Adikku tenggelam waktu kami masih kecil. Itu salahku, dan Ayah memastikan aku nggak pernah lupa. Nggak ada satu hari pun lewat tanpa dia mengingatkanku betapa aku ini gagal, dan seberapa besar dia muak sama aku.
Kecelakaan beberapa tahun lalu meninggalkan bekas luka di wajahku. Setiap kali laki-laki menatapku, tatapan itu penuh jijik, seolah aku noda yang mengganggu pemandangan. Ayah ingin menyingkirkanku—biar dia nggak perlu melihat wajahku yang rusak ini—jadi dia menjualku ke Bravta, memaksaku menikah dengan seorang pria yang bahkan belum pernah kulihat.
Pria yang seharusnya jadi suamiku ternyata nggak bisa datang ke pernikahan.
Sebagai gantinya, tiga orang yang dulu pernah menggenggam hatiku muncul di rumah Ayah, mengaku datang untuk mengantarku ke tempat calon suamiku menunggu.
Dominick, Ivan, dan Uri—orang-orang yang dulu kukira ksatria penolongku—ternyata justru musuh terburukku. Mereka mau mematahkan aku, menghancurkan sisa-sisa diriku yang masih bertahan. Yang mereka nggak sadar, sejak hari terkutuk itu aku sudah hidup dalam mimpi buruk, pecah jadi serpihan yang terseret angin entah ke mana.
Setelah berjam-jam terbang, kami mendarat di Siberia. Di sanalah akhirnya aku bertemu pria yang membeliku, yang katanya akan jadi suamiku—Dimitri.
Sorot matanya dingin. Cara dia menatapku seperti menatap beban. Sepertinya dia membenciku sama dalamnya seperti Dominick, Ivan, dan Uri.
Nggak butuh waktu lama sampai aku paham: Dimitri nggak ingin menikah. Dia ingin menyiapkanku untuk hidup seumur hidup di Blood Lodge, tempat aku akan melayani para Lord Rusia.