7 Book(s) Related to simba and nala

Kembalinya Dewa Naga

Kembalinya Dewa Naga

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Aria Voss
"Di padang pasir, seratus pertempuran mengenakan baju zirah emas, ambisi kerajaan jadi bahan tertawaan.
Dijuluki Dewa Naga, kembali dengan kehormatan, namun diracuni oleh pengkhianat,
kehilangan ingatan dan terdampar di kota. Kakak dibunuh, istri dan anak perempuan dihina,
Suatu hari terbangun, pasti akan mengubah dunia ini!"
Selir Raja Naga

Selir Raja Naga

533 Dilihat · Sedang Berlangsung · Zaria Richardson
"Kamu telah mengambil segalanya dariku," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kerajaanku, ayahku, kebebasanku. Apa lagi yang kamu inginkan?"

Raja Naga memandangnya dengan campuran rasa geli dan penasaran, bibirnya melengkung menjadi senyum sinis. "Segalanya," jawabnya singkat. "Aku menginginkan semua yang seharusnya menjadi milikku. Termasuk kamu."

"Apa yang akan kamu lakukan padaku, Yang Mulia?" Suaranya bergetar sedikit, tapi dia memaksa dirinya untuk berbicara dengan nada menantang.

Alaric bangkit dari tahtanya, gerakannya halus dan disengaja, seperti pemangsa yang mengitari mangsanya. "Kamu akan melayaniku," dia menyatakan, suaranya bergema di seluruh ruangan dengan kehadiran yang memerintah. "Sebagai selirku, kamu akan melahirkan anakku. Lalu kamu bisa mati."

Setelah penaklukan kerajaannya oleh Alaric yang perkasa, Raja Naga, Putri Isabella dari Allendor dibawa ke haremnya untuk melayaninya sebagai salah satu dari banyak selirnya. Raja itu dingin dan kejam padanya, menghukumnya hanya karena dia adalah putri dari musuhnya yang telah tiada. Isabella takut padanya, dan hanya ingin bertahan hidup serta menghindari raja dengan segala cara. Namun, ketika sesuatu yang lebih kuat mulai menarik mereka bersama, kepolosan manis sang putri dan hati dingin sang raja menemukan satu sama lain dalam tarian berbahaya antara ketakutan dan hasrat.
Nyala Api Membeku

Nyala Api Membeku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · Star
Nevaeh tak pernah menyangka hidupnya bakal terseret dan saling mengait dengan Aiden Klein—seorang miliarder berkuasa dengan tatapan sedingin es dan hati yang sejak lama membeku. Dunia memandangnya sebagai pria yang terlalu sempurna untuk disentuh: sosok memukau yang dipuja kalangan sosialita, membuat iri para lelaki, dan diidamkan entah berapa banyak perempuan. Tapi hati Aiden sudah menutup rapat pintunya, seperti benteng yang disegel oleh kehilangan; tempat yang tak lagi memberi ruang buat cinta tinggal.


Sejak pertama kali aku melihat Aiden, aku tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik permukaan—sejenis sakit yang mentah, yang gaungnya terasa di setiap tatap yang ia buang seolah tak peduli. Aiden itu laki-laki yang setia, terlalu tulus, dengan cinta yang tak goyah untuk keluarganya. Namun ia juga dihantui bayang-bayang cinta yang dulu pernah menghancurkannya. Dunia terus mengulang pertanyaan yang sama, lagi dan lagi: bagaimana mungkin Aiden Klein bisa mencintai seorang perempuan?

Tapi aku bisa menembus topengnya, sampai ke pahlawan patah di bawahnya. Dan aku paham satu hal—Aiden Klein bisa mencintai sekeras-kerasnya, sampai-sampai cinta itu akan menghancurkan perempuan yang ia pilih.

Karena, di balik dinginnya, aku pernah melihatnya sekali… dan itu mematahkan aku juga.

Dia mungkin pahlawan yang retak, tapi akulah penjahat dalam kisah ini—melangkahi batas yang bisa merusak kami berdua.
Pengantin Pengganti Raja Naga

Pengantin Pengganti Raja Naga

873 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lazarus
Jenazah Bapak bahkan belum sempat dingin—baru beberapa jam dikuburkan—saat Paman Tono sudah mulai bertingkah seolah-olah dialah kepala keluarga yang baru. Sekarang, yang menghalangi jalannya cuma titah panggilan dari istana dan aku.

Beratus-ratus tahun lalu, Raja Naga mulai memanggil manusia untuk Ujian Api, mencari calon permaisuri berikutnya. Menolak panggilan itu artinya hukuman mati bagi satu keluarga—habis, tanpa sisa. Buatku, semua orang di keluarga Ryuyama pantas mati menyakitkan, kecuali adikku yang masih kecil; dia sedang berjuang hidup, terperangkap dalam koma, nasibnya sepenuhnya di tangan Paman.

Kalau aku mundur dari posisiku sebagai ahli waris sah dan setuju menggantikan sepupuku, adikku akan tetap hidup—entah dia bangun dari koma atau tidak. Aku akan bertemu lagi dengan Bapak lebih cepat daripada yang pernah kubayangkan, dan lepas dari lubang ular berbisa yang disebut keluargaku.

Itulah kesepakatan yang kuterima.

“Namaku Morgan. Umurku sembilan belas tahun, dan aku memenuhi wajib panggil untuk Ujian Api.”

Menjelang tengah malam, aku akan mati—begitu yang kupikir.
Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

896 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lysandra Veyne
Pada abad ke-24, seorang pemuda bernama Cui Xiaoyu mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya terlempar ke tahun 80-an, menjadi seorang gadis biasa dari keluarga petani miskin di desa.

Katanya sih bakal menikmati kehidupan pedesaan yang santai, tapi kenapa baru saja sampai malah hampir dijual oleh pedagang manusia? Dia harus mengurus makanan keluarganya, dan juga menghadapi dua paman yang memandangnya seperti musuh!

Orang lain yang terlempar ke masa lalu biasanya punya "cheat" yang membuat hidup mereka lancar dan sukses. Tapi dia hanya punya sepasang mata yang bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. Di zaman yang keras ini, mata seperti itu berguna buat apa?

Jadi, dia hanya bisa bekerja keras menanam jagung, mencari sumber air, dan melihat apakah ada tambang tersembunyi di sekitar sini! Dia tidak percaya bahwa dengan otaknya ini, dia bisa mati kelaparan di zaman kekeringan ini!

Dengan menendang paman yang jahat dan memukul preman tambang di desa, dia akan membawa seluruh keluarga Cui menuju jalan kekayaan!
Raja Para Alfa

Raja Para Alfa

286 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ana Karoline Mendes
Ditolak habis-habisan oleh belahan jiwa yang selama ini kupercaya ditakdirkan untukku, aku lari dari sakit hati dan mencari pegangan di pelukan seorang asing. Ada sesuatu pada dirinya—tatapan yang dalam, wibawa yang menyesakkan dada—yang membuatku tak mampu menolak, seolah tubuhku sudah lebih dulu menyerah sebelum pikiranku sempat bertahan.

Malam itu berubah jadi badai. Hasrat, amarah, dan kesepian bercampur jadi satu, menenggelamkanku sampai aku lupa siapa diri sendiri. Aku mengira aku hanya membiarkan diriku jatuh pada orang yang tak akan pernah kutemui lagi setelah fajar.

Aku salah.

Aku baru paham setelah semuanya terlambat—bahwa lelaki yang kupilih untuk melupakan takdir justru adalah takdir yang lebih besar: Raja Kaum Serigala.

Dan kini, di dalam rahimku tumbuh pewaris takhtanya.

Aku terjepit di antara dua hal yang sama-sama berbahaya: menolak tarikan dirinya yang seperti hipnosis, atau membiarkan ikatan rapuh di antara kami tumbuh hingga cukup kuat untuk menyelamatkan kami berdua. Setiap kali ia mendekat, udara terasa lebih berat. Suaranya seperti perintah yang tak terdengar namun ditaati. Kehadirannya membuatku ingin kabur sekaligus ingin pulang—padahal aku bahkan tak tahu di mana rumahku lagi.

Di luar sana, bayang-bayang bergerak mengincar kami. Ancaman datang dari lorong-lorong gelap, dari bisik-bisik yang berhenti saat aku lewat, dari mata-mata yang terlalu lama menatap. Ada yang tak sudi melihat seorang perempuan tanpa nama, tanpa darah bangsawan, membawa calon raja.

Setiap pertemuan dengannya menguji tekadku.

Ia bukan hanya lelaki. Ia mahkota, hukum, dan kutukan. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang menuntut—bukan sekadar tubuhku, tapi kepercayaanku. Dan setiap kali ia menyebut anak itu, suaranya melembut seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah. Aku ingin percaya kelembutan itu nyata, bukan sekadar cara lain untuk menundukkanku.

Namun bagaimana caranya mencintai seseorang yang hidupnya milik takhta? Bagaimana caranya melindungi sebuah ikatan ketika dunia terus menajamkan pisau?

Aku tahu, aku harus memilih: menyerah pada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara kami, atau bertahan pada akal sehat yang terus berteriak agar aku lari sebelum mahkota itu menghancurkan semuanya.

Karena di dunia serigala, cinta sering kalah oleh kewajiban.

Dan aku takut—bukan pada gelap, bukan pada kematian—melainkan pada kemungkinan bahwa aku akan jatuh terlalu dalam, lalu ditinggalkan lagi. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena beratnya mahkota di kepalanya tak pernah mengizinkan siapa pun untuk benar-benar bahagia.
1