Istana Kristal & Rahasia Gelapnya
293 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eiya Daime
"Sub kecilku yang sempurna," bisiknya serak di bibirku, suaranya pekat oleh hasrat saat lidahnya terus menelusup, mengulik setiap sudut mulutku. Tangannya menjulur mematikan keran yang masih mengalir. Dalam satu gerakan mulus, ia mengangkatku tanpa susah payah lalu mendudukkanku di atas wastafel yang sedikit lebih tinggi.
"Angkat bajumu." Perintahnya rendah, tegas.
Aku menuruti tanpa ragu, menarik kain itu pelan sampai menggumpal tepat di bawah pusarku.
Kini tubuhku terbuka, dan tatapannya jatuh ke bawah seolah ia benar-benar terpikat, seakan pemandangan itu miliknya semata.
"Sekarang, peluk kakimu," katanya, nada suaranya mengeras.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengikuti. Kakiku kutarik rapat, kubentuk seperti huruf M, membuka diriku selebar-lebarnya untuknya.
Celia Bennett selalu patuh.
Dilindungi ayah yang berpengaruh, dibentuk untuk melayani—bukan untuk hidup—ia tak pernah mempertanyakan tempatnya sendiri. Sampai Pierre Bronsnic datang.
Rapi. Berwibawa. Berbahaya.
Sahabat lama ayahnya... dan lelaki yang hidup dari kendali.
Pierre melihat kebenaran di balik topeng Celia yang selalu tampak sempurna. Dengan satu sentuhan, ia menarik Celia masuk ke dunia tali halus, perintah yang dibisikkan, dan tarikan menyerah yang memabukkan. Di bawah bimbingannya, Celia mulai terurai—terbangun pada kenikmatan, kuasa, dan getir-manisnya rasa dimiliki.
Dominasi. Hasrat. Pembangkangan.
Ulang tahunnya yang ke-22 akan menjadi titik runtuhnya—atau kelahirannya kembali.
"Angkat bajumu." Perintahnya rendah, tegas.
Aku menuruti tanpa ragu, menarik kain itu pelan sampai menggumpal tepat di bawah pusarku.
Kini tubuhku terbuka, dan tatapannya jatuh ke bawah seolah ia benar-benar terpikat, seakan pemandangan itu miliknya semata.
"Sekarang, peluk kakimu," katanya, nada suaranya mengeras.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengikuti. Kakiku kutarik rapat, kubentuk seperti huruf M, membuka diriku selebar-lebarnya untuknya.
Celia Bennett selalu patuh.
Dilindungi ayah yang berpengaruh, dibentuk untuk melayani—bukan untuk hidup—ia tak pernah mempertanyakan tempatnya sendiri. Sampai Pierre Bronsnic datang.
Rapi. Berwibawa. Berbahaya.
Sahabat lama ayahnya... dan lelaki yang hidup dari kendali.
Pierre melihat kebenaran di balik topeng Celia yang selalu tampak sempurna. Dengan satu sentuhan, ia menarik Celia masuk ke dunia tali halus, perintah yang dibisikkan, dan tarikan menyerah yang memabukkan. Di bawah bimbingannya, Celia mulai terurai—terbangun pada kenikmatan, kuasa, dan getir-manisnya rasa dimiliki.
Dominasi. Hasrat. Pembangkangan.
Ulang tahunnya yang ke-22 akan menjadi titik runtuhnya—atau kelahirannya kembali.















