7 Book(s) Related to sending books on audible

Sebuah Kawanan Milik Mereka Sendiri

Sebuah Kawanan Milik Mereka Sendiri

633 Dilihat · Sedang Berlangsung · dragonsbain22
Sebagai anak tengah yang sering diabaikan dan diacuhkan, ditolak oleh keluarganya dan terluka, dia menerima serigalanya lebih awal dan menyadari bahwa dia adalah jenis hibrida baru, tetapi tidak tahu bagaimana mengendalikan kekuatannya. Dia meninggalkan kelompoknya bersama sahabat dan neneknya untuk pergi ke klan kakeknya guna mempelajari siapa dirinya dan bagaimana menangani kekuatannya. Kemudian, bersama pasangan takdirnya, sahabatnya, adik laki-laki pasangan takdirnya, dan neneknya, mereka memulai kelompok mereka sendiri.
Melintasi Batas: Terjebak dengan Sahabat Sendiri

Melintasi Batas: Terjebak dengan Sahabat Sendiri

911 Dilihat · Sedang Berlangsung · Nia Kas
POV Laila

Nggak pernah sedikit pun terpikir hidup gue bakal jungkir balik begini.

Dimas dan Alex—dua sahabat gue, yang dari TK selalu jagain gue, yang selalu ada di sisi gue—ternyata sama sekali bukan orang yang gue kenal selama ini. Sejak gue delapan belas, gue udah tahu. Dan gue simpan rapat-rapat. Gue rapikan semuanya sampai kelihatan seolah nggak ada apa-apa… sampai akhirnya ketahuan juga.

Jatuh cinta sama sahabat sendiri itu bukan sesuatu yang seharusnya lo lakuin. Apalagi kalau sahabat lo itu saudara kembar.

Persahabatan kami dulu baik-baik aja, sampai suatu hari gue ninggalin mereka demi kewarasan gue sendiri. Menghilang ternyata ampuh. Gue pikir jarak bakal bikin semuanya reda. Gue pikir kalau gue lenyap, perasaan gue bakal mati pelan-pelan.

Tapi satu acara kumpul-kumpul dadakan sama teman-teman kampus kami bikin semuanya berantakan lagi. Satu malam yang harusnya cuma obrolan receh dan nostalgia malah bikin gue kebuka—gue keceplosan ngasih lihat beberapa rahasia gue.

Dan beberapa rahasia mereka.

Saat teman-teman mulai nuding-nuding, mulai nanya dengan nada yang bikin dada sesak, gue nyerah. Gue capek jadi orang yang harus pura-pura baik-baik aja. Gue capek jadi pihak yang selalu diminta jelasin, sementara mereka cuma duduk manis seolah nggak pernah ngelakuin apa-apa.

Dan yang paling bikin gue ngeri: gue baru sadar kalau acara kumpul itu dari awal cuma umpan.

Cuma akal-akalan biar mereka bisa masuk lagi ke hidup gue.

Mereka mainnya bukan main cepat. Mereka mainnya panjang. Pelan, rapi, sabar—kayak orang yang udah nentuin dari dulu kalau gue harus jadi milik mereka.

Milik mereka. Dan mereka doang.

POV Dimas

Detik gue buka pintu dan ngelihat dia berdiri di situ—cantik banget—gue langsung tahu, malam ini cuma ada dua kemungkinan: semuanya berjalan sesuai yang gue dan Alex mau, atau dia kabur.

Gue dan Alex jatuh cinta sama dia waktu gue delapan belas. Dia tujuh belas. Masih batas yang nggak boleh kami lewatin. Buat dia, kami cuma kayak abang—orang yang selalu jagain, yang selalu ada, yang selalu jadi tempat aman.

Jadi kami nunggu.

Kami nahan diri. Kami ngunci semua itu rapat-rapat, sambil pura-pura jadi sahabat terbaik. Sambil nonton dia tumbuh, nonton dia makin dewasa, makin cantik, makin jadi alasan gue sulit napas setiap kali dia ketawa.

Waktu dia menghilang, kami biarin.

Bukan karena kami nggak peduli. Tapi karena kami tahu, suatu saat dia pasti muncul lagi. Dan kalau dia nggak muncul, kami yang bakal nyamperin.

Dia pikir kami nggak tahu dia di mana.

Dia salah besar.

Gue tahu dia ke mana, sama siapa dia ngobrol, kapan dia pulang, apa yang dia makan kalau lagi capek. Gue tahu kebiasaan kecilnya yang dia sendiri nggak sadar. Gue tahu cara bikin dia luluh—cara bikin dia berhenti lari dan mulai nurut sama apa yang kami mau.

Gue cuma perlu momen yang tepat.

Dan momen itu akhirnya ada di depan mata gue, berdiri di ambang pintu, dengan tatapan yang masih sok kuat—padahal gue bisa lihat ketakutannya dari cara jemarinya kaku.

POV Alex

Laila kecil yang dulu suka nempel di gue dan Dimas sekarang udah jadi… cantik banget sampai bikin gue pengin merem. Bukan karena nggak sanggup lihat, tapi karena kalau gue terus ngelihatin, gue takut gue bakal kehilangan kendali.

Gue dan Dimas udah mutusin: dia bakal jadi punya kami.

Dia jalan-jalan di pulau itu—merasa aman, merasa jauh, merasa nggak ada yang bisa nyentuh hidupnya lagi—tanpa sadar apa yang lagi mendekat. Tanpa sadar kalau semua langkahnya dari dulu selalu ada yang ngikutin.

Satu cara atau cara lain, sahabat kami bakal berakhir di bawah kami, di ranjang kami.

Dan yang paling manis: pada akhirnya, dia bakal minta itu juga.
Istri Terbuang Membalas Dendam

Istri Terbuang Membalas Dendam

340 Dilihat · Sedang Berlangsung · Freya Brooks
Setelah sepuluh tahun menikah, Hollis Meyer percaya bahwa dia telah menemukan suami yang luar biasa. Sedikit yang dia tahu, suaminya akan membawanya ke jalan kehancuran! Dengan menyamar sebagai pernikahan, dia memanipulasi emosinya, merencanakan untuk mengambil kekayaannya, dan bahkan memusnahkan seluruh keluarga Meyer, semua demi sekejap cinta sejati.

Namun, takdir campur tangan dengan pembunuhan yang direncanakan dengan cermat, mengirimnya kembali sepuluh tahun ke masa lalu! Dalam kehidupan baru ini, dia bersumpah untuk menghancurkannya sepenuhnya, menghapus garis keturunannya hingga menjadi abu, dan mengutuk kekasihnya dengan kemalangan tanpa akhir.

Dia berjanji untuk membalas dendam seratus kali lipat pada semua orang yang telah menyakitinya!
Dan begitu, tindakan pertamanya setelah terlahir kembali adalah menolak rayuan si brengsek itu dan dengan tegas menikahi musuh bebuyutannya dari kehidupan sebelumnya—seorang taipan terkemuka yang seharusnya tidak dia ganggu kali ini!

Dia mengira pernikahan mereka akan didorong oleh nafsu daripada kasih sayang, tetapi yang mengejutkannya, taipan itu menghujaninya dengan cinta dan pengabdian tanpa batas setelah mereka menikah.
Dewa Medis Turun Gunung

Dewa Medis Turun Gunung

440 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Brooks
Pewaris Tian Dao Yi Men dari Gunung Long Hu, Yang Hao, turun gunung atas perintah gurunya untuk mengobati orang sakit. Dengan kondisi bawaan lahir yang langka, ia memulai karirnya sebagai dokter magang di rumah sakit. Berbekal keterampilan medis dan kemampuan ramalannya, ia perlahan-lahan mengumpulkan pahala dan mencapai puncak hidupnya. Dia dengan tegas mengalahkan anak-anak kaya yang sombong dan menikmati kehidupan dengan wanita-wanita cantik yang luar biasa.
Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

716 Dilihat · Sedang Berlangsung · Vivian Brooks
“Pernah nggak sih… kamu beneran cinta sama aku?” tanya Summer Hayes suatu kali pada suaminya.

Kieran Cross tak pernah menjawab.

Selama dua tahun, Summer hidup dengan keyakinan kalau pernikahan mereka cuma bentuk balas dendam. Sentuhan Kieran dingin seperti es, genggamannya selalu terasa seperti belenggu, dan diamnya… tajam, seolah bisa melukai tanpa perlu kata-kata. Cowok kaya raya yang dulu ia anggap tak terlihat saat SMA akhirnya membuatnya membayar semuanya.

Sampai malam saat Kieran mati demi menyelamatkannya.

Ketika yacht mereka miring lalu tenggelam, ombak membekukan menampar wajah Summer tanpa ampun. Lampu-lampu di atas geladak padam satu per satu, berubah jadi titik-titik redup di balik kabut asin. Di tengah kekacauan—teriakan, bunyi logam beradu, aroma bahan bakar—Kieran mendorongnya ke perahu penyelamat.

Dengan paksa.

Dengan tenaga terakhir.

Ada darah di bibirnya, merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya tetap menahan Summer, seolah tak mau melepas walau laut menarik tubuhnya ke bawah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—untuk pertama kalinya selama Summer mengenal Kieran—mulut itu membentuk kalimat yang selalu ia tunggu, kalimat yang tak pernah sekalipun ia dengar.

“Aku cinta kamu.”

Summer baru benar-benar mengerti saat semuanya terlambat.

Saat perahu penyelamat menjauh, dan sosok Kieran tersapu gelombang, lenyap dalam dingin yang tak berujung.

Tiga tahun kemudian, Summer hidup seperti cangkang kosong. Duka menggumpal di dadanya, tak pernah benar-benar turun, sementara ingatan malam itu terus menghantamnya di waktu-waktu yang paling tak siap. Suara air, bau garam, rasa sesak—semuanya datang mendadak, menelan napasnya. PTSD membuatnya sulit tidur, sulit makan, sulit percaya bahwa ia masih berhak hidup.

Lalu suatu hari, saat jalanan basah dan lampu-lampu kendaraan berpendar di kaca, dunia berputar terlalu cepat.

Mobilnya menabrak.

Benturan keras. Gelap. Sunyi.

Dan saat Summer membuka mata—

Ia ada di kamar yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Dinding dengan poster lama, meja belajar penuh buku, aroma sabun laundry yang dulu selalu dipakai ibunya. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak liar.

Ia menoleh.

Di cermin, wajahnya… muda. Terlalu muda. Pipi masih penuh, mata masih menyimpan naivete yang seharusnya sudah lama mati. Tubuhnya kecil, tangan ini tangan remaja.

Enam belas.

Summer menahan napas saat mendengar suara dari luar kamar.

Suara yang selama bertahun-tahun ia rindukan sampai rasanya bisa gila.

Ibunya.

Masih hidup.

Kaki Summer lemas. Ia hampir jatuh hanya karena satu kenyataan itu. Dunia yang dulu merebut terlalu banyak darinya—kali ini mengembalikan sesuatu yang mustahil.

Namun ada satu hal lagi yang membuat tengkuknya merinding.

Kieran.

Kieran Cross yang ia kenal—suaminya, miliarder yang tak tersentuh, pria dengan jas mahal dan tatapan yang tak pernah benar-benar hangat—belum menjadi siapa-siapa.

Di usia ini, Kieran bukan penguasa yang membuat orang menunduk. Ia hanyalah anak beasiswa yang semua orang anggap tidak penting. Yang duduk di ujung kelas. Yang menunduk saat berjalan, seolah berharap tak ada yang melihatnya.

Pendiam.

Kelelahan.

Dan terlalu kurus, seolah sengaja menahan lapar demi seseorang.

Summer segera mengingat detail-detail yang dulu tak pernah ia pedulikan—karena dulu ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kieran punya adik perempuan kecil yang tuli. Dan Kieran bekerja apa saja, mengambil shift tambahan, menahan kantuk, menahan lapar, agar adiknya tetap bisa makan… tetap bisa sekolah… tetap bisa bertahan.

Sementara semua orang? Menertawakan sepatu lusuhnya. Mengabaikan keberadaannya. Menganggapnya cuma “anak miskin” yang kebetulan numpang belajar di sekolah mereka.

Summer menelan ludah saat bayangan masa depan menghantamnya: Kieran yang kelak menjadi pria yang dingin, keras, dan penuh rahasia. Kieran yang memeluknya tanpa pernah benar-benar memberi tempat aman. Kieran yang mati untuknya—dan baru mengucapkan “aku cinta kamu” di detik terakhir hidupnya.

Kalau ini kesempatan kedua…

Kalau takdir benar-benar memberinya kesempatan—

Maka kali ini, ia tak akan membiarkan Kieran menjalani hidup sendirian.

Hari pertama ia kembali ke sekolah, semuanya terasa seperti déjà vu yang kejam. Lorong ramai, tawa, geng-geng kecil yang dulu ia kenal. Tapi pandangan Summer tak mencari siapa pun selain satu nama.

Dan ia menemukannya.

Kieran duduk di bus sekolah, berdiri di dekat pintu, memeluk tasnya dekat dada. Tatapannya menelusuri bangku-bangku yang sudah terisi—tempat yang tak pernah disisakan untuknya. Anak-anak lain berpura-pura tak melihat, ada yang sengaja memalingkan wajah, ada yang menyeringai kecil.

Tak ada satu pun yang menawarkan kursi.

Summer merasakan dada panas, bukan karena marah saja, tapi karena rasa bersalah yang menumpuk seperti utang.

Dulu, ia juga salah satu dari mereka.

Dulu, ia juga memilih diam.

Kali ini tidak.

Summer melangkah masuk, menembus kerumunan, dan duduk di bangku kosong sebelah jendela. Ia menoleh pada Kieran—pada anak laki-laki yang suatu hari akan menjadi suaminya, pada pria yang mati demi dirinya—lalu menepuk kursi di sebelahnya.

“Duduk sini,” kata Summer, suaranya tegas tapi lembut. “Masih kosong.”

Kieran seperti tak percaya. Matanya menatap Summer sejenak, bingung, ragu, seolah khawatir ini cuma lelucon. Ia menelan ludah, lalu duduk perlahan, tubuhnya kaku seperti siap kabur kapan saja.

Summer memandang lurus ke depan, tapi hatinya bergetar.

Karena ia tahu apa yang dipertaruhkan.

Di hidup ini, ia akan menyelamatkan Kieran—bukan hanya dari kelaparan, kelelahan, dan kesepian, tapi dari masa depan yang membentuknya jadi pria yang begitu hancur sampai cinta pun ia simpan sebagai senjata.

Namun semakin dekat Summer dengan Kieran, semakin besar kemungkinan ia mengorek kebenaran yang dulu tersembunyi rapi: alasan Kieran menjadi seperti itu, alasan kebenciannya terasa seperti cinta yang salah arah, dan alasan mengapa… setiap kali Kieran mencintainya, ujungnya selalu tragedi.

Dan Summer tak tahu mana yang lebih menakutkan—

Menyelamatkan Kieran…

atau mengetahui bahwa takdir selalu meminta bayaran saat mereka saling jatuh cinta.
1