontak dengan reputasi bad boy, ia merangkak menuju puncak ketenaran dengan kuku-kuku berdarah, meninggalkan jejak kekacauan di belakangnya. Namun ketika kariernya mulai oleng dan nyaris jatuh ke jurang, sebuah tali penyelamat muncul—Xerxes Laurent, seorang CEO tanpa ampun dengan rahasia yang segelap setelan jasnya.

Xerxes menawarinya kesempatan untuk merebut kembali sorotan, mengembalikan namanya ke puncak. Tapi selalu ada harga: sebuah kontrak pertunangan palsu yang akan menjadikan Ciel pionnya.

Apa yang semula tampak seperti kesepakatan bisnis yang bengkok segera berubah menjadi permainan berisiko tinggi—tentang kuasa, hasrat, dan pengkhianatan.

Dalam Rantai Sutra dan Sorot Lampu, gairah menyala, kesetiaan retak, dan tak ada satu pun yang benar-benar seperti kelihatannya.
Divonis Hidup Tanpamu: Bos Menangis Gila Pegang Tes Kehamilan

Divonis Hidup Tanpamu: Bos Menangis Gila Pegang Tes Kehamilan

539 Dilihat · Sedang Berlangsung · Budi Santoso
"Aku manusia, bukan alat pelampiasan nafsumu!" teriakku dalam hati.

Suara Rangga dingin menusuk, "Kau istriku. Memenuhi kebutuhan fisiologisku adalah halal dan sewajarnya."

"Perang dingin kita belum berakhir!" Perlawananku sia-sia. Rangga sudah memasuki tubuhku.

Tangannya yang dingin mengusap payudaraku. Dalam lima tahun pernikahan, setelah berhubungan badan tak terhitung kali, dia tahu persis bagaimana membangkitkan gairahku.

Persis saat tubuhku menggigil, hendak mencapai klimaks, telepon berdering kasar. Rangga langsung berhenti, menutup mulutku, dan mengangkat telepon.

Di seberang sana, seorang perempuan merengek manja, "Sayang, aku sudah sampai."
1