Cinta Terlarang Kita
838 Dilihat · Sedang Berlangsung · Linda Middleman
“Tolong, lewat sini, Nona,” suara seorang pembantu terdengar, lembut tapi tegas, sementara ia menuntunku dengan hati-hati menaiki anak tangga yang mengarah ke dalam sebuah rumah besar.
Aku masih terpaku, tapi kakiku tetap bergerak mengikuti. Entah kenapa, dadaku mendadak sesak oleh rasa gugup yang datang begitu saja.
“Nggak usah khawatir. Tuan-tuan sudah menunggu kedatangan Nona sejak menerima kabar lewat telepon,” begitu saja yang kudengar saat kami memasuki rumah itu.
Begitu melewati ambang, aku seperti kehilangan udara. Tiga pria berdiri menunggu—tampan, berwibawa, dan terlalu nyata untuk sekadar jadi bayangan masa kecil. Tenggorokanku kering.
“Selamat datang di rumah, Putri,” ucap salah satunya.
“Sudah lama ya, harta kecilku,” kata yang lain, suaranya rendah, mengikat telingaku.
“Ke sini. Biar kami sambut kamu pulang, Sayang,” suara ketiga menyusul, hangat dan memerintah dalam satu tarikan napas.
Mereka bertiga—kakak-kakak tiriku—kini berdiri tepat di depanku.
Sial. Ini yang jadi makin panas situasinya… atau aku yang salah napas?
Alya, putri bungsu keluarga Ksatria, pelan-pelan harus kembali masuk ke hidup yang baru setelah kematian kedua orang tuanya menghantam tanpa ampun. Usianya belum genap delapan belas ketika ia dikirim untuk tinggal bersama kakak-kakak tirinya—orang-orang yang sudah tak ia temui sejak ia berumur delapan tahun.
Reza, Dilan, dan Kaleb adalah kakak-kakak tiri Alya. Kini berusia dua puluh delapan, Reza dan kedua saudaranya mendadak harus mengurus adik mereka yang hampir memasuki usia dewasa.
Hanya saja, begitu Alya tiba, mereka justru seakan terseret pada sesuatu yang tak mereka rencanakan—tertarik seketika, dan siap melakukan apa pun agar Alya tetap bersama mereka… selamanya.
Aku masih terpaku, tapi kakiku tetap bergerak mengikuti. Entah kenapa, dadaku mendadak sesak oleh rasa gugup yang datang begitu saja.
“Nggak usah khawatir. Tuan-tuan sudah menunggu kedatangan Nona sejak menerima kabar lewat telepon,” begitu saja yang kudengar saat kami memasuki rumah itu.
Begitu melewati ambang, aku seperti kehilangan udara. Tiga pria berdiri menunggu—tampan, berwibawa, dan terlalu nyata untuk sekadar jadi bayangan masa kecil. Tenggorokanku kering.
“Selamat datang di rumah, Putri,” ucap salah satunya.
“Sudah lama ya, harta kecilku,” kata yang lain, suaranya rendah, mengikat telingaku.
“Ke sini. Biar kami sambut kamu pulang, Sayang,” suara ketiga menyusul, hangat dan memerintah dalam satu tarikan napas.
Mereka bertiga—kakak-kakak tiriku—kini berdiri tepat di depanku.
Sial. Ini yang jadi makin panas situasinya… atau aku yang salah napas?
Alya, putri bungsu keluarga Ksatria, pelan-pelan harus kembali masuk ke hidup yang baru setelah kematian kedua orang tuanya menghantam tanpa ampun. Usianya belum genap delapan belas ketika ia dikirim untuk tinggal bersama kakak-kakak tirinya—orang-orang yang sudah tak ia temui sejak ia berumur delapan tahun.
Reza, Dilan, dan Kaleb adalah kakak-kakak tiri Alya. Kini berusia dua puluh delapan, Reza dan kedua saudaranya mendadak harus mengurus adik mereka yang hampir memasuki usia dewasa.
Hanya saja, begitu Alya tiba, mereka justru seakan terseret pada sesuatu yang tak mereka rencanakan—tertarik seketika, dan siap melakukan apa pun agar Alya tetap bersama mereka… selamanya.


