Putri Terlarang dan Para Pria Mafianya
987 Dilihat · Sedang Berlangsung · Linda Middleman
“Cinta…” dengkur sebuah suara, berat dan lembut seperti beludru, ketika hembusan napas panas menempel di daun telingaku. Seluruh tubuhku merinding, getarannya merayap sampai ke pusat ragaku, memaksaku merengek pelan.
“Kata-kata, Putri,” bisik suara lain—lembut tapi tegas—bersamaan dengan tamparan ringan yang mendarat di bokongku.
“Tolong…” rintihku. Kebutuhanku pada mereka membengkak, nyaris menyakitkan.
“Tolong apa?” tanya yang lain.
“Apa yang kamu mau? Ucapkan, Nak,” perintah suara yang paling mendominasi di antara mereka.
“Ambil aku! Aku udah nggak kuat nahan lagi!” jeritku. Air mata mengancam tumpah di balik penutup mataku.
“Nah, gitu dong. Nggak susah, kan?” kata salah satu suara, dan aku bisa mendengar seringai di balik ucapannya.
Citra Wiratama selalu hidup sebagai putri. Setidaknya, begitu yang ia yakini—sampai hari ayahnya terpaksa mencari pertolongan pada empat lelaki yang namanya cukup untuk membuat orang-orang menunduk.
Lukas, Galang, Alex, dan Tono.
Mereka bukan sekadar orang berkuasa. Mereka adalah para pemimpin jaringan gelap yang mengatur semuanya—di kantor, di jalanan, dan di ranjang. Lelaki-lelaki yang terbiasa mengambil apa yang mereka mau, lalu berbagi… hampir segala hal.
Saat keluarga Citra jatuh miskin dan nyawanya jadi taruhan, ia tak punya pilihan selain menikah—bukan dengan satu, melainkan empat lelaki itu. Masing-masing menawarkan kenikmatan dengan cara yang bahkan tak pernah berani ia bayangkan.
Tapi ketika dua keluarga lain ikut mengincarnya, apakah Citra sanggup bertahan dari kegilaan ini? Atau justru mengakui hasrat terdalamnya akan jadi awal kehancuran—selamanya ternoda oleh tangan para lelaki paling berbahaya itu?
“Kata-kata, Putri,” bisik suara lain—lembut tapi tegas—bersamaan dengan tamparan ringan yang mendarat di bokongku.
“Tolong…” rintihku. Kebutuhanku pada mereka membengkak, nyaris menyakitkan.
“Tolong apa?” tanya yang lain.
“Apa yang kamu mau? Ucapkan, Nak,” perintah suara yang paling mendominasi di antara mereka.
“Ambil aku! Aku udah nggak kuat nahan lagi!” jeritku. Air mata mengancam tumpah di balik penutup mataku.
“Nah, gitu dong. Nggak susah, kan?” kata salah satu suara, dan aku bisa mendengar seringai di balik ucapannya.
Citra Wiratama selalu hidup sebagai putri. Setidaknya, begitu yang ia yakini—sampai hari ayahnya terpaksa mencari pertolongan pada empat lelaki yang namanya cukup untuk membuat orang-orang menunduk.
Lukas, Galang, Alex, dan Tono.
Mereka bukan sekadar orang berkuasa. Mereka adalah para pemimpin jaringan gelap yang mengatur semuanya—di kantor, di jalanan, dan di ranjang. Lelaki-lelaki yang terbiasa mengambil apa yang mereka mau, lalu berbagi… hampir segala hal.
Saat keluarga Citra jatuh miskin dan nyawanya jadi taruhan, ia tak punya pilihan selain menikah—bukan dengan satu, melainkan empat lelaki itu. Masing-masing menawarkan kenikmatan dengan cara yang bahkan tak pernah berani ia bayangkan.
Tapi ketika dua keluarga lain ikut mengincarnya, apakah Citra sanggup bertahan dari kegilaan ini? Atau justru mengakui hasrat terdalamnya akan jadi awal kehancuran—selamanya ternoda oleh tangan para lelaki paling berbahaya itu?





