3 Book(s) Related to madara fanart

Kembali ke Fajar Merah

Kembali ke Fajar Merah

665 Dilihat · Sedang Berlangsung · Diana Sockriter
Menyerah tidak pernah menjadi pilihan....
Sementara berjuang untuk hidup dan kebebasan telah menjadi hal biasa bagi Alpha Cole Redmen, pertarungan untuk keduanya mencapai tingkat yang sama sekali baru begitu dia akhirnya kembali ke tempat yang tidak pernah dia sebut rumah. Ketika perjuangannya untuk melarikan diri mengakibatkan amnesia disosiatif, Cole harus mengatasi satu rintangan demi rintangan untuk mencapai tempat yang hanya dia ketahui dalam mimpinya. Akankah dia mengikuti mimpinya dan menemukan jalan pulang atau akan tersesat di sepanjang jalan?
Ikuti perjalanan emosional Cole, yang menginspirasi perubahan, saat dia berjuang untuk kembali ke Crimson Dawn.

*Ini adalah buku kedua dalam seri Crimson Dawn. Seri ini sebaiknya dibaca secara berurutan.

**Peringatan konten, buku ini mengandung deskripsi tentang kekerasan fisik dan seksual yang mungkin mengganggu pembaca sensitif. Hanya untuk pembaca dewasa.
Dokter Forensik Mawar

Dokter Forensik Mawar

925 Dilihat · Sedang Berlangsung · Wanda Tantomo
Tim khusus kedatangan anggota baru: gadis mungil yang terlihat rapuh. Ferdi kesal, ini bukan tempat bermain-main, dan menyuruhnya pindah tugas.

Tapi gadis bernama Nara itu balas menyerang: "Kalau aku tidak cocok jadi dokter forensik, kamu juga tidak pantas jadi polisi!"

Nara, dengan kata-katanya yang tajam, sering membuat Ferdi terdiam. Ferdi pikir, satu-satunya yang kuat dari gadis ini cuma mulutnya. Tim ini pasti bakal bubar!

Namun, Nara membuktikan dirinya dengan membawa jantung korban yang berdarah: "Siap rekam, Ferdi!" Ferdi menahan mual sambil memberi isyarat.

Yang membuatnya semakin terpukul: Nara yang terlihat lemah ternyata bertarung lebih garang darinya, sampai-sampai Ferdi sendiri hampir mundur. Dikira hanya kutu buku yang bisa membedah mayat, ternyata dia ahli menyusun strategi dan berbohong dengan meyakinkan!

Ketika atasan menawarkan untuk memindahkan Nara, Ferdi justru menghalangi: "Kalau perlu yang pergi, aku saja. Dia harus tetap di sini!"
Mawar Tersembunyi Sang Alfa yang Hancur

Mawar Tersembunyi Sang Alfa yang Hancur

414 Dilihat · Sedang Berlangsung · Dehni Salem
Sejak sebagian besar hidupnya dihabiskan sebagai budak, Bea tak kaget ketika mendapati dirinya kembali jatuh ke tangan keluarga lain. Bedanya kali ini, demi menyelamatkan nyawanya sendiri, ia harus mengenakan identitas majikannya yang dulu dan menikahi tunangannya: Pangeran Utara yang lumpuh, Daks.

Dengan tubuh penuh bekas luka dari satu malam yang dipenuhi api dan pengkhianatan, Bea mendadak diangkat menjadi Putri sebuah kerajaan. Namun luka-luka di kulitnya ditorehkan oleh lelaki yang kini ia panggil suami.

Di tengah desas-desus bahwa Daks tak waras dan pikirannya telah mati, Bea justru menemukan kebalikannya. Daks sama sekali bukan lelaki tanpa kesadaran. Perlahan, lewat perawatan Bea, ia kembali menemukan suaranya—dan kekuatan untuk menapaki takdirnya sebagai Alfa yang tangguh.

Saat peperangan dan intrik istana mengepung dari segala arah, Daks dan Bea berusaha mengukir diri sebagai pasangan ikatan yang disegani di hadapan Dewi mereka. Namun apakah ikatan itu cukup untuk menggagalkan siasat musuh yang bergerak dari balik bayang-bayang? Mampukah mereka meraih restu Sang Dewi dan menjaga rakyat—serta cinta baru yang tak mereka sangka akan tumbuh?

Saksikan Singgasana Retak menyala oleh gairah Mawar Tersembunyi.


Ia menelan ludah, keras, sebelum geraman lain bergetar dari dalam dadanya. “Bea… bau kamu. Bikin Serigala gue hampir lepas kendali.”

Bea merasakan ranjang bergeser sesaat, tepat sebelum Daks menarik kedua kakinya ke atas lengannya, mengangkat tubuhnya, lalu menarik pusat panasnya mendekat ke mulutnya.

“Daks. A-aku butuh kamu. Sakit… ngilu,” Bea terengah.

Daks berhenti, lalu dengan lembut menurunkan pinggul Bea kembali ke selimut.

Tatapannya mengunci mata Bea. Perak bertemu biru, dingin sekaligus membakar, ketika ia bertanya pelan, “Kamu butuh gue?”

Ada geraman yang menyeret di setiap suku katanya. “Kamu butuh apa? Bilang, Bea.”

Kini Daks bertumpu pada lututnya, menatap dari atas saat ia bergerak, menggantung di atas tubuh Bea yang telanjang.
1