Manusia Milikku
1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Bethany Donaghy
Hari penghakiman akhirnya tiba—hari yang sudah Tessa siapkan selama lima tahun.
Tapi, alih-alih berjalan sesuai rencana, semuanya malah berantakan. Pertengkaran sengit dengan para siswi lain memaksanya berhadapan langsung dengan para jantan dominan, sementara penampilannya sudah acak-acakan dan sisa percaya dirinya seperti dihancurkan di tempat.
Dalam keadaan kesal, panik, dan bertelanjang kaki, Tessa mendadak terpaku saat menyadari tatapan seorang laki-laki tertuju padanya. Laki-laki itu memikat dengan cara yang membuat tengkuknya dingin—sepasang mata hijau yang aneh, seperti menyimpan sesuatu yang tak seharusnya diusik. Tubuhnya besar, kehadirannya menekan. Ia menatap lebam dan sayatan di kulit Tessa dengan ketertarikan yang membuat Tessa semakin bingung.
Dan entah kenapa—kenapa—laki-laki itu malah menandainya sebagai salah satu dari tiga kandidat terbaik untuk maju ke tahap berikutnya.
Untuk apa?
Perjalanan berbahaya itu pun dimulai, bersama makhluk misterius yang selera humornya gelap dan hatinya terasa lebih gelap lagi. Di setiap langkah, Tessa terus bertanya-tanya apakah ia sanggup bertahan melewati tiap tahap “proses memilih pasangan” yang tak lebih dari permainan kekuasaan—dan apakah laki-laki itu akan mematahkannya bahkan sebelum garis akhir terlihat.
Satu-satunya titik terang yang ia punya adalah kemungkinan mendapat tempat tetap bersama laki-laki itu. Jika itu terjadi, ia bisa kembali ke kawanan yang sama dengan sahabatnya, Erin—agar bisa tetap dekat dengannya sampai akhir usia mereka.
Di dunia yang dikuasai manusia serigala dan hukum-hukum mereka yang kejam, Tessa berusaha mati-matian menjaga diri agar tetap berada di sisi baik para jantan yang tak bisa ditebak. Ia menginginkan sepotong kewajaran, sedikit keadilan—meski ia tahu, di dunia ini, hal-hal seperti itu bukan hak. Cuma keberuntungan.
Masuklah ke kisah mencengkeram tentang menyerah, bertahan hidup, dan menghadapi sesuatu yang tak pernah bisa dipahami sepenuhnya—ketika nasib Tessa menggantung di ujung benang, dan setiap keputusan bisa menyeretnya menuju kehancuran. Di sini, di bawah aturan para serigala, tiap tikungan menyimpan kejutan—dan tidak ada yang benar-benar aman.
Tapi, alih-alih berjalan sesuai rencana, semuanya malah berantakan. Pertengkaran sengit dengan para siswi lain memaksanya berhadapan langsung dengan para jantan dominan, sementara penampilannya sudah acak-acakan dan sisa percaya dirinya seperti dihancurkan di tempat.
Dalam keadaan kesal, panik, dan bertelanjang kaki, Tessa mendadak terpaku saat menyadari tatapan seorang laki-laki tertuju padanya. Laki-laki itu memikat dengan cara yang membuat tengkuknya dingin—sepasang mata hijau yang aneh, seperti menyimpan sesuatu yang tak seharusnya diusik. Tubuhnya besar, kehadirannya menekan. Ia menatap lebam dan sayatan di kulit Tessa dengan ketertarikan yang membuat Tessa semakin bingung.
Dan entah kenapa—kenapa—laki-laki itu malah menandainya sebagai salah satu dari tiga kandidat terbaik untuk maju ke tahap berikutnya.
Untuk apa?
Perjalanan berbahaya itu pun dimulai, bersama makhluk misterius yang selera humornya gelap dan hatinya terasa lebih gelap lagi. Di setiap langkah, Tessa terus bertanya-tanya apakah ia sanggup bertahan melewati tiap tahap “proses memilih pasangan” yang tak lebih dari permainan kekuasaan—dan apakah laki-laki itu akan mematahkannya bahkan sebelum garis akhir terlihat.
Satu-satunya titik terang yang ia punya adalah kemungkinan mendapat tempat tetap bersama laki-laki itu. Jika itu terjadi, ia bisa kembali ke kawanan yang sama dengan sahabatnya, Erin—agar bisa tetap dekat dengannya sampai akhir usia mereka.
Di dunia yang dikuasai manusia serigala dan hukum-hukum mereka yang kejam, Tessa berusaha mati-matian menjaga diri agar tetap berada di sisi baik para jantan yang tak bisa ditebak. Ia menginginkan sepotong kewajaran, sedikit keadilan—meski ia tahu, di dunia ini, hal-hal seperti itu bukan hak. Cuma keberuntungan.
Masuklah ke kisah mencengkeram tentang menyerah, bertahan hidup, dan menghadapi sesuatu yang tak pernah bisa dipahami sepenuhnya—ketika nasib Tessa menggantung di ujung benang, dan setiap keputusan bisa menyeretnya menuju kehancuran. Di sini, di bawah aturan para serigala, tiap tikungan menyimpan kejutan—dan tidak ada yang benar-benar aman.


